JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Penyesalan Antara


__ADS_3

Antara pamit ke kantor setelah menghabiskan sarapannya. Wajahnya tampak suntuk pagi ini, berbeda dengan Karin yang terlihat sumringah setelah keduanya keluar bersamaan dari kamarnya.


"Apa semalam kalian bersama?" tanya Weni pada Karin. Karin hanya mengangguk mengiyakan apa yang ditanyakan mertuanya tanpa sepatah katapun.


"Ahh.. pantas saja Melia tidak turun dan wajah Antara suntuk begitu," ujar Weni berlalu dan kembali masuk kedalam kamarnya.


Karin mengerutkan keningnya saat menyadari apa maksud dari perkataan ibu mertuanya itu.


"Bunda ngomong apa tadi, apa dia mau bilang kalau Antara menghabiskan malam denganku wajahnya pasti kusut!" kata Karin mendengus. Ia sangat kesal dengan mertuanya itu, bisa-bisanya dia bilang seperti itu padanya, Karin tak suka dirinya dibanding-bandingkan dengan Melia.


Selama diperjalanan menuju kantor, Antara terus menghela napasnya dengan berat. Ia lagi-lagi merasa bersalah dengan Melia, entah mengapa dirinya bisa berakhir bermalam panas dengan Karin. Antara merutuki kebodohannya sendiri yang hanyut dalam kemarahannya hingga melampiaskan emosinya pada Karin.


Bahu Antara seketika menjadi rileks saat seseorang memijat bahunya. Antara terkesiap lalu membukanya matanya.


"Karin! Sedang apa kamu disini?!"


"Kamu sendiri sedang apa malam-malam begini disini, apa kamu bertengkar dengan Melia?" tanya Karin dengan pelan, dia takut Antara marah padanya.


Antara tak menjawab, "Kembalilah ke ke kamarmu, masih ada yang harus aku kerjakan," bohong Antara. Karin yang tahu jika Antara dan Melia bertengkar pun tak menyia-nyiakan kesempatan langkah ini.


Karin memulai aksinya dengan menciumi bibir Antara dan mulai menggerayangi daerah sensitifnya, awalnya Antara menolak, namun entah setan mana yang merasukinya saat Karin dengan begitu liarnya membuat Antara rileks hingga membuatnya terangsang. Dan berakhirlah mereka bercinta dengan berbagai posisi hingga berpindah pindah tempat.


Entah mengapa setiap kali dirinya sudah berbagi peluh dengan Karin, salah bersalah terus menyeruak di hatinya, seakan dirinya seperti sedang berselingkuh di belakang istrinya. Antara akui bila cintanya hanya untuk Melia namun entah mengapa setiap kali Karin memintanya untuk bercinta, Antara tak dapat menolaknya, entah itu karena sebuah janji atau memang karena nalurinya sebagai laki-laki dimana dia membutuhkan pelampiasan karena suasana hatinya yang buruk, terlebih malam itu dia bertengkar dengan istrinya, Melia.


Awalnya Antara hanya ingin menenangkan hatinya saja di kantornya yang memang bersebelahan dengan kamar Karin, namun entah mengapa rasa marah membuatnya ingin menyalurkan hasratnya yang berbarengan Karin yang datang menemuinya dan memberikan apa yang dia butuhkan saat itu.

__ADS_1


***


Melia turun ke bawah dan segera berpamitan pada mertuanya, Weni. Ia meminta izin untuk bertemu ibunya Zahra, sebenarnya Weni juga ingin ikut bersama Melia namun karena sudah terlebih dahulu membuat janji bersama temannya, akhirnya ia mengurungkan niatnya.


"Kalau begitu salam sama, Ibumu. Katakan padanya untuk berkunjung kerumah lagi lain waktu," kata Weni pada menantunya.


Melia mengangguk lalu mencium tangan mertuanya dengan takzim sebelum dirinya melajukan mobilnya membelah jalan raya. Melia tak meminta izin pada suaminya terlebih dahulu dan Melia tahu jika itu salah namun, rasa sakit hatinya masih begitu besar dan membekas pada suaminya hingga membuatnya enggan berbicara atau sekedar mengirim pesan teks pada Antara.


Melia sudah sampai dirumah kost-an Clara, tampak sunyi. Ia naik dan berjalan menuju kamar Clara yang berada dilantai atas, samar-samar terdengar suara perdebatan pria dan wanita. Entah siapa yang saat ini berbicara pada Clara didalam, Melia awalnya ingin masuk dan bergabung namun dia urungkan, mengingat Clara sudah dewasa dan dia yakin dirinya bisa menyelesaikannya. Toh kalau terjadi apa-apa pun juga, dia bisa langsung masuk atau berteriak dengan kencang.


