
"Baik, Bu Melia. Saya akan menjelaskannya dengan rinci, tapi sepertinya.. ada kekeliruan soal tanggal terakhir Ibu Melia datang bulan.
"Maksud, Dokter? Aku kok makin bingung ya!" tanya Melia dengan kening berkerut.
"Selamat, Bu Melia, saat ini, Ibu sedang hamil 8 minggu," ucapan Dokter Lili seperti sebuah angin segar bagi rumah tangga Melia, tidak hanya baginya namun juga bagi suami dan kedua ibunya. Mengingat selama 2 tahun pernikahannya, kabar kehamilannya inilah yang sangat mereka harapkan.
"Apa Dokter tak salah? Bukannya beberapa hari yang lalu aku datang bulan, walau hanya sehari, Dok!" karena tak ingin kecewa, Melia kembali meyakinkan dirinya bahwa apa yang didengarnya tadi adalah benar.
Dokter Lili mengulas senyum seraya menggenggam tangan Melia dengan erat. Berdasarkan hasil pemeriksaan USG, laboratorium serta pemeriksaan cek urine, Ibu Melia benar-benar dinyatakan positif, Ibu sedang hamil saat ini dan usia kandungan Ibu sudah berjalan 8 minggu, sekitar 2 bulan," tutur Dokter Lili meyakinkan Melia yang tampak masih ragu.
"Ya Allah.. bisakah aku bersorak gembira sekarang!" Batin Melia.
Tangis Melia seketika pecah saat saat sang Dokter menyakinkan Melia kembali bahwa dirinya benar-benar tengah mengandung.
"Selamat ya, Bu. Tolong dijaga kehamilannya, mengingat kandungan Ibu masih trimester pertama, jadi untuk sementara waktu Ibu Melia harus menjaga pola makan dan menjaga kesehatan Ibu sendiri. Karena apa yang Ibu lakukan akan berpengaruh langsung pada janin yang Ibu kandung." Jelas Dokter Lili.
***
Setelah dari dokter kandungan, Melia menuju rumah Zahra, ibunya. Ia sangat bahagia dan ingin memberikan kabar gembira tersebut pada sang ibu.
"Assalamualaikum, bu.. ibuuu.." panggil Melia seraya mengetuk pintu rumahnya. Namun beberapa sampai beberapa menit menunggu, Zahra tak kunjung membukakan pintu untuknya.
"Dimana ya, Ibu?" gumam Melia dalam hati. Ia merogoh saku celananya dan mencari nomor kontak ibunya.
"Assalamualaikum, Mel." jawab Zahra dari seberang telepon.
"Wa alaikum salam, Bu. Ibu dimana? Melia ada didepan rumah loh sekarang!"tukas Melia. Ia sungguh tak sabar memberikan kabar gembira pada ibunya.
__ADS_1
"Yah, maaf ya, Sayang. Ibu masih diperjalanan menuju rumah teman Ibu. Kamu juga sih enggak bilang-bilang kalau mau berkunjung, kan tahu begitu, Ibu gak ikut!" ucap Zahra.
"Oh gitu, ya sudah, Bu enggak apa-apa. Nanti akan Melia menceritakan setelah ibu pulang kerumah," tutur Melia sembari menutup sambungan teleponnya.
"Aku kemana ya! Kalau pulang aku harus bilang apa kalau bunda tanya aku kemana! Apa aku ke kantor, Mas Antara saja," pikirnya. Namun tiba-tiba ponselnya berdering, tertera nama Clara disana.
"Clara!" gumam Melia semangat.
"Iya, Cla, tumben kamu telepon! Oh iya, aku punya kabar gembira untukmu!" ucap Melia antusias, ia yakin jika sahabatnya itu pasti akan gembira mendengar kabar kehamilannya.
"Kabar apa, Mel!"
Kening Melia berkerut seketika saat menyadari suara serak sahabatnya. "Kamu menangis? Kamu dimana sekarang?" tanya Melia beruntun. Dia yakin jika sahabatnya itu sedang bersedih, terbukti suara serak Clara.
"Baiklah, tunggu aku disana, aku kesana sekarang!" titah Melia.
"Cla, sebenarnya ada apa? Kenapa kamu begini?" tanya Clara saat melihat keadaan sahabatnya yang nampak sangat berantakan.
"Aku.. aku.. hamil Mel, aku hamil!" pecah sudah tangisan Clara setelah dirinya menyimpan sendiri permasalahan beberapa bulan ini.
Tak banyak yang dikatakan Melia pada Clara, karena dirinya tahu disaat seperti ini sahabatnya itu hanya butuh pendengar yang baik agar ia bisa dengan nyaman menceritakan permasalahannya tanpa harus menerima pertanyaan atau penghakiman dari seseorang.
