
Hujan yang tak kunjung reda, mengguyur membasahi tubuh yang rapuh di bawah kegelapan langit di malam itu. Suara petir yang menggelegar memecahkan keheningan malam, tidak membuat Shelina beranjak dari tempat duduknya. Derai air mata bercampur dengan tetesan hujan, membuat wajah cantik Shelina terlihat begitu menyedihkan. Shelina yang masih berada di taman tidak tahu harus ke mana. Walaupun dia sudah menggigil menahan kedinginan bercampur ketakutan, namun dia belum juga menemukan jalan keluar, untuk bisa melindungi dirinya dari pemburuan Farel.
Malam itu alam semesta sepertinya merasakan penderitaan yang sedang di alami oleh gadis malang itu. Shelina yang tak berdaya untuk menyelamatkan dirinya sendiri, hanya bisa pasrah menerima apa yang akan terjadi nanti. Dia hanya bisa menangis di bawah derasnya hujan tanpa bisa berbuat apa-apa.
Di saat-saat susah seperti itu, Shelina hanya bisa mengingat seseorang yang selalu ada di saat dia butuh. Yang tidak lain adalah Chelsea sahabat baiknya. Tapi kali ini, Shelina tidak bisa meminta pertolongan Chelsea, karena dia sudah ikut bersama kedua orang tuanya yang sudah menetap di Jerman, beberapa hari yang lalu. Sambil menatap ke arah langit yang selalu mengeluarkan cahaya menakutkan dan di iringi suara petir, Shelina pun mulai berkata-kata.
"Chel,, aku selalu berdoa semoga hidupmu semakin bahagia bersama keluargamu. Aku tidak mau lagi menyusahkan mu. Apalagi saat ini kamu sudah berada jauh di sana. Aku tidak tahu, apakah kita masih bisa bertemu lagi? Karena saat ini, nasibku sudah berada di ambang kehancuran. Maafkan aku yang selalu merepotkan mu juga keluargamu." Shelina berkata-kata dengan berderai air mata. Mengenang orang yang selalu menaninya, di saat orang lain tidak menginginkannya.
Chelsea dan keluarganya adalah orang-orang yang sangat baik terhadap Shelina. Mereka selalu membuka tangan untuk membantu Shelina setiap kali dia butuh bantuan. Dan karena kebaikan mereka itulah, sehingga Shelina tidak mau mengabari mereka walau dalam keadaan sesulit itu.
Karena tidak ada jalan keluar, sepintas pemikiran ingin mengakhiri hidupnya terlintas dalam pikiran yang begitu kalut. Namun Shelina pun tersadar seketika, di saat mengingat semua pengorbanan yang telah dia lakukan selama ini. Tapi yang bisa dia lakukan saat itu hanyalah menangisi nasibnya, yang tak kunjung terlepas dari kejamnya dunia. Dalam keputusasaan, Shelina pun menundukkan kepalanya sambil bergumam di dalam hati.
"Ya Tuhan,, apa salahku sampai harus menanggung semua ini? Aku tidak menginginkan apapun. Tapi aku berharap, engkau bisa menyelamatkan aku, dari sesuatu yang sangat aku takutkan saat ini.
__ADS_1
Tepat pukul 4:00 dini hari, hujan pun mulai reda walaupun awan hitam masih menutupi langit di atas sana. Sudah hampir dua jam Shelina berada di kursi taman dengan keadaan basah kuyup. Ketakutan Shelina semakin bertambah parah karena menyadari siang akan datang. Dia semakin kebingungan mencari tempat perlindungan. Dan di saat melihat ada sebuah mobil yang berhenti di dekat taman, Shelina seketika jadi panik. Tanpa menunggu lama, Shelina yang sudah sangat ketakutan langsung berdiri dari tempat duduknya, dan memilih untuk bersembunyi di belakang bangku taman. Di saat melihat beberapa orang yang dia kenal keluar dari dalam mobil itu.
