
Entah sejak kapan kini keduanya sudah berada diatas kasur. Meluapkan rasa rindu yang telah lama mereka pendam setelah dipisahkan oleh jarak dan situasi. Masih bertukar saliva menikmati kebersamaan mereka yang semakin intim. Tangan Antara bergerilya dengan sangat lincah ke setiap sudut tubuh Melia. Melucuti satu persatu pakaiannya hingga tak tersisa satupun yang menutupi tubuh istrinya. Mengecup kening Melia lalu tersenyum menatap istrinya itu.
"Aku sangat merindukanmu," ucap Antara sembari membelai wajah istrinya dengan lembut. Melia menelusupkan wajahnya tepat di dada suaminya hingga ia bisa dengan jelas mendengar debaran jantung suaminya yang amat kencang. Kau tahu, hati dan jiwaku begitu kosong tanpamu beberapa hari. Aku begitu kesepian tanpamu, Sayang…."
Melia semakin mempererat pelukannya dan sesekali tangannya bergerilya menuju dada bidang milik suaminya, menuliskan satu demi satu huruf yang menghasilkan sebuah kata hingga membentuk satu buah kalimat yang mampu membuat senyum Antara merekah seketika.
"Kau mau kita seharian dikamar?" tebaknya saat berhasil menebak tulisan yang Melia buat di dadanya.
Blushing
Wajahnya seketika memerah saat Antara menggodanya dengan gerakan alisnya yang naik turun dengan cepat. Dengan menahan malu, Melia mengangguk mengiyakan perkataannya yang tampak tersipu malu.
Sejak awal pertemuan saja ia dibuat takjub oleh kedatangan seorang wanita bar-bar yang mengetuk kaca mobilnya dengan keras, kala itu ia melemparkan uang yang dia berikan pada kasir tersebut karena merasa harga dirinya diinjak, padahal hanya masalah sepele, pasal menyerobot antrian, hingga membuatnya marah dan memakinya saat itu. Pertama kalinya seorang Antara, Eksekutif muda dimaki oleh seorang wanita padahal, biasanya ia begitu dielu-elukan oleh para wanita diluar sana. Dia memang berbeda, wanita yang begitu istimewa dan Antara sangat bersyukur bisa mendapatkannya.
Antara begitu gemas melihat sikap Melia yang terlihat berbeda dari biasanya, ya.. Istrinya itu memang wanita yang luar biasa, terkadang menjadi Superwoman dan kini ia terlihat seperti Hello Kitty.
Entah mengapa ia melihat Melia terlihat begitu menggoda, suara manja dan perangainya begitu membuatnya ingin segera memakannya. Antara tak ingin menyia-nyiakan kesempatannya malam ini, kapan lagi ia bisa melihat sang istri begitu manja padanya, bahkan saat sakitpun dirinya begitu tenang tanpa mengeluh apapun padanya hingga membuatnya terkadang merasa jika Melia tak begitu membutuhkan kehadirannya
Dengan tangan lentiknya, Melia membuka satu persatu kancing kemeja suaminya dengan begitu cepat, hingga kini terlihat dengan jelas cetakan dada dan perut kotak-kotak miliknya. Melia begitu lihai memainkan bulatan kecil milik suaminya hingga membuat si empunya menegang. Antara menatapnya dengan penuh nafsu, libidonya seakan naik secara drastis, bukan hanya tubuhnya yang seketika menegang dengan sempurna, namun bagian intinya pun saat ini sudah begitu berdiri tegak dengan sempurna.
Mereka saling menyentuh, mengecup, ******* dan memagutnya penuh gairah. Sedikit terburu-buru ia membuka kancing kemeja suaminya dan disusul Antara yang membuka dengan cepat celana kain yang masih melekat pada tubuh bagian bawahnya, menarik lepas lalu membuangnya ke sembarang arah. Pemandangan yang sudah lama tidak dilihatnya. Ia menelan salivanya dengan susah payah saat melihat betapa tegak junior suaminya berdiri saat ini, bulu kuduknya pun kian bergedik saat melihat tatapan tajam mata suaminya saat menatap tubuh polosnya, ia yakin jika besok pagi ia pasti takkan bisa berjalan dengan tegak, pikirnya.
__ADS_1
Antara kembali ******* bibir itu lebih dalam lagi, mengecapnya dengan rakus. "Aku menginginkanmu sekarang, Sayang," bisik Antara setelah melepas pagutannya, Melia tersenyum dengan napas terengah-engah ia menempelkan dahinya di dahi suaminya.
