
"Hei, kita mau ke mana?” tanya Malik saat dirinya ditarik masuk ke dalam mobil oleh Antara.
“Shopping,” sahut Antara yang fokus melihat spion disebelah kemudi.
"Shopping?" ulang Malik dengan mata berbinar.
“Wah, ada angin apa lu Tar, traktir gua belanja.” ucap Malik yang sudah bersemangat karena akan ke pusat perbelanjaan ternama di kotanya.
Antara yang mendengar penuturan Malik pun hanya tersenyum kecil sembari menggeleng pelan.
“Biar ku kerjain dia di sana.”
Sesampainya mereka di sana, Antara berjalan cepat dengan penuh semangat dan berharap agar barang yang di inginkan Nya belum dibeli orang.
“Tar, pelan-pelan kenapa sih, buru-buru amat! Gua juga bisa menunggu kok,” tegur Malik sembari mengimbangi langkah kaki Antara yang cepat.
Antara berhenti sejenak dan menoleh ke arah Malik yang tertinggal jauh di belakangnya dengan terkekeh. “Pede banget kamu Mal."
Antara memasuki toko pakaian dan tas yang pernah di masuki Melia sebelumnya. Ia melangkahkan kakinya masuk menuju etalase yang pernah dilihat lewat foto yang dikirimkan oleh detektif swasta itu.
Antara sangat bersyukur saat melihat tas yang dia inginkan masih tersimpan dengan rapi di dalam etalase kaca. Namun saat ia akan mengambil tas hitam tersebut, ada tangan lain yang juga memegangi tas tersebut. Seorang wanita muda, cantik dan ... ternyata dia adalah Karin, wanita yang dia kenal yang merupakan anak dari CEO tempatnya bekerja.
Antara!
Karin!
Ucapnya bersamaan, namun kalau Karin memanggilnya dengan penuh semangat, berbeda dengan Antara yang hanya bergumam saat melihat wanita yang juga memegang tas yang diincarnya.
Antara tersenyum kaku. Bukannya dia tak suka pada Karin, dia cantik dan juga anak pemilik dari perusahaan yang ditempatinya bekerja. Namun sayang dirinya tak menyukai watak Karin yang manja, sombong dan yang paling tidak dia sukai adalah Karin sangat agresif.
Antara tipe pria yang suka mengejar bukan dikejar dan suka yang menantang bukan yang gampangan, seperti Melia. Wanita yang tidak melihat karena wajahnya yang tampan, bahkan Melia tak sekalipun ramah padanya sampai saat ini, tidak seperti wanita lain yang mendekatinya dengan berapi-api.
“Apa kau ingin membeli tas itu?" ucap Antara.
“iya,” Karin menjawabnya sembari tersenyum lebar. “Lalu kamu sendiri sedang apa disini?
"Tentu saja hal yang sama dilakukan orang-orang saat mereka ke sebuah toko." Antara menjawab dengan datar hingga membuat Karin terkekeh dengan pertanyaannya sendiri yang terkesan bodoh.
"Kamu mau beli tas ini juga?” tanya Karin yang melihat tatapan pria yang disukainya itu terus tertuju pada tas yang dia pegang.
“Iya, sudah lama sebenarnya, tapi baru ada waktu kosong hari ini, tapi—ambillah untukmu saja, aku bisa mencarikan bundaku hadiah lainnya. Walau ... Hanya tas ini sih yang dia sukai,” lirih Antara.
Dia sangat tahu wanita model seperti Karin, dengan trik seperti ini, hatinya pasti akan mudah luluh. Dan benar saja, seketika raut wajah Karin berubah mendengarnya pun ikut terharu, Karin menatap Antara dengan intens sembari berkata dalam hatinya.
__ADS_1
"Sungguh baik hati priaku ini, sudah tampan, mapan, pintar dan sayang orang tua lagi," sikap yang ditunjukkan Antara inilah yang membuatnya banyak digilai wanita, termasuk dirinya.
Karin sudah lama menaruh hati pada Antara. Sikap dan perhatian yang diberikan Karin untuknya sangat dia rasakan, namun Antara pura-pura tak tahu saja karena memang ia hanya menganggap Karin sebagai teman, tak lebih. Antara pun tak pernah sekalipun membalas perhatian yang diberikan Karin untuknya. Walau terkadang sikapnya sangat menggangu, namun sebisa mungkin ia menahan diri untuk tidak berbuat kasar padanya, terlebih Karin adalah putri satu-satunya dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
“Baiklah, aku duluan. Aku mau cari hadiah lain buat bunda. Semoga saja dia suka dengan hadiah lainnya dan tidak kecewa karena tidak mendapatkan tas yang diinginkannya."
Antara berjalan dengan lambat, sembari berkata dalam hatinya, "Dalam hitungan ketiga, Karin pasti akan memanggilku." batin Antara.
satu
dua
tii....
Dan benar saja, belum selesai Antara menyebutkan angka tiga, Karin langsung memanggil namanya. “An, untukmu saja.” Ucap Karin memberikan tas yang juga diinginkan oleh Antara.
