JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Penyesalan Melia


__ADS_3

Demi apa coba Melia merutuki kebodohannya. Menyiksa dirinya sendiri semalaman, padahal dia bisa saja mengecek langsung Antara benar tidur di kamar Melia atau tidak. Tanpa menjawab pertanyaan mertua dan madunya, Melia segera berjalan menuju ruang kerja milik sang suami yang letaknya tidak jauh dari kamar, Karin.


Entah dia harus lega atau sedih saat melihat sang suami masih meringkuk tidur di atas sofa dengan kaki yang menjuntai ke bawah. Ukuran sofa tersebut memang tidak lebih panjang dari postur tubuh suaminya itu.


Melia menghela napasnya seraya menghampiri sang suami yang masih tertidur pulas. "Mas, Mas Antara bangun, sudah pagi, Mas. Mas nggak ke kantor!"


Melia membangunkannya dengan mengelus surai milik suaminya, hingga si empunya terasa terusik dan membuka matanya perlahan. Antara sangat bahagia karena saat matanya terbuka, ia masih disambut senyum indah dari istrinya, Melia. Menarik tangan sang istri dan menciumnya seperti biasa, menghirup aroma tubuh sang istri seperti kebiasaannya setiap ia membuka matanya. Tampak tak ada yang berbeda hingga saat Melia kembali mengungkit pertengkaran mereka semalam.


"Apa dari semalam, Mas tidur disini!?" Melia menatap lekat wajah sang suami, menunggu jawaban yang sebenarnya sudah dia diketahui. Antara yang sadar pun seketika bangun dari tidurnya dan mendudukkan bokongnya, mengumpulkan kesadarannya.


"Apa yang kau lakukan disini!" ucapnya datar dan terkesan dingin.


Melia menghela napasnya. "Harusnya aku yang tanya itu padamu. "Kenapa, mas tidur disini. Bukannya tidur di kamar—" Melia tak lagi melanjutkan perkataannya saat menyadari tatapan suaminya mulai menajam.


"Ayo kita sarapan dulu. Aku sudah buatkan makanan kesukaan, Mas." Melia mengalungkan tangannya di lengan suaminya, namun dengan cepat ia tepis dengan perlahan, hingga membuat Melia tersentak dengan perlakukan dingin suaminya.


"Aku ke kamar dulu, kamu sarapan saja duluan dengan yang lainnya," Kata Antara tanpa menatap Melia, dan segera berlalu dari ruangan tersebut. Suara pintu tertutup membuat Melia tersadar dari keterkejutannya. Satu tetes air mata terjun bebas di pipinya, hatinya begitu sakit mendapatkan perlakuan seperti itu, terlebih selama hampir 2 tahun mereka menikah, Antara tak pernah sekalipun berlaku kasar padanya, ia selalu bersikap lembut padanya.


Melia kembali ke meja dimana yang lainnya sudah memulai sarapan paginya.

__ADS_1


"Antara tidur di ruang kerjanya sejak semalam?!" tanya Weni saat melihat sang anak berjalan dari arah ruang kerjanya. Namun saat ia bertanya, Antara berlalu naik ke lantai 2 tanpa merespon perkataannya.


Lama Melia menjawabnya, ia tak tahu harus menjawab apa ketika mendapat pertanyaan demikian.


"Iya, Bun. Mas, Antara ketiduran tadi saat menyelesaikan pekerjaan kantornya." Bohong Melia. Ia terpaksa berbohong karena tak ingin masalah ini diperpanjang, terlebih jika mertuanya itu tahu, pasti masalahnya akan semakin besar dan merembet kemana-mana.


"Mel, bunda mau tanya. Kamu pakai KB ya!" Melia tersedak makanan yang baru dia suapkan ke mulutnya.


Weni dengan cepat memberikan air putih ke tangan Melia, "Ini, minumlah perlahan." Kata Weni menyodorkan segelas air putih pada menantunya.


Melia segera meminumnya air yang diberikan Weni hingga hampir tandas. "Hem, terima kasih Bun!"


Melia tertunduk, tak tahu apa yang harus ia jawab. Sedang di ujung sana, tepatnya di ujung tangga, Antara mendengar semua pembicaraan Weni dan Melia. Melihat sang istri yang tertunduk, ingin rasanya ia berlari dan mendekap sang istri. Ini bukan pertanyaan pertama yang diterima Melia dari orang-orang. Mereka pun bukannya sengaja menunda memiliki momongan namun memang belum waktunya saja.


"Aku berangkat!" Antara memecah keheningan di meja makan, membuat ketiga wanitanya menatap dengan heran.


"Kamu sudah mau berangkat? Mas, nggak sarapan dulu!" ucap mereka bersamaan.


"Aku sudah telat, ada meeting yang harus aku lakukan, mungkin aku akan pulang malam. Jadi kalian tak usah menungguku pulang." Ucap Antara tanpa menoleh. Ia terus berjalan tanpa memperdulikan tatapan heran ketiga wanitanya hingga ia benar-benar menghilang di balik pintu putih.

__ADS_1


"Mas …." ucap lirih Melia dengan sendu sembari menatap punggung suaminya hingga menghilang dibalik pintu berwarna putih itu.


"Antara, kenapa, Mel? Nggak biasanya dia melewatkan sarapan paginya!" Karin yang penasaran pun akhirnya membuka suara dan bertanya pada Melia yang masih terdiam lesu di kursinya.


"Benar, Mel. Apa kalian bertengkar semalam? Setelat apapun dia, pasti akan menyempatkan sarapan walau sedikit," Weni menimpali ucapan,Karin.


"Maaf, aku ke kamar duluan." Melia beranjak dari duduknya dan bergegas menaiki tangga menuju kamarnya. Ia tak menjawab pertanyaan Karin ataupun mertuanya, Weni. Ia cukup shock dengan perlakuan Antara padanya pagi ini. Antara sosok suami yang hangat dan romantis tiba-tiba berubah menjadi suami yang dingin dan datar tanpa ekspresi. Membuat hati Melia menjerit dan menangis. Sebesar itukah kesalahannya malam itu! Apakah yang dia lakukan itu salah?"


Melia menangis dalam diam di dalam kamarnya menatap foto mereka berdua saat di kapal pesiar waktu itu, foto yang diambil saat mereka berdua melakukan akad nikah.


Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan pintu lobby perusahaan Arcoma Internasional. Perusahaan yang sudah 6 bulan lebih dikelolanya. Antara masih bergeming di atas mobilnya, serasa enggan untuk beranjak dari sana. Kepalanya sungguh sangat sakit namun tak kalah lebih sakit lagi adalah hatinya yang begitu menderita melihat sikapnya sendiri. Ia mengacuhkan Melia dan bersikap dingin padanya, terlebih saat melihat wajah sendu sang istri saat harus menghadapi pertanyaan yang pastinya menyinggung perasaannya tentang momongan.


"Pak, kita sudah sampai," tegur sang sopir saat melihat bosnya tak bergeming dari duduknya. Ia terus menatap ponsel miliknya, bukan, Antara tak melihat ponselnya namun ia sedang menatap wajah cantik istri yang dijadikan wallpaper di ponselnya.


"Mengapa sesulit itu membuatmu mengerti jika hanya kamu yang kuinginkan, Melia." gumam Antara pelan, membuat sang sopir mengerutkan dahinya saat menatap bosnya yang terlihat sedih.


"Sepertinya, Pak Antara sedang ada masalah, tak biasanya dia berangkat wajahnya ditekuk seperti tadi. Terlebih Ibu Melia pun tadi tak terlihat mengantarkan ke depan." pikirnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2