
“Ide?” selidik Antara, pasalnya Malik adalah orang yang kadang berpikir di luar logika. “asal jangan yang ekstrem saja Mal, bukannya untung malah banyak mudaratnya.
“Ya Allah, Tar, Tar. Cemen lu!” gitu saja udah gentar, bagaimana mau lu mau perjuangin cinta lu.” Malik menggelengkan kepalanya.
“Apa memang ide mu?”
“Bagaimana kalau lu buntuti wanita itu, ya... Jadi detektif misalnya!” Ucap Malik menaikkan kedua alisnya naik turun.
“Maksudmu seperti di komik Conan Edogawa?” sahut Antara yang di angguki oleh Malik.
“Jangan gila Mal, aku bukan anak kecil yang nggak punya kerjaan. Ya kali, aku izin cuti hanya untuk membuntutinya.”
“Memang siapa sih yang suruh lo turun tangan langsung! Bukan hanya mie doang yang ada instan, jasa pun ada tahu! Asal punya duit mah gampang soal begituan. Manfaatin tabungan lo yang seabrek gunung itu! Enggak bakal jatuh miskin lo nyewa seorang detektif swasta. Kan banyak tuh di Instagram juga di Facebook yang berseliweran di beranda sosial media lu."
Terlihat Antara diam, sepertinya dia sedang memikirkan ide cemerlang yang di ucap Malik padanya. "Detektif ya, boleh juga ide si curug satu ini."
“Oke deh, aku minta tolong lu atur pertemuan sama detektif itu, soal bayaran, nggak perlu lu pikirin, bilang saja berapa yang dia minta, tapi... Aku mau tahu secara lengkap semua info tentang dirinya. Masa lalunya, masa sekarang dan orang-orang yang ada di sekelilingnya, sanggup enggak dia!!” ucap Antara.
“Beres, dia profesional kok!” Jawab Malik memberi kode dengan tangannya.
“Ya sudah, aku serahkan semua sama kamu,” ucap Antara, “saya mau minggu ini semua informasinya sudah saya terima di meja saya dalam bentuk file.” Tukas antara yang menepuk pundak Malik keras.
“Buset!! Cepat amat Tar, enggak salah tuh!” Sahut Malik menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menekan nomor seseorang.
"Ada harga, ada kualitas bukan!" Antara tertawa miring.
-
__ADS_1
-
Di tempat berbeda, Melia dan Zahra pergi bersama dengan menggunakan mobil online yang membawa mereka ke pusat perbelanjaan. Hari ini Melia sengaja mengajak Zahra untuk makan siang di luar, setelah satu Minggu lamanya dirawat, Zahra belum pernah sama sekali keluar rumah. Ya, tentu saja semua karena Melia, dia tak ingin Zahra kembali sakit karena kembali bekerja di Butik padahal dirinya belum benar-benar pulih.
“Ibu mau makan apa?” tanya Melia bergelayut manja di lengan Zahra.
Zahra tersenyum melihat tingkah manja putrinya itu. “Apa saja Mel, toh kamu dan Ibu kan sama, sama-sama pemakan segalanya.” ucapan Zahra membuat Melia terkekeh.
“Ya sudah, kita makan seafood saja kalau begitu, biar Ibu makin sehat, Yuk!” Melia menarik lembut lengan Sang Ibu menuju restoran seafood yang berada di lantai tiga.
"Mbak, aku pesan 1 bakul nasi, cumi tepung 1, udang sambal pete 1, sayur asem 1, ikan bakar bumbu parape 1, dan ... Ibu mau pesan minum apa? Jus atau teh hangat saja? Tanya Melia yang tengah fokus melihat buku menu. Tanpa dia sadari, sepasang mata sedari tadi mengikuti mereka berdua sejak pertama kali masuk ke dalam pusat perbelanjaan tadi sambil menjepret kegiatan Melia dan Zahra.
“Bos, aku sudah mengirim beberapa foto wanita itu, sepertinya yang bersamanya adalah Ibunya.” Ucap si Detektif itu dengan berpura-pura menjadi pelanggan di restoran itu juga, “Jangan lupa transferannya Bos!” Ketiknya dengan semangat.
