
"Apa aku terlalu egois?" batin Melia.
Sesampainya dirumah sakit, Antara berlari kecil menuju kamar rawat Karin. Sudah ada sang bunda yang menjaganya disana.
Karin pingsan tak lama setelah Antara mengantarnya ke dalam kamar. Weni yang hendak menjaga Karin di dalam kamar sangat kaget saat melihat Karin yang tergeletak di atas lantai dengan darah yang mengalir di sela paha dan kakinya.
Dokter mengatakan jika kejadian seperti ini akan terus berulang hingga anak yang dikandung Karin lahir karena rahim Karin yang sebenarnya sudah harus diangkat saat jatuh tempo hari. Resiko bayi prematur pun tak bisa di hindari nantinya jika kondisi Karin terus menurun yang mau tidak mau, pihak dokter tetap harus mengambil tindakan untuk menyelamatkan bayi dan ibunya. Walau artinya bayi tersebut harus dilahirkan sebelum waktunya.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Antara saat melihat Karin akhirnya sadar setelah 3 jam lamanya tak sadarkan diri.
Karin tersenyum melihat Antara Antara yang selalu ada setiap kali ia membuka matanya. "Apa aku pingsan lagi!" kata Karin dan Antara mengangguk pelan.
"Kamu jangan keras kepala, Karin. Kejadian ini terus akan berulang selama kamu tetap kekeh menolak pengobatan dari dokter," kata Antara jemu.
Entah sudah berapa kali dirinya membujuk Karin agar mau mengikuti saran dari dokter untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut.
"Tapi, An—"
"Kamu jangan egois! Bukan hanya fisik kamu yang semakin lama semakin lemah, namun bayi yang kamu kandung pun ikut mendapat dampaknya. Dokter bilang kalau begini terus menerus, bayi yang kamu kandung tak dapat bertahan lama sampai waktu dia lahir.
"Maksud kamu? Ada apa dengan anak kita!" wajah Karin tiba-tiba berubah menjadi panik tatkala mendengar kabar tentang kandungannya.
"Dokter mengatakan kalau detak jantungnya semakin lemah dan dokter tak bisa mengambil resiko lebih lama lagi. Jika detak jantungnya tak kembali normal, dokter dengan terpaksa harus mengambil tindakan secepatnya untuk menyelamatkan nyawanya," ujar Antara membuat Karin menghela napasnya dengan kasar.
Karin tahu benar tindakan apa yang dimaksud dokter pada Antara.
"Lakukan apapun untuk menyelamatkan anakku.. aku takkan bisa hidup jika terjadi sesuatu yang buruk pada anakku," ucap lirih Karin.
"Tenanglah, aku sudah konsultasikan soal ini pada dokter. Kita tunggu keputusan dokter kapan tindakan itu akan dilaksanakan," kata Antara memegang tangan Karin dengan erat.
Antara tahu pasti, dibalik keputusan untuk menyelamatkan keduanya, mereka harus menanggung segala resiko baik ataupun buruk, demi untuk menyelamatkan 2 nyawa sekaligus.
__ADS_1
Setelah mendapat persetujuan Karin dan keluarga lainnya. Akhirnya Karin menjalani operasi caesar dan pengangkatan rahimnya. Operasi direncanakan akan memakan waktu lebih lama dari biasanya karena pihak dokter akan melakukan 2 tindakan sekaligus. Hal itu harus mereka lakukan demi menyelamatkan keduanya.
Operasi masih tengah berlangsung, dokter kandungan Karin mengatakan jika bayi yang dikandung Karin sudah berhasil dikeluarkan dan berjenis kelamin perempuan.
Baik Antara, Weni maupun Sudarma terlihat bahagia mendengar kelahiran anak dan cucu pertama mereka namun seketika mereka cemas saat mengetahui kondisi anak dan cucu mereka.
Antara belum bisa melihat anaknya karena bayi perempuan tersebut harus mendapat tindakan intensif lebih lanjut karena lahir secara prematur dan kini sedang berada di dalam inkubator.
Setelah memberitahu pihak keluarga tentang kelahiran bayi Karin, dokter kembali melanjutkan tindakan keduanya yakni pengangkatan rahimnya.
