JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Malam Yang Takkan Dilupakan (Untuk Melia)


__ADS_3

Melia baru saja keluar dari kamar mandi saat Antara masuk ke dalam kamar mereka.


"Aku cariin di bawah, ternyata kamu di kamar!"


Melia mengulas senyum. "Maaf, Mas. Aku kira Mas masih lama di kamar Bunda, makanya aku duluan ke atas." Setelah mengeluarkan tangisannya, ia segera mencuci wajahnya agar tak terlalu terlihat sembab, "Jadi, Mas ninggalin, Bunda sendirian di bawah?!" Lanjut Melia.


Antara menggeleng, "Bunda lagi nggak enak badan. Makanya enggak luar. Ayo sini!" Antara menepuk sisi lain kasur.


Melia berjalan menuju sang suami. Duduk sesuai dengan titahnya. "Maafin, Bunda ya, Sayang. Aku harap kamu bisa sabar menghadapi Bunda. Sebenarnya Bunda itu baik, cuma ya karena keadaan dulu membuatnya sedikit berubah. Aku harap kamu bisa memahami dan meluluhkan hatinya." Ungkap Antara.


"Iya, Mas. Aku akan berusaha menjadi menantu yang baik."


"Terima kasih, Sayang. Mas, makin cinta sama kamu." Antara kini sudah mendekap erat tubuh sang istri. Melia membalas pelukan sang suami, dalam hati berkata, "Aku akan kuat selama kamu ada disampingku, Mas."


Waktu bergulir dengan cepat, tak terasa sudah sebulan usia pernikahan mereka. Dan perlakuan yang diterima Melia tetap sama, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Selama Melia memutuskan berhenti dari klub, hari-hari yang Melia lalui hanya berkutat pada pekerjaan rumah tangga saja. Dan sampai saat ini, buku nikah yang diurus oleh Weni belum juga keluar. Setiap kali Melia tanya, hanya makian yang didapatkannya. Seperti hari ini.


"Kamu tak percaya padaku! Sudah baik aku mau bantu urus buku nikahmu! Dasar, menantu tak tahu diuntung!!"


"Maaf, Bun. Bukan begitu, tapi …."


"Ah, sudahlah, bilang saja pada Antara nanti kalau buku nikah kalian sementara di proses. Yang urus buku nikah bukan hanya 1 orang, tapi ada puluhan bahkan ribuan orang, maka dari itu harus antri." ucap Weni ketus meninggalkan Melia yang sedang memasak di dapur.


Melia hanya bisa menghela napasnya panjang. Ia tak ingin memperkeruh hubungan diantara mereka. Sudah baik sekarang Weni sudah mau berinteraksi dengannya walau gaya bicaranya tetap ketus.


"Sabar, Nyonya. Nyonya besar memang seperti itu tabiatnya." Timpal Bik Nani yang sejak tadi mendengar perkataan kasar Nyonya besarnya.


Tak lama, nada dering ponsel Melia berbunyi. Terlihat nama Zahra di layar ponselnya. Segera Melia menggeser simbol yang berwarna hijau.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Bu." jawab Melia dengan bahagia.


Setelah menerima telepon dari Zahra, Melia kembali bersemangat menjalani kehidupannya kedepannya. Selama ini hanya Zahra lah yang selalu ada untuknya, sedang Antara tengah disibukkan dengan pekerjaannya yang sedang bermasalah.


Kadang Melia ingin bercerita namun saat melihat wajah Antara yang terlihat kusut, ia urungkan. Melia tak ingin menambah beban pikiran sang suami. Daripada mengeluh dan ujungnya mereka akan bertengkar, Melia lebih memilih memendam semuanya. Belum lagi saat pertengkaran mereka selalu dibumbui oleh hasutan sang mertua yang membuat Antara terkadang naik pitam hingga memilih tidur di lantai 1, kamar yang biasa dipakai jika tamu atau keluarga berkunjung.


Melia selalu sabar dan mencoba ikhlas menerima semuanya. Ia selalu ingat dengan pesan Zahra padanya.


...……...


"Tar, apa benar desas desus yang berseliweran di kantor soal lo dan Karin yang—


Malik tak lagi meneruskan perkataannya saat melihat wajah frustrasi sahabatnya itu.


"Jadi benar kabar itu!"


"Lah terus, kabar itu nggak mungkin dong berhembus begitu saja jika tak ada yang berkoar koar."


