JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Pilihan Yang Sulit


__ADS_3

"Bun, bisa beri kami waktu sebentar? Ada yang ingin Karin bicarakan pada Melia," pinta Karin pada ibu mertuanya.


Melia mengangguk pelan saat sang ibu mertua menoleh ke arah. Weni menatap Melia seakan meminta pendapatnya apakah ia ingin bicara atau tidak dengan Karin.


"Baiklah, Bunda juga mau lihat cucu Bunda dulu. Tapi ingat.. ini rumah sakit dan Bunda harap, kalian bisa bersikap dewasa menyikapi segala permasalahan kalian nanti. ingat!" kata Weni dengan tegas lalu meninggalkan kedua menantunya itu.


"Apa yang ingin kamu katakan, Karin?" tanya Melia pada Karin yang menatapnya dengan tatapan yang entah.


"Aku hanya ingin agar kamu kembali memikirkan apa yang aku minta padamu waktu itu, Mel. aku tak ingin ada pertengkaran kembali diantara kita. Aku ingin hidup damai sebelum waktu habis." kata Karin dengan suara yang bergetar.


Melia yang mendengarnya terlihat biasa saja karena tahu watak Karin yang entah mengapa begitu banyak memiliki akal bulus untuk memisahkannya dengan Antara.


"Aku tak mengerti apa yang kamu katakan, Karin! dan ya.. aku tak akan tertipu padamu lagi," balas Melia.


"Tidak, Mel. kali ini aku ingin berbicara serius padamu. aku lelah dengan semua permasalahan kita dan aku benar-benar ingin menikmati sisa waktuku yang berharga ini untuk menjaga dan mengasuh anakku sampai tiba saatnya nanti aku harus ikhlas melepaskannya." Perasaan sedih yang selama beberapa hari ini ditahannya akhirnya lepas juga. Karin menangis se menangisinya dihadapan Melia hingga membuatnya terperangah.


Melia seorang wanita yang memiliki hati lembut, melihat karin menangis seperti itu membuat hatinya terenyuh. melia menghampiri Karin di ranjang lalu memeluknya dengan tujuan bisa membuat Karin lepas.


"Hei, ada apa? ada apa denganmu! apa yang kamu maksud dengan waktu?" tanya Melia dengan heran. "kamu akan cepat pulih, Karin. kamu harus kuat agar anak kamu juga kuat berjuang di dalam sana!" seru melia menepuk punggung Karin dengan lembut.


"Aku takut, Mel. Aku takut anakku akan meninggalkanku dan nantinya Antara pun akan menyusul meninggalkanku seorang diri. aku sudah tidak berguna menjadi seorang perempuan, Mel. aku bukan wanita yang sempurna lagi," kata Karin kembali dengan tangisan yang kian menjadi.


"Hei.. hei.. tenanglah, oke!" kata Melia menenangkan.

__ADS_1


Jujur Melia masih bingung dengan apa yang dikatakan Karin padanya.


"Ini, minumlah." Melia memberikan segelas air pada Karin agar lebih tenang.


Setelah merasa sedikit tenang, akhirnya Karin menceritakan tentang penyakitnya dan menceritakan tentang rahimnya yang sudah diangkat oleh dokter dan nyawanya yang hanya menunggu waktu saja karena keputusannya beberapa bulan yang lalu yang tetap ingin mempertahankan kandungannya yang berakibat fatal baginya.


Melia terkesiap mendengar penuturan karin padanya. melia bahkan menutup mulutnya seakan mengetahui jika umurnya tak lama lagi.


Air matanya seketika jatuh saat harus membayangkan bagaimana anak Karin yang masih kecil dan masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu jika Karin nantinya akan benar-benar pergi untuk selama-lamanya.


"Siapa yang mengatakan ini padamu? kamu pasti salah dengar, Karin. Bukankah rahim mu sudah diangkat dan operasinya berhasil! jadi bagaimana mungkin dokter mengatakan jika usiamu hanya mampu bertahan sampai beberapa bulan, hah? kamu pasti salah dengar!" seru Melia tak percaya.


