
Melihat tak ada yang merespon aktingnya, Weni lantas dengan sengaja menyenggol sebuah gelas kaca hingga jatuh tak berkeping, hingga membuat Antara menyadari jika sang Bunda sedang sesak napas.
Perhatian Antara kembali ke Weni yang kembali memainkan perannya dengan sangat apik, hingga Antara tak menyadari keanehan-keanehan saat itu.
Bun!
Melia menghampiri sang suami dan ibu mertua dengan cepat. Ekor matanya sempat melirik kearah Karin yang tersenyum miring menatap ke arah Weni. Mungkin dalam hatinya berkata jika calon ibu mertuanya itu aktingnya sangat bagus.
"Mas, Bunda kenapa!"
Melia berkata bertanya seolah tak tahu jika terjadi sesuatu pada mertuanya itu. Antara menengadahkan wajahnya ke arah Melia, "Bunda, Mel, Bunda! Ayo cepat panggilkan perawat, dokter atau siapapun juga!!" Antara tak sadar jika saat ini tanpa sengaja dia sudah membentak sang istri karena panik.
"Ii-iya, Mas."
Melia dengan cepat keluar dari kamar inap mertuanya sebelum satu rombongan orang yang berpakaian rapi serta 3 pria yang memakai seragam polisi masuk tanpa permisi.
"Dengan, Pak Antara, betul!"
Melia yang mendengar nama suaminya dipanggil pun seketika menghentikan langkahnya dan berbalik menatap para polisi tersebut. Keningnya berkerut tatkala menyadari ada yang janggal dari kedatangan mereka, "Aku kira, Mas Antara sudah bebas! Kenapa mereka masih datang kemari?!" Melia bermonolog.
Antara kaget melihat orang-orang di hadapannya saat ini. Ini bukan waktu yang tepat untuk kembali ke dalam tahanan disaat sang bunda sedang kritis.
"Saya, Antara. Maaf, Pak. Bisakah bapak memberikan saya waktu sebentar lagi? Bunda saya sedang sakit, dia butuh saya." Pinta Antara.
"Mohon maaf, Pak. Sesuai dengan kebijakan kami hanya bisa memberikan bapak waktu 1 hari untuk melihat orang tua bapak."
Sontak membuat Melia dan Antara kaget. Terlebih Antara yang tak mungkin meninggalkan sang Bunda disaat seperti ini.
__ADS_1
Aku mohon, Pak. Beri aku waktu sebentar lagi! Antara terus memohon pada salah satu polisi yang sudah memegang tangannya. Hingga salah satu pria yang berpakaian rapi itu bersuara.
"Selama belum adanya pencabutan laporan dari pihak pelapor kepada terlapor, kasus ini akan terus berlanjut, Pak Antara. Kecuali—"
"Kecuali apa, Pak?" Potong Antara cepat.
"Kecuali jika, Nona Karin mencabut laporannya detik ini juga," lanjut pria tersebut membuat Antara menoleh ke arah Karin lalu mengusap wajahnya kasar.
Mas ….
Antara menatap wajah sang istri dengan ekspresi wajah yang entah, namun Melia tahu arti dari tatapan tersebut. Melia segera mengangguk pelan.
Karin!
Antara kini menatap wanita yang sangat dibencinya itu. Mau tidak mau hanya Karin yang bisa membantunya kali ini. Antara tak ingin egois dengan mempertahankan harga dirinya sedang sang Bunda sedang sangat membutuhkannya.
Antara terus memohon pada, Karin. Membuat hati Melia hancur berkeping-keping saat melihat orang yang dicintainya menjatuhkan harga dirinya didepan wanita ular seperti, Karin.
Mas ….
Tangis Melia pecah seiring dengan permohonan Antara yang tak digubris Karin. Wanita itu tak bergeming dari posisinya hingga saat Melia meneriaki namanya.
Well, aku akan mencabut laporan ku sekarang tapi …Kau tahu bukan jika itu tak 'GRATIS'!" Karin berucap dengan satu sudut bibirnya naik keatas. Seakan ia mempertegas kata gratis dalam ucapannya. Dan Antara yang tahu maksudnya apa seketika menatap Melia dan Weni bergantian.
"An-ta-ra," ucap Weni terbata.
