
Melia sudah sampai di depan rumahnya, terlihat rumahnya sudah sedikit gelap. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam saat Melia tiba, sampai sedikit lama dari perkiraannya.
Melia masuk kedalam rumah dan membuka pintu secara perlahan karena tak ingin membangunkan Bik Nani dan mertuanya yang memang kamarnya berada di lantai 1.
Melia segera naik ke atas kamarnya dengan semangat, dia akan memberitahukan pada suaminya tentang kehamilannya. Melia membuka pintu dan betapa terkejutnya ia saat melihat sang suami yang tengah duduk di sofa kamarnya dengan menatapnya dengan tatapan yang tajam.
"Mas.." gumam Melia.
"Kamu dari mana saja, huh! Kau tak tahu ini sudah jam berapa? Kemana ponselmu! Kenapa kau tidak mengangkatnya?! Pertanyaan yang dilontarkan padanya secara beruntun membuat Melia terkesiap dan terlihat bingung harus menjawab pertanyaan suaminya yang mana.
Melia duduk lalu menghampiri suaminya. "Assalamualaikum, Mas," ucap Melia mengalihkan.
"Kau belum menjawab pertanyaanku!" seru Antara tak sabar.
"Tenanglah, aku akan menjawabnya satu persatu," Melia membenarkan duduknya dan kini sudah berhadapan dengan suaminya. "Pertama, aku mau minta maaf karena pulang larut malam dan—"
"Hanya itu? Jadi kau minta maaf karena bersalah karena pulang malam! Tidak ada hal lainnya!" potong Antara cepat, tatapannya begitu tajam menatap istrinya.
"Bagaimana aku mau menjelaskannya kalau, Mas terus memotong perkataan ku! Sebenarnya, Mas itu mau dengar atau enggak sih!" Melia begitu lelah hari ini, permasalahan Clara sedikit banyak menyita perhatiannya hingga membuatnya lupa orang sekitarnya.
__ADS_1
"Kau mau kemana? Kita belum selesai bicara!" kata Antara dengan suara meninggi saat melihat Melia beranjak dari duduknya.
"Aku lelah, Mas, aku sangat lelah hari ini. Bisakah kita membahasnya besok pagi?" Antara belum mengizinkan sang istri pergi namun Melia sudah terlebih dahulu meninggalkan Antara dan masuk kedalam kamar mandi. Suasana hatinya sudah sangat buruk saat ini, yang tadinya dia begitu bersemangat memberitahukan perihal kehamilannya namun kemudian mengurungkannya karena merasa situasinya yang tidak memungkinkan, Melia akan mencari waktu yang tepat untuk memberitahu suaminya tentang kabar kehamilannya."
Setelah mandi dan berpakaian, kini perasaan Melia jauh lebih baik dari sebelumnya. Saat Melia keluar dari kamar mandi, ia sudah tak menemukan suaminya di dalam kamar, Melia berpikir jika suaminya pasti berada di kantornya dan menumpahkan kekesalannya dengan cara bekerja seperti biasanya.
"Hem.. disini akulah yang salah, tapi kenapa malah aku yang galakan sih!" gerutu Melia pada diri sendiri. "Lebih baik aku segera ke bawah dan menyusul, Mas Antara di kantornya. Dia pasti disana!" ucapnya yakin.
Melia berjalan dengan hati-hati karena tak ingin sesuatu yang buruk terjadinya pada kandungannya. Dari jauh terdengar suara sayup-sayup di lantai 1. Karena penasaran, Melia pun mencari sumber suara tersebut. Melia mempertajam telinganya saat merasakan sangat mengenal suara tersebut. ia semakin mempercepat langkahnya turun, ia menuju kamar Karin tempat suara itu terdengar, entah ini sengaja atau tidak, kamar Karin tak tertutup rapat hingga membuat suaranya terpantul hingga keluar kamar.
Hati Melia semakin memburu saat suara aneh yang didengarnya semakin kencang, suara aneh yang sangat dia kenali, ya.. ini adalah suara yang tercipta saat seseorang bercinta.
