
Karin yang merasakan pergerakan seketika membuka matanya. Ia mengulas senyum saat melihat pria yang dicintai berada disampingnya ketika ia terbangun. Pemandangan yang indah bagi, Karin saat melihat punggung polos milik suaminya berada dalam satu selimut yang sama dengannya.
"Selamat pagi, Sayang!" ucap Karin dengan suara serak bangun tidur. Antara yang mendengarnya pun seketika menegang. Dia tahu dan kenal betul suara siapa ini, suara yang selalu mengganggunya setiap waktu.
"KARIN!" Pekik, Antara kaget saat berbalik dan menemukan wanita yang dibencinya berada di belakangnya. Wanita yang sudah merusak hidupnya dan rumah tangganya. "Apa yang kamu lakukan disini!" hardik, Antara dengan nyalang.
"Aku! Apa aku dilarang tidur di kamarku sendiri?" bukannya menjawab pertanyaan, Antara, ia malah bertanya balik. Hingga membuat rahang Antara terbuka saking kagetnya.
"Ma-maksudmu apa? Aku yang salah masuk kamar!" Antara bangun dari tidurnya dan menampilkan tubuh polos bagian atasnya terekspos dengan sempurna. Karin yang tahu jika ini akan terjadi seketika menarik tangan Antara agar tidak menjauhinya. "Tolong dengarkan aku dulu, aku akan menjelaskan bagaimana kamu bisa masuk kesini."
"Lepaskan, Karin. Apa-apa kamu!" Antara menepis tangan Karin dengan kasar.
"Kamu kenapa begini? Kenapa kamu berubah dalam sekejap mata, huh! Apa kamu juga lupa apa yang sudah kita lakukan semalaman?!" ucap, Karin dengan lirih.
"Apa maksudmu? Memang apa yang kita laku—" seketika mulutnya bungkam, ia tak bisa berkata apa-apa lagi saat baru menyadari penampilannya dan Karin yang berada di dalam satu selimut yang sama dengannya.
Arrgghh!!
__ADS_1
Antara mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tak tak ingat apa yang terjadi malam itu, yang dia ingat saat dirinya dan Melia saling bercumbu satu sama lain hingga mereka berhubungan badan.
Antara yang hendak memungut pakaiannya yang berserakan di bawah lantai seketika dicegah oleh Karin. "Tunggu! Kamu mau kemana, Sayang?" Mata Karin sudah berkaca-kaca saat melihat Antara yang hendak turun dari kasur.
Jangan memanggilku seperti itu. Antara tak suka panggilan yang diucapkan, Karin padanya. Karena panggilan sayang hanya untuk Melia.
"Apa maksudmu! Bukankah semalam kamu bilang kamu mencintaiku! Kamu bilang sayang padaku! Dan kamu memintaku untuk tak meninggalkanmu! Bukankah begitu?" Karin tak ingin hubungan mereka berakhir hanya sampai pagi ini.
"Maaf, Karin, anggap saja apa yang terjadi semalam adalah sebuah kesalahan! Aku takkan mengulanginya lagi, maaf, maaf untuk kesekian kalinya." Ucap Antara saat hendak meninggalkan kamar Karin.
"Tunggu, An. Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku dengan keadaanku seperti ini. Aku bukan wanita ****** yang bisa kamu tinggalkan begitu saja saat kamu sudah mengambil harta yang paling berhargaku," air mata yang sejak tadi ditahannya pun akhirnya tumpah. Ia menggenggam selimut yang masih menutupi tubuh polosnya.
"Lalu, aku harus bagaimana sekarang? Nasibku bagaimana sekarang, An! Kita sudah melakukannya, bukan hanya satu kali, tapi kita melakukannya berkali-kali hingga pagi menjelang. Kita melakukannya atas dasar mau sama mau, apa kamu melupakan itu semua?!" Karin mencecar Antara dengan pertanyaan yang menyudutkannya. Antara sangat frustasi hingga menyugar kasar rambutnya hingga menjadi sedikit berantakan. Ia sungguh pusing karena masalah ini. Bagaimana bisa dia sampai salah mengenali istrinya sendiri.
"Lalu apa mau mu! Kamu tahu jika cinta yang kamu inginkan, aku tak bisa memberikan itu, karena semua cintaku sudah dimiliki oleh istriku." Karin memang terluka mendengar perkataan Antara, namun ia sudah bisa menebak apa yang akan Antara katakan padanya jika ia meminta cinta dari suaminya itu.
"Aku ingin kamu bertanggung jawab atas diriku, aku ingin kamu bisa berbuat adil padaku atau Melia. Aku bisa bertahan hidup tanpa cintamu, tapi aku tak bisa hidup tanpa dirimu." Karin memeluk tubuh polos Antara yang juga hanya tertutup oleh selembar sprei yang digunakan untuk menutupi tubuhnya.
