
Waktu bergulir begitu cepat, waktu yang ditunggu-tunggu oleh semua orang sebentar lagi akan terlaksana. Acara ini adalah acara penting bagi perusahaan dan Sudarma sendiri, sebab dia akan memperkenalkan penerusnya pada semua kolega bisnisnya. Selain ingin memperkenalkan pemimpin baru di perusahaan nya, juga ingin memperkenalkan Antara sebagai anak menantunya pada orang-orang.
Karin sudah bersiap di kamar hotel tempat acara berlangsung. Dengan dibantu oleh MUA profesional, Karin dirias dengan sangat cantik hingga membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan terkagum-kagum, belum lagi dengan cutting dress dengan belahan dada yang rendah, membuat dadanya begitu terekspos serta dengan aksen high slit dress gold di sebelah kiri membuat kaki jenjangnya terpampang jelas. Tak hanya sampai disitu, Karin pun menggunakan beberapa perhiasan berupa cincin, gelang, dan anting berlian yang akan semakin menyempurnakan penampilannya malam ini.
Karin begitu memaksimalkan penampilannya malam ini, dia ingin mendapatkan sorotan mata dari para tamu undangan. Karin sangat yakin jika Antara pasti akan terpikat dan tergoda padanya malam ini.
Sementara Weni memakai sebuah dress berwarna keemasan dengan lapisan kain motif sulur emas dengan peep toe heels yang semakin membuatnya seperti ibu pejabat.
Weni sudah terlebih dahulu tiba di lokasi pesta walau belum semua tamu undangan datang. Sementara Antara yang tampak gagah dengan balutan tuxedo hitam yang terbuat dari bahan satin atau velvet, dipadukan dengan kemeja berwarna putih bersama dasi hitam yang juga berbahan satin dan sepatu pantofel dengan warna senada, membuatnya semakin memancarkan aura ketampanannya.
Acara sudah dimulai namun sang istri yang sejak tadi ditunggunya, belum juga terlihat.
"Dimana Melia? Bukannya tadi sudah aku katakan untuk datang 1 jam lebih awal dari waktunya! Kenapa sampai sekarang mereka belum juga sampai?!"
Antara melihat jam tangan serta ponsel miliknya bergantian, berharap Melia segera menghubunginya. Namun sampai dirinya akan naik ke podium, Melia belum terlihat batang hidungnya.
Sementara luar, tepatnya di dalam lobby hotel, tampak 2 wanita yang berbeda generasi tampak cantik dan anggun berjalan beriringan menuju sebuah ruangan dengan sign board bertuliskan 'PT. Arcoma Internasional'."
"Huh, gimana, Bu, penampilanku?" tanya Melia gugup.
"Cantik, kamu selalu cantik dimata, Ibu. Apapun pakaian yang kamu gunakan, dengan riasan ataupun tanpa riasan." Ucap Zahra mengulas senyum.
__ADS_1
"Ish, Ibu nih, Melia serius tahu. Aku takut jika penampilanku bisa membuat suami ataupun mertuaku malu, Bu," lirih Melia.
Zahra menghembuskan napasnya ke udara.
"Sayang! Kecantikan seseorang bukan hanya dilihat dari luarnya saja, namun Ibu yakin jika kecantikan yang sesungguhnya akan terpancar dengan sendirinya dari dalam. Tadi 'kan Ibu sudah bilang, jika kamu sangat cantik malam ini, bukan hanya cantik namun, kamu terlihat sangat anggun dan memukau. Ibu yakin semua orang yang melihatmu pasti akan terpukau, termasuk suami dan mertuamu! Mereka takkan malu memiliki istri serta menantu yang sangat cantik."
Zahra mengelus bahu sang anak dengan lembut.
"Ayo! Kita masuk, suamimu pasti sudah menunggumu sejak tadi." Zahra mengajak Melia masuk dengan menautkan jemarinya dengan jemari anaknya. Mereka masuk bersamaan ke dalam ruangan tersebut. Dari pintu masuk sudah terdengar suara hingar bingar musik serta suara wanita yang bertindak sebagai protokoler acara.
