
Setelah pekerjaannya selesai, Melia bersiap untuk pulang. Biasanya ojek langganan Melia selalu datang terlebih dahulu, namun entah mengapa hari ini dia belum juga menampakkan batang hidungnya, di telepon pun ponselnya tidak aktif.
"Hei, Mel. Kamu belum pulang?" tanya Clara yang melihat Melia masih belum pulang, padahal sudah dari tadi dirinya pamit padanya.
"Iya nih, masih nungguin Bang Joki. Nggak tau, tuh orang keluyuran kemana dulu," omel Melia.
"Bareng gua deh, kebetulan hari ini gua bawa motor," ajak Clara. Namun orang yang diajak masih terdiam, nampak Melia sedang berpikir.
"Tapi Bang Joki gimana? Nanti kalau dia datang, kan kasihan!” ucapnya.
"Yaelah Mel, Mel... Bang Joki kan laki, enggak bakal menangis juga dia!" ucap Clara yang tertawa kecil mendengar perkataan sahabatnya itu.
Ya, itulah Melia, dia sangat memperdulikan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Terkadang sifatnya ini yang membuat Clara khawatir padanya.
"Baiklah, yuk kita pulang. Tapi antarnya sampai gang besar saja ya, biar kamu enggak terlalu jauh putar baliknya." Ucap Melia sembari duduk di atas motor Clara.
Di tempat berbeda, Antara terlihat lelah saat keluar dari ruangannya. Ya, malam ini ia harus lembur sebab malam ini juga dia harus menyerahkan berkas yang akan dia pakai untuk presentasi besok. Antara memang orang yang perfeksionis, tak jarang beberapa pekerjaan, ia sendiri yang menghandle nya langsung, bukannya tidak percaya dengan kinerja timnya, namun sifatnya yang ingin semua terlihat sempurna membuatnya harus mengeluarkan tenaga yang ekstra dalam bekerja, sebab inilah dirinya dipercaya oleh petinggi perusahaan tempatnya bekerja sebagai Manajer Pelaksana.
Antara melajukan mobil miliknya menuju rumahnya dengan pelan, ia tak ingin mengambil resiko jika terjadi kecelakaan. Di saat lampu merah, Antara melakukan peregangan otot sembari mengatur matanya agar tetap fokus pada jalan yang ada di depannya, hingga dia menyadari sosok yang dia cari selama sebulan ini sedang berada di atas motor matic yang berwarna merah.
Wajahnya yang tadi terlihat letih, tiba-tiba terlihat bersemangat kembali. Seakan mendapatkan oase di tengah gurun pasir, sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
Dirinya terus menatap wanita yang selalu mengganggu pikirannya, terlihat wajah lelah terlukis di wajah cantiknya. Melia yang terlihat menyenderkan kepalanya ke bahu Clara sembari memeluknya dengan erat. Jika dari jauh, terlihat Melia sedang berboncengan dengan seorang pria, sebab Clara saat ini mengenakan hoodie yang menutup rambut panjangnya.
Senyum yang tadinya lebar, mulai redup seiring matanya tertuju pada pengendara motor tersebut. "Siapa lelaki itu?" gumam Antara, "apa dia pacarnya!" sambungnya lagi bermonolog.
__ADS_1
"Huh, apakah aku harus berhenti memikirkannya, dia sudah dimiliki orang lain, tak mungkin aku mendekati punya orang," lirih Antara sembari menatap Melia sendu.
Mata Antara terus fokus memperhatikan motor yang ditumpangi Melia yang sudah melaju jauh, yang tanpa Antara sadari kalau lampu jalan saat ini sudah kembali berwarna merah.
"Ah, sial! Bukannya tadi aku langsung turun saja meminta waktunya untuk berbicara langsung," ucap Antara yang merutuki kebodohannya.
"Terima kasih ya, Ra, sudah diantar pulang, sering-sering saja begini, biar ongkos ojekku berkurang,”ucap Melia sembari tertawa.
"Ye, enak saja. Emangnya gue tukang ojek apa!” jawab Clara sembari tertawa.
"Bener Mel, sampai disini saja! seru Clara, pasalnya jarak dari jalan raya menuju gang nya saja masih harus dia tempuh cukup jauh agar bisa sampai ke rumahnya. "Memang kenapa sih nggak sampai rumah atau gang rumahmu saja gua antar, kan elu masih harus jalan kaki jauh!" ujar Clara yang heran dengan sahabatnya itu.
