
"Wanita yang di hadapan Bunda sekarang, Melia, dia menantu Bunda, istri Antara." Weni terperangah , bagai petir di siang bolong saat mendengar kata-kata sang anak.
"Jangan bercanda Antara, sejak kapan kamu menikah? Bunda saja tak tahu! Bagaimana mungkin kamu sudah menikah!" Rasa tak percaya masih saja menyelimuti pikiran wanita paruh baya itu.
"Kemarin, Bun. Siang kemarin tepatnya Antara sudah mengucap ijab qobul. Dan kami kesini mau minta maaf pada Bunda karena tak memberi kabar terlebih dahulu. Semuanya terjadi begitu cepat hingga Antara tak sempat meminta restu Bunda."
"Tidak! Jangan main-main, Antara. Pernikahan bukanlah permainan. Sekarang katakan, siapa wanita itu!"
Antara menghela napasnya sejenak sebelum menjawab pertanyaan sang bunda. "Aku sudah bilang, Bun, Melia ini istri Antara, menantu Bunda sekarang!" Antara terus meyakinkan sang Bunda jika Melia adalah istrinya.
"Bagaimana caranya kamu bisa menikah? Sedang Bunda tak ada disana memberikan restu padamu!"
"Aku laki-laki Bun, tak ada aturan menikah tanpa orang tua itu tidak sah. Selama syarat nikah kami terpenuhi semuanya, itu sudah sah di mata agama." Antara terus menjelaskan bahwa pernikahannya dengan Melia benar-benar terjadi.
"Kamu tahu jika perbuatanmu itu sudah menyakiti hati bunda! Kamu menikah tanpa memberitahu Bunda, terlebih tak meminta restu Bunda, begitu! Lantas kenapa kamu tidak sekalian datang saat kamu sudah mempunyai anak saja, hah!!" Weni sangat geram dengan keputusan sepihak yang sudah diambil anaknya itu.
"Maka dari itu kami kesini untuk meminta maaf dan memberi kabar pada Bunda serta minta restu. Doakan kami agar rumah tangga kami bahagia terus," pintanya.
"Tidak! Bunda tak setuju, kita saja tak tahu seluk-beluk wanita itu," tunjuk Weni pada Melia, membuat Melia makin tertunduk. "Bibit, bebet dan bobotnya pun belum Bunda tahu, bagaimana mungkin dia bisa menjadi menantuku, apa kata orang nanti!" Sambung Weni.
"Maaf, Bun. Tapi suka tidak suka, mau tidak mau Melia sudah menjadi istri Antara. Dan itu berarti dia juga sudah menjadi menantu Bunda. Semoga bunda berlapang dada dan bisa menerima kenyataan ini." Pungkas Antara.
"Sekali Bunda bilang tidak ya tidak." Pekik Weni setelah itu ia masuk ke dalam kamarnya.
Hal itu sontak membuat kedua mata Melia berkabut dan nyaris jatuh saat Antara mengelus pundak sang istri. "Maafin perkataan, Bunda ya, Sayang. Mungkin beliau masih shock mendengar kabar ini."
Melia hanya bisa mengangguk dan bersabar akan reaksi penolakan mertuanya terhadap dirinya. Dia terus mengingat pesan sang Ibu.
Kini kamu tidak hanya memiliki satu ibu, melainkan 2. Jadi Ibu harap kamu juga bisa menyayangi dan menghormati Ibu mertua nanti seperti kamu sayang dan menghormati Ibu.
Melia segera menghapus air mata yang jatuh tanpa permisi tadi. "Iya, Mas. Aku nggak apa-apa, benar katamu jika Bunda saat ini masih kecewa sama kita. Semoga Bunda bisa segera menerima pernikahan kita ya, Mas."
__ADS_1
"Aamiin," ucap mereka bersamaan. Tanpa mereka sadari sepasang mata melihat ke arah Melia dengan tajam, mendengar harapan yang Melia ucapkan.
"Aku takkan pernah ikhlas menerima menantu sepertimu. Akan ku buat kau menyerah menjadi menantuku." Batin Weni, ia tersenyum penuh arti melihat Melia dari jauh.
...……...
Waktu makan malam pun tiba, kini mereka bertiga, Melia, Antara dan Weni sudah duduk manis di kursi masing-masing mereka, dengan Antara yang duduk di depan sedang Melia dan Weni yang duduk saling berhadapan. Sejak terakhir mereka bicara tadi, baik Antara, Melia maupun Weni tak ada yang saling menyapa. Jadilah makan malam mereka begitu tenang dan damai hingga saat Weni tiba-tiba bertanya pada Bik Neni, pembantu rumah mereka.
"Bik, ini kamu yang masak?" Bik Nani menggeleng pelan.
"Lalu! Kamu beli makanan di restoran? Siapa yang suruh! Masak saja seperti biasanya, toh orang disini sama saja seperti biasa, tak ada yang yang spesial." ucap Weni menekan kata spesial di akhir kalimatnya.
