
Weni terlihat kaget dengan apa yang dikatakan Melia padanya.
"Sayang.. Bunda tak akan memihak antara kamu atau Antara karena bunda sudah menganggap mu sebagai anak bunda sendiri. Bunda tahu apa yang kamu rasakan saat ini tapi.. bisakah Bunda meminta kamu memikirkannya sekali lagi?!"
"Ini hanya sementara, Nak. Karin sudah melahirkan dan kini Antara tak lagi punya kewajiban pada diri Karin," lanjut Weni.
"Tapi, Bun. Bukannya setelah Karin melahirkan mereka akan semakin lebih dekat lagi! Ada anak yang membuat mereka terhubung satu sama lain, Bun!" balas Melia menatap sendu sang ibu mertua.
"Bagaimana kalau kamu ikut sama bunda ke rumah sakit.. kita lihat anak Karin. Kasihan anak itu, masih kecil tapi sudah harus merasakan sakitnya jarum infus," tutur Weni membayangkan sang cucu yang sampai saat ini belum bisa dilihatnya.
Weni mengajak Melia ikut bersamanya menengok bayi Karin. Weni berharap dengan Melia ikut bersamanya ke rumah sakit, menjadikan komunikasi antara anak dan menantunya itu bisa kembali terbangun.
Sedikit banyaknya hubungan anak dan menantunya itu juga ada andil yang besar karena keegoisannya hingga membuat Antara menikahi Karin. Weni menjadi merasa bersalah setiap kali Antara dan Melia bertengkar.
Walau alot akhirnya Melia bersedia ikut bersama sang ibu mertua ke rumah sakit, walau sebenarnya enggan tapi Melia pun tak bisa menutup mata saat mendengar kabar bayi Karin yang tengah dirawat secara intensif di ruang NICU karena lahir secara prematur.
***
Sesampainya di rumah sakit, Melia tak langsung menjenguk Karin di kamarnya melainkan mereka langsung ke ruang NICU anak yang letaknya tak jauh dari ruang khusus pasca persalinan.
Melia dan Weni hanya bisa melihat dari dinding kaca yang menjadikan sekat keduanya.
"Itu, Mel, bayinya!" seru Weni menunjuk salah satu bayi di dalam inkubator.
Melia terperangah melihat bayi cantik yang begitu kecil dari ukuran bayi pada umumnya.
"Bun, anak Karin lahir berapa kilo? kenapa terlihat begitu kecil dari sini!" tanya Melia saat menyadari ukuran bayi Karin dengan bayi lainnya yang berada di dalam ruangan yang sama.
__ADS_1
"Beratnya 2 kilo, Mel. Terbilang rendah karena dia lahir sebelum waktunya." sahut Weni.
"Lalu.. kenapa dia tidak bersama Karin? Bukannya setelah melahirkan bayinya akan diberikan pada sang ibu!" katanya lagi.
"Walau beratnya terbilang tidak terlalu rendah dari bayi lainnya tapi tetap saja dia harus berada di dalam inkubator dan mendapatkan perawatan intensif karena lahir sebelum waktu lahirnya. Ada beberapa organ tubuh yang belum siap sempurna menopang hidupnya dari luar perut,"
"Fungsi organ tubuhnya pun belum 100 persen berfungsi dengan baik walau beberapa jam sebelum operasi, Karin diberikan suntikan pematang paru untuk bayi dalam perutnya namun, tetap saja dia mendapatkan beberapa bantuan alat bantu, baik dari pernapasan dengan oksigen maupun untuk selang sonde yang memudahkan dia meminum asi nya ibunya," lanjut Weni menjelaskan.
Melia masih setia berdiri di balik ruang NICU tempat anak Karin dan suaminya dirawat. Ia menatap dengan serius dengan kening yang berkerut menandakan begitu banyak pertanyaan demi pertanyaan yang terlintas di pikirannya saat ini.
Melia masih menatap bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu yang hanya memakai popok dengan mata yang ditutup oleh kaca mata khusus yang digunakan untuk melindungi matanya.
"Kata dokter, Karen kuning dan harus difototerapi dengan sinar UV untuk beberapa hari kedepan," kata Antara yang memecah lamunannya.