"Mereka memang tidak memberitahuku secara langsung, Mel. Tapi aku tahu badanku. dan aku tahu jika tiap hari tubuhku semakin lemah, Mel," tutur Karin dengan senyum getirnya.


Melia ingat betul kejadian waktu itu. Kejadian yang membuat hubungan Melia dan Antara keruh hingga kini karena kesalahpaham yang dibuat Karin saat itu. Kenekatan yang dilakukan, Karin hingga berbuntut panjang hingga saat ini.


Jika saja seandainya dulu, Karin bisa menahan keegoisannya, mungkin ini takkan terjadi padanya. namun nasi sudah menjadi bubur, dirinya tak bisa lagi kembali ke masa itu.


Karin tak ingin terpuruk dengan kata seandainya dan seandainya. Karena apa yang sudah terjadi, tak dapat diulang lagi. Karin ingin disisa hidupnya, dia bisa menjalani hari-harinya lebih bahagia bersama anak dan suaminya.


Mungkin terasa sangat egois namun, hanya ini keinginannya untuk terakhir kalinya. Karin ingin menikmati sisa waktunya bersama Antara dan anaknya, Karenina dengan penuh cinta seperti dambaan nya selama ini.


"Jadi, Mel.. aku harap kamu mau mundur untuk sementara waktu dan memberikanku kesempatan terakhir untuk bisa memiliki antara seutuhnya. Aku ingin membesarkan Karen dengan cinta utuh dari daddy dan mommy nya, Mel. Aku mohon.. aku mohon padamu, kamu mau 'kan mengabulkan permohonan terakhirku, hem?!" tutur Karin dengan lirih dengan berlinangan air mata yang siap terjun kapan saja.

__ADS_1


Melia tak bisa berkata-kata. dia bingung, entah apa yang harus dia katakan pada Karin. di satu sisi Melia begitu prihatin dengan apa yang dialami Karin.


Melia masih termangu menatap wajah Karin yang kini sudah terlelap di atas kasurnya.


Antara dan weni datang tepat waktu setelah pembicaraan mereka selesai.


Tak ada kesepakatan yang dicapai keduanya. melia tak menjawab permintaan karin padanya. ia sungguh dilema saat ini, di satu sisi rasa kemanusiaannya ingin mengabulkan permintaan terakhir Karin namun dirinya pun tak akan sanggup jika dirinya harus meninggalkan suaminya, apa lagi dirinya saat ini sedang mengandung.


"Karin sudah tidur? sejak kapan? Apa dia sudah minum obat?" tanya Antara saat melihat Karin yang sudah tertidur dengan lelap.


Ada rasa sedih saat melihat perhatian Antara pada Karin, walau Melia tahu jika itu adalah bagian dari rasa kemanusiaannya.


"Sudah, Mas. tadi, setelah disuapin makan sama bunda, beberapa menit kemudian dia minum obatnya dan beberapa menit kemudian, dia langsung tertidur. mungkin efek obatnya jadi dia cepat terlelap," tukas Melia pada antara.


"Hem, syukurlah. aku harap dia bisa segera pulih dan bisa melihat anaknya secara langsung karena sampai detik ini, Karin belum bertemu dengan anaknya. bahkan saat Karen lahir pun dia hanya melihatnya melalui foto-foto yang diambil suster saat diruang NICU." pungkas Antara yang menghampiri Karin dan membetulkan letak selimutnya.


Melia melihat perlakuan Antara pada Karin yang terlihat begitu manis membuatnya sedikit cemburu. Weni mengusap pundak Melia dengan lembut, ia ingin menguatkan menantunya itu agar tak terbawa perasaan saat melihat perhatian Antara pada Karin.


"Aku pamit pulang ya, bun. Bunda jaga kesehatan juga biar bisa menjaga Karin selama masa pemulihannya." pungkas Melia lalu mengulurkan tangannya dan mencium takzim tangan ibu mertuanya.


Melia keluar dari kamar perawatan Karin dengan hati gamang. sekelebat suara Karin yang memohon padanya terus saja terngiang di telinganya. Melia ingat betul permintaan Karin padanya. entah keputusan apa yang harus diambil Melia saat ini.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2