Suara air yang mengalir dari dalam kamar mandi membuat keduanya tak menyadari kehadiran Melia, atau lebih tepatnya Antara tak menyadari kehadiran istrinya, Melia. Namun tidak dengan Karin, Karin melihat bayangan seseorang dari luar, dan dia sangat yakin jika itu pasti Melia, karena tak seorang pun yang akan berani masuk kedalam kamar seseorang yang tidak ada hubungannya dengan pemilik kamar tersebut.
Samar-samar terdengar suara lenguhan dari Karin saat merasakan kenikmatan atas perlakuan Antara padanya. Hatinya begitu hancur disaat dirinya ingin meminta maaf karena merasa bersalah pada suaminya, namun apa yang harus Melia lihat, suaminya bercinta dengan Karin, apakah Melia marah? Tentunya dia sangat marah pada suaminya, disaat harusnya hari ini adalah hari bahagianya namun dirusak oleh kesalahpahaman hingga berujung melihat suaminya melampiaskan kekesalan padanya dengan cara bercinta dengan Karin.
"Kamu tega, Mas.. kamu tega padaku.." batin Melia.
Melia berlari dengan kencang dan naik ke atas kamarnya. Ia sampai lupa jika hal itu bisa membahayakan keselamatan kandungannya. Melia sepuasnya, hatinya benar-benar hancur saat melihat dengan kepala matanya sendiri, saat suaminya berbagi lenguhan dengan wanita lain secara langsung meski itu istri kedua suaminya. Melia mungkin bisa tahan saat melihat video mereka beberapa bulan yang lalu, namun kali ini sangat berbeda, dirinya bisa dengan jelas melihat sang suami melakukannya karena mau sama mau. Melia begitu kecewa pada Antara, hatinya begitu hancur.
__ADS_1
Melia tertidur setelah menangis sepuasnya, ia mengeluarkan semua sesak beban dihatinya semalaman hingga sampai tak ingat ia baru tertidur pukul berapa semalam.
Rasanya begitu enggan membuka mata, ia tak ingin melihat suaminya dan Karin semntara waktu, masih terlukis dengan jelas bagaimana percintaan panas mereka semalam. Bahkan Melia yakin jika mereka tidak melakukannya hanya sampai disitu, baru membayangkannya saja sudah membuatnya menitikkan air matanya.
Dengan malas Melia akhirnya membuka kunci kamarnya setelah mendengar Bik Nani tanpa henti menggedor kamarnya, "Masuk, Bik.. gak dikunci!" sahut Melia mempersilahkan Bik Nani masuk kedalam kamarnya.
"Anu, Nya.. Nyonya besar menyuruh Bibi panggilin Nyonya muda turun untuk sarapan," tukas Bik Nani.
"Aku lagi malas Bik, bisakah Bibik memberikan mereka alasan? Badanku rasanya tak enak, kepalaku pun sedikit sakit." Pungkas Melia memijat kepalanya pelan.
"Mau Bibi pijitin, Nya?" Bik Nani menawarkan bantuan. Melia mengangguk pelan sebagai jawabannya.
"Terima kasih ya, Bik! Bibi boleh kembali, pasti mereka mencari Bibi," Bik Nani berjalan menuju pintu kamar namun Melia kembali memanggilnya, "Bik.. jangan katakan kalau kepalaku sakit, bilang saja kalau aku masih tidur," kata Melia sedikit berbohong.
"Iya, Nya, saya permisi turun." Pamit Bik Nani meninggalkan Melia seorang diri di dalam kamarnya.
"Sayang.. cintanya mama, sehat terus ya, Nak.. sebentar lagi kita akan bertemu Oma Zahra." kata Melia dengan lirih seraya mengelus perut ratanya dengan lembut.
Melia bangkit dan berjalan masuk menuju kamar mandi. Ya, hari ini Melia akan memberikan kabar bahagia terkait kehamilannya pada sang Ibu, Melia berharap hatinya bisa sedikit merasa lebih baik setelah bertemu ibu dan sahabatnya, Clara.
__ADS_1
...****************...