JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Bunda Weni


__ADS_3

Antara sampai di pelataran rumahnya setelah menempuh perjalanan cukup jauh.


“Assalamualaikum...."


ucap Antara sembari masuk ke dalam rumah. Terlihat Weni sedang duduk dengan tangan yang menyilang di dadanya. Antara menghela nafasnya, dia sungguh lupa kalau belum memberikan kabar pada Sang bunda kalau akan pulang larut malam. Antara berjalan menghampiri Sang Bunda yang sedang merajuk.


“Loh, kok anaknya pulang enggak disambut sih, anaknya lagi capek loh ini!” rayu Antara, terlihat Weni menghembuskan nafasnya berat.


“Duh, siapa ya yang sudah janji sama bundanya kalau pulang telat akan beri kabar," sindir Weni yang membuatnya tertawa kecil.


Antara yang merasa gemas dengan tingkah konyol Weni, langsung memeluk dan menciumi pipinya berulang kali, dengan niat agar dimaafkan.


Weni begitu menyayangi Antara hingga tak akan betah jika harus mengabaikannya begitu lama.


“Sudah makan belum? Biar Bunda hangatkan kembali makanannya,” tanya Weni yang langsung luluh pada tingkah Sang anak.


“Sudah Bu, tadi makan bareng Malik,."


Antara yang kini dalam posisi duduk di sofa ruang keluarganya pun iseng ingin bertanya pada Sang Bunda.


“Bun, Bunda enggak kesepian di rumah sendirian terus?” tanya Antara.


Kening Weni berkerut mendengar pertanyaan anaknya. “Maksudnya?"


"Ya, enggak kepingin ada yang temani bunda tiap hari di rumah, bisa masak bareng, shopping bareng atau yang bisa di ajak dan dipamerkan dengan teman arisan Bunda!” ucap Antara yang mulai menjurus.


“Maksudmu kamu tuh apa, dari tadi nanya-nanya mulu. Bicara yang jelas, langsung saja ke intinya biar bunda mengerti."


Antara menghela nafasnya panjang.


“Eng, bagaimana kalau bunda aku kasih menantu!” kalimat singkat Antara membuat Weni tertegun.


“Maksudmu menantu?” Weni memperjelas.

__ADS_1


Antara mengangguk sambil tersenyum lebar.


“Apa kamu sudah punya pacar? Kok Bunda enggak tahu sih? Hem, kamu sudah mulai ya... enggak mau cerita sama Bunda!


“Antara jawabnya satu persatu ya, pertama, Antara belum punya pacar, dan Bunda pasti tahu kalau Antara akan cerita apa pun pada Bunda. Yang kedua, kan Antara baru mau cariin."


Weni memicingkan matanya.


“Bohong! Kamu enggak bisa bohongi Bunda Tar. Ayo, kenalin cepat sama Bunda, biar Bunda bisa beri penilaian padanya,” terang Weni yang membuat Antara lagi-lagi menghela nafas panjang.


“Bun, enggak baik menilai orang dari luarnya saja, nanti Bunda aku kenalkan sama dia kalau Antara sudah mengenalnya lebih dalam lagi.


Ucapan antara membuat dirinya berpikir.


"Maksudnya kamu belum pacaran sama dia? Belum juga mengenalnya? Terus bagaimana caramu bisa mengenal wanita itu!!”jawab Weni bingung.


“Antara mengenalnya tanpa sengaja, sedikit salah paham. Dan kami juga belum berpacaran, bertemu saja baru 2 kali, itu pun tanpa di sengaja juga!” jelas Antara.


“Wah, artinya kamu yang lebih dulu menyukainya? Jadi cinta pada pandangan pertama nih ceritanya!”ejek Weni.


"Namanya Melia, Bun.” sahut Antara dengan mata berbinar menatap wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini.“Bunda pasti akan suka, dia juga mempunyai seorang Ibu yang baik seperti Bunda.” sambung Antara sembari menepuk halus punggung tangan Sang Bunda.


"Di mana kalian bertemu? Dia kerja di mana? Orang tuanya pekerjaannya apa?” tanya Weni beruntun.