"Iya, Nya. Ini saya nggak beli di luar, mana berani saya." Bik Nani menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Jadi? Kalau bukan kamu yang masak, bukan juga beli di luar! Makanan dari mana ini? Apa dikasih tetangga!"
Lagi, Bik Nani menggeleng membuat Weni mendelik. "Sebenarnya yang masak hari ini Nyonya Muda, Nya. Ini semua masakan Nyonya Melia." ucap pelan Bik Nani, bahkan lebih seperti menggumam saking takutnya.
Weni menatap Melia yang sedang menunduk, takut jika sang ibu mertua marah padanya. "Sial, pintar juga dia masaknya, rasanya seperti makanan di restoran mahal."
"Bunda duluan ke kamar," Weni menyela.
"Loh, Bun. Makanannya bunda masih ada tuh di piringnya, belum habis." seru Antara melihat masih ada sisa makanan di atas piringnya.
"Kenyang!" Weni menjawabnya dengan ketus kemudian berlalu dan kembali ke dalam kamarnya di lantai 2.
Antara menggeleng pelan melihat kelakuan sang Bunda. Sedang Melia mendesah panjang saat merasa jika sang mertua tak menyukai masakannya.
Setelah makan malam, Antara dan Melia berada di ruang keluarga, menonton sembari menikmati kue dan teh hangat adalah rutinitas yang selalu mereka lakukan setelah makan siang atau makan malam.
"Bik…" panggil Antara, "Tolong panggilkan Bunda ya, bilang kalau aku bawain kue kesukaannya!"
__ADS_1
"Baik, Pak." Kurang dari 2 menit, Bik Nani kembali ke ruang keluarga. Namun tanpa Weni di belakangnya.
"Loh! Bunda mana, Bik?" tanya Antara.
"Nyonya nggak jawab, Pak. Setelah makan tadi sampai sekarang Nyonya besar belum keluar kamar." Terang Bik Nani.
"Apa karena ada aku, Mas!" Melia menimpali obrolan Antara dan Bik Nani. Membuat keduanya menoleh ke arah Melia.
Antara menatap sang Istri lalu tersenyum lebar. "Belum terbiasa, Sayang. Nanti juga akan terbiasa. Aku ke kamar Bunda dulu, siapa tahu kalau aku yang panggil Bunda mau keluar." Tutur Antara lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar sang Bunda.
Disaat Antara sedang membujuk Weni, Melia berinisiatif ke dapur dan membawakan kue serta teh hangat untuk sang mertua.
Belum sempat Melia mengetuk pintu, Melia sudah mendengar pertengkaran suami dan mertuanya dari sela pintu yang tidak tertutup rapat.
Bunda kecewa sama kamu, Antara. Kalau memang kamu mau menikah, kenapa selama ini kamu selalu menolak calon yang Bunda tawarkan padamu, kenapa! Kenapa Antara?
Semua calon yang Bunda tawarkan padamu adalah wanita yang sudah jelas bibit, bebet dan bobotnya. Semua dari keluarga yang terpandang, karirmu akan melesat jika kamu bersedia menikah dengan salah satu dari wanita yang Bunda pilih untukmu. Sadar Antara, sadar! Kita hidup butuh dorongan untuk bisa naik ke atas, naik ke level yang lebih tinggi dari sekarang.
Istrimu itu, siapa namanya tadi, ya Melia. Dia itu dari keluarga mana? Orang tuanya punya perusahaan apa? Lulusan apa? Apa kamu tahu itu semua!
Tapi aku cinta sama Melia, Bun. Dan walau bukan karena obat sialan itu! Antara juga tetap akan menikah dengannya. Dia berbeda Bun, beda dari wanita-wanita yang selama ini Bunda kenalkan padaku.
Cinta bisa timbul karena terbiasa, Nak! Uang memang bukan segalanya, tapi uang bisa membuat kita bahagia dan tidak hidup susah seperti dulu.
Pokoknya Bunda tetap tak Sudi menganggap Melia adalah menantu Bunda, dia tak selevel dengan kita.
Dada Melia bergemuruh saat ini terasa remuk redam. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini tak bisa lagi terbendung. Tangan yang tadinya akan membuka kenop pintu kamar diurungkannya karena tak ingin terlihat menangis di depan sang suami dan ibu mertuanya. Melia memberikan nampan yang berisi kue dan teh hangat yang tadi sudah dia siapkan pada Bik Nani yang sedang berjalan menuju ke arahnya.
Dengan sedikit menunduk, Melia menyerahkan nampan tersebut. "Bik, tolong diantarkan kue dan teh ini buat Bunda di dalam kamar." Titah Melia yang di angguki oleh Bik Nani.
Sedang dirinya segera berlari masuk ke dalam kamarnya, menumpahkan segala sesak di hatinya.
__ADS_1
"Bu, Ibu, Melia kangen!" lirih Melia disela Isak tangisnya.
...****************...