JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Dunia Serasa Milik Berdua, Bunda Weni hanya NGONTRAK!


__ADS_3

Dengan langkah gontai Melia keluar dari kantor polisi. Menyisakan rasa rindu yang tak tertahankan. Padahal baru beberapa detik yang lalu mereka bertemu, berpelukan hingga sempat mengecup bibir manis sang istri, namun entah mengapa rasa rindu itu semakin tak kuat tatkala langkahnya semakin dekat menuju pintu keluar.


Dirinya terus meyakinkan dirinya jika suaminya akan berada disampingnya saat membuka mata pada pagi harinya.


Namun saat akan masuk ke dalam taksi, ponselnya berdering. Ternyata dari ibu mertuanya. Dalam hati Melia gamang tuk menerima panggilan telepon mertuanya itu. Namun ia tak mungkin terus menerus menghindar. Melia menghembuskan napasnya sesaat sebelum dirinya mengangkat teleponnya.


Iya, Bun.


Mas Antara? Tampak Melia diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan sang mertua.


Mas Antara harus tinggal, Bun. Masih ada beberapa pernyataan yang dibutuhkan oleh pihak kepolisian untuk menyelesaikan laporannya.


Iya, Bun. Melia disuruh pulang, katanya kalau selesai lebih cepat, Mas Antara akan langsung pulang kerumah. Dan menitipkan pesan agar Bunda tak perlu mengkhawatirkan soal dirinya, dia akan baik-baik saja di sana.


...……...


"Assalamualaikum," ucap Melia saat memasuki rumah mertuanya. Melia melihat sang mertua masih duduk di sofa yang sama saat mereka tinggalkan tadi.


"Bun, kok masih diluar! Bukannya tadi Mas Antara sudah berpesan agar Bunda tak perlu mengkhawatirkannya!" ujar Melia mengingatkan. Namun berbeda Weni menanggapi perhatian yang diberikan oleh Melia padanya berbeda. Dengan ketus Weni berkata kasar pada menantunya itu, "Kamu bisa-bisanya tenang seperti ini, hah! Aku semakin ragu dengan ketulusan cintamu pada Antara." Membuat hati Melia teriris, luka karena harus berpisah dari sang suami saja belum kering, kini kembali disiram oleh sang mertua dengan air garam. Sakit dan sesak bercampur jadi satu. Tanpa permisi, Melia berlari menuju kamarnya yang berada di lantai 2, hingga membuat Weni mendelik.


"Dasar, menantu tak berakhlak! Orang tua masih bicara malah pergi begitu saja." Pekik Weni dengan emosi.

__ADS_1


Pagi harinya. Walau suara alarm menerobos masuk ke telinganya, ia masih saja enggan membuka matanya. Ada rasa takut di hatinya jika saat membuka matanya, sosok yang dinantikan olehnya tak berada di sampingnya. Hingga suara gedoran yang semakin keras terdengar saat dirinya sengaja menulikan telinganya, seakan tak ingin diganggu siapapun.


Dengan terpaksa Melia membuka matanya perlahan, masih menyisakan sebuah harapan jika  suaminya sudah berada di sampingnya dan sedang menatapnya penuh cinta seperti biasanya. Namun angan tetaplah menjadi angan, sosok yang dinantikan tak ada disampingnya, hingga membuatnya mendesah kecewa karenanya.


"Kamu bohong, Mas. Kamu bohong!" Batin Melia dengan lirih, "Katamu, kau akan ada disampingku saat ku membuka mata, mana? Kamu bohong, Mas." Lanjut Melia dengan terisak.


Rasa sesak menyambut paginya. Segera ia bersiap, dia harus kuat agar sang mertua pun bisa kuat. Walaupun hatinya yang akan terluka, namun jika hal itu bisa mengalihkan perhatian sang mertua dari permasalahan sang suami, Melia ikhlas menerima segala cacian dan makian darinya. Jika beliau masih bisa marah, artinya dia masih cukup kuat karena masih memiliki energi yang besar untuk memarahinya.


Melia turun setelah berpakaian rapi lalu menghampiri sang mertua yang tengah duduk dengan kedua tangan disilangkan di dada, jangan lupakan tatapan matanya yang tajam saat menatapnya.


"Wah, wah, wah …Bagus ya kamu, mentang-mentang suamimu tidak ada dirumah, kamu enak-enakan bangun siang!" Sindir Weni.


"Maaf, Bun. Semalam aku—" Ah, sudahlah. Jangan terlalu banyak alasan padaku! Sekarang kamu sudah berpakaian rapi seperti ini mau kemana? Mau keluyuran ke luar karena sudah merasa bebas tanpa suami!" Cibir Weni. Membuat Melia mendesah pelan.


