
🔞 Daerah kawasan bebas bocil
"Bibi tolong bantuin aku, Bibi naik keatas dan panggilkan suamiku dikamar Melia," titah Karin. Bik Nani bergeming, ia dilema apakah harus melakukan apa yang diperintahkan oleh istri muda majikannya atau tidak, tapi jika dia sampai mengganggu kegiatan sepasang suami istri didalam kamar sana, apakah dia akan dimarahi, itulah yang saat ini ada dipikiran Bik Nani.
"Kenapa diam saja, huh!" kesal Karin karena Bik Nani tak bergerak sama sekali dan hanya melongok menatapnya. "Bibi dengar aku gak sih! Aku bilang, Bibi naik keatas sekarang dan panggilkan suamiku, sekarang Bi.. sekarang!" pekik Karin tak sabar.
"Ii-iya, Non.. Bibi naik sekarang," Bik Nani berlari kecil menuju tangga dan naik ke atas sesuai dengan apa yang diperintahkan padanya.
Saat sudah sampai di depan kamar majikannya, keberanian yang tadi terkumpul seketika menguat seiring dengan detakan jantungnya yang kian kencang. Terlebih saat mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar majikannya.
"Ya, Gusti Allah.. apa yang harus aku lakukan sekarang! Mana mereka lagi ngadon didalam, ish," Bik Nani menggerutu dalam hati, ia merutuki dirinya sendiri, disatu sisi harus melaksanakan apa yang diperintahkan padanya tapi disisi lain, dia juga tak ingin kena marah karena sudah mengganggu kegiatan panas majikannya.
Bik Nani berbalik arah dan menuju tangga, namun kembali berhenti dan mengingat wajah seram Karin tadi. Dengan mengucap Bismillah, ia berjalan dan kembali menuju kamar utama majikannya, dengan terpaksa ia mengetuknya beberapa, awalnya tak dibuka namun setelah mencoba berulang kali, akhirnya pintu putih itu terbuka juga. Wajah majikannya menyembul keluar, ya.. hanya bagian kepalanya saja yang keluar dan menatapnya dengan begitu kesal.
"Ada apa, Bik Nani!" ucap Antara saat melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
"Ii-iyya, Den. Anu.. anu.. Non Karin manggil, Den Antara turun katanya," akhirnya dengan terbata, dia mengatakan apa yang ingin diucapkan walau dengan bersusah payah.
Antara menghela napasnya kasar, setelah beberapa saat.. "Bilang saja kalau aku tidak ada di dalam kamar, dan aku minta tolong Bibi untuk temani Karin di kamarnya, takutnya dia lagi membutuhkan sesuatu," titah Antara yang di angguki oleh Bik Nani pelan.
"Iya, Den. Bibi turun sekarang." Akhirnya Bik Nani turun kembali ke bawah dan menemui Karin yang ternyata sudah masuk kedalam kamarnya.
Tok, tok..
Ketuknya dan mendapat sahutan dari si empunya kamar. "Masuk aja, Bik!"
__ADS_1
"Den Antara tidak ada di atas, Non!" bohongnya, ia terpaksa berbohong dan mengatakan jika Antara tak berada di dalam kamar istri pertamanya itu. Dia hanya seorang pekerja yang akan melakukan apa saja diperintahkan majikan padanya.
Karin menghela napasnya dengan kasar. Ia tahu jika Bik Nani sedang berbohong namun dia tak mungkin juga memarahinya karena dia yakin jika pasti Antara yang menyuruhnya berbohong. Ingin rasanya ia bangkit dan mendobrak pintu kamar Melia namun ia kembali lagi mengingat janin yang dikandungnya.
Huuuuhhh..
Karin menghela napasnya dengan sangat panjaaaanggg dan berharap bisa mengurangi sesak di hatinya saat ini, ia sedang cemburu saat membayangkan apa yang sedang mereka lakukan berduaan di atas sana.
"Non, apa non mau saya disini Sementara waktu sampai, Den Antara pulang!" Bik Nani memberanikan dirinya untuk bertanya dan menawarkan bantuan. Ia juga cukup khawatir mengingat kondisi kehamilan Karin yang lemah. Dirinya sudah diberitahu oleh majikannya jika sebisa mungkin tak menjawab atau membantah apa yang dikatakan Karin karena harus menjaga suasana hatinya.