Di sebuah ruangan
“Karin!” ada apa kamu kemari?” tanya Antara, yang kaget dengan kedatangan Karin.
“Enggak apa-apa kok, cuma lewat saja, kebetulan aku dari ruangan Papa di atas, pas mau turun, eh ingat sama kamu. Kayaknya kamu sibuk banget, sampai tak menyadari keberadaanku disini.”
"Apa yang kamu lihat? Serius amat, sambil senyum-senyum sendiri."
“Oh ini, enggak apa-apa kok. Teman kirim gambar yang lucu, makanya aku senyum-senyum.” jawab Antara yang langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
Setelah makan siang, Melia dan Zahra memasuki beberapa toko baju dan tas. Niat Melia ingin memberikan Zahra pakaian baru dan tas baru sebagai hadiah ulang tahunnya, walau masih lama, mereka memang kebiasaan akan membawa serta yang berulang tahun untuk memilih sendiri hadiah yang dia inginkan.
Sembari menunggu Zahra memilih beberapa gaun, Melia memilih melihat-lihat beberapa tas yang terpajang di dalam etalase toko itu. Matanya berbinar saat melihat tas berwarna hitam berlogo PRADA, bentuknya yang kecil namun sangat terlihat mewah, dilengkapi dengan tali rantai pendek dan sling bag-nya yang bisa digunakan untuk acara apa pun. Namun setelah melihat harga yang tertera di label tas itu, Melia mundur perlahan.
__ADS_1
"Sembilan juta!!" pekiknya dalam hati.
Walau ia mampu membeli tas seharga tersebut, namun Melia lebih memilih menyimpan uangnya untuk keperluan yang lebih mendesak. “Gila saja, demi tas kecil, aku harus merogoh tabunganku sebanyak itu. Tapi kok lucu sih, uangku juga cukup tapi....”
“Kok melamun sayang?” tanya Zahra saat melihat Melia menatap sebuah tas dengan serius yang ada di dalam etalase.
“Enggak apa-apa Bu. Nanti saja aku beli saat dapat bonus.” Sahut Rena sambil menggandeng tangan Zahra menuju kasir tempat belanjaan yang sudah dipilih Zahra tadi.
Aktivitas mereka tadi pun tak lepas dari pengawasan mata detektif swasta itu. Hasil fotonya serta keterangan yang ditulis sesuai dengan apa yang dilihat dan didengar, dituangkan dalam sebuah lembaran kertas, sesuai dengan apa yang diminta kliennya.
Antara merasa puas dengan hasil kerja detektif swasta yang direkomendasikan oleh Malik padanya. Kerjanya cepat, tepat dan sangat mendetail. Akhirnya dia tahu dimana alamat rumah Melia, wanita yang sudah mengacaukan hidupnya selama hampir 2 bulan belakangan ini.
Ide muncul di benak Antara saat melihat salah satu foto yang memperlihatkan Melia sedang memperhatikan dengan intens pada salah satu tas yang berwarna hitam, senyum seringai terlihat di bibirnya.
Malik datang menghampiri antara di ruangannya. “Bagaimana hasil kerja detektif itu?” tanya Malik dengan kedua alisnya naik turun.
Antara tersenyum lebar melihat sahabatnya datang. Sepertinya hasilnya memuaskan, terlihat dari tampang mu."
“Gampang kalau soal itu. Oh iya, kamu ngapain kesini? Nggak ada kerjaan? Awas loh kena tegur bos," ucapnya memperingati.
“Sudah beres semua. Siap-siap aja deh lo, penghargaan karyawan terbaik tahun depan bakalan jatuh di tanganku!” ucap Malik sombong.
"Ya..ya..ya, berusahalah Mal!" ledeknya. Karena nyatanya sejak ia bekerja disini, setiap tahunnya dialah yang selalu mendapatkan penghargaan sebagai karyawan terbaik dan mengalahkan beberapa kandidat karyawan lainnya, termasuk Malik.
"Mau kemana woy!" Malik sedikit berteriak saat Antara sudah hilang dibalik pintu.
"Shopping!!" sahut Antara saat mendengar teriakan Malik.
__ADS_1
...****************...