JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Gelora Yang Tak Terbendung Lagi


__ADS_3

Dengan rayuan serta sentuhan lembut yang Angel berikan, membuat Antara terhanyut sesaat. Namun saat Antara menatap wajah Angel, seketika terlintas wajah cantik Melia. Hal itu sontak membuat Antara langsung menolak tubuh Angel hingga membuatnya nyaris tenggelam karena mendorong Angel dengan kuat. Pikiran Antara menjadi aneh dan sikapnya pun kepada Angel menjadi kasar. Antara mengusap wajahnya dengan kasar tatkala sadar akan perlakuannya pada Angel. Dengan cepat Antara menolong Angel yang terlihat shock dengan perlakuan Antara padanya.


"Ka-kau kenapa? Ada apa denganmu, An! Apa kau tidak suka dengan caraku barusan?” tanya Angel bingung dengan sikap kasar Antara yang tiba-tiba.


Antara memijat pangkal hidungnya sebelum menjawab pertanyaan Angel padanya. "Menjauh lah dariku!" Bentak Antara sembari keluar dari kolam dan meraih handuk yang memang sudah disediakan di atas kursi rotan di pinggir kolam.


"Maaf soal yang tadi, aku benar-benar tak sengaja melakukannya." Pungkas Antara yang kini mulai menjauh dari sisi kolam tempat Angel berada. Antara berjalan cepat menuju tempat dimana Melia berada. Terlihat Melia yang sedang berbincang bersama tim Angel lainnya, Antara tak suka Melia mengumbar senyum di depan pria lainnya.


Melia tak menyadari keberadaan Antara yang sudah berada tepat di belakangnya. Hingga suara bariton membuat Melia dan lainnya terkesiap.


MELIA!!


Melia dan lainnya ikut berbalik setelah mendengar suara Antara dari arah belakang. "Ayo, cepat naik!" kata Antara mengulurkan tangannya untuk diraih oleh Melia.


"Mas!" "Antara!" ucap mereka bersamaan.


Melia dengan cepat meraih tangan Antara. Ketika Andi, salah satu tim Angel ingin membantu Melia naik ke atas, Antara dengan cepat menghujam tatapan membunuhnya hingga Andi mengurungkan niatnya membantu Melia. Antara segera meraih dan menyelimuti tubuh Melia dengan kimono yang memang sudah disediakan di atas kursi rotan. Dengan posesifnya Antara menarik tangan Melia hingga saat terdengar suara rintihan membuatnya tersadar jika perbuatannya itu membuat Melia kesakitan.


"Maaf, maafkan aku!" Antara menggenggam tangan Melia, namun kali ini dengan lebih lembut. Mereka berjalan menjauh dari kolam tersebut, menyisakan Angel dengan tim lainnya dengan sejuta pertanyaan.


"Sial! Aku yakin tadi dia menghabiskan soda itu hingga tuntas atau jangan-jangan dosis yang aku berikan pada Antara terlalu sedikit?" Angel terus bermonolog. "Tapi… sepertinya tadi ia sempat menikmati sentuhan ku, tapi kenapa tiba-tiba dia marah hingga mendorongku dengan kasar!!" Batin Angel.


Angel tersadar setelah mendapat tepukan seseorang di bahunya.


"Ngapain loh."

__ADS_1


Terdengar helaan napas Angel. "Sudahlah, Gel. Dia udah punya calon istri, cari yang lain sajalah. Toh, dia juga nggak tertarik sama lo!" pungkas Cindy.


Angel meninggalkan Cindy dan lainnya yang termangu di dalam kolam. Tim lainnya segera menghampiri Cindy dan bertanya ada apa dengan Angel. Cindy mengangkat kedua bahunya ke atas menandakan ia tak tahu apa yang terjadi.


..........


Melia yang lupa jika kunci miliknya tertinggal di loker milik Angel saat berganti pakaian, dengan terpaksa ikut masuk ke dalam kamar Antara. Keheningan tercipta sejak mereka masuk ke dalam kamar. Diam seribu bahasa dengan sejuta pertanyaan di benak masing-masing. Namun mereka masih terus menahan diri untuk tidak bertanya lebih dulu. Ego yang tinggi membuat keduanya tak bergeming. Hingga Melia merasa tak nyaman dibuatnya.


Satu kalimat yang diucapkan Melia mampu membuka bibir yang terkatup rapat itu mengeluarkan uneg-uneg nya. "Kamu kenapa, Mas?"


Antara menoleh ke arah Melia, menatapnya lekat.


"Jangan terus diam seperti ini, aku tak suka melihatmu diam seperti ini, katakan saja bila ada yang salah denganku?" Sambung Melia.