Sementara di atas kamar..
"Siapa, Mas?" tanya Melia yang kini sudah menyelimuti tubuh polos dengan selimut.
"Bukan siapa-siapa, hanya Bik Nani," sahut cepat Antara. Dia tak ingin waktu yang berharganya saat ini dirusak oleh orang lain, termasuk Karin yang diyakini memang ingin menjauhkannya dengan Melia.
"Hem.." jawabnya singkat.
"Dia pasti sedang membutuhkanmu!" kata Melia menunduk dengan lirih.
Antara mengangkat wajah Melia lalu menatapnya dengan sangat lekat, "Apa kau akan menyerahkan aku lagi untuknya, Hem..?!" ucapnya dengan wajah sendu.
Melia menatap wajah suaminya, raut wajah yang sama saat dirinya dulu meminta Antara memberikan haknya untuk Karin, wajah bercampur antara rasa sakit dan kecewa.
"Mas.. tak apakah jika aku menjadi wanita yang egois saat ini!" seru Melia, lalu tanpa alih-alih menyambar bibir suaminya dan memagutnya dengan lembut.
__ADS_1
Antara tak menjawab, ia tersenyum bahagia melihat istrinya yang kini bisa lebih memikirkan dirinya dari memikirkan hati orang lain. Antara menyambut pagutannya dan melanjutkan kegiatan mereka yang tertunda tadi.
Melia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh suaminya, "Aku akan membuatmu tak melupakan malam kita hari, Sayang!" ucap Melia dengan berbisik, ia sengaja mengatakannya dengan niat ingin menggoda suaminya. Ia akan memuaskan Antara malam ini sebagai wujud permintaan maafnya karena selama ini tak memikirkan perasaan dari suaminya.
"Let's start the show baby," ucap Melia mengedipkan sebelah matanya seraya beranjak dari tidurnya.
Perlahan namun pasti, Melia bangun dan menguncir rambutnya dengan asal, Antara yang melihatnya pun semakin tergila-gila olehnya. Apa yang Melia lakukan saat ini benar-benar menambah kesan seksi dan liar pada dirinya.
Memandang pemandangan di depannya saat ini membuat jakunnya naik turun tidak karuan hingga ia begitu sulit menelan salivanya sendiri.
"Shitt!!" umpat Antara pelan.
Sungguh, hanya melihat istrinya menguncir rambutnya sudah membuat milik Antara kembali menegang dan berdiri setegak-tegaknya. Mata Antara tak pernah lepas memandang Melia yang mulai beranjak naik dengan berani ke atas pangkuannya dan menduduki miliknya dibalik ****** ******** lalu mencium bibirnya dengan panas. Dengan tangan yang aktif menggerayangi rahang Antara, Melia semakin membuat mata Antara menggelap, menikmati setiap sentuhan tangan istrinya, wanita yang begitu dicintainya. Ia begitu menikmati setiap sentuhan yang diberikan Melia padanya, berbanding terbalik saat dirinya bercinta dengan Karin kala itu, hanya perasaan sesal dan hancur saat melakukan penyatuan dengan istri keduanya itu.
Bibir Melia mulai turun dan mengecupi rahang Antara dan terus turun ke leher hingga ke perut sixpack milik suaminya. Melia melukis beberapa tanda di perut Antara. Antara mulai mendesis tidak karuan atas apa yang diperbuat istri nakalnya itu.
Melia benar-benar berani malam ini, seperti bukan Melia di kesehariannya.
"Kau begitu agresif malam ini, Sayang!" racau Antara pelan dengan suara rendah tertahan.
Melia tak memperdulikan semuanya, ia terus melakukan aktivitasnya dan menikmati tubuh suaminya hingga sampailah dia di bawah sana.
Are you ready, Baby…
Melia mulai melesatkan jemarinya dan memegang milik suaminya dari luar celananya. Dan itu sukses membuat Antara mengeluarkan desahannya. Tidak, Melia tidak menggerayangi benda itu, dia hanya menaruh tangannya diatas milik suaminya dan sesekali menggerakkan jari kecilnya bergerilya tak tentu arah, namun itu sudah membuat Antara mengeluarkan suara desahannya.
__ADS_1
"Shitt! Let's do it now, baby," kata Antara mengerang diselanya menahan gejolak yang kian tak tertahankan.
...****************...