
Kini keduanya sudah dalam posisi duduk diatas kasur. Mata mereka saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang berbeda. Melia menatap sang suami penuh selidik, begitu banyak pertanyaan dibenaknya saat ini. Sedang Antara, sedari tadi terus menggenggam tangan sang istri dengan begitu erat seakan Melia akan pergi jika ia tak memegangnya dengan kuat.
"Mas…." panggil Melia saat sang suami masih diam membisu seraya menatap wajahnya dengan kening berkerut.
Kesadarannya kembali setelah merasakan tubuhnya yang sedikit berguncang.
"Ah.. iya! Kamu memanggilku, Sayang?" tanya Antara.
Melia mengangguk dengan pelan, "Mas kenapa? Katanya ada yang ingin, Mas katakan! Benar 'kan!" seru Melia.
"Sebenarnya sih ini sebuah hadiah, hadiah untuk istriku tercinta." kata Antara lalu membelai pipi Melia dengan lembut lalu kembali menggenggam tangan sang istri.
"Hadiah?! Hadiah apa, Mas? 'Kan aku gak lagi ulang tahun atau hari anniversary pernikahan kita!" katanya bingung.
"Sayang.. memberikan hadiah surprise atau sekedar menyenangkan istri itu 'kan ganjarannya pahala loh, jadi.. kalau si suami itu mendapatkan rezeki lalu memberikan hadiah atau menyenangkan istrinya.. rezeki suaminya itu bakalan mengalir dan malahan semakin terus berlimpah ruah." Tutur Antara memberikan sedikit ceramah untuk sang istri.
Melia tersenyum mendengar perkataan suaminya, "Baiklah, Ustadz Antara.. sekarang mana hadiahnya?" kata Melia meminta hadiah yang dikatakan suaminya tadi.
"Hadiahnya tak ada disini, Sayang. Mas bahkan tidak akan sanggup jika harus membawanya kesini!" Seru Antara menahan senyumnya.
Melia menyipitkan matanya menatap ke arah sang suami yang terlihat sangat mencurigakan.
"Maksudnya?" tanya Melia bingung.
"Ayo ikut, Mas. Mas akan membawamu ke hadiah yang, Mas katakan tadi." Antara menautkan jemarinya ditangan sang istri lalu membawanya keluar dari kamar menuju basement hotel.
Melia tak banyak bicara sepanjang perjalanan. Entah mengapa hatinya merasakan sesuatu yang tak enak. Arah pandangannya pun sejak tadi hanya Tatapannya pun menatap menuju tempat hadiah yang dimaksud suaminya. Setelah menempuh perjalanan panjang karena terkena macet, akhirnya mereka tiba di sebuah perumahan elit yang letaknya tak jauh dari kantor Antara yang berada di tengah kota.
__ADS_1
Melia menatap deretan rumah mewah di kiri dan kanannya hingga mobil yang dikendarai suaminya berhenti di sebuah rumah yang tak kalah mewah dengan rumah yang mereka lalui tadi, bahkan terlihat lebih jauh lebih mewah.
"Mas.. sebenarnya kita lagi dimana dan.. kita mau apa disini?!" tanya Melia lagi saat Antara membukakan pintu untuk Melia dan mengajaknya keluar dari mobil. Entah kebingungan keberapa kali yang dirasakan Melia sejak kemarin.
"Sudah, sudah.. ayo, sekarang kamu tutup mata, nanti aku jelaskan." tutur Antara mengajak mengarahkan sang istri masuk ke dalam rumah mewah itu dengan memegang kedua bahu sang istri bak sedang bermain kereta api.
Melia tertawa kecil melihat tingkah konyol sang suami yang seperti anak kecil.
"Baiklah, sekarang tutup matamu!" seru Antara.
Dengan terpaksa akhirnya Melia mengikuti apa yang diminta suaminya.
"Sekarang buka matamu!" pinta Antara dengan semangat.
Melia membuka matanya perlahan, hal yang pertama yang dilihatnya adalah sebuah spanduk panjang yang dipegang oleh 4 orang di setiap sudutnya.
Melia lalu berbalik dan menatap sang suami yang terlihat begitu sumringah menatapnya.
"Rumah kita?" gumam Melia pelan. "Maksudnya, ini rumah kita berdua? Kita berdua yang akan tinggal dirumah ini! Begitu, Mas?" kata Melia lagi.
