JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Paradigma Sosial


__ADS_3

Akhirnya Melia bangun dari tidurnya dengan perasaan tak menentu. Setelah menghabiskan malamnya seorang diri di atas kasur king size miliknya. Ia terus menghalau segala pikiran negatifnya, ya, ingin rasanya malam itu ia berlari turun ke bawah dan mengetuk pintu kamar, Karin. Ingin rasanya ia memanggil suaminya dan menarik semua perkataannya yang mengatakan jika dirinya ikhlas membagi perhatian suaminya. Malam yang sangat panjang dan menyedihkan bagi Melia yang terus meratapi kesendiriannya malam itu hingga ia terlelap.


Melia bangun dengan malas, rasanya sangat enggan ia beranjak dari kasurnya. Ingin rasanya pertengkaran kemarin dengan Antara menjadi mimpi buruk belaka. Bisakah ia beranggapan demikian!


Akhirnya setelah menata hatinya, ia memberikan diri turun ke bawah dan langsung menuju dapur yang tak letaknya tak jauh dari tangga yang menghubungkan ke lantai 2 rumah itu.


"Ada apa dengan jantungku!" seru Melia saat merasakan degup jantungnya berdetak sangat cepat pagi ini. Menuruni anak tangga perlahan menuju dapur. Jantungnya kian berdegup dengan kencang saat mendapati, Karin dengan rambut yang masih terlihat basah saat keluar dari kamarnya.


"Rambut basah! Kenapa rambut, Karin masih basah? Apakah dia baru selesai keramas! Apakah semalam dia dan Mas Antara sudah …." seketika pertanyaan itu muncul dibenaknya.


Entah mengapa paradigma tentang keramas saat di pagi hari diidentikkan jika orang tersebut baru saja selesai melakukan hubungan suami-istri. Padahal secara logika, saat seseorang sedang mandi, tentu saja seluruh tubuh tanpa terkecuali rambut pun akan basah, memakai shampo dan tidak, itu pilihan individunya sendiri, jika merasa membutuhkan shampo gunakan membersihkan rambutnya yang kotor maka akan memakai shampo dan begitupun sebaliknya. Jadi tidak selamanya orang yang sudah menikah lalu keramas di pagi hari maka dia baru selesai melakukan hubungan ****.


"Ada apa!" ucap ketus, Karin saat mendapat tatapan selidik dari, Melia. Ia menjadi risih saat ditatap seperti itu hingga memancing kekesalannya.

__ADS_1


Melia terlonjak kaget saat melihat, Karin sudah berada tepat di hadapannya. "Aa-ada apa!"


"Ada apa? Kamu nggak salah ngomong! Atau kamu salah minum obat!" kata Karin hingga semakin membuat Melia bingung. "Harusnya aku yang bertanya padamu, kamu itu kenapa? Kenapa lihatin aku kayak gitu? Ada yang salah, hah!" Karin begitu kesal pada istri kedua suaminya itu.


"Mas Antara mana? Apa dia belum bangun!" kata Melia mengalihkan topik pembicaraan.


"Antara? Kamu tanyain dia sama aku, enggak salah, hah! Ini masih pagi ya, Mel. Aku gak mau bertengkar pagi buta begini!" Ucap kesal, Karin yang langsung berlalu meninggalkan Melia yang masih mematung di depan tangga.


"Kenapa dia ngomongnya gitu? Apa dia lagi berpura-pura atau memang tidak tahu, mas Antara dimana." gumam, Melia dalam hati.


Plin plan! Ya, hati, Melia mulai gamang dengan keputusannya sendiri. Harusnya ia bisa membiarkannya dengan baik serta perlahan. Seharusnya dia bisa bicara dengan lembut seperti biasanya.


......................

__ADS_1


Menu pagi ini Melia sudah membuat Nasi goreng ikan asin dengan ikan jambal fillet sebagai proteinnya. Tak lupa sambal terasi kesukaan sang ibu mertua, Weni. Ia yakin jika ketulusan permintaan maafnya yang tertuang dalam masakannya pagi ini bisa dirasakan suaminya.


Masakan yang dibuatnya sudah disajikan diatas meja makan, Melia menatanya dengan begitu cantik hingga siapa saja yang melihatnya pasti akan tergiur. Satu persatu anggota keluarga sudah duduk rapi di meja makan. Namun, Melia sampai detik ini belum melihat sang suami.


"Kemana, Mas Antara? Apa dia belum bangun juga, atau dia ketiduran karena terlalu lelah—" batinnya. Ia tak sanggup meneruskan perkataannya sendiri.


Mereka sudah duduk di kursi mereka masing-masing. Namun hingga 15 menit menunggu, Antara belum juga menampakkan batang hidungnya. Hingga membuat Weni bertanya, ia sudah tak tahan ingin segera merasakan sambal terasi yang diyakini adalah buatan menantunya, Melia. Ia sangat hafal bentuk sambal buatannya.


"Antara mana sih, Mel? Dia belum bangun! Apa dia nggak masuk kerja?" Weni sudah tak tahan rasanya ingin segera mengisi perutnya yang meronta-ronta.


Melia yang ditanya pun beralih menatap, Karin. Sedang, Karin yang ditatap pun menatap balik, Melia dengan tajam. "Ada apa lagi? Kenapa kamu malah lihatin aku! Tunggu dulu … jangan bilang kalau semalam kalian tidak tidur bersama?!" selidik, Karin yang mulai bisa membaca keadaan.


"Iya, Mel. Kenapa kamu malah lihatin, Karin! Bukannya ke naik ke kamarmu dan panggil suamimu turun untuk sarapan."

__ADS_1


"Tunggu dulu, jadi semalam, Mas Antara semalam tidak ke kamar, Karin? Jadi rambutnya basah itu karena … apa hanya karena dia memang ingin keramas saja!" Melia bermonolog dalam hati, "Jadi sebenarnya, Mas Antara tidur dimana semalam?" sambungnya lagi.


...****************...


__ADS_2