
Saat terbangun dia mendapati dirinya tertidur di pangkuan sang suami. Nampaknya Melia dibaringkan oleh Antara semalam karena sebelumnya Melia sangat ingat jika dirinya tertidur diatas sofa dengan posisi duduk, sedang Antara masih setia menemani sang bunda di sisi kiri ranjangnya.
Melia menghela napasnya. Menatap wajah damai sang suami yang tengah tertidur menyandarkan kepalanya di sisi sofa.
"Maafkan aku, Mas. Maafkan kami yang telah membohongimu. Ini semua demi kamu, demi kamu bebas dari tuduhan yang tidak kamu lakukan." Batin Melia dengan nanar menatap wajah suaminya.
Melia membelai wajah Antara dengan lembut. Dalam hatinya berkata, "Akankah perlakuan dan perhatian hangat seperti ini masih akan dia rasakan nanti saat Antara sudah menikahi Karin!" Antara terbangun saat merasakan sentuhan seseorang di wajahnya.
Kedua netranya menangkap bayangan sang istri, sosok wanita yang sudah 2 hari ini selalu di bayangkan saat dirinya membuka mata. Melia mengulas senyumnya, menatap wajah tampan suaminya. "Maaf, Mas jika aku membangunkanmu."
Antara mengernyitkan alisnya, menatap lekat wajah wanita cantik di hadapannya saat ini, "Apakah aku tak sedang bermimpi! Mengapa saat ini terasa begitu nyata!" Gumam Antara.
Melia tergelak mendengar perkataan sang suami, "Melia bangun dari tidurnya lalu mensejajarkan dirinya pada sang suami. Menatapnya lekat sembari tersenyum manis padanya, Melia menciumi pipi Antara yang membuatnya tersadar jika dirinya tidak sedang bermimpi.
"Bagaimana? Kamu sudah bangun sekarang!" Senyum terbit pada kedua sudut bibirnya.
Ia menatap Melia cukup lama sebelum kedua tangannya menyentuh anak rambut Melia dan menepisnya dengan lembut ke belakang telinga.
"Saking merindukanmu hingga aku tak bisa membedakan yang mana nyata dan tak nyata, Sayang, aku merindukanmu, sangat merindukanmu!" Antara membawa tubuh sang istri ke dalam dekapannya dan sesekali mencium keningnya dan berharap momen seperti ini tidak akan berlalu.
Antara tahu setelah sang bunda sadar, dirinya harus kembali ke kantor polisi karena masalahnya dengan Karin masih terus berlanjut. Namun tanpa Antara ketahui, jika pengacara Karin sudah mencabut laporannya pada Antara dan otomatis Antara sudah bebas saat ini.
Antara dan Melia segera menghampiri Weni saat mendengar suara lenguhan khas orang yang khas bangun tidur.
Bunda!
__ADS_1
Antara segera meraih tangan Weni. Dengan raut wajah khawatir dia menatap lekat wajah sang bunda saat ia mulai mengerjap matanya secara perlahan.
"Hhh …akhirnya bunda sadar juga!" Seru Antara yang merasa lega setelah semalaman Weni tak sadarkan diri.
Melia menghembuskan napasnya pelan. Menatap wajah sang suami yang terlihat berbinar setelah melihat bundanya sadar. Bagaimana mungkin kemarin Weni bisa sadar hanya dengan guncangan di tubuhnya jika dirinya saja diberi obat tidur oleh dokter. Dokter kemarin memang dokter gadungan namun Weni dirawat di rumah sakit memang sudah sesuai dengan prosedur dari rumah sakit tersebut, terlebih saat Weni mengatakan jika dirinya sudah beberapa kurang tidur karena sulit tidur, alhasil sang dokter memberikannya sebuah pil tidur agar besok paginya dia bisa terbangun dengan segar. Sepertinya rencana mereka berdua, sang ibu mertua dan calon madunya itu berhasil.
"Setelah ini apa lagi adegannya!" Gumam Melia namun masih bisa didengar Antara sekilas.
"Kamu kenapa, Sayang!"
"Hhh, ti-tidak, Mas. Akuu-aku tadi cuma mau bilang kalau aku permisi keluar, mau cari sarapan buat kita. Bunda juga pasti sudah sangat kelaparan karena sudah tertidur cukup lama, benar 'kan, Bun!"
Melia menatap sang mertua dengan entah, membuat Weni tak suka. Dia merasa sedang diejek atau disindir oleh menantunya itu.