"Tahu ah, gelap." Antara memijat pangkal hidungnya sembari menghembuskan napasnya panjang.


*


*


Malam semakin larut, sudah beberapa hari ini Antara selalu pulang malam. Dan Melia tentu saja sebagai istri selalu menunggunya, walau terkadang dia tertidur juga.


Suara deru mesin terdengar dari arah depan. Melia merapikan kembali rambutnya dan melihat riasan di wajahnya. Setelah dirasa sempurna, ia segera berlari turun ke bawah dan menyambut sang suami di depan pintu.

__ADS_1


"Akhirnya, Mas pulang!" ucap Melia yang langsung merangkul lengan sang suami.


"Ia, maaf ya, Sayang. Akhir-akhir ini banyak pekerjaan di kantor. Jadi aku harus lembur." Jelas Antara.


"Iya, enggak apa-apa. Mas sudah makan? Mau aku panaskan makanannya!" Tanya Melia menawarkan.


"Boleh, tadi siang aku makannya sedikit."


"Ya sudah, Mas mandi bersih-bersih dulu. Habis itu makan, aku turun sebentar panaskan makanan." Antara mengangguk mengerti.


Selesai makan, mereka kembali ke dalam kamar. Baru kali ini Antara tak langsung tidur setelah pulang larut malam.


"Mas!" Panggil Melia. Menengadahkan kepalanya ke atas menghadap Antara. Menatap wajah tampan sang suaminya. Kini posisi Melia yang sedang berbaring di pangkuan Antara.


"Hem," jawaban singkat namun penuh kelembutan di dalamnya. Antara mengusap rambut Melia dengan lembut dan sesekali mencium kening sang istri.


"Mas, ada masalah di kantor?" Pertanyaan Melia membuat Antara menegang. Menatap sang istri yang sedang meminta jawaban dari pertanyaannya.


"Kenapa? Kenapa kamu bertanya!" selidik Antara. Pasalnya Karin sudah berulang kali mengancamnya bahwa dia akan memberitahukan kepada Melia, istrinya.


"Enggak apa-apa, tapi aku perhatikan beberapa Minggu ini kamu terus saja pulang malam. Wajahmu pun selalu kusut tiap kamu pulang, belum lagi emosimu yang naik turun!" ungkap Melia. Ia merasa momen ini sangat pas untuk dia tanyakan. "Aku sangat takut saat, Mas emosi seperti saat itu, rasanya aku ingin menangis saat kamu membentak ku!" sambungnya.


Antara membangunkan Melia hingga dirinya dalam posisi duduk dan saling berhadapan. "Maafkan aku atas sikapku beberapa Minggu ini. Memang ada sedikit masalah di kantor, tapi aku janji akan segera menyelesaikannya agar kita bisa seperti dulu lagi." Ucap Antara yang kini mengikis jarak diantara mereka. Tangan kekarnya menggapai wajah sang istri lalu dikecupnya dengan lembut dan perlahan namun pasti, isapan tersebut semakin dalam hingga membuat keduanya panas. Melia menikmati belaian lembut sang suami.


Melia merasakan rasa asin saat mereka berciuman. Namun karena terbuai oleh ciuman sang suami, hal itu pun tak dihiraukannya. ******* demi ******* yang dilakukan keduanya tanpa sadar sudah membawa mereka sampai diatas kasur. Tanpa melepas pagutannya, Antara membantu Melia membuka pakaian yang dia kenakan malam itu. Jubah tidur yang terbuat dari kain satin yang sangat membentuk tubuh Melia. Ia sengaja memakai jubah tidur yang seksi, sejak beberapa minggu mereka memang belum melakukan peraduan di atas kasur hingga membuat keduanya begitu liar.


Melia pun tak kalah panasnya, ia membantu Antara membuka baju piyama yang dipakai suaminya itu hingga terpampang dengan jelas perut kotak-kotak milik Antara. Melia meraba dada sang suami hingga si empunya meremang nikmat. Tak ingin kalah dari sang istri, Antara turun ke bagian leher, mengecup leher Melia dan memberikan tanda sebanyak-banyaknya. Antara ingin orang-orang tahu jika Melia adalah istrinya, wanitanya. Hingga kecupan tersebut sampai ke daerah dada sang istri. 2 bukit kembar yang selalu menantangnya untuk di daki.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2