Melia mendekatkan telinganya di balik pintu kamar Clara. "Apakah mereka sedang berbisik?" ucap Melia dengan kesal karena tak dapat mendengar dengan jelas.


Aku tak akan menggugurkan anak ini, dan kau tak perlu khawatir karena aku tak akan membebani mu dengan kehamilanku ini, aku akan mengurusnya seorang diri. Pergilah, aku takkan mengganggumu lagi.


Setelah mendengar perkataan Clara, pintu kamarnya pun terbuka. Terlihat seorang pria tinggi dan berkulit sawo matang keluar dengan wajah frustrasi. Melia tak dapat melihat jelas wajah pria itu karena Melia langsung berbalik dan berpura-pura menghadap tembok.


Melia menghampiri sahabatnya itu dan ikut berbaring di kasur Clara. Ia memeluk sahabatnya itu seraya mengelus punggungnya dengan lembut.


"Apakah dia ayah dari bayimu," tanya Melia dengan hati-hati, ia tak ingin memaksa Clara jika belum mau bercerita padanya.


"Iya.. dia pria itu." Clara membalikkan tubuhnya menghadap langit-langit kamarnya. "Dia datang mencari ku dan menanyakan perihal anak ini," imbuhnya.


"Lalu.. apakah dia mau bertanggung jawab?!" tanya Melia lagi penasaran.


Clara mengangguk pelan dan menerawang apa yang dikatakan pria itu. Terdengar helaan napas Clara panjang, "Dia ingin bertanggung jawab atas anak ini tapi…."

__ADS_1


Clara tak sanggup melanjutkan perkataannya, matanya sudah berkaca-kaca saat memikirkan bagaimana kelanjutan hidupnya.


"Tapi apa, Cla? Apakah dia akan menikahi mu!" seru Melia, karena bertanggung jawab dalam pikirannya adalah dengan cara menikah.


"Tidak, Mel, dia sudah dijodohkan sama orang tuanya. Dia hanya akan bertanggung jawab perihal anak ini, tidak lebih," jawabnya lirih.


Melia langsung berbalik dan memeluk sahabatnya dengan erat, menguatkan Clara agar bisa kuat menghadapi jalan di depannya nanti.


"Kamu tak sendiri, Cla. Ada kami selalu disisimu dan.. jangan lupakan dia juga selalu berada disisimu, jadikan anak ini penyemangat, Cla. Aku yakin kamu bisa melewati semuanya." Melia memberikan semangat untuk sahabatnya, seolah melupakan jika dirinya saat ini juga butuh semangat yang sama agar bisa bertahan di tengah polemik rumah tangganya yang tak berkesudahan.


Setelah mengemasi barang-barang Clara, mereka akhirnya meluncur ke rumah ibunya. Zahra sudah menunggu keduanya di rumah, Zahra juga sudah memasak makanan kesukaan kedua anaknya itu.


Dengan senyum lebar, Zahra menyambut mereka dengan suka cita. Mereka saling berpelukan menyalurkan rasa sayang serta memberikan kekuatan padanya. Mereka makan dengan begitu lahap, beruntung kehamilan Clara tidak menyusahkan nya hingga dia bisa makan segala makanan tanpa harus mual dan muntah seperti kebanyakan ibu hamil pada umumnya. Berbeda dengan Melia yang kini tengah dikamar mandi sedang mengeluarkan semua isi perutnya hingga membuatnya lemas dan tak berdaya.


Zahra dan Clara memapah Melia berbaring di kamarnya. Wajahnya begitu pucat dengan mata yang terlihat sembab, sejak awal bertemu, baik Clara maupun Zahra sudah sangat ingin bertanya namun mereka tahu jelas sifat dan karakter Melia yang tidak akan menceritakan masalahnya jika dirinya belum siap.


"Ada apa sayang? Apa kamu sakit?" tanya Zahra.


"Benar kata, Ibu. Wajahmu sangat pucat, ayo kita dokter, aku khawatir padamu," ucap Clara menimpali perkataan Zahra.


Melia menggeleng pelan, "Aku tak apa-apa, Bu, Cla, aku baik-baik saja. Sebentar lagi pasti pusingnya hilang." Kalian sambung lah makan kalian, tak baik makanan enak di anggurin," ujar Melia berkelakar.


Mereka akhirnya tertawa bersama. Melupakan sejenak beban hidup yang mendera hidup mereka masing-masing. Zahra menatap kedua anak gadis di hadapannya, Zahra berharap tawa keduanya takkan pernah surut lekang waktu.


Ibu berdoa agar kalian akan terus bersama dan tertawa seperti ini sepanjang hidup kalian, berbahagialah, Nak.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2