
Entah siapa yang dihubungi, Karin hingga membuatnya tersenyum lebar. "Kita lihat sebentar lagi, apakah setelah ini kamu sanggup menolak ku," senyum terbit di bibir tipisnya.
Bumi membutuhkan waktu 24 jam untuk menyelesaikan perputaran pada porosnya, dan inilah yang dikenal sebagai 1 hari bagi manusia. Namun tidak dengan, Antara. Entah berapa lama ia membutuhkan waktu untuk bisa menyelesaikan masalah rumah tangganya. Dia terus menyibukkan dirinya pada serangkaian rapat dan rapat, hingga membuatnya bisa melupakan sejenak kekesalannya pada, Melia.
Konsentrasi Antara pun terganggu saat mendengar ketukan pintu dari luar. "Masuk!" sahut Antara saat mendengar ketukan pintu dari luar, ternyata Malik.
"Belum kelar juga meditasi lo!" Antara menoleh sekilas ke arah, Malik dan kembali sibuk dengan berkas di tangannya.
"Entar lagi, memang kenapa?" tanya Antara tanpa menatap lawan bicaranya.
"Ini sudah larut, Bro. Gue juga pengen pulang. Capek gue ikutin jam kerja lo, kayak gak ada capek-capeknya gitu, yang ada nanti malah gue yang stres!" keluh Malik. Bagaimana tidak mengeluh, demi bisa melupakan masalahnya sejenak, dia bahkan rela bekerja mati-matian demi bisa melupakan sejenak permasalahannya di rumah.
"Sudah malam ya!" Antara sampai lupa jika dia sudah bekerja lebih dari 15 jam lamanya. "Auh!" keluh Antara saat merasakan tegang di sekitar lehernya. "Aku malas pulang, yang ada pasti, Melia bakalan ngebahas soal Karin lagi!"
"Ya sudah, kita hangout bareng kalau gitu, gimana?" Yah, sekalian menyegarkan mataku ini yang sejak pagi berkutat sama angka dan laporan seabrek." Antara tak merespon dan tidak pula menjawab perkataan, Malik. Ia hanya mengikuti kemana langkah sahabatnya itu pergi, hingga ia sadar jika dirinya sudah berada di sebuah ruangan VVIP klub malam terbesar di kotanya.
"Loh, kita di—" Antara begitu kaget saat menyadari dirinya ada dimana sekarang karena saat mengikuti langkah kaki, Malik, Antara tak terlalu memperhatikan tempat yang mereka datangi, "Iya, kita lagi klub, tempat kerja bini lo dulu!" kata, Malik memotong ucapannya.
__ADS_1
"Gila kamu, Mal. Gimana kalau Melia tahu aku kesini,huh!" Antara begitu geram pada sahabatnya itu.
"Tenang, dia nggak bakalan tahu! Lagian juga kita kesini nggak ngapa-ngapain 'kan, cuma minum sedikit. Toh disini gak ada yang tahu juga kalau lakinya, Melia itu kamu!" ucap, Malik asal tanpa mereka sadari jika sahabat, Melia yang juga bekerja disana sangat mengenal persis wajah dari suami sahabatnya itu. Karena Melia sempat memperlihatkan foto pada, Clara saat mereka menikah di atas kapal pesiar.
"Nggak deh, aku pulang aja, lagian Melia pasti lagi nunggu aku pulang!" Akhirnya Antara berhasil keluar dari ruangan tersebut walau harus melalui bujuk rayu, Malik yang tak ingin ditinggal sendiri. Beruntung saat itu seorang pramusaji wanita datang hingga membuat perhatian, Malik teralihkan hingga ia bisa terbebas dari sahabat gilanya itu.
Saat Antara akan keluar, ia tak sengaja bertemu dengan teman lamanya, lebih tepatnya mantan rivalnya dulu dalam memenangkan tender. "Antara! Rino!" ucap keduanya saat menyadari siapa yang mereka tabrak.
"Hai, Bro, apa kabar? Lama nggak jumpa, kemana aja!" ucap pria yang bernama, Rino itu.
"Biasa, kerja, apalagi!" sahut, Antara malas. Rino merupakan teman lamanya saat mereka menangani sebuah tender besar di kota C. Dan saat itu PT Arcoma Internasional lah yang memenangkannya saat itu, hingga hubungan baik yang terjalin kala itu seketika renggang.
"Sama Malik, lagi diatas diatas dia!" tunjuk Antara pada sebuah ruangan di lantai atas.
"Terus sekarang mau kemana?" tanya Rino lagi.
"Balik!" jawabnya singkat. "Cepat amat, Bro. Yuk kita ngobrol-ngobrol dulu sebentar, lagi sudah lama kita nggak ketemu, yuk ke mejaku!" ajak Rino, namun Antara terus menolaknya secara halus. Namun Rino tak putus asa, dia terus memaksa Antara untuk ikut ke meja dengan alasan ingin bertukar pendapat soal beberapa perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaannya. "Ayolah, Bro. Hitung-hitung bantu teman, lo 'kan juaranya!" rayunya.
__ADS_1
Akhirnya karena tak enak hati, Antara akhirnya mengiyakan permintaan teman lamanya itu. Saat sudah di meja, tersedia beberapa minuman keras dengan jenis dan merk yang berbeda serta beberapa slice fruit serta kacang yang menjadi teman minum mereka. Saat disodorkan, Antara menolak secara halus. "Sorry, aku harus nyetir mobil, jadi gak bisa minum."
"Aish, iya, gue lupa kalau lo nggak minum. Sorry!" Roni menepuk bahu Antara sebagai permintaan maafnya. Antara tersenyum menanggapi ucapan permintaan maaf, Roni. "Santai."
"Karena nggak ada jus, lo minum ini aja, ini gak ada alkoholnya kok!" Roni menyodorkan sekaleng minuman pada Antara, terlihat dari luar seperti bir namun dengan kadar zero alcohol, begitulah yang Antara baca saat itu. Karena tak ingin berlama-lama disana, akhirnya Antara meminum minuman tersebut dengan beberapa kali teguk.
"Dengar-dengar lo udah nikah! Selamat ya, Bro." ucap Rino yang dibalas senyuman sesaat oleh Antara.
"Aku balik ya, udah malam banget soalnya."
"Wih, enak ya kalau udah nikah, pulang-pulang sudah ada yang nungguin." Seloroh Roni. Antara pamit seraya menepuk bahu Roni cukup keras, "Makanya buruan nikah biar pulang ada yang nungguin, aku cabut!"
"Oke, Bro. Kapan-kapan kita ngumpul lagi. Sekalian bawa istri lo!" teriak, Roni sambil melambaikan tangan pada, Antara yang sudah jauh dari pandangannya.
Roni mengambil ponsel yang diletakkan di dalam sakunya. "Halo, tuan putri. Perintah lo udah gue lakuin. Gue tunggu kabar baiknya." Roni menutup ponselnya setelah berbicara pada seseorang di seberang telepon. Dengan senyum seringai sembari menatap kaleng bir yang sudah habis tak bersisa.
"Sorry, Bro. Aku berhutang janji padanya, tapi aku yakin jika kamu bisa mencintainya seperti aku mencintainya jika saja kamu bisa membuka hatimu untuknya." Roni menghela napasnya sembari menatap foto di layar ponselnya. Foto sepasang anak kecil yang sedang bermain bersama.
__ADS_1
...****************...