Entah mengapa hati Melia begitu tak tenang, bahkan sejak tadi pagi dia terus merasa ada yang salah dengan perasaannya. Melia merasakan sesuatu namun dia tak tahu pasti sesuatu itu apa, namun sebisa mungkin Melia berusaha bersikap biasa-biasa saja dan tenang. Dia tak ingin mengeluh kepada siapapun, termasuk sang suami, Antara.
Saat pintu terbuka, semua tamu undangan menatap ke arah pintu terbuka. Melihat Melia dan Zahra dengan tatapan beragam.
Dengan balutan gaun lengan panjang berwarna abu tua dengan V-neck serta beberapa hiasan payet berwarna gold yang kontras namun sangat serasi dipadukan dengan gaun yang dipakainya. Dengan memakai anting yang senada dengan hiasan payetnya, Melia tampil anggun dan glamor dengan lipstik merahnya. Walau riasannya tak seheboh Karin, namun author yakin jika siapa saja yang melihatnya tentu takkan rela memalingkan wajahnya, tak terkecuali mata tajam Antara yang berada di tengah podium tengah melihat.
Antara terus menatap sang istri lekat, memindai tubuhnya dan apa yang dikenakan istrinya pun tak luput dari perhatiannya. Dalam hatinya dia terus merutuki penampilan sang istri yang terlihat begitu wow diantara tamu undangan lainnya, termasuk Karin.
Sangat cantik, tak salah jika aku begitu mencintaimu begitu dalam. Tapi sayangnya kecantikan mu itu harusnya hanya aku, suamimu yang bisa melihatnya termasuk kulit tubuhmu yang sudah terekspos karena gaun sialan itu!!
Saat Antara hendak menyambut istrinya ke bawah, lebih tepatnya menyambut Melia. Namun salah seorang protokoler acara tersebut memberikan isyarat pada Antara untuk tetap diam di tempatnya saat ini, karena acara akan dilanjutkan sebentar lagi.
__ADS_1
Akhirnya Antara tak jadi turun dan hanya menyuruh Malik menyampaikan pesan darinya.
"Maaf, Ibu Melia, Pak Antara mengatakan jika, Ibu disuruh menunggu sebentar disini karena sebentar lagi beliau akan menyampaikan pidato singkatnya. Setelah turun, beliau akan membuat eum… membuat, Ibu tak berdaya karena telah berani memakai gaun yang membuat semua mata tertuju pada, Ibu!" Lanjut, Malik sebelum ia kembali naik ke atas panggung dan berdiri disamping Antara.
Malik begitu malu dengan kata-katanya sendiri, "Sialan lo, Antara. Jika bukan karena masih jam kerja, aku nggak akan mau menyampaikan pesan gila mu ini!" Malik terus merenggut sepanjang ia naik ke atas panggung.
Namun dia juga tak menyangkal kecantikan Melia, istri dari sahabatnya itu. Malik tak menyangka jika wanita yang Antara temui di klub malam saat itu, yang sempat dijuluki 'Wanita Malam' ternyata begitu cantik, terbukti dengan kecantikannya yang terpancar, bukan hanya soal riasan saja, namun entah mengapa saat menatap wajah Melia, seakan yang melihatnya terhipnotis oleh aura kecantikan yang terpancar dari wajahnya. Rasanya tak bosan memandang wajahnya.
Terdengar suara bisik-bisik para tamu undangan yang begitu penasaran dengan wanita cantik yang masuk.
Cantik banget ya!
Wah, wanita itu siapa?
Apakah dia artis baru!
Aku seperti melihat bidadari surga.
Seperti itulah mayoritas kata yang terlontar dari para pria. Dan berbanding terbalik pada para wanita yang menatapnya dengan iri, tak terkecuali oleh, Karin. Masih banyak kata yang terlontar dari mulut para pria yang begitu terpesona melihat kecantikan Melia.
"Sial! Lagi-lagi Melia, Melia dan Melia terus!! Kenapa sih orang-orang begitu liar menatap wanita itu, sedangkan aku yang sudah berpenampilan cantik, wangi serta sexy ini saja tetap tak bisa membuat Antara menatapku!!" Geram Karin saat melihat orang-orang khususnya para kaum Adam yang hanya berfokus pada Melia saja.
__ADS_1
...****************...