"Enggak apa-apa kok, buruan sana pulang. Sudah mau pagi juga. Aku enggak apa-apa kok, jalan kaki kan buat kita sehat,”jawab Melia tersenyum.
"Ya sudah, gua pulang ya. Hati-hati lu!" ucap Clara tulus.
-
-
-
Di sebuah rumah di kawasan elite tengah kota, Antara masuk dengan lunglai. Antar melihat wanita paruh baya yang sedang tertidur dengan damai dalam posisi terduduk, Antara pun menghampirinya. "Bun, ayo bangun. Bunda tidur di dalam kamar ya."
Terdengar suara parau khas orang baru bangun tidur. "Egg, kamu sudah pulang Nak!" ucap Weni.
__ADS_1
Antara menghembuskan nafasnya pelan, "Iya, Bun, malam ini aku harus lembur karena besok pagi ada rapat penting di kantor," jawab Antara,“kan' Antara selalu bilang, Bunda enggak usah tunggu Antara di luar, nanti badan Bunda bisa sakit besok paginya," sambungnya.
"Iya, iya, lain kali bunda akan tidur di kamar. Tapi kamu juga kasih kabar bunda, biar bunda nggak khawatir dan nungguin kamu. Hanya kamu yang Bunda punya, Sayang." Ucap Weni sembari mengelus pipi anaknya.
"Iya Bun, maafkan Antara ya. Lain kali, pasti Antara kasih kabar ke Bunda," jawab Antara, "yuk," sambung Antara yang membantu Sang Bunda berdiri.
Setelah bersih-bersih, Antara menaiki tempat tidur miliknya. Membaringkan tubuhnya yang lelah.
Terdengar helaan nafas panjang Antara. Ya, dirinya masih terbayang-bayang wajah Melia saat dimotor tadi, terlihat gurat keletihan di wajahnya, terlebih saat matanya tertutup sembari bersender di bahu seseorang.
Antara mencoba memejamkan matanya namun, wajah Melia terus saja terlintas. "Ini tidak boleh aku biarkan, rasa penasaran ini bisa-bisa membunuhku perlahan," ucap Antara yang tampak berpikir. "Ya, aku harus cari tahu siapa wanita itu, latar belakangnya, rumahnya dan kehidupannya seperti apa," ucap Antara dengan sungguh-sungguh, "tapi, bagaimana caranya? Ah, sial, mana semua teman Melia tak ada yang mau buka mulut lagi," pikirnya.
Keesokan harinya
"Woy, kenapa tuh muka. Kusut amat, kayak baju belum disetrika saja," goda Malik tertawa. Antara tertawa sinis untuk membalas godaan Malik padanya lalu bergegas masuk ke dalam ruangannya.
Terlihat Antara sedang menyusun berkas yang akan dia bawa ke ruangan rapat hari ini. "Sibuk benar lu, memangnya hari ini lu ada rapat?" tanya Malik yang dijawab dengan anggukan oleh Antara.
"Jadi bagaimana usul yang gua bilang kemarin!" tanya Malik yang kini sudah duduk manis di hadapan Antara.
Antara menoleh menatap Malik dengan tatapan menusuk, "Usul yang mana si?!" ulang Antara, "apa usul gila mu itu!" maki Antara kesal.
"Bukan gua yang gila, lu yang sudah gila, suka kok sama wanita malam. Memang kalau misal nih ya, elu jadian sama dia, terus—hubungan elu mau dibawa kemana? Sampai pernikahan? Memangnya bunda Weni bakalan kasih elu izin apa!!"
Semua yang dikatakan oleh Malik memang benar semua, entah mengapa dia begitu buta dalam memilih wanita. Tapi bukanlah dia yang memilih, tapi hatinya yang memilih tertambat pada wanita itu. Antara menghela nafas panjangnya, berusaha meminta saran pada sahabatnya, "Jadi aku harus bagaimana?? lama-lama aku bisa gila!!" lirih Antara meremas rambut hitamnya.
__ADS_1
"Gua punya ide, tapi sedikit gila sih!" ucap Malik sembari menaikkan kedua alisnya naik turun.
...****************...