
"Akhirnya kalian turun juga," ucap Karin kesal.
Karin menatap Melia dengan tajam. Bagaimana tidak kesal, mereka sampai melewatkan sarapan pagi dan baru turun sesaat sebelum waktu makan siang.
"Maaf." Ucap Melia seraya mendudukkan bokongnya disebelah kursi sang suami.
Bukannya Melia tak menyadari tatapan Karin padanya, namun setelah kejadian semalam, ia sudah berjanji jika mulai saat ini dia tak akan pernah memaksa suaminya atau ikut campur urusan Karin dengan Antara, dia akan fokus pada pernikahannya sendiri dan tak ingin ikut campur, biarlah urusan mereka berdua diselesaikan oleh mereka juga.
Setelah pergulatan panas mereka sore itu, kini hubungan mereka kembali seperti dulu, seperti awal saat awal mereka menikah, penuh keromantisan dan penuh tatapan cinta. Sedang Karin.. Antara tetap memperlakukannya sama seperti biasanya, sebisa mungkin ia membagi perhatiannya sama rata dan adil, tentunya adil bukan dalam artian kepuasan, adil Antara yakni memberikan waktu yang sama seperti yang dia berikan pada istrinya, Melia. Jika ia memberikan waktu 3 jam untuk Melia.. Karin pun mendapatkan jatah seperti yang Melia dapatkan.
Tak terasa kini kandungan Karin sudah memasuki trimester kedua, menginjak 4 bulan kandungannya membuat kandungan Karin semakin hari semakin kuat dan sehat, seperti sore ini, mereka berempat sudah berada di sebuah klinik dokter kandungan yang biasa memeriksa kesehatan janinnya.
"Alhamdulillah janinnya kini sudah semakin kuat, dan sebentar lagi ibu Karin akan merasakan tendangan kecil dari janinnya," tutur Dokter Obgyn yang memeriksanya disela-sela pemeriksaannya.
"Benarkah, Dok! Jadi.. aku akan merasakan tendangannya?" tanya Karin antusias.
Dokter tersebut tergelak sebelum menjawab pertanyaan Karin padanya. "Mungkin.. lebih tepatnya tendangan kecil, biasa disebut Quickening. Terkadang calon bayi tendangannya tidak terlalu kuat sehingga terasa seperti gas saat lapar. Quickening biasanya akan membuat Ibu lapar ketika sedang duduk, berbaring atau beristirahat di malam hari.
__ADS_1
"Jadi bagaimana Dok, keadaannya bayinya? Apakah semuanya sehat?" bukan Karin yang kali ini bertanya namun, Antara yang pada akhirnya membuka suaranya setelah mendengar penjelasan Dokter Lili.
"Saat ini usia kandungan Ibu Karin sekitar 16 Minggu 6 hari, sekitar 4 bulan lebih. Pada masa hamil 4 bulan, panjang janin berkisar antara 13–16,4 cm dengan berat sekitar 140–300 gram, namun kalau saya lihat.. emm janinnya jauh lebih kecil dari berat dan panjang normalnya tapi Bapak enggak perlu khawatir karena pertumbuhan janin akan terus berlangsung sampai tiba saatnya bayinya siap dilahirkan. Pada masa ini, sistem saraf janin sudah mulai berfungsi dan organ reproduksinya telah berkembang sepenuhnya," jelas Dokter Lili.
"Dan ya, jika kita beruntung.. Bapak juga sudah bisa melihat jenis kelamin anak Bapak saat ini." Pungkas Dokter Lili mengulas senyum.
Antara terus menyimak penjelasan serta penuturan dari Dokter tersebut, ia sesekali mengangguk ketika namanya disebut. "Sampai disini, ada yang Bapak atau Ibu ingin tanyakan!" seru Dokter Lili menatap kedua calon orang tua tersebut.
"Jadi.. apa yang harus kami lakukan setelahnya, Dok?" Antara kembali bertanya, "karena sebelumnya janin Karin lemah jadi kira-kira apa yang harus kami lakukan agar kandungannya bisa sehat dan kembali normal seperti kehamilan normal lainnya!" imbuh Antara.
