
Sepertinya keadaan sedang memihak pada Karin saat ini. Tanpa dia menyuruh menahan Antara agar pulang terlambat, Antara nyatanya memang pulang sedikit lebih terlambat malam ini hingga akhirnya hanya Melia dan Karin yang makan malam bersama dimeja makan.
"Setelah kita makan, aku ingin berbicara serius padamu, Mel. Ini soal pembagian perhatian Antara untuk anakku dan anakmu," tukas Karin di sela kegiatan makannya.
Melia hanya berdehem sebagai jawaban atas perkataan Karin padanya. Tanpa Melia sadari, Karin sudah memulai aksinya untuk bisa memisahkan Melia dari Antara.
Setelah makan malam, kini mereka berdua, Karin dan Melia sudah berada di lantai 2, tempatnya tidak jauh dari area tangga.
"Apa yang ingin kamu bicarakan? Bukankah lebih baik kita bicara sembari duduk! Kita bisa bicara di ruang keluarga atau kalau mau membicarakan hal-hal yang pribadi, kita bisa melakukannya di dalam kamarmu atau kamarku!" seru Melia yang sedikit ngeri melihat Karin yang berdiri tidak jauh dari tangga.
"Kita bicara disini saja, kandungan mu masih terlalu muda untuk terus naik-turun tangga seperti itu," tutur Karin menatap perut Melia yang masih terlihat datar.
"Baiklah, terserah kamu saja. Jadi.. apa yang ingin kamu katakan padaku?" tanya Melia lagi.
"Aku ingin kau pergi meninggalkan Antara dan kalau bisa menghilangkan dari kehidupan kami!" ucapan Karin membuat Melia seperti tersambar petir.
APAAAA!!
"Apa kau tadi salah makan! Apa yang kau bicarakan? Sumpah, aku tak mengerti maksud ucapan mu," ujar Melia bingung. Melia begitu kaget mendengar perkataan Karin yang dinilainya sungguh ngawur.
"Tidak! Tidak ada yang salah denganku, justru kau yang bersalah dalam hal ini, Melia! Bukannya kau tahu aku sedang hamil saat ini.. lalu, kenapa kau harus hamil juga, huh!!" kata Karin dengan nada meninggi.
"Asal kau tahu, Karin. Kehamilanku ini sudah sangat diharapkan oleh banyak orang. Termasuk Mas Antara dan bunda dan ibuku. Terlebih orang-orang sekitarku begitu penasaran setelah mereka menanti selama 2 tahun. Dan ya, ini bukan rencana ku, Karin! Aku bahkan tak jika aku sudah hamil dari bulan lalu dan baru mengetahui saat memeriksakan kesehatan rahim ku," tutur Melia menjelaskan.
"Sudahlah.. aku rasa kita sudahi saja pembicaraan kita ini kali ini. Apapun yang aku katakan padamu, tak akan merubah apapun apa yang sudah kamu pikirkan tentangku sejak awal. Dari pertama kali kita bertemu pun kau memang sudah membenciku jadi sekuat apapun aku menjelaskan niat baik ku padamu, takkan berguna." Melia ingin segera pergi dari hadapan Karin, entah mengapa ada rasa takut yang dirasakan Melia sejak awal Karin memintanya bertemu di dekat tangga.
"Kembalilah ke kamarmu, Karin. Aku ingin ingin masuk dan beristirahat." pungkas Melia seraya berbalik meninggalkan Karin yang masih berdiri menatapnya dengan tatapan yang entah.
"Tunggu..! Aku belum selesai bicara, Melia." Sergah Karin menarik lengan Melia dengan kasar.
"Auw, lepas Karin, lepaskan. Kau menyakitiku!" pekik Melia dengan sekuat tenaga ia melepas cengkraman tangan Karin.
__ADS_1
"Aku bisa berbuat lebih Melia kalau kau tak mau pergi dengan sendirinya!" Karin lebih menguatkan cengkeramannya lalu mendorong tubuh Melia mendekati selasar tangga.
"Karin, please, jangan nekat. Ingat anak yang ada dikandungan mu!" Teriak Melia yang semakin takut saat tubuhnya semakin didorong paksa menuju tangga.
"Kenapa? Kau takut!" seru Karin dengan tawa mengerikannya.
