
"Hem.. lengketnya, berendam air hangat sepertinya enak," gumam Melia yang langsung bangkit dari kasur menuju kamar mandi.
Tubuhnya terasa lengket karena belum mandi sore tadi, ditambah sejak beberapa bulan terakhir, ia memang sering berkeringat dan kata dokter itu adalah hal yang biasa yang dialami oleh beberapa ibu hamil karena adanya perubahan hormon di dalam tubuh.
Sekitar 15 menit lamanya Melia berendam di dalam bathtub. Kini tubuhnya jauh lebih segar dan itu membuatnya lebih bersemangat. Melia kemudian mulai merebahkan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk, "Ahhhh.. rasanya hari ini begitu panjang."
Berkali-kali Melia menghela napasnya panjang. Dengan tidur dia berharap agar tenaganya bisa terkumpul kembali tuk berjuang menyongsong hari esok.
Pagi yang cerah, matahari bersinar terang di balik dedaunan pohon yang rindang. Melia merasakan berat di tubuhnya, dia mulai membuka matanya secara perlahan. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali, dia merasa tidak yakin dengan apa yang dilihatnya saat ini. Suaminya memeluknya dengan sangat erat, erat hingga membuatnya sedikit sulit untuk bergerak.
Rasa sesak membuat dadanya terasa pengap. Ingin sekali rasanya Melia membalas pelukan suaminya itu, namun.. entah mengapa sekelebat bayangan percintaan panas suaminya dengan Karin terus terbayang di pelupuk matanya.
Melia menggeleng kepalanya menyingkirkan bayangan malam itu yang membuat hatinya akan kembali sakit. Ia tak ingin awal paginya menjadi berat karena memikirkan masalahnya.
Melia mengangkat lengan suaminya dengan perlahan, ia tak ingin mengganggu tidur suaminya. Ia memang tak tahu pukul berapa suaminya itu pulang namun, bisa dipastikan jika tidurnya pasti belum lagi.
Gerakan kecil Melia ternyata membuat suaminya terbangun. Antara menatap istrinya dengan sorot mata yang tajam sampai rasanya tatapan itu berhasil menembus jantungnya. Bohong kalau dadanya tidak berdetak lebih cepat, ada rasa rindu yang menggebu dihatinya.
"Aku mohon tetap seperti ini untuk beberapa saat. Aku sangat merindukanmu," ucap Antara saat merasakan penolakan sang istri.
"Sudahlah, Mas, aku ingin bangun, lepaskan aku!" Melia melepas tangan Antara dengan sedikit kasar. Ada rasa nyeri seketika dirasakan oleh Antara saat merasakan penolakan sang istri.
__ADS_1
Melia yang hendak bangun dengan cepat menahan tubuh sang istri dan langsung memeluknya erat dari belakang. Membuat Melia sedikit tersentak karena kaget.
"Maafkan aku!" Antara memohon dengan lirih.
Tanpa bisa ditahan, Melia merasa pelupuk matanya menghangat, dan pandangannya berkaca-kaca. Ia menundukkan wajahnya dan berharap agar suaminya tak melihat linangan air mata yang siap jatuh kapan saja.
Antara mengangkat wajah sang istri, menengadah wajahnya ke atas hingga ia bisa menatap penuh wajah sang istri. Melihatnya bersedih saja sudah membuatnya merasa tak sanggup. Apalagi saat ini ketika melihat air matanya menetes. Sakit, satu rasa yang tergambarkan saat melihat air mata sang istri.
"Aku tahu aku salah dan aku begitu menyakitimu, dan aku tahu jika maaf takkan berarti bila dibandingkan dengan rasa sakit yang kau rasakan saat ini. Aku tahu, aku suami yang egois, namun satu yang harus kamu tahu jika aku benar-benar hanya mencintaimu, hanya kamu yang aku cintai. Hanya ada namamu yang terpatri dalam hati ini, percayalah." tutur Antara dengan terisak.
