JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Mulai Membuka Hatinya (Melia)


__ADS_3

Melia yang sudah berada di dalam kamarnya, masih diam terpaku menatap kamar yang akan ditempati untuk beberapa hari ke depan. "Apakah aku sedang bermimpi sekarang! Jika iya, bangunlah Mel!" ucapnya bermonolog.


Ia masih tak percaya dengan deretan kejadian siang ini, tidak! Deretan kejadian mulai kemarin malam lebih tepatnya, saat Zahra memberikannya sebuah tiket yang dia tahu dari siapa.


Zahra POV : Mel, tadi Antara datang kemari, dan dia menitipkan ini padamu. Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian berdua! Terlihat sekali wajah kecewa Antara saat dia  memberikan tiket ini pada Ibu.


Mel, kalau Ibu boleh jujur. Antara sepertinya menyukaimu, dari tatapannya padamu selama ini, Ibu sangat yakin jika dia menaruh hati padamu.


Melia POV : Melia menghembuskan napasnya ke udara dengan berat.


Bu, Melia takut. Melia takut jika perasaan tak enak ini adalah benih yang mulai tumbuh di hati Melia. Sejak pertama kali bertemu dengannya, Melia selalu ketus padanya, namun entah mengapa dia terus berusaha dengan segala cara tapi karena usahanya itulah yang membuat Melia merasa tak nyaman. Aku merasa tak pantas untuknya Bu, dia pria di luar dunia Melia, Bu. Melia nggak pantas buatnya.


Zara POV : Zahra menghela napasnya panjang, dia tahu apa yang menjadi ganjalan di hati anaknya itu. Perasaan minder karena pekerjaan dan latar belakangnya. Sayang, dia bukan pria yang berpikiran sempit, kalau dia sudah memilihmu, artinya dia sudah tahu semua tentangmu.


Melia POV : Tapi bagaimana dengan Bundanya? Ibu tahu beliau seperti apa bukan! Melia makin tak yakin dengan itu, aku tak ingin menikah tanpa adanya restu, Bu. Aku ingin menikah agar aku bahagia!


Zahra POV : Ibu mengerti perasaanmu sekarang, tapi biarkan urusan itu Antara yang membicarakannya pada Bundanya. Kamu cukup berdoa dan berlaku sewajarnya seperti kamu apa adanya, Nak.


Tapi bisakah kau membuka hatimu untuknya? Tak usah memaksakan hatimu untuk menerimanya langsung, cukup buka dan terima perhatian yang Antara berikan padamu. Setelah itu, biarkan hatimu memutuskan, apakah kau ingin melanjutkan atau tidak.


Melia POV : Baiklah, Bu. Melia coba ya, tapi sepertinya kami tak 'kan bertemu lagi. Karena dia sudah terlanjur kecewa pada Melia malam itu.


Zahra POV : Kalau kalian berjodoh, pasti ada jalannya. Sebelum itu, kita healing dulu yuk! Mumpung ada tiket liburan GRATIS!!


Melia bangun setelah matahari terbenam, ketika cahaya merah memudar dari langit. Dia menggeliat saat terganggu dengan suara ketukan pintu kamarnya. Hari sudah malam yang artinya Melia sudah tertidur cukup lama sejak ia membaringkan tubuhnya menerawang percakapannya bersama Zahra malam itu.


Zahra membuka pintu kamar setelah membasuh wajahnya di kamar mandi. Ya, orang yang mengetuk pintu kamar Melia tadi adalah Antara.

__ADS_1


"Kamu tak apa-apa!" ucap Antara dengan raut wajah khawatir.


Melia tersenyum saat melihat raut wajah Antara yang menampakkan raut wajah khawatirnya. "Ada apa?" jawabnya datar.


"Ah…syukurlah kamu tak apa, aku kira kamu kenapa-napa di dalam sana. Karena sejak siang tadi aku mengetuk pintu kamarmu, namun tak juga mendapat jawaban dari dalam. Maka kupikir kamu sedang tidur, maka dari itu aku tak ingin membangunkanmu, namun sampai malam begini kamu belum juga keluar kamar, pada akhirnya aku memberanikan diri untuk membangunkanmu," pungkas Antara lega.


"Maaf, tadi aku ketiduran. Tapi kenapa kamu tidak menelepon saja!"


Antara mengangkat alisnya, tertegun dengan kata 'Maaf' yang dilontarkan Melia tadi. Bukan hanya kata, namun bahasa tubuh hingga nada suaranya pun terlihat berbeda dari sebelumnya, tak ada lagi sikap ketus yang selama ini dia tunjukkan padanya.


