JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Si Pembuat Onar (Karin)


__ADS_3

"Bisa nggak sih satu hariiiii saja kamu tidak membuat keributan dirumah ini!"


Antara begitu kesal pada sikap Karin yang suka  mencari-cari masalah dengan Melia. Padahal Melia sendiri tak pernah mempermasalahkan sikap Karin padanya.


Seperti malam ini ketika Melia akan duduk di samping Antara seperti biasanya. Dengan kasarnya Karin menahan lengan Melia yang akan duduk.


Mel, aku mau duduk disini! Kamu bisa duduk disamping Bunda jika tak ingin duduk di sampingku.


Setelah pertengkaran di meja makan tadi, kini mereka berempat duduk di ruang tamu sembari menonton serial tv kesukaan Weni. Tentu saja drama yang terjadi tidak hanya terjadi di layar kaca namun lagi-lagi Karin membuat drama dengan mempersulit segalanya hanya masalah tempat duduk. Alhasil Weni yang mengalah dan memilih duduk di sofa sebelahnya karena tak ingin melewatkan sinetron kesukaannya.


Sedang kini posisi mereka bertiga duduk berdampingan dengan Antara yang duduk di tengah sebagai pemisah agar  istrinya tenang terutama, Karin, si biang keladi.


"An, tadi papa telepon, katanya besok malam kita disuruh makan malam dirumah papa!" Ucapan Karin membuat Antara menoleh ke arahnya dengan kening yang berkerut.


"Buat apa? Apa ada yang penting! Kenapa tidak besok pagi saja saat di kantor!"


Antara mencoba mencari tahu hal apa yang akan papa mertuanya itu bicarakan padanya. Namun Karin entah kenapa begitu pelit bicara dan hanya mengedipkan bahunya keatas.


Kira-kira apa yang akan dibicarakan Pak Sudarma padaku besok?!


Apakah ini soal pekerjaan!


Atau

__ADS_1


Soal Karin!


Karin membuyarkan lamunan Antara saat dirinya bertanya apakah besok Antara bisa datang ke sana atau tidak.


"Bagaimana? Kamu bisa pergi besok 'kan! Aku akan menjemputmu di kantor besok siang setelah pulang kantor. Setelah itu, kita bisa pergi bersama-sama ke rumahku." Jelas Karin.


Antara tampak menatap ke arah istrinya dengan lekat hingga tak menyadari tatapan cinta sang suami karena fokus menyaksikan adegan menegangkan di layar tv tersebut. Antara bahkan tak merespon ucapan Karin karena terlalu asyik menelisik setiap inci wajah sang istri.  Namun tidak demikian dengan Karin yang melihat tatapan cinta Antara pada Melia.


"Melia lagi, Melia lagi!" runtuknya dalam hati saat melihat di mata Antara hanya ada Melia seorang. Karin terus menggerutu dalam segala hal, mulai dari aktornya lah yang kurang tampan, tokoh wanitanya lah yang sangat bodoh hingga memprotes sifat ibu mertua di dalam sinetron tersebut seperti nenek lampir hingga membuat Weni murka karena gerutunya itu dirinya tak bisa menghayati sinetron kesukaannya.


Kalau kamu nggak suka, sana pergi! Masuk kamar sana! Ganggu orang menonton saja, hush …hush, usir Weni dengan mengibaskan tangannya.


Karin beranjak dari duduknya lalu menarik tangan Antara dan memintanya untuk menemaninya tidur malam ini.


"Ayo, An. Ayyooo massuuuk!"


"Apaan sih, Kariiiinnnn! Kamu bisa tidak sih tidak menggangguku! Kamu nggak lihat aku sedang apa!" Antara menyentak tangan Karin hingga membuatnya terlonjak kaget. Bukan hanya Karin, Melia dan Weni terperanjat dibuatnya.


Weni yang sudah tak bernafsu lagi menonton sinetronnya pun segera mematikan tv lalu pergi dari ruangan tersebut dengan menatap tajam menantu barunya itu.


Antara dan Melia yang akan melangkah langsung dihadang oleh karin. Dengan cepat menarik tangan Antara yang dipegang Melia.


