
Melia menghembuskan napas panjang sebelum membuka pintu kamarnya. Ia sedang menata hatinya sebelum melangkah masuk ke dalam kamar dimana sang suami menyambutnya dengan senyum lebar..
Melia menatap sang suami lekat. Semakin dekat hingga saat ini mereka sudah saling berhadapan satu sama lain. Lagi dan lagi Melia menghembuskan napasnya, walau pelan namun berhasil membuat kening Antara mengerut.
"Sanggupkah aku berbagi suami dengan, Karin!
Bagaimana jika aku memintanya dan ternyata dia mengiyakan permintaanku!! Apakah aku sanggup!
Ada rasa nyeri yang tiba-tiba menyerang relung hati Melia saat membayangkan jika suaminya nanti benar-benar akan membagi cintanya.
"Kamu kenapa, Hem! Apakah, Karin menyakitimu atau berbicara kasar padamu!" Melia menggeleng pelan menjawab pertanyaan pertanyaan sang suami.
"Mas, aku—ada yang ingin aku bicarakan padamu!"
"Apa hal yang ingin kamu katakan. Kemari lah!" Antara menarik tangan Melia dengan lembut dan mengarahkannya duduk diatas pangkuannya.
Kini posisi mereka sangat intim. Melia bahkan mengalungkan tangannya di leher sang suami. Antara sendiri tersenyum gemas melihat sikap Melia yang terkadang berubah-ubah setiap saat, kadang ia begitu manja padanya hingga membuat Antara mengacak puncak rambut istrinya itu saking gemesnya.
"Apa yang ingin kamu katakan?" Antara mengulang kembali pertanyaan yang belum sempat, Melia jawab.
"Aku mencintaimu, Mas. Aku sangat-sangat mencintaimu!" Mendapat pernyataan cinta mendadak membuat Antara terkesiap. Di detik berikutnya, entah siapa yang memulai terlebih duluan namun kini keduanya sudah saling memagut satu sama lain. Entah kenapa keduanya candu dengan tubuh satu sama lain. Mereka bahkan seringkali berciuman
Banyak penelitian yang telah mengamati tingkat kortisol menurun ketika pasangan mencium satu sama lain. Ini berarti ciuman dapat mengurangi stres dan membuat tubuh menjadi rileks. Dengan cara ini, ada lebih dari satu alasan mengapa manusia memilih berciuman sebagai cara yang baik untuk mengungkapkan kasih sayang. Mungkin itu juga salah satu diantara alasan Antara sering menciumi, Melia. Selain karena sudah candu, juga sebagai ungkapan rasa cintanya.
"Sekarang, ayo katakan apa yang ingin kamu katakan padaku?"
Melia mengerjapkan matanya, menatap sang suami dengan tatapan yang entah, dia sungguh bingung ingin memulai pembicaraan ini mulai dari mana. Melia dilema, ia sangat ingin mengakhiri permusuhannya dengan, Karin. Dia ingin menikmati kehidupannya dengan tenang dan damai. Jika memang takdir kehidupan rumah tangganya adalah dengan memiliki madu, ia akan mencoba ikhlas menerima semuanya.
"Ada apa, huh! Sejak tadi aku perhatikan kamu ingin mengatakan sesuatu padaku, ada apa, Sayang? Apa ada hal yang mengganggu pikiranmu!"
__ADS_1
Melia menatapnya dengan sendu. Ia menghela napasnya pelan. "Memang benar, ada yang ingin aku katakan, dan hal itu sangat menggangguku tapi, aku tak tahu harus memulainya dari mana.
Antara menegakkan kepalanya dan menatap Melia dengan wajah yang serius, "Sebenarnya ada apa? Katakan padaku, apa yang mengganggu pikiranmu!"
"Mas, tidak bisakah kamu menerima, Karin!" Ucap Melia pelan dan ragu sembari menatap raut wajah suaminya yang tiba-tiba berubah begitu Melia menyebut nama, Karin. Satu alisnya terangkat ke atas menunjukkan kalau dia sedang bingung dengan arah pembicaraan sang istri.
"Apa maksudmu?"
"Ngg … anu, Mas. Maksudku itu… ucapan Melia terjeda saat Antara mulai menatapnya dengan tajam. "Maksudku, apakah kita tak bisa hidup tenang dirumah ini! Aku tak ingin, Karin semakin membenciku, dan begitupun sebaliknya, aku tak ingin kamu semakin membenci, Karin. Walau bagaimanapun juga … dia itu juga istrimu, Mas!" Melia semakin menundukkan kepalanya ke bawah. Merasa terintimidasi oleh tatapan tajam milik suaminya.
Wajah Melia memucat ketika menyadari Antara yang semakin mendekat. Bahkan wajah mereka nyaris tak berjarak. Hembusan napas Antara yang mulai memburu, namun bukan karena nafsu birahi, melainkan nafsu amarah yang siap menyapunya.
"Apa kau masih ingin membahas soal itu? Bukankah sudah aku katakan padamu jika aku tak ingin membahasnya lagi."
"Tapi, Mas—"
"Mas…." Melia kembali memanggil suaminya yang kini sudah berdiri membelakanginya. Ia tak bergeming, dan tak pula merespon panggilan, dari istrinya itu.
