JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Video berdurasi 20 detik


__ADS_3

Melia yang berada di dapur segera berlari ke arah pintu depan saat mendengar suara mesin mobil. "Akhirnya dia pulang!" gumam Melia dalam hati. Namun saat sampai di depan pintu, Melia tercengang saat melihat Antara yang dirangkul oleh, Karin. Melia kaget bukan karena melihat, Karin yang merangkul mesra suaminya namun dia kaget karena, Antara tak menolak sama sekali sentuhan dari Karin. Karena selama ini Antara selalu menjaga jarak dengannya.


Karin yang menyadari keberadaan, Melia pun langsung menoleh ke arahnya, "Kenapa kamu kaget begitu, ada yang salah, huh!" Karin tak suka dengan tatapan, Melia padanya.


"Enggak ada. Mas Antara kenapa? Apa dia sakit atau—" ucapan, Melia terhenti saat Karin menyuruhnya berhenti dengan gerakan tangan saat ia akan menghampiri, Antara.


"Tapi …."


"Aku mohon padamu, Mel. Berikan waktu padaku dan Antara untuk memulai awal kehidupan kami. Bukankah kamu sendiri yang bilang untuk aku bisa berusaha sendiri! Dan sekarang kamu lihat 'kan dia sudah mau aku sentuh! Artinya dia sudah mulai membuka hatinya untukku." ucap, Karin tegas. Ia tak ingin rencana yang telah disusun dengan rapi harus gagal karena, Melia.


Melia tak lagi melanjutkan langkahnya, saat ini ia hanya bisa melihat Antara yang dipapah masuk ke dalam kamar, Karin. Ada rasa sesak yang bergemuruh di hatinya saat melihat secara suaminya masuk ke dalam kamar wanita lain, meskipun dia juga berstatus sebagai istrinya.


Melia menekan dadanya yang terasa sakit, terlebih saat, Karin kembali membuka pintunya dan berkata pada, Melia dengan gamblang. "Besok pagi kamu nggak usah bangunin aku dan Antara untuk sarapan pagi, mungkin kami akan terlambat keluar kamar," senyum nakal terbit dari bibir, Karin. Ia sengaja ingin memanas-manasi, Melia. Ia ingin, Melia juga merasakan apa yang selama ini dia rasakan saat melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain didepan matanya.


......................


Melia naik ke kamarnya dengan langkah gontai. Rencananya malam ini, Melia ingin meminta maaf pada suaminya dan berjanji takkan lagi mendesaknya untuk bisa menerima, Karin. Namun ternyata tanpa Melia sadari jika hubungan keduanya sudah mulai membaik. "Apakah semalam mereka sudah—" gumam Melia dalam hati. Ia tak melanjutkan kembali pemikirannya, ia tak ingin berandai-andai yang akan membuatnya sakit hati.


Tengah malam sudah lewat, namun Melia masih belum bisa menutup matanya. Rangkulan mesra, Karin masih terus terbayang di pelupuk matanya. Entah apa yang mereka lakukan di bawah sana. Sampai saat ponselnya berdering. Terlihat sebuah pesan dari, Karin. Karin mengirimkan sebuah video berdurasi 20 detik padanya. Tak berselang lama, ponselnya kembali berbunyi dan lagi, Karin mengirimkannya sebuah pesan, namun kali ini sebuah pesan singkat.

__ADS_1


"Jangan dibuka jika kamu enggak kuat," Mendapat pesan itu membuatnya semakin penasaran dengan isi video berdurasi singkat itu. Dengan ragu akhirnya, Melia memberanikan diri untuk membukanya.


Di detik pertama, terdengar suara lenguhan dari keduanya. Ia hafal betul pemilik suara itu tanpa ia melihatnya langsung. Ya, Melia membukanya namun dengan menutup matanya, ia tak sanggup jika harus melihatnya. Pikiran negatif pun mulai melayang dibenaknya. "Sebenarnya apa yang mereka lakukan di video itu!" Melia membuat dirinya terlihat bodoh dengan berpura-pura tak tahu.


Melia menjeda video tersebut, hatinya tak kuat melanjutkan video tersebut namun, rasa penasarannya yang begitu besar terus memaksanya melanjutkan video tersebut hingga pada akhirnya ia memberanikan diri melihat isi video tersebut dengan mata telanjang.


Melia spontan menutup bibirnya dengan tangan kanan dengan mata berkaca-kaca. Matanya masih terus tertuju pada layar ponsel miliknya. Kakinya melemas, seketika air matanya mulai jatuh seiring dengan suara lenguhan percintaan panas mereka berdua. Video berdurasi 20 detik itu begitu menyayat hatinya.


