
Setelah acara sayang sayangan dan peluk pelukan, akhirnya mereka bertiga, Antara, Melia dan duduk di satu buah meja dengan seorang pengacara yang sudah terlebih dahulu mendampingi Antara sejak semalam.
"Jadi begini, Bu, Pak. Setelah saya berkoordinasi dengan tim dan berusaha menghubungi pelapor yakni saudara Karin sejak kemarin malam, namun yang bersangkutan tidak bersedia untuk mencabut laporannya. Ini akan menyulitkan untuk Pak Antara karena ini bisa berkembang menjadi tindak pidana karena yang bersangkutan melaporkan dugaan sudah terjadinya tindak kekerasan hingga pelecehan." Terang pengacara Antara.
"Lantas kami harus bagaimana! Bukannya kamu pengacaranya? Itu 'kan sudah tugasmu untuk membebaskan anakku dari sini apapun yang terjadi, bila perlu suap pihak penyidik agar mereka mau menutup kasus ini."
Weni begitu emosi saat mendengar pengacara sang anak yang tak bisa membebaskan anaknya dengan segera.
"Bun, sabar. Ingat! kita ada di kantor polisi sekarang. Jangan sampai perkataan bunda menjadi bumerang untuk bunda sendiri!" Bisik Melia mengingatkan.
Weni mendengus kesal mendengar perkataan menantunya. "Tapi benar juga katanya, kalau sampai aku ditangkap 'kan bisa berabe." Batin Weni menelan salivanya dengan berat sembari melirik ke kanan dan ke kiri untuk memastikan jika tak ada yang mendengar ucapannya barusan.
"Mas! Kita harus bagaimana?"
Tatapan sendu sang istri membuatnya terpukul. Ingin rasanya dia berteriak dan mengatakan bahwa dirinya tidak bersalah dan malahan dia sudah difitnah namun entah mengapa keadaan tak mendukung. Bukti CCTV yang Antara ajukan pun untuk mendukung kesaksiannya bahwa Karin lah yang dengan sengaja merobek pakaiannya sendiri serta pelukan dan ciuman itu semua Karin yang melakukannya duluan. Malah harusnya dirinya yang merasa dilecehkan karena Karin lah yang dengan kasar dan brutal menyerangnya.
Namun sayang, pada saat pihak penyidik datang ke kantornya guna meminta rekaman CCTV tersebut, pihak keamanan mengatakan bahwa pada saat itu CCTV di ruangan Antara sedang rusak sehingga tak mereka apapun kejadian pada hari itu.
Namun saran dari sang pengacara membuat emosi Antara tersulut. Pengacaranya berkata bahwa saat dirinya menghubungi pihak Karin, mereka berkata akan mencabut laporannya jika Antara mau menghubunginya terlebih dahulu dan membuat sebuah perjanjian tertulis dengannya, termasuk pihak Karin akan mengajukan sebuah syarat yang harus dilakukan pihak Antara. Namun Antara dengan tegas menolaknya.
"Tidak! Aku takkan meminta apalagi mengemis pertolongan darinya. Aku tidak bersalah!" Ungkapnya.
"Tapi, Nak. Hanya itu caranya agar kamu bisa bebas segera. Bunda nggak mau kamu mendekam lama-lama disini!"
Bahkan Weni pun mendesak sang menantu membujuk Antara agar mau menghubungi Karin segera. Namun belum Melia bersuara, Antara sudah menyelanya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Jangan memintaku menurunkan harga diriku, Mel! Kamu tahu betul kejadian yang sebenarnya. Jika aku menyetujui permintaannya, sama saja aku mengakui jika aku memang bersalah." Kekeh Antara, membuat Melia dan Weni mendesah panjang.
"Kalau begitu lakukan sesuatu, Pak! Jangan biarkan anakku di penjara."
Sang pengacara hanya bisa menghela napasnya. Terkadang mendapatkan klien yang mempunyai watak yang keras juga membuat masalah yang harus bisa diselesaikan dengan segera harus menjadi lama lagi, bahkan berjalan dengan alot karena tak ada yang ingin meminta maaf duluan, semua merasa dirinya sama-sama tidak bersalah.
