JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Bab. 64


__ADS_3

"Loh, kok turun! Kan Ibu bilang tadi nggak usah turun, biar Ibu yang bawa sarapan mu ke kamar," ucap Zahra saat melihat Melia menuruni tangga.


Melia tersenyum. "Aku sudah nggak apa-apa kok, sudah segeran juga."


"Ya sudah, kita sarapan dulu setelah itu, baru minum obat!" seru Zahra seraya menyuguhkan nasi goreng buatannya di piring Melia.


"Terima kasih, Bu." ucapnya dengan tulus.


Sudah sejak subuh Melia sudah bangun, bahkan Melia dan ibunya sholat secara berjamaah, rutinitas yang biasa mereka lakukan sebelum Melia menikah.


Melia pun sudah diberitahu oleh ibunya jika semalam suaminya pulang namun saat subuh ia harus segera kembali ke rumah sakit karena mendapat telepon dari ibu mertuanya. Sakit hati? Cemburu? Tentu saja, walau bagaimanapun juga Melia tetaplah wanita biasa yang juga punya hati, bukan seorang Nabi yang mampu menahan segala perasaannya. Ingin mengeluh! Tentu saja sangat ingin namun, Melia lagi lagi disadarkan oleh perkataan ibunya jika apa yang terjadi di dalam hidupnya saat ini ada andil dirinya saat menyetujui syarat dari Karin waktu itu, syarat agar ia mau mencabut tuntutannya waktu itu.


"Oh iya, Mel. Nanti sore Ibu pulang ya!" seru Zahra.


"Loh, kok cepat banget, Bu!" sahut Melia yang merasa sedih karena sebentar lagi ia akan kembali sendirian dirumah.


Zahra paham apa yang dirasakan sang anak. Ia menghentikan suapan Nya, "Sayang, kan sebentar lagi suamimu sudah pulang, jadi Ibu harus pulang. Lagian, izin cuti Ibu tuh cuma 2 hari jadi besok pagi ibu harus kembali ke butik, kasian teman lainnya, sudah beberapa hari ini pekerjaan di butik lagi banyak-banyaknya." tutur Zahra menjelaskan alasan kepulangannya.


"Apa.. Mas Antara saja yang pulang, Bu?" tanya Melia bersemangat dengan mata berbinar.


"Hem, mereka semua akan pulang, tadi mertuamu bilang kalau Karin sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter, dan akan rawat jalan saja dirumah," jawaban Zahra membuat seketika membuat Melia menghela napasnya kasar namun detik berikutnya ia kembali menatap sang ibu.


"Bunda telepon, Ibu!" seru Melia kaget saat Zahra mengangguk mengiyakan apa yang ditanyakan Melia. Pasalnya, selama 2 tahun ia menikah dengan Antara tak pernah sekalipun mertuanya itu bersikap baik pada ibunya. Namun betapa terkejutnya ia saat mengetahui jika mertua dan ibunya sudah saling bertukar nomor telepon hingga mau berkomunikasi seperti saat ini.

__ADS_1


"Kenapa? Kok heran gitu pas tahu mertuamu telepon, Ibu!" ucap Zahra tak kalah seru.


"Nggak, Bu, enggak apa-apa kok, kaget aja nggak biasanya bunda nggak teleponnya sama Melia langsung," Melia tersenyum lebar dengan memperlihatkan deretan putih giginya.


***


Siang ini mereka tengah bersiap untuk pulang ke rumah, karena izin dari dokter kandungan Karin sudah keluar dan mengizinkannya pulang, akhirnya mereka bersiap-siap untuk pulang.


Terlihat Antara dan Weni yang terlihat sibuk merapikan barang bawaan yang mereka bawa sebelumnya. Tidak terlalu banyak karena Karin hanya dirawat 3 hari saja. Sedang Karin, ia hanya duduk dengan santai seraya memainkan ponsel pintarnya yang berlogo apel digigit.