Melia saat ini sudah berada di kantin rumah sakit, rasanya tak sanggup dirinya melihat sang suami dibodohi seperti itu, terlebih karena dirinya pun ikut andil dalam hal ini walau tak secara langsung.
Melia kembali menetralkan hatinya sebelum masuk ke dalam kamar rawat inap sang mertua. Senyum dia sunggingkan untuk sang suami. Melia masuk ke dalam dengan membawa 2 bungkusan plastik. Bubur ayam serta gado-gado yang menjadi pilihannya pagi ini, Antara sangat menyukai gado-gado. Dia yakin jika selama 2 hari di kantor polisi, dia pasti merindukan makanan favoritnya ini.
Entah mengapa pagi ini Melia begitu manja pada sang suami. Hingga membuat Weni ingin memuntahkan bubur yang sudah habis dimakannya. Pasalnya Melia meminta Antara untuk menyuapinya, ceritanya dia juga ingin disuap sama seperti sang mertua tadi. Antara menyuapi Melia makan, membuat hatinya senang hingga air matanya menetes tanpa dia sadari.
Antara yang melihat sang istri segera menyimpan bubur milik sang istri dan segera mengusap air matanya yang menetes tanpa permisi tadi.
"Kamu kenapa, Sayang!"
Antara melihat Melia dengan penuh tanya. Melia berdehem dan berharap bisa menetralkan hatinya yang sedang rancu. Entah mengapa dia merasa jika ini adalah suapan pertama dan terakhir untuknya.
__ADS_1
"Enggak apa-apa, Mas! Aku hanya bahagia karena, Mas mau menyuapiku. Aku sudah seperti anak kecil."
Melia tertawa kecil, bukan! Namun Melia sedang menertawakan dirinya sendiri, dia miris dengan perjalanan kehidupannya sebentar lagi. Jalan yang sudah dipersiapkan dengan baik dan terencana oleh mertuanya.
"Ternyata kamu sangat senang rupanya saat aku menyuapi mu, begini! Maka mulai hari ini, aku akan selalu menyuapi mu setiap kali kita sedang makan." Melia mengangguk cepat lalu tersenyum.
Antara dan Melia begitu telaten mengurusnya. Bahkan saat Melia sudah mengetahui jika sakitnya adalah rekayasa pun, Melia tetap memperlakukannya dengan baik padahal tanpa dia sengaja akan membuat pernikahan mereka terganggu dengan adanya orang ketiga dalam hubungan pernikahan keduanya.
"Maaf,"
Satu kata berhasil keluar dari mulut Weni yang lebih banyak berkata ketus. Weni mengulurkan tangannya dan memegang tangan Melia saat akan menyeka wajah mertuanya itu.
Tak ada sahutan dari Melia. Hanya suara hembusan napas berat dan panjang dari Melia yang terdengar samar olehnya. Weni tak marah, dia merasa jika ucapannya memang salah kala itu, namun itu jalan yang terbaik yang bisa dia putuskan agar anaknya itu bisa segera keluar sebelum teman sosialitanya mengetahui kabar tentang Antara.
Pagi berlalu dengan damai, namun tiba-tiba terdengar suara teriakan Antara dari kamar mandi. Melia dengan cepat bergegas keluar dari kamar mandi dan menuju ke arah sumber suara, tadi Melia memang sedang ke kamar mandi saat suaminya teriak histeris memanggil nama Weni berulang-ulang.
Bunda, Bunda …Bunda, kenapa! Bun!!
Antara berulang kali memencet tombol perawat yang tersedia di samping ranjang Weni, namun sekuat apapun ia memencet, tak seorang perawat apalagi dokter yang datang. Namun tiba-tiba terdengar suara pintu kamar dibuka seseorang, derap langkah kaki terdengar, Antara menoleh ke belakang dan ingin melihat siapa yang datang, mungkin salah satu perawat atau dokter yang mendengar alarm dari kamar bundanya di rawat. Namun seketika matanya membulat sempurna saat menyadari orang yang datang adalah Karin, bukan perawat apalagi dokter. Dengan tak tahu malunya, ia menyunggingkan senyum tertahan saat melihat ekspresi Antara.
Kamu!!
Antara menatap tajam ke arahnya. "Kamu mau apa lagi, hah!" Ucap Antara nyalang hingga melupakan Weni yang sedang beradegan sesak napas.
...****************...
__ADS_1