"Saat hamil 4 bulan, Ibu Karin tetap harus melakukan pemeriksaan kehamilan seperti biasanya seperti pemeriksaan tekanan darah, suhu tubuh, dan berat badan ibu maupun janin. Saran saya minimal 1 bulan sekali atau lebih jika ada keluhan lainnya. Kini Ibu Karin bisa melakukan olahraga secara rutin namun pastikan olahraga yang dipilih aman untuk ibu hamil. Konsumsi makanan bergizi seimbang yang mencukupi kebutuhan zat besi tubuh, seperti daging unggas, ikan, daging merah tanpa lemak, dan bayam. Dan juga, jika bisa hindari konsumsi makanan pedas, berminyak, dan asam karena akan mempengaruhi kesehatan Ibu dan ujungnya pasti akan berdampak pada janin yang dikandung," tutur Dokter Lili.
"Dan ini, obat yang saya kasih kemarin tetap diminum sampai habis sesuai dengan keterangannya, dan ini saya tambahkan vitamin untuk janin dan obat mual untuk mengurangi mual Ibu Karin." Tandasnya seraya memberikan selembar resep obat pada Antara.
Sementara diluar ruangan, nampak Melia dan Bunda Weni tengah menunggu Karin dan keluar dari ruang pemeriksaan, awalnya Weni sangat ingin melihat calon cucunya namun melihat Melia yang nantinya akan sendirian diluar menunggu, akhirnya dia urungkan dan memilih menunggu diluar bersama menantu pertamanya itu.
"Sabar.. kalau sudah waktunya kamu pasti juga akan hamil," kata Weni sembari menepuk punggung tangan Melia dengan lembut. Sejak tadi dirinya terus memperhatikan Melia yang tengah menatap seorang ibu didampingi suaminya seraya mengelus perut beras istrinya.
__ADS_1
Melia mengangguk pelan seraya tersenyum tipis mendengar perkataan sang ibu mertuanya. Paling tidak Melia bisa bernapas lega karena kini mertuanya itu tak lagi merongrongnya untuk segera hamil, entah itu berita baik atau tidak untuk Melia, karena seperti yang semua orang tahu jika kini Karin dan Antara tengah bersiap menanti kelahiran anak pertama mereka serta cucu pertama untuk mertuanya.
"Mereka kok lama sekali ya? Kira-kira apa yang mereka bicarakan!" gumam Weni namun masih bisa didengar dengan jelas oleh Melia yang duduk tepat disamping ibu mertuanya.
"Sabar, Bun, sebentar lagi juga pasti mereka ke—nah itu mereka!" tunjuk Melia saat melihat suaminya dan Karin keluar dari ruangan Dokter.
"Jadi.. apa yang dikatakan dokter! Bagaimana kandungan Karin, dan janinnya bagaimana? Sehat!" tanya Weni beruntun penuh antusias. Melia bisa melihat dengan jelas ibu mertuanya begitu excited menanyakan perihal kehamilan Karin.
Baik Karin, Antara maupun Melia menatap wanita yang berusia lebih 50 tahun itu dengan ekspresi heran. "Eh, em.. maafkan Bunda ya Mel, Bunda gak maksud—" ucap Weni kikuk karena tak ingin menyinggung perasaan Melia.
"Gak apa-apa, Bun. Bunda gak perlu sungkan, anak yang Karin kandung itu 'kan memang cucu Bunda jadi tak masalah Bunda begitu perhatian pada kehamilan Karin." ucap Melia tersenyum seraya mengusap pelan punggung ibu mertuanya, mertuanya itu begitu menjaga perasaannya dan Melia sangat bersyukur akan hal itu.
"Sehat, Bunda. Anakku sehat dan kata Dokter.. sebentar lagi aku bisa merasakan tendangannya." ucap Karin antusias seraya mengusap perutnya yang kini sedikit membuncit.
"Oh ya! Nanti kalau dia menendang, kamu kasih tahu bunda ya.. bunda juga pengen merasakan tentangannya." Pungkas Weni semangat.
"Ia Bun, pasti!" jawab Karin dengan penuh semangat seraya merangkul ibu mertuanya berjalan bersama menuju pintu keluar.
__ADS_1
Kini tinggal Melia dan Antara yang masih bergeming didepan ruangan Dokter. "Yuk, kita pulang!" ucap Antara memecah lamunan Melia seketika.
...****************...