"Kita bisa bicarakan baik-baik, aku tak ingin menyakitimu yang berarti akan menyakiti anak yang kamu kandung," ucap Melia dengan tegas.
"Kenapa? Apa setelah kau menyakitiku secara verbal, kini kau akan menyakitiku secara fisik, begitu!"
"Kau jangan bercanda, Karin. Aku tak pernah berniat menyakitimu. Ini hadiah dari Allah yang dititipkan di rahimku, aku tak mungkin bisa menolaknya, terlebih memang aku menginginkannya." Terang Melia.
Melia mencoba melepaskan cengkraman tangan Karin di lengannya namun entah bagaimana caranya, tiba-tiba Karin berbalik lalu tersenyum menatap wajahnya. Ya, senyum seringai yang sungguh mengerikan.
KARIN!!
AWAS!!
BRUKK!!
KARIN!!
AAAHHHHH!!
PERUTKU SAKIT!!
Melia dengan cepat turun menuruni tangga menuju lantai bawah dimana Karin berada saat ini.
"Karin! Astaga.. darah! Kamu berdarah!!" ucap Melia seraya melihat tangannya yang terkena darah Karin saat melihat kondisinya.
"Mel, perutku sakit.. anakku.. anakku.. a-ku tak ingin ke-hila-kehilangan dia.. to-long selamatkan an-nakku," ucap Karin yang tiba-tiba pingsan begitu saja setelah meminta pertolongan pada Melia.
__ADS_1
Bik Nani yang terbangun karena mendengar suara teriakan majikannya seketika bangun dan berlari ke sumber suara. Betapa kagetnya dia saat melihat kedua istri majikannya sedang berlumuran darah.
"Bik Nani.. tolong Bik, CEPATT!!"
Melia yang melihatnya pun segera meminta tolong untuk menelepon ambulance dan memintanya segera menelepon suaminya dan memberitahukannya untuk segera kerumah sakit.
Melia tengah berada di atas mobil ambulance bersama Karin di dalamnya. Mereka menuju rumah sakit terdekat. Kondisi Karin masih pingsan tak sadarkan diri. Melia terus menggenggam tangan Karin, ia melihat wajah Karin yang begitu pucat.
"Ya Allah.. jagalah bayi yang dikandung Karin, anak itu tak bersalah.. tolong selamatkan mereka," gumam Melia tak putus mendoakan keselamatan Karin dan anak yang dikandungnya.
Setelah sampai dirumah sakit, Karin segera dilarikan oleh petugas medis masuk ke dalam IGD. Melia berlari menyusul dari belakang, Melia bahkan sampai melupakan jika dirinya saat ini sedang hamil. Ia berlari tanpa memikirkan apapun, fokusnya adalah Karin dan kandungannya. Ia membantu mendorong bed petugas ambulance dan beberapa petugas rumah sakit yang membawa Karin ke IGD.
Karin masuk ke dalam ruang IGD untuk segera ditindaklanjuti oleh dokter. Sedang Melia diminta menyelesaikan administrasi rumah sakit dan menunggu diluar sementara Karin ditangani pihak dokter.
Melia berjalan mondar mandir, perasaannya saat ini begitu campur aduk. Rasa takut dan kekhawatiran yang melanda hatinya. Ia masih tak habis pikir kenekatan yang bisa dilakukan Karin. Bahkan Karin sampai rela membahayakan keselamatan dirinya dan kandungannya sendiri.
Sebegitu cintanya kamu pada, Mas Antara..
20 menit kemudian..
Antara datang bersama papa Karin dan bunda Weni yang berjalan dibelakang Antara.
"Sayang, apa yang terjadi? Bibi meneleponku dan katanya Karin terjatuh dan dilarikan kerumah sakit, sebenarnya apa yang terjadi?!"
"Bun, Om," sapa Melia saat melihat ibu mertuanya dan papa Karin datang menghampirinya.
Melia memeluk Antara, "Aku takut, Mas. Aku takut terjadi apa-apa dengan kandungannya. Aku nggak tahu bagaimana bisa terjadi, kejadiannya begitu cepat sampai Karin tiba-tiba jatuh." Ucap Melia lirih.
"Tenanglah, kita doakan semoga tak terjadi apapun pada kandungannya." kata Antara yang mencoba tetap tenang. Walau dalam hatinya ia begitu mengkhawatirkan anak yang didalam kandungan Karin.
...****************...
__ADS_1