"Mel, aku tahu jika kamu adalah istri pertama, Antara. Tapi aku mohon padamu untuk jangan egois soal Antara. Kita sama-sama istrinya yang sah jadi suka tidak suka aku tetap istrinya dan itu berarti aku pun juga berhak atas dirinya, termasuk tidur dengannya!"

__ADS_1


Karin sudah sangat banyak bersabar dengan sikap cuek Antara padanya namun dia akan terus berusaha agar Antara mau tidur malam ini dengannya. Mungkin saja dengan dirinya bicara baik-baik pada Melia, dia bisa membuatnya sadar dan membujuk Antara dengan sendirinya untuk tidur bersamanya. Namun sayang itu semua hanya sekedar inginnya saja karena Antara dengan jelas menolak tidur dengannya malam ini dan di malam-malam berikutnya.


"Sekali lagi aku minta maaf karena sikapmu mungkin membuatmu sakit hati. Tapi aku rasa kamu cukup dewasa untuk berpikir sebelum bertindak seperti sebelumnya. Bukankah aku pernah bilang padamu bahwa aku sudah menikah dan aku sangat mencintai istriku, Melia. Jadi sekuat apapun kamu memintaku, maaf, aku tak bisa menjadi sosok suami untukmu, karena istriku hanya satu, hanya Melia." Pungkas Antara lalu menarik kembali tangan Melia yang sempat dilepas Karin tadi.


..............


Karin yang tak terima dengan sikap serta perkataan Antara pun segera menelpon sang Papa, Sudarma.


"Pokoknya aku tak mau tahu, Papa harus buat Antara bergantung padaku. Buat dia jadi CEO atau beri jabatan yang tinggi hingga dia takkan bisa meninggalkanku."


Karin memutuskan sambungan telepon tersebut secara sepihak hingga membuat Sudarma menghembuskan napasnya panjang. Terkadang dirinya ingin keras dengan Karin namun hati kecilnya tak bisa melakukan itu. Karin yang sejak kecil tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu, membuatnya menjadi manja. Karena itulah Karin tumbuh menjadi anak yang semaunya sendiri dan egois. Sejak kecil Karin selalu mendapatkan apa yang dia inginkan karena hanya itulah cara agar Karin kecil berhenti menangis. Kesibukannya dalam membesarkan bisnis membuatnya jarang berinteraksi dengan Karin hingga membuatnya jauh secara hati.


"Andai mama mu masih hidup, kamu mungkin tumbuh menjadi anak yang menyenangkan, Nak." Sudarma kembali flashback ke masa saat-saat terakhir sang istri sebelum meninggal. Dia hanya berpesan agar dirinya bisa menjaga dan menyayangi Karin dan jangan pernah membuatnya sedih. Pesan itulah yang membuatnya tak bisa tegas pada Karin remaja. Masa-masa remaja yang benar-benar membuat Sudarma terkadang naik pitam karena ulah anaknya.


Bahkan saat Karin mengatakan akan menikahi Antara yang notabenenya sudah beristri pun tak bisa dihentikannya karena Karin mengancam akan bunuh diri jika kemauannya tidak disetujui oleh Sudarma. Hingga mau tak mau dirinya ikut andil dalam ditahannya Antara waktu itu.


"Ya, aku harus berbicara pada Antara. Aku yakin dia bisa merubah sikap Karin yang semaunya itu. Ya, Antara, aku yakin dia bisa!"


Sudarma terus bermonolog memberikan hatinya ketenangan karena keputusan untuk merestui pernikahan mereka sudah benar, walau caranya yang salah tapi dia yakin Antara sosok pria yang bertanggung jawab dan dewasa, jadi dia tak salah pilih memberikan suami untuk anak tercintanya.


Setelah menelepon Sudarma, Karin membaringkan tubuhnya diatas kasur dengan kasar. Dia sangat kesal dengan sikap Antara yang begitu menyombongkan Melia bahwa hanya dialah wanita yang dia cintai.


Apa yang harus aku lakukan agar Antara bisa jauh dari Melia? Atau …Bagaimana caranya agar Antara bisa membenci Melia!

__ADS_1


"Hem, Bukan ide yang buruk," Karin bermonolog setelah berusaha keras mencari ide untuk bisa menjauhkan Antara dari Melia.


...****************...


__ADS_2