Sebelum pulang, Antara sudah mewanti-wanti Karin agar bisa menjaga perasaannya saat berada dirumah, ia mengingatkan pesan dokter tadi saat pemeriksaan terakhirnya jika ia harus bedrest selama trimester pertama kehamilannya hingga kandungannya hingga ia benar-benar pulih. Karin mengerti dengan jelas dan berjanji akan mematuhi semua perintah dokter dan dirinya, ia tak ingin kehilangan janin yang dia kandung.


Awalnya Karin curiga dan menanyakan soal kehamilannya, karena melihat obat yang begitu banyak yang harus dikonsumsi setiap harinya, terlebih saat ia tak boleh turun dan banyak bergerak dari tempat tidur selama trimester pertamanya. Namun setelah diberitahu jika kehamilan setiap ibu itu berbeda-beda dan setelah mengetahui jika sampai terjadi pendarahan lagi, maka kecil kemungkinan janin yang dikandung bisa selamat untuk yang kedua kalinya, dan Karin tidak menginginkan itu sebab ia tahu jika buah cinta mereka bisa membuat jembatan dalam hubungannya dengan suaminya.


"Ia, ia.. bawel amat," gerutu Karin, bagaimana tak kesal, setiap 5 menit Antara pasti mengulang terus perkataan yang sama berulang-ulang hingga membuatnya bosan.


"Bawel juga demi anak yang kamu kandung!" kata Antara lagi.


"Anak kita, Sayang!" seru Karin mengingatkan.


Antara menghela napasnya, "Iya, iya.. anak kita." balasnya karena ia tahu jika Karin akan ngambek jika tak menjawab 'anak kita'"


Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di pelataran rumah, Karin disarankan untuk memakai kursi roda untuk memudahkannya untuk di dalam rumah, namun entah mengapa ia menolak dengan keras saran dokter, karena Antara tak mau banyak pusing akhirnya ia menuruti kemauan Karin.

__ADS_1


"Kan tadi Dokter bilang, untuk membeli kursi roda! Kalau seperti ini 'kan jadi ribet harus gendong kamu kesana kemari," gerutu Antara yang kesal karena Karin menolak memakai kursi roda hingga membuatnya terpaksa menggendong Karin masuk ke dalam rumah.


***


"Assalamualaikum..." ucap Antara dan Weni bersamaan.


"Wa a-laik-um sa-lam…" sahut Melia dengan cepat saat mendengar suara suami dan mertuanya. Awal ia sangat bersemangat menyambut kedatangan mereka dari rumah sakit, bukan semua, hanya suaminya namun, tak disangka ia malah melihat adegan film India didepan matanya.


Dengan terpaksa Melia tersenyum kecut menyambut kedatangan mereka bertiga. Terlebih melihat senyum Karin yang seolah sedang menyombongkan dirinya karena Antara menggendongnya.


"Hai, Mel! Lama ya nggak ketemu, apa kabar!" tanya Karin basa-basi saat melihat reaksi Melia saat melihatnya.


"Baik," sahut Melia cepat. "Oh iya, Mas. Aku buatin kue kesukaan Mas juga Bunda." ucap Melia mengalihkan pembicaraan.


Kini mereka bertiga, Antara, Melia, dan Karin sudah duduk di ruang makan dan mencicipi kue buatan Melia dengan teh sebagai minumannya. Sedangkan Weni dan Zahra tengah berada di ruang keluarga, bercengkrama dengan akrab. Ya, karena kejadian kemarin, hubungan kedua ibu itu sudah mulai membaik, terbukti dengan gelak tawa keduanya yang terdengar dari ruang keluarga, entah apa yang mereka bicarakan hingga membuatnya tertawa.


"Oh iya, Mel. Kamu nggak beri aku selamat karena aku lagi mengandung anaknya, Antara!" seru Karin yang ingin memprovokasi Melia. Ia ingin sekali melihat wajah sedih Melia. Dan sesuai dengan apa yang dia inginkan, wajah Melia seketika bersedih dan menunduk setelah mendengar kebenaran kehamilan Karin.


"Karin!!" seru Antara dengan keras menegur Karin yang seakan mengejek istri pertamanya itu.


"Kenapa sih, Sayang. Kan aku cuma mau kasih tahu.. siapa tahu dia belum tahu, iya 'kan Mel!" ucap Karin dengan senyum seringai.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2