
Antara celingak-celinguk mencari keberadaan sang istri sejak tadi. Padahal tadi dia masih melihat Melia berdiri bersama sang ibu mertua saat ia turun ke bawah.
Sebenarnya saat sudah turun ke bawah, Antara ingin langsung menemui sang istri, namun tiba-tiba, Karin menarik lengannya dengan kuat dan membisikkan sesuatu yang membuatnya mau tidak mau harus berada disampingnya hingga acara tersebut selesai.
Antara melirik kearah Malik sekilas. Seperti sudah tahu maksud dari lirikan sang bos seketika Malik menghampirinya. Entah mengapa seminggu yang lalu, sejak dirinya ditunjuk oleh sahabatnya itu menjadi asisten pribadinya, seakan sudah paham dan mengerti jika melihat tatapannya atau ekspresi wajah bosnya.
"Cari, Melia dan ibu mertua ku sekarang!" Malik lalu pergi mencari keberadaan Melia, istri bos barunya itu." ucapnya pelan.
Antara sibuk menyalami beberapa kolega bisnisnya dan menjawab beberapa pertanyaan dari pewarta berita. Sedang Karin saat ini tengah sibuk bergaya dengan menggandeng mesra lengan Antara di bawah kilatan cahaya kamera yang mengabadikan momennya bersama sang suami.
Akhirnya Malik menemukan keberadaan Melia dan ibunya, Zahra di lobby hotel, tepatnya di depan toilet wanita. Ia melihat Zahra yang tengah berdiri di depan pintu masuk toilet. Dan setelah bertanya, memang benar Melia sedang berada di dalam toilet tersebut. Tanpa mengetahui apa yang dilakukan Melia didalam sana.
Malik segera memberitahu Antara jika ia sudah menemukan istrinya melalui pesan singkat WhatsApp.
Istri lo lagi di toilet sekarang. Gue lagi sama mertua lo diluar nungguin.
Seperti itulah isi pesan singkat Malik. Jika secara langsung Malik akan bersikap formal pada Antara sedang jika hanya melalui telepon atau pesan chat mereka akan bersikap layaknya seorang teman.
Melia mengusap sisa air mata yang masih tersisa di sudut matanya.
"Huh, Melia mengatur napasnya sesaat sebelum ia keluar dari toilet. Dia tak ingin membuat hati sang ibu sakit untuk yang kedua kalinya, setelah hatinya terluka saat mengetahui anaknya harus dengan ikhlas berbagi suami dengan wanita lain. Dia harus kuat agar sang ibu, kuat dan tidak memikirkannya. Terlebih dengan kesehatan Melia yang sempat drop.
Namun betapa kagetnya ia saat keluar dari toilet dan tidak mendapati sang ibu, melainkan suaminya, Antara.
Ya, sejak tadi Antara memang sudah menunggunya di depan toilet setelah mendapatkan kabar jika Melia berada disana.
__ADS_1
"Kamu sudah selesai? Kenapa lama sekali di toiletnya!" tanya Antara sesaat Melia keluar dari pintu toilet.
"Ma-mas! Sedang kamu disini?"
Bukannya menjawab pertanyaan sang suami, Melia malah bertanya balik padanya.
"Ada apa! Apakah ada larangan, jika seorang suami tidak boleh berjaga di depan toilet yang dimasuki istrinya?"
Melia tergelak mendengar perkataan Antara. "Bukannya enggak bisa, Mas, tapi aku takut nanti kamu dikira penguntit oleh orang-orang." Bisik Melia sembari tersenyum kecut melihat tingkah konyolnya. Seorang CEO perusahaan besar menunggu sang istri di depan pintu masuk toilet! Apa kata dunia nanti.
"Memangnya kenapa? Istri, istri aku! Mau aku nunggu depan pintu toilet kek, mau masuk dalam toilet kek, ya suka-suka aku 'kan! Istri juga istriku sendiri, siapa yang marah? Ayo, katakan siapa yang akan marah!" ucapnya dengan cuek.
Perlakuan kecil seperti inilah yang membuat dirinya luluh saat itu, yang membuat hatinya yang keras kini melunak, hati yang dulunya tak mengenal cinta, atau lebih tepatnya, menghindari cinta namun pria itu datang membawa cinta yang menjadi obat hatinya selama ini.
Seketika Melia mengalungkan tangannya pada lengan sang suami, Antara, Membuat hati Antara menghangat.
