
Sikap Melisa sungguh di luar dugaan. Tanpa ada rasa malu dia langsung menghampiri Alfa yang sedang berdiri bersama Dr Arnol, Aleta juga Oma Alira. Namun Alfa sama sekali tidak menghiraukan keberadaannya. Sikap Alfa itu seketika membuat Aleta dan Oma Alira saling menatap satu sama lain sambil tersenyum.
"Dok,, bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Alfa dengan tampang yang masih terlihat tegang.
"Tenang saja Pak Alfa. Anda tidak perlu khawatir, karena Istri anda sudah sadarkan diri. Dia akan baik-baik saja. Walaupun keadaannya sekarang masih sangat lemas." Jelas Dr Arnol.
"Bagaimana dia tidak khawatir Dok. Di zaman sekarang ini, mau cari di mana lagi wanita seperti istrinya. Selain cantik, istrinya itu wanita yang patut untuk di pertahankan. Karena tidak muda menemukan wanita cantik yang hanya punya satu laki-laki di dalam hidupnya." Ujar Oma Alira sambil melirik sesaat ke arah Melisa.
"Iya Nyonya Besar. Cucu menantu anda memang sangat cantik luar biasa. Beberapa perawat yang membantu menanganinya tadi juga berkata demikian. Kecantikannya terlihat jelas walau dalam keadaan sakit." Sambung Dr Arnol yang membuat wajah Melisa berubah seketika.
Pujian Oma Alira dan Dr Arnol terhadap Shelina benar-benar membuat Melisa berekspresi aneh. Dari tampangnya terlihat jelas suasana hatinya saat itu. Dia sepertinya tidak terima mendengar semua pujian terhadap Shelina. Walaupun dia sendiri sudah melihat bagaimana sosok Shelina. Saat mereka sama-sama menghadiri acara di Bali beberapa waktu lalu.
Kehadiran Shelina menemani Alfa waktu di Bali sungguh membuat malu Melisa. Dia datang sebagai tamu penting menemani Alfa seorang pengusaha yang di nantikan dalam acara tersebut. Sedangkan Dirinya hanya di undang sebagai model. Untuk memperagakan beberapa pakaian juga tas dari brand ternama, yang di promosikan dalam acara besar itu.
'Hmmm... Mana ada wanita luar yang hidup hanya dengan satu orang pria? Dia pasti sudah membohongi mereka dengan wajah polosnya. Biar mereka mengira kalau dia memeng wanita yang lugu.' Batin Melisa sambil membuang muka menghindari lirikan Oma Alira juga Aleta.
"Dok,, apa yang membuat menantu saya tiba-tiba jadi seperti itu?" Tanya Aleta dengan tatapan serius.
"Saya beluk bisa pastikan Nyonya. Karena hasil pemeriksaan menantu Nyonya besok baru bisa di ketahui." Jawab Dr Arnol.
"Apa saya bisa melihat keadaannya Dok?" Pertanyaan Alfa yang langsung di sambut oleh Melisa.
"Alfa,, apa kita bisa bicara sebentar? Ada hal penting yang ingin aku sampaikan." Ucap Melisa sambil meraih lengan Alfa tanpa ada rasa malu.
"Halo Nona,, apa kamu tidak melihat kondisi yang ada? Dia itu suami orang yang datang ke sini untuk melihat keadaan istrinya. Bukan untuk membicarakan hal-hal yang tidak penting. Ini RS. Bukan kafe tempat mengobrol." Sambung Oma Alira dengan segera.
__ADS_1
"Ayo Alfa! Kita ke dalam melihat keadaan Shelina. Keadaannya lebih penting dari pada apapun." Sambung Aleta dan segera menarik tangan Alfa memasuki ruang rawat Shelina.
"Ngapain lagi kamu di sini? Apa kamu mau menunggu seperti seorang pengemis?" Tanya Oma Alira dengan tatapan sinis. Yang berhasil membuat raut wajah Melisa memerah saking malunya.
"Ayo kita pergi!" Ucap Melisa kepada dua orang wanita di sampingnya. Kemudian dia langsung pergi tanpa berpamitan.
"Hmmmm.. Dasar jelangkung. Datang tidak di jemput, pulang pun tidak di antar. Punya malu ngga sih?" Oma Alira berkata-kata sendirian, dengan tatapan sinis ke arah Melisa yang sudah berlalu pergi dari hadapannya.