Melia dengan setia mendengarkan segala keluh kesah yang dirasakan Clara, sahabatnya. Hingga kini Clara terlihat sudah lebih tenang dan tak menangis lagi.
"Tunggu sebentar, aku akan segera kembali dan mengambilkan mu air," kata Melia pada Clara.
Clara hanya mengangguk dan meminum air yang diberikan Melia padanya, "Jauh lebih tenang sekarang?" Clara mengangguk sembari memberikan gelas minuman pada sahabatnya.
__ADS_1
Aku takkan bertanya banyak soal siapa pria itu sebelum kamu sendiri yang memberitahuku. Yang ingin aku tanyakan adalah, "Apakah kalian melakukannya atas dasar sama-sama suka?!" tanya Melia, Clara tertegun dengan pertanyaan sahabatnya itu, namun sedetik kemudian, Clara mengangguk pelan.
"Kami melakukannya karena keinginan kami sendiri. Tapi.. tapi kami melakukannya dalam keadaan mabuk, pikiran ku saat itu tak sadar dan aku rasa dia juga sama-sama tak sadar dengan tindakannya. Kami melakukannya karena…."
Melia mengelus punggung Clara dengan lembut, "Tenanglah, kita bisa mencari jalan keluar dari permasalahan ini. Tenanglah, ada aku, sahabatmu yang akan selalu berada disisimu," imbuhnya lagi.
Mereka saling berpelukan satu sama lain, jika dulu Melia yang selalu bersandar di pundak sahabatnya itu ketika menghadapi permasalahan dalam rumah tangganya, kini Melia lega karena bisa berada disisi Clara disaat terpuruknya.
Bukankah sahabat sejati akan setia menemanimu disaat baik maupun buruk. Mereka siaga selalu hadir untukmu secara konsisten. Mereka akan selalu ada hadir di sisimu setiap kondisi tanpa menghakimi kesalahanmu.
Setelah membicarakan perihal permasalahan Clara pada ibunya ditelepon, akhirnya mereka bersepakat akan membawa Clara untuk tinggal dirumahnya. Clara akan tinggal bersama Zahra beberapa waktu, Zahra sudah menganggap Clara putrinya, dia pernah merasakan hamil tanpa ada dukungan dari keluarga dan Zahra tak ingin Clara merasakan hal yang sama dengannya.
Clara hidup sebatang kara setelah orang tuanya meninggal dunia karena kecelakaan mobil. Clara sudah menjalani hidupnya yang berat seorang diri selama bertahun-tahun. Clara pernah tinggal di panti asuhan dan pernah diasuh oleh sebuah keluarga, namun karena tak tahan akan perlakuannya, akhirnya Clara melarikan diri lalu bekerja di klub malam dan pada akhirnya ia bertemu dengan Melia hingga mereka bersahabat hingga kini.
Tak terasa sudah pukul 9 malam, Clara sudah tertidur pulas di ranjangnya. Melia turun dari kasur secara perlahan karena tak ingin mengganggu tidur sahabatnya.
"Astagaaa.. ini sudah jam berapa? Mas Antara pasti mencariku!" gumam Melia saat menyadari dirinya tertidur disamping Clara saat menenangkan sahabatnya itu.
Melia merogoh kantong bajunya, dan benar saja ada puluhan panggilan dari suaminya dan beberapa dari ibunya Zahra serta beberapa pesan chat. Saat akan menelepon Antara, tiba-tiba ponselnya mati kehabisan daya.
Melia menghela napasnya dengan kasar, "Bodohnya aku sampai lupa memberi kabar pada Mas Antara dan Ibu, mereka pasti mencariku!" pikir Melia. Karena tak ingin membuang-buang waktu, Melia langsung pulang dengan menggunakan taksi.
Melia menatap keluar jendela, menatap deretan lampu jalan berwarna warni yang tampak seperti pelangi. Ia tersenyum mengingat perkataan Dokter siang tadi, Melia mengelus perutnya yang masih sangat rata. "Terima kasih ya Allah.. terima kasih atas kepercayaan mu ini," ucap Melia menitikkan air mata. Air mata kebahagiaan, akhirnya setelah 2 tahun lamanya dan berbagai cobaan dalam pernikahannya, akhirnya keinginannya untuk bisa hamil bisa terealisasikan juga.
Aku akan memberikan Mas Antara kabar bahagia ini langsung, dia pasti senang mendengarnya," gumam Melia tersenyum seraya membayangkan bagaimana ekspresi wajah bahagia suaminya.
...****************...
__ADS_1