Antara tampak bingung saat akan menjawabnya. Mana bisa dia katakan kalau dia bertemu Melia di sebuah Klub malam, ditambah kalau dia harus jujur soal pekerjaan Melia. Info tentang orang tuanya pun Antara tak banyak mendapatkan informasi mengenai orang tuanya. Karena terakhir kali laporan yang dia terima, Melia hanya tinggal bersama ibunya, tak ada yang tahu sosok Sang ayah, bahkan tetangga mereka pun juga tak ada yang tahu. Terlebih di klub malam, ia tak mendapatkan info apapun karena di sana semua data diri para karyawannya sangat ditutup rapat.


“Dia bekerja di dunia hiburan Bun, kami bertemu di sana saat Antara rapat. Dan untuk orang tuanya, sepertinya ini terlalu dini untuk aku cari tahu hal-hal pribadinya. Antara ingin dulu mengenal Melia lebih jauh,” Jelas Antara.


Weni menghela nafasnya sesaat, lalu kembali berbicara.


“Sayang, Bunda hanya ingin kamu mendapatkan yang terbaik! Kamu satu-satunya anak bunda, hanya kamu harapanku, hanya padamu bunda mengadu nasib. Bunda ingin kamu mendapatkan jodoh yang terbaik, bukan hanya cantik dan baik saja, tapi juga mampu membantumu sukses ke depannya.


Sebelum kita menikah, kita harus bisa mencari tahu bibit, bebet dan bobotnya. Itu bukan untuk apa-apa, itu lebih kepada untuk mendapatkan wanita yang terbaik, karena kelak kamu akan memiliki seorang anak, yang tentunya calon mamanya harus yang berkualitas juga bukan agar anakmu juga bisa tumbuh dengan baik dan sukses nantinya,” jelas Weni yang mulai membahas latar belakang dari calon memantu idamannya.

__ADS_1


“Iya Bun, akan Antara cari tahu semua yang mau bunda katakan tadi. Tapi aku mohon, hal itu jangan di jadikan patokan ya, Antara serius dengan perasaan Antara padanya, aku harap Bunda mau mengerti hati Antara juga,” tutur Antara, setelah itu dirinya beranjak naik ke lantai dua menuju kamarnya.


“Huh..."


Keluh Antara saat sudah membaringkan tubuh di kasur empuk miliknya. Antara menerawang caranya dia bisa meyakinkan bundanya nanti, secara dari dulu memang bundanya sangat suka menjodohkannya dengan wanita yang statusnya jelas, seperti yang dikatakannya tadi, bibit, bebet, dan bobot.


Setelah menghubungi kembali detektif swasta yang kemarin membantunya, Antara kembali meminta tolong untuk menyelidiki latar belakang Melia hingga ke akar-akarnya. Walau Antara yakin kalau bayarannya kali ini tidak akan seperti yang sebelumnya, namun tak dihiraukan, baginya tak masalah merogoh koceknya lebih dalam lagi asalkan dia bisa mengetahui semua tentang wanita yang dia cintai.


CINTA!


Apakah benar ini cinta!


Ia juga heran, bagaimana bisa hatinya memilih wanita yang complicated seperti itu.


Setelah membersihkan dirinya, Antara segera mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat lelah, bukan hanya tenaganya saja yang terkuras, namun pikirannya pun tak kalah terkurasnya, terlebih saat harus mencari ide dan alasan yang logis yang bisa di terima bundanya.


Hujan turun cukup deras malam ini, seakan tahu isi hati Antara yang begitu galau dan dilema, tanpa berlama-lama, Antara akhirnya tertidur di sela-sela pemikirannya. Ia memikirkan bagaimana cara dirinya bisa mendekati Melia tanpa mereka bertengkar dan salah paham seperti sebelumnya.


-


-


-


Di tempat yang berbeda, tepatnya di rumah Melia.


"Oh, yang semalam itu!” jawab Zahra yang di angguki kencang oleh Melia.


“Hem, kalau enggak salah sih, semalam dia bilang namanya Antara.”


“Antara! Antara...Antara,” ulang Melia, ia masih terus berusaha mengingat-ingat nama yang tidak terlalu asing di telinga.


“Sepertinya aku pernah dengar deh, Bu. Tapi kok aku lupa ya!" sambungnya sembari menunjuk-nunjuk telunjuknya di keningnya, berharap dengan begitu dia bisa segera mengingatnya.

__ADS_1


“Sudah, sudah. Makan dulu sarapannya, nanti juga kamu ingat.” Ucap Zahra sembari menyodokkan nasi goreng dengan telur mata sapi di piring Melia.


...****************...


__ADS_2