
Malam itu Alfa terlihat begitu aneh. Dia yang sangat tidak menginginkan keberadaan Shelina, seketika mematung tanpa bisa berkata-kata menerima semua perlakuan Shelina. Apalagi Shelina begitu sabar mengurus dirinya yang sedang terluka. Kelembutan sentuhan tangan Shelina pada bagian perutnya, membuat Alfa semakin gugup dengan perasaan yang tak menentu. Ingin sekali dia menolak apa yang di lakukan Shelina, namun bibirnya seketika terasa kaku untuk mengeluarkan kata-kata.
"Mas,, kamu tidur ya..! Nanti kalau mau perlu apa-apa, kamu bisa menelpon aku. Ini nomor telpon ku." Ujar Shelina setelah selesai membalut luka Alfa. Dan dia juga menulis nomor telponnya di sepenggal kertas yang dia letakkan di samping Alfa.
Melihat perhatian Shelina yang begitu tulus menghadapi dirinya yang selalu dingin, membuat Alfa semakin bingung pada pendiriannya. Dan di saat Shelina akan melangkah keluar dari kamarnya, tanpa sadar Alfa pun langsung meraih tangannya. Apa yang di lakukan Alfa benar-benar membuat Shelina kaget. Dengan segera Shelina pun langsung berbalik menghadapnya dan bertanya.
"Ada apa Mas? Apa ada yang kamu perlukan?" Tanya Shelina dengan segera.
"Tidak ada." Jawab Alfa dan langsung buru-buru melepaskan tangan Shelina.
"Terus kenapa Mas menahan ku?" Tanya Shelina bingung.
"Saya hanya ingin bilang sama kamu, sekuat apapun kamu mendekati saya. Anggapan saya tetap sama. Kalau kamu itu hanya seorang wanita munafik yang masuk ke dalam hidup saya dengan niat tertentu." Ujar Alfa dengan tampang datarnya.
"Terserah apa yang Mas pikirkan tentang aku. Aku tidak pernah berusaha untuk mendekatimu. Aku hanya ingin menjalankan tugasku sebagai istri di rumah ini. Walaupun pernikahan kita hanyalah sebuah kesempatan." Jawab Shelina dengan begitu tegar.
__ADS_1
Shelina yang sudah lelah untuk bersedih dengan perlakuan Alfa, tidak ingin mengeluarkan air matanya lagi, hanya karena kata-kata Alfa yang sudah terbiasa dia dengar. Dalam diam dia pun meyakinkan hatinya, kalau kebahagiaan hidupnya bukan bersama Alfa. Tapi kebersamaan mereka saat itu dia anggap sebagai ujian, untuk dia bisa menjadi sosok wanita yang lebih kuat dalam menjalani hidup.
"Aku mau ke kamarku. Kalau ada yang Mas butuhkan, hubungi aku saja! Karena aku tidak ingin di salahkan kalau sampai terjadi apa-apa sama Mas." Shelina berkata-kata tanpa menatap Alfa, kemudian melangkah keluar dari kamar Alfa.
Melihat sikap Shelina yang terkesan cuek dengan sikap dinginnya, seketika membuat laki-laki kaku itu jadi merasa ada sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Dia sendiri jadi bingung dengan apa yang sedang dia rasakan saat itu. Ingin sekali dia menjauh dari Shelina. Namun sikap Shelina barusan membuatnya dia tiba-tiba merasa sepi. Tapi walaupun begitu, dia juga tidak ingin terlalu banyak berpikir, dengan keadaannya yang sedang terluka seperti itu.
Sampainya di dalam kamar, Shelina pun memilih untuk langsung tidur. Sambil memejkan mata dalam kamar yang hanya di terangi lampu tidur, Shelina pun mulai bergumam di dalam hatinya.
"Mungkin dia bukan jodohku. Jadi tidak perlu aku merasa terluka dengan semua sikap dan kata-katanya. Aku harus kuat untuk bertahan sampai pada waktunya. Setahun bukanlah waktu yang singkat. Tapi aku harus bisa berdiri dengan kakiku sendiri, juga ketegaran hatiku. Aku tidak ingin menggantungkan hidupku kepada orang yang tidak pernah menginginkan kehadiranku. Walaupun itu tanggung jawabnya."