Entah sejak kapan Antara berada di samping Melia, Antara menjelaskan apa yang terjadi pada sang buah hati tanpa melihat istri pertamanya itu. Tatapannya fokus menatap anak yang sejak awal tidak diharapkannya itu sedang berjuang hidup.
"Mas…." kata Melia lirih menatap sang suami.
Antara tahu tatapan menelisik Melia saat melihat putri kecilnya itu.
"Melihatnya seperti itu, aku tak tega meninggalkannya , Mel. Aku mencintaimu dan tak ingin meninggalkanmu tapi entah mengapa ada rasa aneh yang menjalar di hatiku ketika menatap bayi kecil itu," kata Antara dengan jujur.
Walau merasa kasihan dengan kondisi Karin yang saat ini lemah dan kini Karin takkan bisa hamil kembali karena rahimnya sudah diangkat namun Antara bertekad akan menjadi Karin dan hanya fokus pada rumah tangganya bersama Melia saja. Antara ingin mempertahankan pernikahannya hingga ajal memisahkan.
Namun entah mengapa saat melihat dan menyentuh jari mungil anaknya, ada perasaan aneh yang dia rasakan. Perasaan dimana ada rasa tak rela jika ia harus meninggalkannya seorang dan diasuh oleh Karin tanpa mendapatkan kasih sayang full dari Papanya.
"Melia tersenyum mendengar perkataan sang suami. "Kamu mencintainya, Mas. Itu perasaan yang wajar yang dimiliki oleh setiap orang tua pada anaknya. Itu tidak aneh, itu hal wajar kok. Aku bisa mengerti itu!" seru Melia masih menatap bayi mungil yang bernama KARENINA ANTARA PUTRI, itulah yang dikatakan Antara tadi padanya saat memberitahukan nama lengkap anaknya.
__ADS_1
"Aku mau melihat Karin dulu, mas disini saja dan tak usah mengantarku, bunda sudah memberitahukan ku nomor kamar perawatan Karin tadi!" kata Melia saat akan beranjak dari tempatnya berdiri saat ini.
"Hemm.. aku akan menyusul setelah masuk dan bertemu dokter anak," jawab Antara mengangguk.
***
Melia masuk ke dalam kamar perawatan Karin, terlihat Weni yang sedang menyuap Karin bubur.
"Karin.. Melia.. " panggil keduanya bersamaan saat matanya bertubrukan.
"Melia, kamu sudah sampai, Nak! Bagaimana, kamu sudah melihat bayinya!" seru Weni dengan tersenyum menyambut kedatangan anak menantunya dengan ramah.
"Iya, Bun. Karen sangat cantik, perpaduan dari wajah Mas Antara dan Karin. Sungguh cantik sekali," sahut Melia menjawab pertanyaan Weni, ibu mertuanya.
"Tentu saja cantik, wajahku dan Antara merupakan perpaduan yang klop dan sempurna. Maka tak heran jika anak kami pun lahir dengan sangat cantik," celetuk Karin saat mendengar penuturan Melia.
Melia tak terlalu menanggapi apa yang dikatakan Karin padanya, Melia menganggap semua perkataan negatif Karin yang ditujukan padanya sebagai angin lalu belaka yang tak akan berefek kuat ada kehidupannya.
"Karen.. Jadi nama cucu Bunda Karen!" Kamu sudah memberi nama rupanya," kata Weni lalu Karin mengangguk.
"Namanya KARENINA ANTARA PUTRI," ucap Karin lagi dengan tersenyum lebar.
"Nama yang indah," balas Weni dengan tersenyum.
"Karin sudah kenyang, Bun. Terima kasih," kata Karin berterima kasih pada sang ibu mertua.
Karin bahagia sekaligus bersyukur karena ibu mertuanya itu mau ikut merawatnya. Padahal, hubungan keduanya tak terlalu akrab.
__ADS_1
Papanya, Sudarma sudah pulang pagi pagi sekali bergantian dengan Weni karena harus menghadiri rapat penting karena harus menggantikan Antara yang belum masuk kantor.
...****************...