JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Terbawa Arus


__ADS_3

"Aku tidak sedang bermimpi 'kan!" Lirih Antara.


Melia tersenyum menanggapi perkataan Antara. "Tentu saja tidak, kenapa, Mas? Kenapa kau berkata seperti itu!"


"Jika ini memang mimpi… Aku berharap untuk bisa seperti ini sebentar lagi, sebelum nantinya aku terbangun dan kamu tiba-tiba menghilangkan." Lanjut Antara yang kini sudah mendekap erat tubuh Melia dari belakang. Menyandarkan kepalanya di bahu wanita yang selalu terbayang di pelupuk matanya.


"Kamu manis sekali, Mas. Belum pernah aku merasa di istimewa 'kan seperti ini oleh orang lain selain Ibuku." Batin Melia. Ia mengusap-usap rambut lebat milik Antara dengan pelan, merasakan pelukan yang entah mengapa semakin erat.


Entah mengapa aroma yang menguar dari tubuh Melia menimbulkan rasa tertarik hingga tak ingin melepaskan tangannya. "Parfum apa yang kamu pakai hingga tubuhmu sangat wangi." Tanya Antara yang semakin mendekatkan wajahnya disekitar leher Melia hingga membuat si empunya merinding oleh hembusan napas Antara.


"Geli, Mas. Parfum ku parfum biasa kok, yang banyak dijual di emperan toko," Jawab Melia malu-malu.


Melia semakin meremang saat mendengar deru napas Antara yang semakin cepat. "Mas, sudah lepas, Mas. Nggak enak dilihat orang!" tegur Melia, ia tak ingin mereka melangkah lebih jauh sebelum hubungan mereka benar-benar resmi sebagai pasangan suami-istri. Ia tak bodoh jika tak tahu jika mereka sama-sama mulai te/rang/sang satu sama lain.


"Tak ada orang disini, Mel. Aku takkan melampaui batas-batas yang sudah kau jaga selama ini. Aku hanya ingin meyakinkan diriku jika ini bukan mimpi, jika ini nyata dan saat aku membuka mataku, kamu masih ada di dalam dekapanku." ucapnya memohon.


"Baiklah, tapi jangan terlalu lama. Aku takut jika posisinya seperti ini terus, akan ada yang terbangun dari mimpinya, kan repot buat menidurkannya lagi, bener 'kan!' candanya membuat Antara tertawa kecil.


"Kamu benar, maaf jika membuatmu tak nyaman." Balas Antara yang kini sudah menegakkan kembali kepalanya tanpa melerai pelukannya.


"Iya, Mas gak apa-apa. Kita jalaninya serius tapi tetap di jalur yang aman." ucap Melia mengelus punggung tangan Antara lembut. Ia tak ingin pengalaman buruk Ibunya terulang padanya.


"Kalau shampo? Kamu pakai merk apa? Kok wangi banget!" Lagi-lagi Antara mencium pucuk kepala Melia berulang. Aroma rambutnya menguat seiring dengan terpaan angin yang membuat rambut Melia berterbangan hingga sampai di indera penciuman Antara.


Tawa Melia pecah. "Ada apa sih, Mas. Sejak tadi kau terus saja bertanya merk parfum ku, dan sekarang shampo! Sebentar lagi apa? Sabun!" Sahutnya sembari tertawa. Tubuhnya sedikit berguncang karena tawanya.

__ADS_1


"Entahlah, entah mengapa seluruh aroma mu sudah menjadi candu ku." ungkap Antara. Ia membalikkan tubuh Melia, kini mereka sudah saling berhadapan satu sama lain. "Aku punya 1 permintaan padamu, bisa kamu kabulkan!" Pinta Antara dengan tatapan mata yang sulit ditebak Melia.


"Permintaan!" ulang Melia.


Antara mengangguk. "Iya, permintaan pertama dan terakhirku."


"Apa?" sahut Melia. "Ya, Allah jangan sampai dia minta 'ITU'." batin Melia takut.


"Aku minta agar kau takkan pernah pergi dariku. Hanya itu, jangan pernah meninggalkanku. Kamu mengerti!" ucapnya tegas namun dalam sarat makna.


Melia mengangguk. "Baiklah, tapi aku pun ingin minta sesuatu darimu. Jika nanti aku meminta sesuatu, aku ingin kamu mengabulkannya juga. Bagaimana!"


"Pasti, apapun, aku pasti akan mengabulkannya, bahkan jika itu nyawaku sekalipun." jawabnya dengan bibir bergetar, dengan sorot matanya begitu tajam menatap Melia. Setiap inci di wajah wanitanya, ia menelisik satu persatu hingga tatapan terakhir pandangannya mengarah ke bibir merah sensual Melia. Antara membelai wajah wanita yang kini sudah resmi menjadi miliknya, walau belum seutuhnya, paling tidak dia tak perlu lagi membayangkannya."