Melia bangun dengan malas, ada rasa enggan saat membuka mata. Ia duduk ditepi ranjang, masih terlihat dengan jelas bayangan-bayangan percintaan panas suaminya dengan Karin malam itu. Mengingat itu semua, membuat luka yang mereka torehkan kembali sakit. Melia bangun dan bergegas ke kamar mandi dan bersiap turun membuatkan sarapan seperti biasanya seolah tak terjadi apa-apa.


Ya, Melia memilih menyangkal kenyataan malam itu karena ia tahu jika apa yang diperbuat suaminya itu tidaklah salah. Kenyataan bahwa sekarang, Karin sudah menjadi bagian dari hidup suaminya sekarang. Dan Melia baru menyadari rasa sakit yang teramat ketika melihat pria yang kita cintai bertukar peluh hingga saliva dengan wanita lain.


"Maaf, Bun, aku telat bangunnya," kata Melia mencoba bersikap biasa. Ia makan seperti biasa, tak ada yang berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya, kecuali satu, tak ada lagi kemesraan yang terlihat di antara anak dan menantu pertamanya itu. Hingga membuat Weni tergelitik untuk bertanya.


"Kalian masih bertengkar?" tanya Weni menatap Antara dan Melia bergantian, seakan sedang menunggu jawaban dari keduanya.


Melia dan Antara saling bertatapan cukup lama, hingga Melia memilih memutus kontak matanya terlebih dahulu. "Nggak, Bun. Kami gak bertengkar. Semua baik-baik saja," jawab Melia disertai senyum tipis.


Antara muak melihat senyum palsu yang dibuat Melia pada semua orang. Walau tak mengatakannya namun, Antara tahu senyum yang dikeluarkan oleh Melia saat ini adalah senyum palsu. Ada hal yang dia tahan sedari tadi, mungkin orang lain tak bisa melihatnya, namun tidak dengan dirinya. Ia bisa melihat dengan jelas raut wajah istrinya itu, terlebih mata sembab yang menghiasi matanya namun disamarkan oleh riasan make up yang cukup tebal.

__ADS_1


"Baguslah kalau kalian sudah baikan, Bunda cuma nggak suka atmosfer rumah ini menjadi panas karena kalian bertengkar," ungkapnya. "Terus, kamu sendiri kenapa? Sejak tadi, Bunda perhatikan kamu tersenyum terus, apa ada kabar yang baik hingga membuatmu terus tersenyum seperti itu!" lanjut Weni menatap menantu keduanya itu.


Karin melirik ke arah Antara yang terlihat fokus pada makanan yang ada di depannya. Namun terlihat berbeda dengan Melia seketika membuang pandangannya saat kedua matanya saling bertabrakan dengan manik mata suaminya. Ia tak akan sanggup melihat mata suaminya itu, mata yang menyiratkan kekecewaan padanya.


"Kalau kamu bagaimana, Nak? Apakah pekerjaanmu lancar!" tanya Weni saat melihat sang anak sejak tadi tak bersuara.


"Baik, Bun. kalau begitu aku duluan," pamit Antara pada semuanya, Weni yang merasa ada yang aneh pada sang anak segera memanggilnya.


"An, tapi sarapan mu belum habis!" Antara menghentikan langkahnya saat mendengar namanya dipanggil. Antara menjawab tanpa menoleh ke Weni, "Maaf, Bun, ada meeting penting pagi ini, aku buru-buru." ucapnya datar lalu kembali melangkah hingga menghilang di balik pintu.


Weni menghela napasnya ke udara.


"Sebenarnya ada apa sih sama kalian semua? Bunda pusing banget sama kalian, apa gak bisa kalian bicarakan dengan baik masalah kalian! Bunda gak suka dengan suasana rumah ini, semakin hari semakin suram, tak ada tawa dan canda ataupun teriakan seperti biasanya. Sebenarnya kalian kenapa? Coba bilang sama, Bunda!" Weni mengulang kembali pertanyaan yang tidak dijawab sedari tadi oleh anak dan kedua menantunya itu.


"Maaf, aku keluar sebentar!" Melia segera berlari keluar menuju pintu depan, berharap sang suami belum meninggalkan rumah. Sedang Karin yang melihat Melia berlari ingin ikut menyusul namun segera dihentikan oleh Weni.


"Stop! Kamu duduk, sekarang jelaskan sebenarnya apa yang terjadi disini! Apa ada hal yang, Bunda tak ketahui?" tanya Weni penuh selidik seraya menatap tajam, Karin yang diam membisu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2