*******
Melihat keberadaan Aleta juga Alfa di depan pintu. Beberapa perawat yang sedang mengelilingi Shelina langsung menjauh. Sedangkan Shelina yang hanya terlentang dengan infus melekat di tangannya, hanya tersenyum menatap Mama mertuanya.
Sebagai seorang Ibu, Aleta selalu keras menghadapi setiap wanita yang ingin mendekati putranya. Namun di depan Shelina, dia terlihat begitu lembut. Apalagi melihat keadaan Shelina terbaring lemas di atas tempat tidur RS seperti saat itu.
"Sayang,, apa yang kamu rasakan?" Tanya Aleta sambil mengusap-usap kepala Shelina.
"Apa karena pengaruh datang bulan?" Tanya Aleta dengan tatapan mencari tahu.
"Iya Ma. Aku selalu kesakitan di saat datang bulan." Jawab Shelina.
"Apa kamu sudah pernah konsultasi ke Dokter? Takutnya ada apa-apa." Tanya Oma Alira yang sudah berdiri tepat di samping Alfa.
"Belum Oma. Aku takut memeriksakan keadaan Aku ini ke Dr." Jawab Shelina.
"Mas,, apa kita bisa langsung pulang sekarang?" Tanya Shelina sambil menatap Alfa yang berdiri tepat di samping kepalanya.
__ADS_1
"Belum bisa sayang. Kamu harus di rawat dulu. Kalau hasilnya sudah keluar besok, baru bisa putuskan kapan kamu pulang." Sambung Aleta.
"Tapi aku sudah merasa lebih baik Ma. Aku ngga betah berada lama-lama di sini." Jawab Shelina dengan lirikan yang aneh ke arah Alfa.
Lirikan Shelina benar-benar membingungkan Alfa. Laki-laki dingin itu merasa ada yang tidak beres melihat ekspresi istrinya. Begitupun dengan Oma Alira dan Aleta. Sebagai sesama wanita, mereka tahu kalau ada sesuatu yang membuat Shelina bersikap seperti itu.
"Aleta,, mending kamu pulang dulu sama Alfa. Kamu harus mengurus suamimu. Alfa juga harus mengganti pakaiannya. Karena dia harus menginap di sini malam ini bersama Shelina." Ujar Oma Alira.
"Terus siapa yang menemani Shelina Ma?" Tanya Aleta dengan segera.
"Biar Mama saja. Nanti kalau Alfa sudah kembali, baru Mama pulang dengan supir." Jawab Oma Alira.
Oma Alira memilih tinggal sebentar bersama Shelina bukan tanpa sebab. Setelah Aleta dan Alfa pergi meninggalkan ruang rawat Shelina, Oma Alira mulai mengajak ngobrol Shelina tentang apa yang sedang dia rasakan.
"Sayang,, Oma berharap kamu baik-baik saja. Tapi dari caramu bersikap, Oma yakin kalau semua tidak seperti yang Oma harapkan." Ujar Oma Alira memulai percakapan.
"Aku baik-baik saja Oma. Makanya itu aku ingin segera pulang." Shelina tetap berusaha menyembunyikan apa yang ada dalam hati dan pikirannya.
"Ada apa sebenarnya sama kamu? Ayo bicarakan sama Oma. Oma akan berusaha mencari jalan keluarnya."
"Aku tu kesal banget sama wanita itu Oma. Dia sepertinya punya rasa sama Mas Alfa." Jawab Shelina mulai terbuka.
"Wanita yang mana?" Tanya Oma Alira dengan tatapan serius.
"Wanita yang tadi ada di luar Oma. Aku melihatnya tadi dari kaca itu." Jawab Shelina sambil menunjuk ke arah pintu yang terdapat kaca.
__ADS_1
"Maksud kamu Melisa? Kamu tidak usah memperdulikan wanita semacam itu. Dia tidak sebanding denganmu. Dan Alfa pun tahu siapa wanita yang terbaik untuk dia. Jadi kamu tidak usah khawatir selama Alfa masih berada di samping kamu." Dengan penuh keyakinan Oma Alira menenangkan Shelina.
Suasana hati Shelina ternyata sedang di landa rasa cemburu karena melihat keberadaan Melisa tadi. Apalagi saat mengingat sikap Melisa yang begitu berani mendekati Alfa saat berada di Bali waktu itu. Dia sudah berusaha untuk meyakinkan dirinya, kalau Alfa hanya miliknya saja. Namun sikap dinginnya Alfa malah membuatnya ragu.