"Aku mencintaimu Melia Putri," ucap Antara sembari mengecup kening Melia erat lalu memeluknya.


Melia merasakan kenyamanan dan kehangatan di waktu bersamaan hingga lupa bahwa perbuatannya itu bisa memancing hasrat Antara sebagai pria normal.


Antara yang mulai tak bisa menahan gejolak di dalam hatinya pun mulai tak kuasa untuk tidak semakin mengeratkan pelukannya hingga membuat Melia tersadar hingga ingin melepaskan tangannya namun Antara dengan sigap menariknya kembali. "Jangan, jangan lepaskan. Sebentar saja biarkan seperti ini, artinya cintaku tak bertepuk sebelah tangan." ucapnya lirih.


"Apa maksudmu?" tanya Melia heran.


"Sejak tadi aku belum mendengar kamu membalas perasaanku padamu jadi kukira —


"Kau kira aku tak memiliki perasaan padamu? Begitu!" Melia sedikit tergelak. Jika aku tak memiliki perasaan padamu, sudah sejak tadi kamu merasakan bogem mentah dariku." Tandas Melia.

__ADS_1


"Wah, wah… calon istri ku ternyata bukan orang sembarangan ya! Aku makin cinta deh!" Sambung Antara yang tanpa sadar mengecup bibir Melia. Kini mereka saling menatap, beradu pandangan dengan intens. Gelenyar hangat mengalir dalam tubuh mereka. Perlahan Antara menurunkan wajahnya, melihat ada sinyal dari mata Melia yang tertutup seakan mengijinkannya untuk mengecup bibir manisnya. Hingga Antara tak kuasa menahan gelora panas yang dirasakannya.


Antara mencium bibir Melia dengan lembut. Suasana yang sunyi, sepi dengan angin yang bertiup semakin membuat suasananya semakin romantis, perlahan ciuman itu semakin dalam hingga membuat tubuh Melia bersandar didek kapal. Bibir mereka belum juga terpisahkan bahkan semakin memperdalam ciumannya hingga tangan Antara mulai menjelajahi lekuk tubuh Melia. Ia bisa dengan jelas merasakan kulit mulus Melia karena mengenakan dress lengan pendek. Menjalar ke setiap inci tubuhnya hingga membuat kesadaran kembali.


Seketika mata Melia terbelalak saat menyadari pose keduanya saat ini. Dan Antara yang baru tersadar setelah tersentak oleh dorongan Melia.


"Ma-maaf, maafkan aku, Mel. Aku tak sengaja, aku mohon maafkan aku." Antara tak henti memohon maaf pada Melia. Ia takut jika Melia akan marah dan akan menjauhinya.


Melia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan ke udara. "Aku pun salah , jadi ini bukan sepenuhnya salah Mas. Suasana pun ikut andil dalam hal ini." pungkas Melia.


Keheningan keduanya buyar tatkala rintik hujan menyadarkan mereka bahwa sudah sejak tadi mereka berdiri dan hanya saling menatap satu sama lain. Antara menengadahkan kepalanya ke atas saat menyadari hujannya semakin lama semakin deras. "Hujan! Ayo masuk." Antara menarik tangan Melia dengan cepat, menjauhkan diri dari dek menuju kedalam kapal.


Berjalan bersama menuju kamar mereka masing-masing, kamar yang hanya dipisah oleh dinding tebal. Kekakuan masih mereka rasakan, betapa tidak, disaat hasrat keduanya sudah akan sampai pada puncaknya, tiba-tiba mereka tersadar dan segera mengakhirinya. Ibarat sedang asyik-asyiknya menikmati seporsi makanan lantas makanan tersebut jatuh tak tersisa.


"Kita sudah sampai, kamu masuklah duluan. Besok aku akan menjemputmu saat sarapan." ucapnya sembari menunggu Melia masuk ke dalam kamarnya. "Kenapa? Kenapa tak masuk? Apa kau melupakan sesuatu!" tanya Antara, heran.


"Ya, aku lupa kau!" jawabnya singkat.


"Jangan memancingku, Mel. Kau tahu jika saat ini bisa menikahi mu pasti sudah aku lakukan detik ini juga."


Melia mengulum bibirnya, menahan tawanya saat menggoda Antara. "Aku hanya bercanda, Mas. Mana berani aku!" Kekehnya.


"Kalau begitu masuklah segera, aku tak bisa menjamin jika bisa menahannya lagi untuk tidak menerkam mu saat ini juga," ucapnya dengan sorot mata tajam.


"Ini bagaimana mau masuk jika tanganmu saja masih memegangi ku!" sahutnya menatap tangannya.

__ADS_1


Antara tertawa kecil. "Maaf." ucap Antara setelah melepas tautan tangannya. "Sekarang masuklah, dan mimpi yang indah."


...****************...


__ADS_2