
Zahra menggenggam tangan keduanya, tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Zahra mengerti apa yang sedang dirasakan oleh kedua putrinya tanpa mereka bicara mengatakannya sekalipun.
"Makin cepat kamu memberitahukannya maka akan semakin cepat permasalahan kalian bisa selesai," ujar Zahra. Ia seakan tahu jika hubungannya dengan suaminya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Zahra tak ingin menghakimi siapa pun karena keputusan yang sudah mereka ambil sudah menjadi keputusan mereka bersama dan Zahra yakin jika anak dan menantunya itu bisa menyelesaikan semuanya dengan bijak.
Melia menatap sang ibu, "Kenapa, Ibu tak bertanya sama Melia apa yang terjadi?" tanya Melia penasaran, karena selama mereka menikah, ibunya tak pernah bertanya setiap kali dirinya bermasalah dengan suaminya.
"Karena Ibu percaya sama kamu, Sayang. Ibu yakin sebelum kamu mengambil keputusan kamu pasti sudah memikirkan segala kemungkinan hingga sampai dengan hal terburuknya, benar bukan!" Zahra tersenyum dan semakin mengeratkan genggaman tangannya. Dan Melia tahu jika sang ibu kini sedang menguatkannya.
"Aku sayang sama, Ibu. Terima kasih karena Ibu percaya sama Melia 100 persen." Tutur Melia dan langsung memeluk lengan Zahra dan menyandarkan kepalanya tepat di bahu sang ibu.
Clara yang melihat interaksi ibu dan anak itu seketika meneteskan air mata. Bagaimana tidak, berapa sayangnya Zahra pada Melia bahkan tanpa Melia mengatakannya pun, Zahra sudah mengerti apa yang anaknya rasakan.
Zahra dan Melia yang sadar akan tatapan Clara pada mereka pun lalu berbalik ke arah Clara saat ini.
"Kamu mau dipeluk juga, Cla!" seru Melia. Sedang orang yang ditanya hanya mengangguk pelan dengan menampilkan wajah sendunya.
"Mendekatlah, biar Ibu peluk juga." Zahra meminta Clara mendekat dan merentangkan tangannya agar dirinya bisa memeluk tubuh Clara juga.
"Oo, Sayang.. sini sini biar kakak peluk juga," kata Melia dengan suara dibuat seperti anak kecil.
Dan akhirnya mereka berpelukan satu sama lain, bak teletubbies yang saling berpelukan dengan eratnya hingga tanpa mereka sadari jika mereka saat ini sedang menjadi tontonan orang orang disekitarnya.
***
"Pak Antara sedang keluar, Nona dan sepertinya beliau pergi sendiri karena Pak Malik tidak ikut serta."
__ADS_1
Itulah isi pesan chat yang dikirimkan mata-mata Karin di kantor suaminya.
"Dia pergi kemana ya kira-kira? Apa dia menuju kemari!" kata Karin dalam hati.
Detik berganti menit dan menit berganti jam namun hingga kini Antara belum juga terlihat batang hidungnya, membuat Karin resah gelisah.
"Ish.. kemana sih dia keluyuran, padahal dia sudah pergi sejak 2 jam yang lalu," ucap Karin dengan kesal.
Meninggalkan Karin yang tengah ngedumel, Antara tengah berada di dalam kamarnya yang berada di lantai dua. Antara geram pada istrinya, Melia karena pergi meninggalkan rumah tanpa memberitahunya. Apa lagi saat Bik Nani mengatakan jika Melia pergi sejak tadi pagi dan tanpa pamit atau meninggalkan pesan padanya.
"Apa dia ke rumah Ibu lagi?" batin Antara bergumam.
Padahal niatnya pulang karena ingin makan siang bersama dan kembali berbaikan dan juga menyelesaikan masalahnya serta ingin meminta maaf karena sudah berkata kasar padanya, namun setelah sampai dirumah, Antara justru dibuat kecewa karena ternyata Melia tidak dirumah, padahal Antara sengaja menyisihkan waktunya yang sibuk untuk bisa makan siang bersama sang istri, kecewa, kesal bercampur menjadi satu karena ekspektasinya tak sesuai dengan kenyataan yang ada.