Antara tertawa kecil melihat tingkah lucu istrinya. Namun dalam hatinya begitu perih saat melihat senyuman yang coba dibuat Melia senatural mungkin. Dia tak ingin bertanya lebih tentang tangisan Melia yang menyayat hatinya itu, tangisan pilu dari seorang istri yang tersakiti.
"Hatimu terbuat dari apa, Sayang!" Gumam Antara pelan saat melihat sang istri yang tetap bersikap tenang dan seolah tak terjadi apapun juga. Wajahnya yang selalu ceria dan tersenyum manis benar-benar berhasil menutupi kenyataan yang sebenarnya.
"Oh iya, ibu mana? Sepanjang koridor tadi, aku belum melihatnya! Apa ibu kembali ke tempat acara ya!" Melia bertanya pada Antara saat menyadari Zahra yang menghilang entah kemana.
"Oh, Ibu, tadi aku sudah menyuruh Malik mengantar, Ibu pulang. Beliau juga tadi sudah makan malam kok, jadi kamu tenang saja ya. Aku pastikan dia selamat sampai ke rumah." Tandasnya.
Melia manggut-manggut mendengar penjelasan suaminya itu. "Tapi benar, acaranya sudah selesai?" Antara mengangguk pasti, "Benarkah? Kok secepat itu!" Tambah Melia sembari melirik arloji miliknya.
__ADS_1
"Acara baru berlangsung kurang dari 2 jam, bukankah biasa acaranya akan sampai tengah malam hingga para pria melanjutkan obrolannya ke bar sembari minum alkohol." Pikir Melia.
"Tentu saja sudah! Kalau tidak, bagaimana mungkin aku bisa berada di sampingmu sekarang, huh!" Melia menghangat saat Antara mencubit dagunya melihat wajah bahagia sang suami.
"Dia pasti bahagia sekarang sudah menjadi CEO, seperti impiannya yang ingin berkarir hingga ke posisi yang paling tinggi." Batinnya.
Mereka berdua pulang setelah menikmati makan malam romantis yang sudah dipersiapkan Antara di top floor di hotel yang sama untuk merayakan pelantikan dirinya.
Tepat pukul jam 12 malam, Antara masuk bersama dengan Melia dengan bergandengan tangan, sangat mesra hingga siapa saja yang melihatnya pasti iri dibuatnya.
Mereka masuk dan berjalan melewati ruang keluarga dengan sisa tawa yang masih jelas terdengar sebelum suara teriakan Karin menghentikan langkah mereka.
Melia dan Antara menoleh bersamaan ke arah sumber suara. Mereka kaget masih melihat Karin dan sang bunda masih menunggu mereka pulang.
"Bun, kenapa belum tidur juga?" Antara menatap wajah sang bunda dengan heran. Padahal setelah mereka menikah, Weni tak pernah lagi menunggunya pulang.
"Kau masih tanyakan kenapa aku belum tidur?" Ucapan Weni berhasil membuat keningnya berkerut. "Sebenarnya ada apa, Bun. Langsung pada intinya saja, Antara sudah sangat lelah seharian ini mengurus banyak dokumen hari ini.
"Sekarang jawab, kemana saja kamu sejak tadi? Orang-orang semua menunggumu kembali tapi kau—"
"Benar yang Bunda katakan, kau tahu, An. Aku kecewa padamu. Kemana Antara yang kukenal dulu! Yang selalu fokus dan profesional dalam pekerjaannya. Semua orang menunggumu, termasuk papa An, dia begitu bangga menjadikanmu sebagai menantunya, dia ingin membanggakan menantunya di depan rekan bisnisnya." Potong Karin saat Weni tengah mencercanya dengan banyak pertanyaan.
"Benar, kata Karin, An. Bunda sangat bangga padamu, terlepas dari caramu bisa seperti sekarang, namun orang-orang memang sudah lama memperhatikanmu dan mengagumi kinerja mu selama ini, dan mereka mengatakan jika kamu memang pantas menjadi CEO dari PT Arcoma Internasional." Weni menimpali perkataan menantu keduanya itu.
Melia sejak tadi hanya menjadi penyimak saja, ia tak ingin ikut menimpali baik perkataan sang suami, ibu mertua ataupun madunya, Karin. Apa lagi ia tak tahu menahu pokok permasalahannya karena Antara mengatakan padanya jika acaranya sudah selesai.
__ADS_1
...****************...