JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Pertemuan Empat Anak Manusia


__ADS_3

Seperti minggu-minggu sebelumnya, hari minggu adalah waktu quality time Zahra dan Melia. Mereka akan menghabiskan waktu bersama. Dimulai pagi ini, mereka pergi berbelanja di pasar swalayan yang letaknya tak jauh dari rumah mereka. Karena jaraknya yang tak terlalu jauh Zahra dan Melia lebih memilih berjalan kaki sambil bercerita tentang apa-apa saja yang mereka kerjakan selama seminggu, hingga tak menyadari bahwa mereka sudah sampai di pasar.


"Bu, habis belanja nanti kita singgah makan soto Cak Lontong ya Bu. Sekalian sarapan, jadi pas sampai rumah kita bisa sedikit bersantai karena sudah makan. Ajakan Melia pun diamini oleh Zahra.


Setelah berbelanja, mereka memutuskan untuk naik bentor karena belanjaannya yang banyak. Mereka menaiki bentor yang mangkal di samping pasar tempatnya berbelanja tadi.


Bentor melaju tidak terlalu cepat atau pun lambat, lajunya standar. Namun saat di persimpangan jalan, sebuah mobil sedan merah tiba-tiba muncul dengan kencangnya dan menyalip kendaraan yang ditumpangi Melia dan Zahra, hingga membuat kendaraannya tersebut oleng dan menabrak trotoar jalan raya.


“Astagfirullah, ya Allah!! pekik Zahra dan Melia bersamaan.


“Ibu enggak apa-apa!” seru Melia yang kaget karena becak motor yang ditumpanginya hampir saja terbalik.


“Ibu enggak apa-apa sayang, yuk, kita keluar dulu, biar bapaknya bisa lihat juga kondisi kendaraannya," Zahra mengajak Melia turun dari kendaraan bentor


Melia segera menghampiri lalu membantu supir bentor yang terlihat sedang kesusahan karena kakinya sedikit terimpit badan motor.


“Bapak enggak apa-apa?"


“Enggak apa-apa Neng, Cuma ke jepit saja," jawabnya sembari berusaha mengeluarkan kakinya yang terhimpit badan motornya.


Beberapa warga yang melihat kejadian tersebut berlarian ke arah mereka. "Kalian tak apa?"


"Alhamdulillah tak apa, Pak. Bisa bantu kami mengangkat motor bapak ini. Kakinya terjepit, kami tak kuat mengangkatnya."


Setelah dibantu oleh warga dan pejalan kaki di sana, akhirnya kaki supir tersebut berhasil dikeluarkan. Sedangkan di ujung jalan sana, mobil sedan merah yang menyambar mereka pun dikerumuni oleh beberapa warga dan para pengendara yang melintas, saat melihat mobil tersebut tetap melaju kencang tanpa menghiraukan bentor yang disambarnya. Bahkan dari sudut pandang manapun, mobil tersebut jelaslah salah terlebih Si pengendara tak mempunyai itikad yang baik untuk berhenti walau sekedar meminta maaf.


Sementara di dalam mobil, terlihat wanita paruh baya yang sedang gemetaran, wajahnya pun sudah terlihat pucat pasi karena ketakutan akan di keroyok warga. Terlebih saat saat melihat gedoran dilacak jendela di kanan dan di kiri jendelanya.


“Woi, buka pintunya,” teriak warga yang di susul juga warga lainnya yang terlihat geram melihat Si pengendara mobil tidak keluar juga dari mobilnya. Beberapa orang masih terus menggedor-gedor pintu mobil tersebut dengan keras.


“Hei, tanggung jawab lu!!”


“Astaga, mereka kenapa sih, toh juga mereka enggak kenapa-kenapa juga," ucapnya sembari melihat bentor dan pengendaranya baik-baik saja. "Pasti mereka mau uangku saja.”Weni segera membuka tas miliknya lalu mengambil ponselnya.

__ADS_1


“TAR!! TOLONGIN BUNDA SAYANG, BUNDA MAU DI KEROYOK MASSA!!


BUNDA TAKUT, CEPAT KAMU KE SINI!!


pekik Weni saat Antara, Sang anak mengangkat teleponnya.


Antara yang baru keluar dari ruang rapat pun dikejutkan dengan teriakan dari Sang bunda setelah mengangkat teleponnya. Setelah mendapatkan alamatnya, Antara segera menyusul Sang Bunda dan berharap agar bundanya tidak diapa-apakan oleh warga yang sedang murka.


Antara bersyukur karena rapat yang dipimpinnya sudah selesai, karena tak mungkin ia meninggalkan rapat penting yang membahas dana yang akan mereka gelontorkan untuk sebuah proyek terbarunya.


Setelah sampai di alamat yang diberikan Weni via maps, Antara segera mencari Sang bunda, namun saat memeriksa mobilnya, tak terlihat Si pemilik mobil tersebut, hingga membuat Antara panik.


Sang bunda sudah tak berada di dalam mobilnya, makin membuat Antara cemas, takut kalau bundanya kenapa-napa.


“Bang, cari siapa di situ?” sapa seorang pemuda yang terlihat berjalan ke arahnya.


“Saya cari pemilik mobil ini,” sahut Antara.