Di tempat berbeda, tepatnya di sebuah mall yang tak jauh dari lokasi rumah sakit tempat Clara memeriksakan kandungannya, mereka makan siang bersama disalah satu restoran Jepang. Ya, Melia lagi ngidam ramen, dia sangat ingin memakan salah satu olahan makanan khas negara Jepang yang terbuat dari bahan dasar berupa mie yang berkuah.
"Wah, sepertinya lagi ada yang ngidam, Bu!" celetuk Clara saat melihat sahabatnya itu sangat tidak sabaran hingga menyuruh pelayan menyiapkan pesanan mereka dengan cepat. Zahra hanya tersenyum melihat ekspresi Melia yang seperti anak kecil.
"Emang kamu nggak pernah ngerasain ngidam, Cla? Apa kek misalnya mangga muda atau makanan yang segar segar seperti itu!" ucapnya dengan mata berbinar, sedang Clara hanya bergidik ngilu saat membayangkan dirinya memakan mangga muda yang rasanya pasti sangat kecut.
"Ngidam makanan sih enggak tapi kalau ngidam yang lainnya sih ada kayaknya," Clara tertawa cengengesan saat membayangkan apa yang ingin dia lakukan selama beberapa Minggu ini.
"Ngidam yang lain apa?" tanya Melia yang sangat penasaran dan ingin tahu apa yang diinginkan oleh Clara.
Clara terdiam sejenak lalu membisikkan sesuatu di telinga Melia hingga membuatnya tertawa terpingkal karena mendengar ngidam Clara yang menurutnya sangat konyol.
"Settt, apaan sih, Mel." Clara yang kesal langsung menutup mulut Melia karena tawanya kini mereka menjadi bahan perhatian satu restoran.
__ADS_1
"Sudah sudah, itu makanannya sudah datang," ujar Zahra saat melihat pelayan yang tadi mencatat pesanan mereka sudah datang dengan tiga buah mangkok yang sudah berisi ramen dengan kuah panas di dalamnya.
"Lepasin, Cla. Janji nggak bakal ketawa-in ngidam kamu lagi deh!" kata Melia yang terdengar tidak jelas karena mulutnya masih tertutup oleh tangan Clara.
***
Setelah makan siang bersama, kini ketiganya tengah berbelanja kebutuhan rumah dan dapur di salah satu supermarket yang berada di dalam mall yang sama tempat mereka makan tadi. Mereka berbelanja karena kebutuhan rumah sudah menipis dan juga stok isi kulkas Zahra sudah banyak yang habis.
Zahra kini sudah tak bekerja lagi karena permintaan Antara dan Melia kala itu. Antara pun rutin mentransfer nominal yang lumayan banyak di rekening ibu mertuanya itu. Sedang Melia pun juga rutin memberikannya setiap bulan untuk ibunya. Lalu kini ditambah Clara yang juga ikut membiayai Zahra karena menumpang di rumah Zahra yang merasa memiliki tanggung jawab menafkahi karena merasa Zahra kini menjadi tanggung jawabnya juga.
"Sudah selesai semuanya, Bu?" tanya Clara yang berada di meja kasir.
"Sudah, Sayang.. semua sudah lengkap," ujar Zahra.
Setelah membayar belanjaannya, kini mereka tengah berjalan menuju ke arah pintu keluar namun tiba-tiba—
BRUKK!
"Astaghfirullah, ya ampun.. pakai acara bocor segala lagi!" Melia mendecak kesal saat belanjaan yang dibelinya kini sudah berhamburan di bawah lantai.
Melia memungut beberapa belanjaan yang berada di bawah lantai dan tiba-tiba saat akan mengambil sisa barang, seseorang membantunya memungut barang yang juga akan diambil Melia.
"Ini…." ucap seorang pria menyerahkan barang yang hendak diambil Melia.
"Ah iya, terima kasih, Pak—" ucapan Melia terhenti saat melihat orang yang ada di hadapannya saat ini adalah orang yang sangat dikenalnya.
"Melia … kamu Melia 'kan!" ucap Rico saat melihat wanita yang ditolongnya adalah orang yang sangat dikenalnya.
__ADS_1
...****************...