Setelah 2 jam menunggu, akhirnya operasi Karin selesai.
"Bagaimana, Dok anak saya?" tanya Sudarma saat melihat dokter keluar dari ruangan operasi.
"Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar dan tidak ada hambatan berarti. Sekarang kita tinggal memantau kondisi Ibu Karin, setelah itu pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan setelah pasien sadar," tutur sang Dokter lalu pamit meninggalkan ketiganya.
"Nak, ayo kita lihat anakmu." Kata Sudarma mengajak Antara untuk melihat cucunya di ruang NICU anak.
Sayang.. ini Papa, kamu harus kuat dan sehat, Nak. Papa berjanji akan menjaga dan menyayangi serta mencintaimu segenap jiwa dan ragaku.
Tepukan Sudarma di pundak Antara menyadarkannya. "Masuklah, lihat anakmu secara langsung dan adzan dia," kata Sudarma.
Antara mengangguk lalu masuk ke dalam NICU dengan menggunakan baju khusus yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit.
Setelah mengadzani, mereka kembali ke ruang ICU tempat Karin berada, mereka masuk satu persatu melihat keadaan Karin yang sampai sekarang belum juga sadar.
Dokter mengatakan jika pengaruh obat bius untuk beberapa orang memang berbeda-beda efeknya namun, Dokter mengatakan jika keadaan Karin sudah normal dan tak ada yang perlu dikhawatirkan.
***
Sudah 3 hari Antara tidak pulang kerumah baru mereka, hingga membuat Melia semakin yakin dengan keputusannya untuk mundur dan pergi dari kehidupan Antara.
__ADS_1
Melia tak berani menelepon suaminya secara langsung, maka dari itu Melia berinisiatif untuk berbicara pada ibu mertuanya. Melia yakin jika mertuanya itu bisa memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi mereka.
Setelah hampir 3o menit perjalanan, akhirnya Melia sampai di kediaman ibu mertuanya. Melia masuk seperti biasanya karena masih memegang kunci rumah itu.
"Assalamualaikum…." Ucap Melia lalu masuk kedalam rumah.
"Kemana semua orang!" seru Melia saat tak mendapati satu pun orang didalam rumah, suasananya nampak sepi seperti tak pernah dihuni.
Terdengar suara seseorang mobil masuk ke dalam pekarangan rumah. Melia melangkahkan kakinya menuju pintu belakang yang terhubung dengan garasi mobil.
Nampak Weni turun dari mobilnya. Ya, Weni kembali kerumahnya untuk mengambilkan pakaian ganti untuk Antara dan Karin. Antara masih enggan meninggalkan Karin yang fisik serta psikisnya masih drop.
Setelah Karin sadar dan dipindahkan ke kamar perawatan. Antara dengan terpaksa menceritakan kondisi sang anak karena Karin terus saja merengek ingin menemui anaknya. Karin hanya ingin memastikan jika sang anak benar-benar selamat.
"Melia!" kata Weni kaget saat melihat Melia keluar dari pintu belakang.
"Bun…." jawab Melia seraya mencium tangan sang ibu mertua dengan takzim.
"Bunda dari mana? Rumah kok sepi?!" tanya Melia penasaran.
Dahinya berkerut saat mendengar pertanyaan sang menantu.
"Memangnya kamu enggak tahu, Nak.. Karin sudah melahirkan, anaknya perempuan. Karin terpaksa harus melahirkan secara caesar karena kondisi tubuhnya yang semakin hari semakin menurun," jelas Weni panjang lebar.
Melia terkesiap mendengar cerita sang mertua. Jangankan kabar besar seperti itu, untuk menanyakan kabarnya saja Antara tak pernah meneleponnya.
"Hem.. sepertinya, Mas Antara lupa, Bun. Pasti dia sangat panik saat itu jadi lupa mengabari ku," sahut Melia dengan senyum mirisnya.
Entah mengapa mendengar Karin yang sudah melahirkan dan kenyataan Antara sampai tak meneleponnya hingga saat ini, membuat hatinya sakit dan terluka.
...****************...
__ADS_1