“Oh, pemilik mobil ini, si Ibu sombong itu!” Seru pemuda yang terlihat sedikit emosi saat membicarakannya.


“Apa maksudnya?” batin Antara.


"Eh, iya Mas. Apa tahu di mana Ibu itu sekarang?!” tanya Antara.


“Mereka di giring ke kantor polisi terdekat, tuh dekat pasar sana!” ucap pemuda itu sembari menunjuk ke arah sebuah bangunan yang tidak terlalu besar dan tinggi yang berada di sudut jalan perempatan.


Setelah Antara sampai, Antara segera masuk dan mencari keberadaan Sang bunda.


Dari tempat Antara berdiri, terlihat jauh di sudut sana, seorang wanita terlihat sedang beradu mulut dengan petugas kepolisian. Dan 3 orang lagi, 2 wanita dan 1 pria yang bisa Antara tebak, kalau ini adalah kasus tabrak lari.


Antara berjalan menghampiri Sang bunda yang terlihat masih dengan gaya sombongnya memaki pria yang tak diketahui namanya.


“Bapak saja yang enggak lihat-lihat, sudah tahu mobil saya mau lewat, malah menghalangi jalan saya.

__ADS_1


Kalau sudah begitu, masa iya sih Pak Polisi, saya yang salah di sini!!” ucap Weni yang menunjuk sopir bentor itu.


Antara menghela nafasnya berat, Sang bunda memang tak pernah berubah sedikit pun. Beliau akan baik pada orang tertentu saja, yang setara dengannya.


“Bun!” panggil Antara. Mau tidak mau, mereka berlima menoleh ke belakang, termasuk Pak polisi, Weni, Zahra, Melia dan sopir bentor itu secara bersamaan.


“Antara! anakku, tolongin Bunda, Nak," ucap Weni histeris.


Zahra yang melihatnya pun sedikit tertegun. Mencoba mengingat pemuda yang bernama Antara yang ada dihadapannya saat ini. "Bukannya dia pemuda itu!" ucap Zahra dalam hati


Sedang Melia melihat Antara dengan jengah. "Ternyata dia anak dari wanita sombong ini! Tapi tak mengherankan, karena buah tak jauh jatuh dari pohonnya." umpat Melia dalam hati.


“Tar, tolongin bunda sayang, bunda enggak bersalah dalam hal ini, mereka saja yang tidak lihat mobil bunda yang lewat di sampingnya.”


Melia yang tersulut emosinya ingin menginterupsi perkataan Weni barusan, namun tangan Zahra segera menggenggam tangan Melia kuat sembari menggeleng pelan bahkan sangat pelan hingga Melia tak jadi bersuara.


Mohon maaf, Pak. Kami dari kepolisian sudah mengecek CCTV yang terpantau dari TKP tadi, dan memang benar, Ibu Anda melanggar lampu merah yang mengakibatkan terjadinya penyerempetan terhadap bentor bapak ini.” Tunjuk bapak pemilik kendaraan bermotor tersebut, yang motornya pun kini tak berbentuk lagi, kepalanya sudah miring dan terdapat banyak goresan karena memang jalan tersebut adalah aspal yang kurang mulus.


Namun karena Ibu ini terus saja tidak mengakuinya, jadi prosesnya agak lama. Bisa saja setelah Ibu Anda ini meminta damai, lantas dia meminta maaf dan mengganti biaya kerugian yang mereka alami, kasus ini bisa saya tutup namun, kalau Ibu Anda tetap bersikeras melanjutkannya, maka saya akan serahkan berkas ini ke pusat untuk di proses selanjutnya.


“Jadi bagaimana Pak? Silakan diskusikan terlebih dahulu dengan Ibu Anda.


“Baik, Pak. Terima kasih atas sarannya. Permisi,” ucap Antara yang menarik lembut tangan Weni menuju sisi ruangan di sebelah.


“Bun, Bunda apa apaan sih. Kok bisa sampai begini! Kan Bunda tadi dengar, kata Pak Polisi itu juga kalau memang Bunda yang salah loh di sini, kok masih bersikeras!” seru Antara yang tak mengerti dengan jalan pikiran Bundanya.


“Bun, Antara ada rapat penting lagi siang ini, jadi kalau memang Bunda masih mau melanjutkan kasus ini, silakan, Antara setelah dari sini, tidak akan ikut campur lagi, biar Bunda yang menyelesaikan semuanya sendiri. Bagaimana??” ancam Antara.


Terdengar embusan nafas kasar Weni, “Baiklah, Bunda mau damai. Tapi biar kamu saja yang urus, Bunda mau pulang dulu, teman-teman bunda juga sudah menunggu Bunda arisan.” Ucap Weni yang melenggang pergi dari hadapan Antara yang sedang memijit keningnya yang tiba-tiba sakit karena tingkah laku Sang Bunda.


Setelah menyelesaikan permasalahan Sang bunda serta meminta maaf dan bersedia mengganti rugi segala kerugian yang diakibatkan oleh Sang Bunda, maka kasus penyerempetan tersebut sudah selesai dengan damai.


“Tunggu!!

__ADS_1


Antara berlari kecil menyusul dua wanita yang berbeda generasi itu dan memotong jalan keduanya saat mereka berjalan menuju pintu keluar.


...****************...


__ADS_2