"Aku marah, kesal dan cemburu!!" pekik Antara, namun hanya bisa ia teriakkan dalam hati. Ia pun tak tahu apa yang terjadi padanya, rasa bersalah yang menghujam nya saat berbuat kasar pada Angel serta saat menarik tangan Melia pun masih berbekas di ingatannya, bagaimana mungkin dia bisa berbuat seperti itu. Itu sungguh diluar dari kemauannya sendiri. Seakan ia melakukannya dengan sadar.


"Jangan bertanya lagi. Aku yang salah. Sudah cukup." Akhirnya Antara buka mulut dan menjawabnya dengan jawaban yang konyol. Entah apa yang terjadi padanya hari ini hingga membuatnya berubah seketika.


Melia menggeser tubuhnya mendekat ke sisi Antara hingga tak ada jarak yang tersisa. Melia meraih tangan Antara, mengusapnya dengan lembut. "Ceritakan padaku, ada apa dengan, Mas hari ini."


Terlihat bahu Antara yang tadinya berdiri tegap kini mulai melemah. "Aku cemburu."


"Apa! Cemburu? Sama siapa?" tanya Melia dengan heran.


"Aku mendengar kau mengobrol dengan Andi dan timnya. Aku bahkan melihatmu tersenyum dan tertawa bersama." Jelas Antara.

__ADS_1


Penjelasan Antara membuatnya tersenyum dan merasa malu sendiri. "Jadi… kamu berubah seperti tadi karena cemburu pada Mas Andi dan lainnya!"


Alis mata Antara berkerut dan menatap tajam Melia, ia tak suka mendengar saat Melia memanggil Andi dan lainnya dengan panggilan Mas. Seakan panggilan tersebut adalah kata yang sakral, panggilan sayang yang hanya boleh Melia sebut pada dirinya saja.


"Aku tak suka kau memanggil pria yang lain dengan sebutan Mas, hanya aku yang boleh kamu panggil, Mas!" Antara akhirnya berkata jujur pada Melia. Membuat senyum Melia mengembang sempurna. Melia menyandarkan kepalanya di bahu Antara, rasa haru menyelimuti relung hatinya kembali. Ia merasa begitu dicintai oleh Antara.


"Jangan terlalu menunjukkan rasa cintamu padaku, Mas! Aku takut, saat nanti kamu berubah, aku akan tersiksa." tutur Melia sendu.


Antara yang mendengarnya langsung menghadap ke arah Melia, memegangi pundak wanitanya dan menatapnya dalam. "Aku takut tak bisa menahan rasa cintaku agar tak terlalu dalam padamu, Mas. Terlalu cinta, bisa membuat kita menderita nantinya." Lirih Melia.


Perasaan yang sejak tadi ditahannya kini tak bisa ia bendung lagi. Dengan napas yang memburu, Antara menangkup wajah Melia dan menyambar bibir tipisnya dengan rakus. Melia yang mendapat perlakuan yang tiba-tiba membuatnya sedikit tersentak dan berusaha melepaskan ciuman Antara. Antara menyadari perbuatannya dan segera melepas ciuman tersebut.


"Mas! Apa yang kau lakukan!"


Antara yang memang sudah sejak turun on saat melihat Melia memakai baju renang tersebut semakin bernafsu saat kimono yang dikenakan Melia tersingkap, terlihat bahu putih Melia. Tidak sadar menikmati pemandangan itu, terlebih saat dirinya sendiri tak dapat mengontrol tubuhnya. Bukan lagi akal sehat yang mengontrol tubuhnya, kini tubuhnya yang seakan mendorongnya untuk berbuat lebih pada Melia.


Dengan lembut Antara menepis jarak yang Melia bangun tadi. "Jangan , Mas." Melia menolak dengan lembut, ia tahu jika mereka melanjutkannya kembali pasti akan ada sesal dikemudikan hari.


"Tunggu, Mas. Ini tak benar. Aku harus kembali ke kamarku sekarang." lanjut Melia menahan tangan Antara yang mulai meraba tubuhnya.


Tak ada lagi tatapan menghunus yang diberikan Antara, yang ada kini tatapan memohon yang dia tunjukkan saat wanitanya menolak sentuhannya. Saat Melia 'kan beranjak dari tempat tidur, Antara dengan cepat menahannya.


"Tolong! Tolong aku, Mel. Aku tak bisa melakukannya sendiri." ucapnya lemah. Antara semakin tak dapat mengontrol tubuhnya sendiri. Seperti orang yang sedang kelaparan, ingin rasanya ia menarik tangan Melia dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur, namun Antara masih terus berpegang teguh dengan prinsip yang selama ini Melia jaga.


Seketika Melia mematung, mencerna kembali apa yang dimaksud antara barusan, terlebih dengan sikap aneh yang sedari tadi Antara tunjukkan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2