"Ada apa dengannya? Apa dia sudah gila, dia membahas hal itu lagi! Disaat kita sedang bermesraan!" batin Antara.
Melia beranjak dari duduknya lalu berjalan dan mensejajarkan dirinya tepat di samping sang suami. Melia lalu menyandarkan kepalanya ke sisi samping sang suami. "Mas, bukannya, Mas yang bilang jika ingin mempunyai kehidupan yang normal, ingin hidup bahagia bersama selamanya serta membangun rumah tangga kita dengan tenang dan damai, benarkan!" Melia mengucapkan itu semua sembari mengelus lengan kekar milik suaminya. "Hal yang pertama yang harus, Mas lakukan adalah dengan menerima keadaan kita seperti ini, keadaan kita dimana ada 1 orang yang muncul di dalam kehidupan kita. Kamu harus belajar menerima kehadiran, Karin dalam kehidupanmu. Jangan jadikan dia sebagai musuh mu." Lanjut Melia, ia mengatakan semua dengan penuh kelembutan, agar niat yang ingin disampaikan olehnya bisa Antara terima dengan baik pula. Namun sayang, yang Melia dapatkan lagi-lagi hanya sebuah penolakan dari sang suami.
"Jangan memaksaku melakukannya, Melia! Aku tak ingin melakukan hal yang tidak aku sukai, dan kamu tahu jika itu membuatku tak nyaman."
Melia menghembuskan napasnya ke udara, "Aku tahu, Mas. Tapi kamu harus mencobanya, cobalah menerima, Karin seperti kamu menerimaku, dan perlakukan dia dengan baik, seperti kamu memperlakukanku dengan baik dan lembut.
Kini Antara memegang kedua bahu Melia dan menatapnya lekat-lekat. Membiarkan matanya menelisik jauh ke dalam mata sang istri. Seakan ia sedang mencari jawaban dari segala pertanyaan di kepalanya
"Jangan bermain api jika kau tak ingin terbakar, jangan meminta hak, Karin jika nantinya hatimu akan tersakiti." Ucapnya dengan dingin.
__ADS_1
"Aku tak apa-apa, Mas. Aku akan menerimanya, aku akan mencoba menerima semuanya dengan ikhlas!" Melia mencoba meyakinkan suaminya itu.
"Cukup! Stop, Melia. Berhentilah sampai disini!"
Bentakan Antara membuat Melia terlonjak kaget, selama hampir 2 tahun mereka menikah, baru kali ini Melia melihat Antara marah seperti saat ini.
"Jangan buat dirimu seolah-olah kuat menghadapi semuanya sendirian. Apa kau lupa jika kau masih memilikiku! Ataukah aku sudah tak berarti lagi buatmu? Begitu!
Melia menggeleng pelan kepalanya, "Bukan begitu, Mas. Maksudku adalah kita bisa hidup bersama-sama dengan baik, tapi paling tidak terimalah keadaan sekarang jika, Karin adalah istrimu sekarang, jangan jadikan dia musuh mu selamanya, Mas!"
"Kau tak mengerti perasaanku, Mel. Aku sakit setiap kali melihatnya. Dia sudah menghancurkan mimpiku. Harga diriku sudah hancur se hancur hancurnya karenanya, apa kau tak mengerti itu!"
"Apakah dengan keadaan seperti ini, aku tak akan tersakiti, Mas! Begitu!" tangis Melia pecah. "Aku juga wanita, Mas. Aku sangat paham bagaimana rasa sakit hati, Karin saat ini. Sangat wajar jika dia begitu membenciku. Kamu sangat mencintaiku, kau pun memberiku perhatian penuh, sedang dia, kamu tak pernah bersikap baik padanya, Mas. Bagaimana mungkin aku bisa menjalani kehidupan ini dengan baik, sedang ada hati yang aku lukai setiap harinya." Ucap Melia dengan berderai air mata.
"Kamu tahu benar jika hatiku akan hancur jika aku melakukannya. Dan kamu pun pasti akan terluka jika aku melakukannya. Aku hanya mencintaimu, Sayang, hanya kamu, tidak yang lain!" Antara menangkup wajah istrinya, wajah yang kini dipenuhi oleh lelehan air mata.
"Tapi kamu tahu dengan jelas, jika sekarang bukan hanya aku yang pantas memilikimu 'kan! Ada wanita lain yang tengah menunggumu sejak lama. Apa kau tak mengasihaninya?" Melia membelai wajah sang suami dengan lembut sembari menghapus jejak air mata yang entah sejak kapan berada disana.
Antara terdiam, seakan mulutnya tercekat, tak bisa menyanggah apapun yang dikatakan Melia.
"Tidak!! Aku tak bisa melakukannya tanpa cinta, aku mohon jangan paksa aku, Sayang!"
"Jika begitu, maka belajarlah mencintai, Karin!" serunya, Melia yang ingin beranjak seketika ditahan oleh Antara.
"Apakah itu yang kau inginkan!" Bibirnya bergetar saat mengatakannya.
Sedang Melia tak mampu menjawab pertanyaan suaminya. Padahal jawabannya begitu singkat, hanya antara ya dan tidak. Namun, entah mengapa begitu terasa berat terucap.
...****************...
__ADS_1