Antara sangat takut jika suatu saat nanti, Melia akan pergi meninggalkannya. Ketakutan ketakutan itu yang membuatnya begitu marah kemarin hingga tak sadar jika berefek buruk bagi rumah tangganya. Antara mengira jika kehidupannya sudah mulai membaik dan tertata beberapa bulan ini, namun entah mengapa kini ia merasa jika hidupnya tidak sedang baik-baik saja.
Begitu banyak hati yang harus dia jaga hingga terkadang membuatnya frustrasi. Berumah tangga dengan beristri 2 membuat hidupnya semakin runyam. Antara dan Melia, dua insan yang terseret dalam lingkaran takdir kehidupan karena keegoisan dari Karin dan Weni, bundanya.
"Tidak akan, Sayang. Aku takkan pernah membiarkan itu terjadi, rumahmu masih sama seperti yang dulu, masih sama saat pertama kali membangun rumah tangga kita, rumah yang menjadi tempatmu bernaung dari segala macam cuaca yang akan menerpa." potong Antara.
Kamu salah, Mas. Rumah itu tak lagi sama, Mas.. ada impian lain yang sedang menunggumu di ujung jalan sana, dan.. entah aku mampu atau tidak melepas mu disaat kau harus memilih akan akan berlabuh di impian yang lain.
Melia menatap lekat wajah sang suami, sungguh dirinya tak tega melihat pria yang dicintainya harus berdiri diantara dua pilihan yang sulit.
***
__ADS_1
Setelah pergolakan batin yang berat, akhirnya Melia memilih untuk menutup matanya sekali lagi dan memilih melanjutkan perjalanan pernikahannya.
Meluapkan rasa rindunya dengan menyampingkan egonya. Jujur, setiap kali Antara mencium dan mencumbunya, ada rasa jijik yang dirasakannya, entah ini adalah hal yang wajar atau tidak bagi seorang istri yang bersuamikan beristri lebih dari satu.
Mungkin jika Melia tak melihatnya secara langsung saat itu, mungkin saja hubungan mereka bisa seperti biasa, namun nasi sudah menjadi bubur. Melia meyakinkan dirinya jika dirinya bisa menahan rasa itu. Ya, Melia mencoba ikut menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh suaminya, sebisa mungkin ikut menikmatinya.
Pagi harinya, Melia dan Antara turun bersama dan menyusul anggota keluarga lainnya yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Oh, Ya Tuhan.. kalian ini, kalau bukan Bunda yang menyuruh bibi naik memanggil kalian turun mungkin saja kalian masih betah berlama-lama di dalam kamar kalian itu!" keluh Weni yang sangat kesal setiap kali anak dan menantunya itu berbaikan pasti akan lupa waktu.
"Maaf, Bun. Antara sangat lelah semalam habis lembur, makanya agak telat bangunnya," jelas Antara.
"Lembur di kantor atau habis lembur in istri kamu!" ejek Weni menggeleng melihat tingkah anaknya, "sudah, ayo kita makan sekarang. Dan ya, siang nanti Bunda akan pergi ke Villa teman bunda yang baru. Dia memamerkan hadiah yang diberikan menantunya padanya jadi siang dan malam nanti kalian makanlah bertiga, bunda akan menginap disana sehari." Imbuhnya.
"Baiklah aku ke kantor dulu, ada begitu banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan hari ini," pamit Antara pada semuanya.
"Sayang, tetap di rumah ya.. jangan kemana-mana, oke!" seru Antara menatap istrinya, Melia.
Melia tersenyum mendengar peringatan sang suami, "Iya, Mas."
Sejak pertengkaran mereka kemarin, kini Antara jauh lebih protektif pada Melia, dia tak lagi mengizinkan istrinya itu keluar rumah sendirian tanpa dirinya.
__ADS_1
Sementara Antara dengan kesibukannya di kantor dan Weni yang tengah bepergian bersama teman-teman sosialitanya di Villa. sedang Melia dan Karin terlibat perdebatan di meja makan.
...****************...