Shelina berusaha untuk meyakinkan hatinya. Karena hanya dengan begitu, dia bisa terlepas dari harapan hampa yang di berikan oleh Mama mertuanya. Dia tidak ingin memperjuangkan sesuatu yang bukan di takdir kan untuknya. Karena apa yang di harapkan keluarga Alfa dengan pernikahan mereka, tidak akan pernah menjadi sebuah kenyataan bagi Shelina.
"Aku harus buru-buru menyiapkan semua yang dia butuhkan. Biar aku bisa pergi sebelum dia bangun." Shelina berkata-kata sendirian, sambil buru-buru melangkah menuju lantai bawah.
Pekerjaan rumah adalah hal yang sangat mudah, untuk Shelina yang sudah terbiasa mengerjakannya setiap hari di London. Dia tidak pernah merasa terbebani dengan semua pekerjaan itu. Apalagi dia adalah seorang wanita yang sangat suka berada di dapur. Dan karena itulah, sehingga dia sama sekali tidak keberatan di saat Alfa memilih, untuk tidak memakai jasa pembantu di rumah mereka.
__ADS_1
Selesai mengerjakan semuanya, Shelina pun memilih untuk membawa sarapan untuk Alfa. Dan setelah meletakan apa yang dia bawa di atas meja tepat di samping tempat tidur Alfa, Shelina segera keluar dari kamar Alfa dan melangkah menuju kamarnya. Tanpa berlama-lama dia pun memilih untuk mandi walaupun waktu masih menunjukan pukul 6:30 pagi. Dinginnya air yang membasahi tubuhnya, tidak membekukan semangatnya pagi itu untuk mencari pekerjaan tanpa sepengetahuan Alfa.
Dengan penampilan yang sudah sangat rapi, Shelina pergi meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Dia hanya membawa ponsel di tangannya. Karena tidak ada satupun yang bisa Shelina bawa dalam mencari pekerjaan. Hanya semangat yang membuat Shelina berani menguji nasib, di kota yang masih sangat asing baginya.
"Selamat pagi Bu,, apa di sini ada lowongan kerja buat saya?" Tanya Shelina kepada seorang wanita di sebuah restoran.
"Maaf Nona. Kita tidak punya lowongan." Jawab wanita itu.
Kegagalan Shelina setelah memasuki beberapa tempat untuk mencari pekerjaan, tidak membuatnya berputus asa. Diapun sadar dengan penolakan dari beberapa tempat yang sudah dia datangi. Karena dia tidak memiliki ijazah yang bisa menjadi pegangan dalam mencari pekerjaan. Dengan wajah yang terlihat lesu di bawah terik matahari, Shelina terus melangkahkan kakinya tanpa henti. Dan tiba-tiba, dia langsung mematung di samping jalan. Di saat melihat ada info lowongan pekerjaan di sebuah kafe yang di tempel tepat di samping jalan.
Tanpa berlama-lama, Shelina segera menuju kafe yang ternyata letaknya tidak jauh dari tempat dia berada. Sambil menarik nafas panjang dan berdoa di dalam hati, Shelina melangkah masuk menghampiri seorang laki-laki yang sedang duduk di depan sana.
"Siang Pak. Apa di sini ada lowongan kerja buat saya?" Tanya Shelina dengan begitu sopan.
"Di sini memang ada lowongan kerja Nona. Tapi hanya untuk orang yang bisa bernyanyi. Kita butuh seorang penyanyi yang bisa menghibur para tamu." Jelas laki-laki itu.
__ADS_1
"Aku bisa ko Pak. Aku bisa bernyanyi. Kalau Bapak ragu, aku bisa membuktikannya." Ujar Shelina penuh semangat.
"Ya sudah kalau gitu. Kamu bisa bernyanyi di depan sana. Kalau para tamu suka, aku akan menerimamu. Tapi kalau tidak aku minta maaf." Jawab laki-laki itu dengan sangat ramah.