Antara mengangguk dengan cepat seraya tersenyum menatap sang istri.
"Jadi.. Bunda dan Karin, mereka tinggal dimana? Mereka tak tinggal bersama kita!"
Antara menarik dengan lembut tangan Melia lalu membawanya duduk di ruang tamu yang tak jauh dari pintu masuk.
"Hanya kita berdua yang tinggal di rumah ini, tapi tentu saja ada beberapa asisten rumah tangga yang sudah, Mas siapkan untuk membantumu mengurus rumah kita. Dan untuk bunda juga Karin, mereka akan tetap tinggal disana, di rumah bunda," imbuhnya.
__ADS_1
Melia melepaskan tautan tangan Antara jemarinya. Harusnya Melia bahagia mendengarnya namun entah mengapa ada rasa tak suka yang tiba-tiba muncul di hati serta pikirannya sesaat Antara menyelesaikan perkataannya.
"Maksud kamu memberikanku rumah ini adalah untuk menyingkirkan aku! Begitu, Mas?" kata Melia dengan kesal.
Antara menghela napasnya panjang, "Bukan seperti itu, Sayang.. kamu jangan marah seperti ini dan berpikiran yang negatif dulu dong!" Seru Antara kembali memegang kedua tangan Melia untuk meyakinkan apa yang dia lakukan tak seperti apa yang ada dipikiran istrinya saat ini.
"Mas sengaja, hanya kita yang pindah ke rumah ini karena, Mas tak ingin ada yang mengganggu kita lagi kedepannya. Dan kenapa kita yang keluar dan bukan, Karin, itu karena saat ini dia sedang hamil dan paling tidak, dia butuh seseorang yang melihatnya dan menjaganya saat, Mas tidak di sana!" jelas Antara.
Melia meneteskan air matanya, "Jadi karena Karin saat ini sedang mengandung jadi dia lebih membutuhkannya bantuan bunda dari pada aku, begitu maksudmu!" ucapnya dengan lirih. Melia sangat kecewa dengan keputusan yang diambil suami dan mertuanya itu tanpa melibatkan dirinya. Dan Melia yakin jika keputusan merek itu bukan hanya karena alasan yang dikemukakan oleh suaminya, namun Melia yakin jika mereka berdua tak ingin kejadian tempo hari akan terulang lagi.
"Apa, Mas masih tak percaya dengan apa yang kukatakan soal jatuhnya Karin tempo hari? Begitu!" ucap Melia dengan intonasi sedikit tinggi.
Antara mengusap wajahnya dengan kasar.
"Sudahlah, Sayang.. Mas hanya ingin hidup terpisah dan hanya ingin tinggal bersamamu saja, hanya itu alasannya.. tidak ada alasan lain lagi," kata Antara dengan pelan. Sungguh Antara merasa Melia selalu membuatnya terbawa emosi setiap kali dirinya dituding ini itu. Sebisa mungkin ia menahan emosinya agar tak keluar yang nantinya akan membuat hubungannya kembali memburuk.
"Kamu yakin hanya karena itu! Bukan karena kamu percaya dan yakin jika aku sengaja mendorong Karin ke tangga 'kan! Atau.. karena aku tak bisa hamil, jadi kamu mengasingkan aku jauh dari bunda, begitu?!" cecar Melia dengan memberondong pertanyaan demi pertanyaan yang lagi lagi membuat emosi Antara mencuat.
"ITU TAK PENTING LAGI, SAYANG.. APA KAU TAK SUKA KITA BERSAMA SEPERTI DULU LAGI?! HANYA KITA BERDUA, HANYA ADA KAU DAN AKU!" kata Antara dengan intonasi yang sangat tinggi hingga seperti sedang memekik.
"Tidak bisakah kau cukup berpikir jika aku sangat sangat mencintaimu! Lupakan soal, Karin. Lupakan soal kejadian tempo hari. Kita mulai lembaran baru kita lagi tanpa ada gangguan dari manapun, bisa 'kan!"
"Ya, termasuk dari gangguan, Karin bukan!"
"STOP! Sepertinya pembicaraan ini tak akan ada habisnya jika di pikiranmu selalu menganggap aku mendahulukan kepentingan, Karin dibandingkan mu." Pungkas Antara meninggalkan Melia menuju pintu keluar. Dia tak ingin jika nantinya ia akan kembali menyesali apa yang keluar dari mulutnya ketika emosinya sedang tinggi.
...****************...
__ADS_1