__ADS_1
Antara tak bergeming, ia seakan tercekat dengan apa yang akan ia lontarkan. "Ba-baiklah, aku akan berusaha adil untuk kalian semua," akhirnya dengan terpaksa ia mengiyakan apa yang diminta Karin padanya.
Saat Antara akan berbalik, Karin dengan nakalnya menarik sprei yang dipegang Antara hingga membuat tubuh polosnya terpampang sempurna. Karin yang begitu bahagia karena keinginannya salam ini akhirnya bisa terwujud menjadikannya bersemangat hingga membuat libidonya naik dengan sempurna.
"Karin! Apa yang kamu lakukan! Lepaskan, aku ingin keluar. Sebentar lagi pagi. Aku harus bersiap ke kantor!" kata Antara seraya menarik sprei yang digenggam kuat oleh Karin.
Dengan berani, Karin menghampiri Antara tanpa menggunakan sehelai benang pun hingga Antara bisa melihat tubuh mulus dan putihnya secara langsung. Antara yang mendapat serangan tiba-tiba pun tak bisa berkutik, entah karena naluri laki-lakinya atau karena ia masih terhipnotis oleh tubuh Karin yang baru pertama kali dilihatnya hingga buatnya tak sadar jika saat ini ia sudah mulai hanyut oleh bujuk rayunya.
"Ini salah satu bentuk tanggung jawab mu, An sebagai seorang suami. Memberikan nafkah batin padaku, aku menginginkanmu saat ini, milikku masih terasa sangat sakit, dan kata orang jika tak ingin terasa sakit lagi, kita harus mengulangnya berulang kali," bisik Karin di telinga Antara hingga ia merasa dejavu dengan kata-kata yang diucapkan Karin padanya. Seketika kesadarannya kembali hingga membuatnya hampir menjatuhkan Karin ke bawah lantai, beruntung Antara dengan sigap menarik tangan Karin hingga membuat keduanya terjatuh bersamaan di atas kasur.
"Maaf, Karin, aku tak bisa. Aku harus segera bersiap ke kantor," Antara segera bangkit namun belum sampai berdiri, Karin dengan cepat menarik tangannya. Nampak Karin dengan wajah memelasnya menatap, Antara. "Aku mohon, jangan tinggalkan aku disaat aku membutuhkanmu!"
Antara mengambil napas dan menghembuskan dengan pelan, "Baiklah." Jawab Antara seraya menghampiri Karin yang nampak sumringah karena lagi lagi Antara mau menuruti keinginannya. Tak ingin Antara berubah pikiran, dengan cepat, Karin mengungkung tubuh suaminya itu. Kali ini ia yang akan memimpin permainan pagi.
Karin menyambar bibir tipis Antara yang selalu menggodanya. Dihisapnya dengan lembut, namun Antara tak bergeming, hingga membuat Karin harus memutar otak untuk bisa membuat gairah suaminya itu bangkit. Dengan senyum nakal, Karin membelai tubuh Antara dengan lembut, awalnya Antara merasa risih, namun naluri laki-lakinya tak bisa dibohongi saat Karin dengan beraninya mengulum junior miliknya berulang kali hingga membuat libidonya pun semakin meningkat. Secara kasar jika dilihat dari kacamata orang lain, Karin saat ini seperti sedang memperk**sa suaminya sendiri. Namun bukan, Karin namanya jika ia mau mendengar perkataannya orang lain. Asal dia bahagia, apapun akan dia lakukan demi mendapatkan apa yang dia mau. Karin begitu mendominasi permainan mereka pagi hingga mereka menyelesaikan permainan panas hingga cahaya mentari mulai masuk di sela-sela jendela kamarnya.
Kata orang **** di pagi hari akan membuat seseorang menjadi lebih semangat dalam bekerja. Dan hal itu sesuai dengan sebuah studi, orang-orang yang rutin melakukan morning *** dilaporkan lebih bahagia dan sehat. Selain itu, kadar estrogen yang meningkat dapat membuat kulit dan rambut menjadi lebih kuat dan sehat. Tak hanya itu, menurut Dr Dawn Michael, seksolog klinis dari The Happy Spouse, morning *** juga bisa berfungsi sebagai workout yang dapat melepaskan endorfin.
__ADS_1
Di sisi lain, bercinta sebelum pergi bekerja akan membuat kamu memikirkan pasangan sepanjang hari, sehingga akan membangun pikiran positif dan rasa keintiman mendalam. Namun itu hanya berlaku pada, Karin yang entah mengapa senyum di bibirnya tak pernah lepas menghiasi wajahnya. Sedang Antara tak berani menatap wajah Melia, ia merasa dia sudah menjilat ludahnya sendiri dan merasa jika ia sudah mengkhianati istrinya.
...****************...