"Kamu sakit!" Antara mencoba mencari tahu penyebab perubahan Melia malam ini. Jika dia sakit, tentu saja menjadi tanggung jawabnya karena Melia datang bersamanya."


"Apa lapar bisa dikategorikan sebagai sakit? Jika iya, aku sangat sakit," Melia menjawabnya dengan gurauan sembari memegang perutnya.


Antara tertawa kecil melihat tingkah konyol Meliai. Ini kali pertama dia melihat sisi lain dari Melia. "Baiklah, kamu mau makan dimana! Mau diantarkan ke kamarmu atau mau makan diluar?"


"Ayo!" Antara dan Melia berjalan beriringan menuju restoran yang disediakan oleh pihak kapal pesiar tersebut. Setelah mengambil makanannya, Antara dan Melia menuju meja kosong.


"Bisakah nanti kau menemaniku berkeliling kapal setelah kita makan!"


"Tentu saja," jawabnya dengan senang hati.


"Apapun untukmu Melia, jangankan  kapal, berkeliling dunia pun aku sanggup, asalkan denganmu," ucapnya namun kali ini dalam hati.


Sesuai dengan janji Antara, mereka berkeliling dari satu lantai ke lantai berikutnya hingga cukup puas mereka memilih berjalan menuju puncak kapal pesiar tersebut. Tepatnya di lantai 18, Melia dan Antara akhirnya memilih bersandar di dek kapal sembari menikmati semilir angin menerpa wajahnya dan membuat anak rambutnya terbang.


Alih-alih ingin menikmati pemandangan malam dari atas kapal, Antara malah asyik menikmati ekspresi wajah Melia saat berusaha menghalau angin yang membuat rambutnya berterbangan, jangan lupakan gelak tawanya saat dirinya hampir terhempas ke tubuh Antara saking kencangnya angin malam ini.

__ADS_1


Dari sini, penumpang kapal dapat menikmati riak gelombang, walau samar, namun deburan ombak masih sangat jelas terdengar di telinga. Antara jadi teringat pada surat yang diselipkan Zahra pada tas selempang yang dia kenakan tadi.


To : Antara


Maaf jika rencana yang Ibu lakukan saat ini mungkin membuatmu merasa tak nyaman. Dan maaf juga karena Ibu, pekerjaanmu jadi terbengkalai. Selain ucapan maaf, Ibu pun ingin menitipkan Melia padamu. Titip Melia ya, tolong jaga dia sementara waktu selama kalian di sana.


Ibu sudah bicara pada Melia, dan dia mengatakan jika kau berada diluar dunianya. Ibu yakin kau pasti mengerti maksud perkataan Melia.


Ibu juga sudah menyakinkan padanya tapi, lagi-lagi semua kembali pada keputusan Melia. Ibu sudah memberikanmu kesempatan untuk bisa lebih dekat dan mengenal Melia, jadi Ibu harap kamu juga bisa meyakinkan dirinya bahwa kau memang serius padanya.


Wassalamu'alaikum 


Antara pasti tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, 6 hari cukup buatku meyakinkan hati Melia berlabuh di hatiku," ucapnya menatap wajah Melia yang sedang menikmati aroma khas laut.


"Jangan memandangku terus-menerus, jika nantinya akan membuatmu kesusahan," Melia memecah keheningan diantara mereka, saat menyadari Antara terus menatap ke arahnya.


Antara tersenyum, dia tahu jika yang dimaksud Melia adalah dirinya, karena memang hanya ada mereka berdua disini.


"Maksudmu? Aku akan kesusahan karena apa!" Antara kemudian mempertanyakan pernyataan Melia yang ambigu.


Melia akhirnya beralih menatap wajah Antara dengan seksama. "Kamu pasti mengerti maksudku."


"Aku tahu! Namun bisakah kamu memperjelas semuanya? Biar tak ada kalimat ambigu yang akan membuatku salah paham."


Melia menghela napas panjang sebelum kembali berbicara padanya. "Mas, kamu berada jauh dari duniaku. Mungkin, Mas akan lebih mudah beradaptasi  dan diterima di duniaku. Namun, itu tak berlaku padaku, Mas. Ada jarak yang begitu tinggi yang memisahkan kita berdua.


Aku hanya ingin memperingatkan kamu saja bahwa aku adalah wanita yang mempunyai cerita masa lalu," Melia berkata dengan sendu, ia ingat betul beberapa lelaki yang mendekatinya pun mundur teratur bahkan terkadang hilang bak ditelan bumi setelah Melia jujur siapa dirinya yang sebenarnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2