"Baiklah, aku akan mencoba mencari jalan lain. Tapi aku masih berharap agar jalan damai bisa kita tempuh terlebih dahulu sebelum kasus ini dilimpahkan ke pengadilan." Tukas sang pengacara lalu undur diri karena harus segera mengurus permasalahan terkait dengan kasus Antara yang sepertinya masih harus berada di kantor polisi.
Weni hanya bisa terisak mengetahui anaknya tak akan pulang bersamanya. Sedang Melia diam tak bersuara, hanya pelukan yang dia berikan saat mengetahui bahwa suaminya masih harus berada di kantor polisi.
Belum sempat mereka berdua, Weni dan Melia keluar dari halaman kantor polisi. Terlihat sang pengacara berlari kecil menghampirinya dengan tergesa-gesa.
"Tunggu, Bu." Panggil keduanya.
"Ada apa, Pak!" Terlihat pria berdasi biru itu sedang mengatur napasnya yang masih tersengal karena mengejar dirinya.
"Tapi apa!" Kini Weni yang berucap, ini kesempatan baik agar Antara bisa keluar segera. Selain dirinya tak tega melihat sang anak harus di penjara nanti, dia pun tak akan sanggup mendengar cibiran dari teman-teman arisannya jika mengetahui sang anak di penjara.
"Dia meminta agar Ibu mau bertemu dengannya di cafe SS satu jam lagi." Lanjut pengacara Antara.
"Tapi 'kan, Mas Antara bilang kalau—"
"Aish, jangan dengarkan dia. Antara memang begitu orangnya, harga dirinya sangat tinggi. Lagian dia juga tidak akan tahu kalau kamu tidak memberitahunya!" Sela Weni untuk kesekian kalinya.
"Benar, Bu. Saran saya, kita temui saja dulu pihak terlapor. Setelah mengetahui maksud dan tujuannya, kita bisa berdiskusi dengan Pak Antara nantinya. Yang terpenting sekarang adalah adalah kita tidak membuang kesempatan untuk berdamai." Jelasnya.
__ADS_1
2 lawan 1, Melia tak bisa untuk menolak permintaan dari pengacara suaminya itu karena mendapat desakan dari ibu mertuanya itu. Dengan terpaksa akhirnya Melia mengiyakan dan segera menghubungi pihak Karin bahwa mereka setuju untuk bertemu.
...……...
Saat ini mereka bertiga sudah berada didalam sebuah cafe tempat mereka janjian sebelumnya. Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, akhirnya orang yang ditunggu pun datang. Melia dan Karin saling menatap tajam satu sama lain. Hingga mereka tersadar saat pengacara keduanya sama-sama memanggil mereka.
"Bu, Mbak!"
"Karin, aku mohon cabut laporan mu pada suamiku. Kamu tahu betul dia tidak melakukan apapun yang kamu tuduhkan, bukan!"
Karin tersenyum miring mendengar perkataan Melia. Wanita yang sangat dibencinya, wanita yang sudah merebut pria yang sangat dicintainya. Entah yang dirasakan Karin adalah sebuah cinta atau lebih kepada sebuah obsesi. Baginya, apapun yang dia inginkan harus dia dapatkan apapun caranya. Terlebih saat melihat sebuah tas hitam yang sangat dikenalnya.
"Gampang! Tapi apa kamu sanggup memenuhi permintaanku juga!" tanya Karin, balik.
"Apa mau mu, Nak?" Kali ini bukan Melia yang menjawab, melainkan sang ibu mertua. Pertanyaan yang terdengar begitu lembut. Nada yang jarang sekali dia dengar ketika mertuanya itu berbicara padanya.
"Tinggalkan, Antara. Mudah bukan!"
Karin mengatakannya dengan sangat enteng, berbanding terbalik dengan respon 3 orang di depannya. Kalau Weni hanya bisa terperangah, berbeda dengan sang pengacara yang kaget dengan perkataan wanita di hadapannya itu.
"Buset! Parah juga nih cewek!" Batinnya. Pantas saja kliennya mati-matian menolak berdamai dengan pihak dari Karin. Karena sejak awal memang sudah mengetahui keinginan Karin.
A-APA!!
Sedang Melia yang mendengarnya bak tersambar petir di siang bolong.
__ADS_1
...****************...