"Apakah Antara sudah memberi kabar padamu!" kata Weni yang dibalas gelengan pelan, Melia. Weni semakin mendengus saat merasa Melia tak berbuat apa-apa untuk segera mengeluarkan anaknya.


"Lakukan sesuatu, Melia. Bicaralah pada pihak berwajib, kita bisa mengeluarkannya dengan membayar jaminan, mereka pasti akan mengeluarkannya, atau bila perlu beri mereka uang suap!" Ucap Weni berapi-api. Sedang Melia seketika terbelalak mendengar perkataan Weni.


"Bun, tidak semua aparat kepolisian bisa disuap. Masih ada polisi yang bersih dan menolak keras tindakan penyuapan. Lagian, Bun. Jika kita ketahuan kita juga bisa kena imbasnya sampai dengan ditindak secara hukum dengan pasal penyuapan aparatur negara." Jelas Melia.


"Ais, jadi apa solusimu! Kamu tak sengaja 'kan menunda Antara keluar dengan segera!" Tuduh Weni, membuat Melia harus mengelus dadanya agar bisa bersabar dengan segala tuduhan dari ibu mertuanya.

__ADS_1


"Astaghfirullah! Istighfar, Bun. Melia tak seperti apa yang Bunda katakan. Pagi ini aku akan pergi ke kantor polisi, aku sengaja tak berbuat apapun sampai pagi ini karena masih harus meminta pendapat, Mas Antara. Langkah apa yang harus kita ambil, termasuk dengan menyewa seorang pengacara." Tutur Melia.


Weni tak lagi menjawab jawaban menantunya itu. "Baiklah, Bunda ikut, biar kita naik taksi," namun dalam hati ia berkata, "Enak-enakan saja aku yang menyetir, seolah-olah aku menjadi sopir pribadinya." Batinnya.


...……...


Setibanya mereka di kantor polisi. "Maaf, Pak. Saya ingin menemui suami saya di dalam." Ucap Melia saat ditanya oleh salah satu aparat kepolisian yang berjaga di pintu masuk saat memasuki kantor polisi.


"Maaf, Bu. Atas nama siapa ya! Karena disini terdapat beberapa ruangan sesuai dengan kasusnya."


"Antara, Pak polisi, nama anak saya Antara." Weni menjawab dengan cepat. Melirik sang menantu dan berkata padanya, "Memang hanya suamimu yang ada di dalam! Apa kamu sebegitu terkenalnya disini hingga mereka tahu suamimu yang mana!" Cibir Weni. Melia tersenyum kecut mendengar cibiran sang mertua dan merutuki kebodohannya.


"Antara! Mas!" ucap keduanya bersamaan saat melihat Antara memasuki ruang tunggu. Terlihat jelas gurat kelelahan di wajahnya.


Melihat 2 wanita yang sangat disayanginya, membuat lelah yang semalam di rasakan hilang entah kemana. Ia begitu bersemangat berjalan ke arah sang bunda dan istri.


"Bagaimana kabarmu, Nak!" Weni menatap dan membelai wajah sang anak, "Kamu pasti lelah, kamu pasti tak tidur dari semalam, iya 'kan!" Matanya kini sudah berembun saat melihat sang anak. Sedang Melia menatap sang suami dengan nanar, di dalam hatinya terus berpikir "Apa yang bisa aku lakukan untuk mengeluarkan, Mas Antara dengan cepat!"


Antara menoleh ke arah sang istri, menatap wajah wanita yang begitu dicintainya. Terlihat gurat kesedihan di wajahnya dan Antara tahu itu dengan pasti. "Kamu tak merindukanku!" Ucap Antara menatap wajah sang istri.


Melia mengulas senyum lalu beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri sang suami lalu duduk disampingnya. Ia memeluk erat sang suami, mendekapnya dan menghirup aroma khas suami yang baru satu malam meninggalkannya namun sudah terasa berhari-hari lamanya.

__ADS_1


"Apa semalam kamu tidur nyenyak?" Melia menggeleng pelan, "Bagaimana mungkin aku bisa tidur nyenyak disaat suamiku sendiri tak tahu apakah dia tidur dengan nyaman disana." Sahut Melia dengan lirih. Antara semakin mendekap tubuh sang istri dengan erat sembari mencium pucuk kepalanya dengan sayang. Bahkan mereka sampai melupakan kehadiran Weni yang menatapnya dengan kesal.


...****************...


__ADS_2