An adalah nama panggilan khusus yang diberikan Karin padanya.
“Benarkah? Kamu serius? Bukankah kau juga ingin memilikinya!"
"Beneran lah, tas itu buatmu saja, lagi pula aku tidak begitu menginginkannya, aku hanya ingin memajang dan menyimpannya di dalam etalase milikku.
"Dasar aneh, beli tas namun tak ada niat memakainya dan hanya ingin dipajang saja!" ucap Antara dalam hati.“Tapi benar enggak apa-apa nih!" sambung nya.
“Baiklah kalau kamu memaksa. Terima kasih banyak atas pengertiannya. Bundaku pasti senang sekali."
Antara segera mempercepat langkah kakinya menuju meja kasir.
“Salam buat bunda mu, An!!" Antara melambaikan satu tangannya saat mendengar teriakan Karin.
Antara mengeluarkan kartu berwarna hitam miliknya saat akan membayar tas yang dia beli. Setelah membayar, Antar bergegas keluar dari toko tersebut, ia tak ingin jika nantinya Karin akan berubah pikiran.
-
-
-
Di tempat yang sama, Malik tengah sibuk memilih dan mencoba beberapa pasang sepatu yang disukainya. Ada empat pasang sepatu dengan merek terkenal yang ada dihadapannya saat ini. Namun hanya dua yang dipilih dari empat pasang sepatu yang dicobanya tadi.
“Mbak, ini juga satu, tapi yang model itu, aku mau yang berwarna coklat dan yang satu ini warna hitam." pramuniaga yang melayani Malik pun menunduk sedikit menandakan ia mengerti dengan perkataan konsumennya.
Setelah memilih sepatu yang disukainya. Pramuniaga tadi, mengarahkan Malik menuju kasir untuk melakukan pembayaran di kasir nomer tujuh.
__ADS_1
Malik berjalan menuju meja kasir dengan tawa yang coba dia tahan. Aku yakin Antara pasti kaget dengan total belanjaan ku," gumam Malik.
Namun saat akan berbelok, Malik melihat Antara menuju pintu keluar dengan membawa sebuah paper bag cukup besar di tangannya.
"Loh! itu bukannya Antara? Kenapa dia menuju pintu keluar!” Malik yang panik segera menyusul Antara sembari meneriaki namanya.“Tar, Tar, Antara, woy Antara!! Tunggu. Bagaimana itu belanjaan gua, ha!!"
Antara mendengar namanya dipanggil pun berhenti lalu menoleh ke arah sumber suara.
Malik! Astaga, aku sampai lupa kalau tadi aku membawanya juga kemari.
"Apaan!” sahut Antara.
“Itu.. belanjaan gua di sana belum lu bayar!” balasnya dengan muka panik.
"Ya kamu bayarlah, kan itu belanjaan mu!” ucap Antara singkat.
"Maksudnya? Bukannya lu ke sini karena mau traktir gua belanja!” tanya Malik yang mukanya semakin panik ketika seseorang dari belakang memanggilnya.
“Pak, Pak, meja kasirnya ada disebelah sini!! teriak pramuniaga tersebut.
“Tar, lu jangan buat gua malu!” sambung Malik dengan mata melotot.
Antara kembali berjalan dengan tangan yang dia lambaikan ke atas sembari sedikit berteriak pada Malik. “By Mal, selamat berbelanja," ucap Antar sembari mengulum bibirnya agar tawa yang sejak tadi ditahan tak keluar.
"Kurang asem lu Tar!!”kesal Malik.
Di dalam mobil
“Makan yuk!” ajak Antara sembari menoleh sekilas ke arah sahabatnya. “Kamu kenapa Mal, muka kok ditekuk saja dari tadi," sambungnya.
Ya, sedari awal masuk mobil, Malik memang sudah berwajah masam. Ia duduk sembari memangku barang belanjaannya senilai hampir Rp 4.000.000,- bukannya dia tak mampu, tapi kalau dia tahu kalau dia yang akan membayarnya sendiri, dia pasti akan membeli 1 pasang saja. Toh juga dia tidak membutuhkannya. Tadinya Malik hanya ingin mengerjainya saja, lumayan bukan, bisa shopping GRATISSSS. Namun sayang, ternyata malah dirinya yang dikerjai Antara.
“Ogah, entar malah di suruh bayar sendiri lagi!” sindirnya.
Antara yang sedari tadi sudah menahan tawanya, akhirnya tak kuasa menahannya hingga keluarlah tawanya.
"Hahaha... jadi ceritanya kamu lagi ngambek! Maaf deh, ini beneran! Kali ini silakan kamu pilih mau makan di mana dan bebas pesan makanan apa saja, silakan, bebas!!” ucap Antara yang dihadiahi tatapan tajam Malik.
“Sumpah, Mal, kali ini aku enggak bercanda!”
“Oke, kita Restoran Imperial, kalau lu kabur lagi, gua enggak bakal lagi mau punya sahabat kayak lu. Gua bakalan coret nama lu!!” Antara hanya tersenyum mendengar ancaman sahabatnya itu.
...****************...
__ADS_1