Tubuh yang menggigil karena kedinginan, semakin bergetar karena begitu takut dengan orang-orang yang sedang melangkah memasuki taman. Sambil menutup mata juga mulutnya dengan sebelah tangannya, Shelina pun berdoa di dalam hati.
"Ya Tuhan,, tolong selamatkan aku. Aku sangat tidak berdaya untuk melindungi diriku sendiri. Namun aku juga tidak ingin kembali lagi ke tengah-tengah keluarga yang begitu kejam terhadapku. Tolong aku Tuhan."
Saking takutnya sehingga Shelina sampai sulit untuk bernafas. Dia juga tidak ingin membuka mata melihat keadaan di sekitarnya. Tapi tiba-tiba ada seseorang yang membius Shelina dari arah belakang, dan membuat Shelina langsung tidak sadarkan diri.
Malam itu Farel yang sedang berada di rumahnya, tidak bisa tertidur karena memikirkan rencananya yang hancur berantakan. Dia duduk di ruang keluarga, sambil melihat gambar Shelina yang ada di layar ponselnya sambil berkata-kata.
"Pa,, apa Papa tidak ngantuk?" Tanya Karina yang baru saja turun dari lantai atas bersama Putri.
"Bagaimana aku bisa tidur? Di saat Ratu sedang terkurung di dalam penjara. Aku tidak akan mengampuni anak tidak tahu diri itu. Aku akan langsung menghabisinya kalau sampai dia di temukan." Jawab Farel dengan tatapan yang begitu tajam.
__ADS_1
"Tidur dulu Pa,,! Anak buah mu pasti bisa menemuinya. Mau pergi ke mana dia? Dia itu tidak tahu jalan kemanapun. Jadi Papa tidak perlu khawatir! Apa yang dia lakukan terhadap kita, pasti akan terbayarkan setelah mereka membawanya ke sini." Ujar Karina sambil mengusap-usap pundak suaminya. Berusaha untuk menenangkannya.
Sedangkan Putri yang sedang berdiri di belakang kedua orang tuanya sama sekali tidak bersuara. Tapi di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia merasa kasihan dengan Shelina yang sudah menjadi korban kekejaman keluarganya. Sambil menatap kedua orang tuanya dari arah belakang, Putri mulai bergumam di dalam hatinya.
"Shelina,, di manapun kamu berada, aku harap kamu tidak akan di temukan oleh anak buahnya Papa. Larilah sejauh mungkin! Semoga ada orang yang bisa menolong mu. Maafkan aku karena tidak bisa membantumu.
Kekejaman Farel dan beberapa anggota keluarganya terhadap Shelina, membuat Putri yang awalnya juga tidak menyukai Shelina, jadi menyadari kesalahan keluarganya. Sejak kecil dia tidak pernah mengalahkan keluarganya yang begitu membenci Shelina. Dia berpikir, mereka seperti itu, karena Shelina bukan anak kandung orang tuanya. Tapi di saat Ayahnya memerintahkan Shelina untuk menjebak seorang laki-laki asing di dalam kamar hotel, Putri pun kaget karena tidak menyangka, kalau mereka bisa setega itu memperlakukan Shelina.
"Putri..." Suara Farel yang membuat jantung Putri seketika berdetak kencang saking kagetnya.
"Iya Pa,," jawab Putri.
"Apa kamu tahu rumah sahabat Shelina yang bernama Chelsea itu?" Tanya Farel tanpa menatap ke arah Putri.
__ADS_1
"Aku tidak tahu Pa. Lagian buat apa juga aku harus tahu rumah sahabatnya? Ngga penting bangat." Jawab Putri berpura-pura judes, seakan-akan tidak perduli dengan Shelina.
Putri yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Shelina, berpura-pura tidak mengetahui rumah Chelsea. Padahal tanpa Shelina ketahui, Putri sering mengikutinya di saat dia pergi ke rumah Chelsea. Mendengar Ayahnya menyebut nama Chelsea, seketika timbul harapan di dalam benak Putri kalau Shelina ada bersama Chelsea.