"Seluruh tubuhku adalah milikmu. Ambillah hakmu, Sayang dengan senang hati aku akan melakukan kewajibanku," balas Melia dengan suara serak yang semakin menggoda Antara.
Melia tersenyum hangat menyambut Antara yang menindihnya, saat akan melesatkan juniornya masuk ke dalam milik sang istri, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
15 menit sebelumnya..
Karin yang tengah gelisah menunggu sang suami tak kunjung kembali ke kamarnya, ia merutuki dirinya sendiri yang entah mengapa begitu cepat tertidur setiap kali Antara membelai perutnya.
"Ya Tuhan… sudah berapa lama mereka bersama diluar sana," ucap Karin, ia begitu frustrasi jika memikirkan apa yang akan Antara dan Melia lakukan diluar sana. Rasanya dia ingin berlari keluar dari kamar dan mencari suaminya namun, ia tak bisa melakukannya. Jika tak mengingat ada janin yang harus dilindungi, saat ini dirinya pasti sudah berada di depan kamar Melia dan mengedornya dengan kuat.
Karena merasa tak tenang, ia terpaksa bangkit dari tidurnya lalu berjalan dengan pelan menuju pintu kamarnya. Pintu sudah terbuka, ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, tak nampak Antara atau Melia disana, ia menatap tangga di sebelah kirinya, "Mungkinkah mereka disana saat ini!" ucap Karin bermonolog.
Rasanya ingin berlari dan menaiki tangga itu namun ia tak bisa melakukannya saat ini, terlebih dengan kondisinya yang tengah hamil muda seperti ini. Dia tak ingin mengorbankan keselamatan janinnya, baginya.. anak ini adalah penghubung dan pengikat antara dirinya dan suaminya. Ia tak mungkin melepaskan kesempatan untuk bisa memonopoli seluruh perhatian Antara.
'Pucuk dicinta ulam pun tiba', mungkin itu pribahasa yang cocok untuknya saat ini. Saat dirinya membutuhkan seseorang untuk membantunya naik ke lantai 2 dan datanglah bik Nani yang entah dari mana datangnya.
"Bik! Bik Nani…" pekik Karin dengan cukup keras.
"Ia, Non Karin, ada yang bisa Bibi bantu!" seru Bik Nani saat mendengar Karin memanggilnya.
__ADS_1
"Aku mau nanya.. Bunda, Antara dan Melia pada kemana? Rumah kok sepi banget?" tanya Karin selidik.
Oh.. kalau Nyonya besar tadi saya lihat masuk ke kamar, katanya mau istirahat. Kalau Den Antara sih sejak tadi bibi tidak lihat, tapi kalau Nyonya muda.. Bibi tadi lihat beliau naik ke atas waktu Non Karin di bawah masuk ke dalam kamar sama Den Antara!" jelas Bik Nani.
"Antara kemana sih.. istrinya lagi sakit malah keluyuran!" gumam Karin dengan kesal.
Tiba-tiba terdengar suara ponsel yang entah milik siapa.
Kring.. kring.. kring…
"Itu suara ponsel siapa? Punya bibi!" Seru Karin saat mendengar dering ponsel.
"Bukan, Non, bukan punya Bibi!"
"Terus.. punya siapa kalau bukan Bibi!" kata Karin penasaran, "Tapi kok suaranya nyaring banget, ponselnya pasti berada disekitar ini," batin Karin, "tolong dicariin, Bik suaranya dari mana, sepertinya tidak jauh!" imbuh Karin, ia menyuruh Bik Nani mencari suara ponsel tersebut.
Setelah mencari di beberapa tempat akhirnya ia menemukannya, ponsel tersebut tergeletak di atas meja makan. "Ini, Non. Sepertinya ini punya Den Antara!" Pungkas Bik Nani saat melihat layar ponsel dengan wallpaper bergambar nyonya mudanya ketika tersenyum lebar.
Karin mendengus dengan kasar melihat foto Melia yang tersenyum bahagian seraya dipeluk oleh suaminya, "Kan benar feelingku.. dia pasti ada dirumah, dia tak mungkin pergi dan meninggalkan ponselnya di rumah! Aku yakin dia pasti sedang bersama wanita itu saat ini," geram Karin, hawa panas menjalar ke ubun-ubun, begitu panas hingga membuat matanya berkaca-kaca memikirkan apa yang mereka lakukan di atas sana, di dalam kamar berduaan sejak tadi.
...****************...
__ADS_1