Antara ayang mendengar namanya dipanggil langsung menoleh ke arah Weni. Jangan pergi, jangan tinggalkan Bunda sendirian disini, bunda mohon! Lakukan apapun agar dia mau mencabut laporannya, Bunda tak bisa hidup jauh darimu, Nak!" Weni berkata pelan namun tetap jelas pengucapannya.
__ADS_1
Wajah Antara memelas menatap wajah sang Bunda. Ingin rasanya ia berkata jika dirinya tak bisa mengabulkan permintaan sang Bunda. Namun dirinya pun tak mungkin dengan tega membiarkan orang tua satu-satunya harus merasakan kesakitan karena terpisah jauh dari anaknya untuk waktu yang lama.
"Baiklah! Aku setuju dengan semua permintaanmu."
Akhirnya dengan terpaksa, ia setuju dengan syarat yang akan diberikan padanya. Membuat Karin tersenyum puas, akhirnya apa yang dia inginkan akan segera terwujud.
"Baiklah, aku akan segera menelepon pengacaraku dan memintanya untuk mengurus semuanya. Tapi kamu harus menyetujui syarat dariku!" Tutur Karin dengan satu alisnya terangkat ke atas.
"Katakan, katakan apa syaratnya!" Sahut Antara cepat. Dia sudah sangat muak melihat Karin. Antara ingin Karin bisa secepatnya menghilang dari pandangan matanya.
"Menikahlah denganku, mudah bukan!" Ucapnya enteng. Namun perkataan Karin barusan seakan menampar kesadaran Antara kembali.
"Kau gila!! Pekik Antara, "Kau sudah tahu jika aku sudah memiliki seorang istri. Dia, dia yang di belakangmu adalah istriku yang paling aku cintai, hanya dia wanita yang berhak aku cintai sampai aku mati. Tidak ada orang lain lagi!" Kecam Antara berapi-api. Emosinya tersulut saat dengan tidak tahu malunya Karin meminta Antara menikahinya.
"Terserah, jika itu mau mu, aku tak bisa apa!" Karin mengangkat kedua bahunya keatas dengan gerakan kedua tangannya ke udara, "Kamu bisa melihat bunda mu untuk yang terakhir kalinya atau kau bisa menikahi ku sekarang! Itu pilihanmu, silahkan putuskan. Tapi aku harap jika pilihanmu tak akan membuatmu menyesal nantinya." Pungkas Karin.
Antara tertunduk terdiam menundukkan kepalanya. Seolah hanya bisa terdiam, menunduk serta menganggukkan kepala. bukan karena ia tak punya suara tetapi ketika takdir berkata lain, ketika Tuhan sudah menentukan jalan hidupnya.
Karin tersenyum puas melihat anggukan Antara. Sesuai dengan janjinya tadi, Karin segera menghubungi pengacaranya dan berbicara seolah menyuruh mencabut laporannya, padahal sudah sejak pagi laporannya dicabut. Sampai detik ini Antara masih belum menyadari semua kejanggalan yang terjadi. Orang yang berpakaian rapi sebagai penyidik serta yang berseragam polisi pun dengan teratur keluar dari kamar Weni.
Entah sejak kapan seorang penghulu dan papa Karin yang juga atasan Antara tiba-tiba saja muncul di dalam kamar inap Weni. Dengan berat hati, akhirnya Antara mengucap ijab qobul dengan suara bergetar. Saksi serta mahar pun dengan cepat didapatnya entah dari mana. Antara tak memperdulikan semuanya, dipikirannya hanya satu, ia ingin segera mengakhiri rangkaian acara siang ini.
Seketika Weni kembali sehat setelah Antara selesai mengucapkan ijab qobul. Yang ditandai dengan Antara menyematkan sebuah cincin berlian yang entah dari mana asalnya. Setelahnya Karin mencium tangan Antara yang kini sudah resmi menjadi suaminya.
Antara tak berani menatap wajah sang istri yang berdiri di sudut kamar itu. Begitupun dengan Melia, sejak tadi ia menundukkan pandangannya ke bawah dan terus merapatkan doa dan kata-kata semangat untuk dirinya sendiri.
"Kamu bisa, Melia! Kamu kuat! Ini jalan yang harus kamu lalui." Setelah hujan, matahari akan muncul kembali. Begitu juga dengan kehidupan, setelah rasa sakit, bahagia akan datang menghampirimu.
__ADS_1
...****************...