JODOH YANG TAK DISANGKA

JODOH YANG TAK DISANGKA
Bab 54. Fakta Yang Di Ketahui.


__ADS_3

Malam itu Shelina sangat gelisah memikirkan hubungan Alfa bersama wanita lain, yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Walaupun sudah hidup berdua dalam satu atap sebagai sepasang suami istri, namun Shelina sama sekali tidak pernah mencari tahu tentang urusan pribadi, laki-laki yang telah menikahinya itu. Apalagi dia pun sadar dengan status pernikahan mereka yang hanya sebuah kesepakatan tertulis.


Dari raut wajah Shelina, terlukis rasa kecewa di dalam hatinya mengetahui kenyataan tentang suaminya. Namun dia tetap mencoba untuk berbesar hati, demi menguatkan hatinya yang saat itu terluka karena cinta yang tak terbalas. Sambil memeluk guling di atas tempat tidurnya, Shelina pun mulai bertanya-tanya di dalam hatinya.


"Apa karena wanita itu, sampai Mas Alfa selalu bersikap dingin terhadapku? Aku yakin dia sangat mencintai wanita itu. Sampai dia tidak pernah mau bersikap manis terhadapku. Aku harus membuang jauh rasa ini. Karena aku akan sangat terluka, apabila rasa ini semakin menguasai diriku."


Di balik wajah polosnya, Shelina memiliki hati yang sangat kuat. Dia begitu sabar dan selalu bersikap tegar walau hatinya sedang terluka.


Sedangkan jauh di sana, Alfa yang sudah mengetahui perbuatan Papanya, hanya terdiam di depan tv melihat berita tentang pembunuhan, yang di lakukan oleh Papanya namun tidak di ketahui orang. Tapi tiba-tiba datang Fara dari arah depan sambil membawa sesuatu di tangannya.


"Sayang,, paket apa itu?" Tanya Melda yang baru saja datang dari arah belakang bersama Aleta.


"Ini paket yang mau aku kirim buat Mba Shelina. Tapi aku suruh antar ke sini." Jawab Fara dan langsung duduk di samping Alfa bersama kedua Mamanya itu.


"Coba sini Mama lihat!" Ujar Aleta yang terlihat begitu penasaran dengan paket yang sudah Fara letakan di atas meja.


"Jangan di buka ya Ma! Itu kan pesanan Mba Sheli." Ujar Fara memperingati Mamanya.


"Memangnya ini apaan sih?" Tanya Melda yang juga tidak kalah penasaran.


"Ini hanya parfum. Tapi parfum ini belum ada di Indonesia." Jawab Fara yang membuat kedua wanita di sampingnya semakin penasaran.


"Ini parfum apa sih? Ko ngga ada di Indonesia?" Tanya Melda.

__ADS_1


"Iya Ra,, parfum apaan sih?" Sambung Aleta yang juga ingin tahu, jenis parfum apa yang di pesan oleh menantunya jauh-jauh di Amerika.


"Ya sudah,, kalau kalian ingin tahu parfum seperti apa? Buka saja! Tapi kalau sampai kalian mencobanya, kalian harus janji untuk menggantikannya dengan yang baru!" Ujar Fara membuat kedua wanita itu langsung bersemangat.


"Iya,, iya,, kita janji akan beli ganti." Jawab Melda. Ibu mertua sekaligus Tantenya Fara.


Di saat Mama juga Tantenya sedang sibuk dengan parfum pesanan Shelina, Alfa yang sudah mulai merasa terganggu semakin mematung dengan tampang datarnya. Dan tidak lama dia pun langsung berdiri kemudian melangkah pergi menuju depan tanpa bersuara. Itulah sifat Alfa yang sebenarnya. Dia tidak ingin terganggu dengan obrolan-obrolan para wanita.


"Wooow,, parfumnya wangi banget.." Ujar Melda setelah mencoba sedikit parfum pesanan Shelina.


"Iya ya? Parfumnya enak banget.. Pantesan ngga ada di Indonesia." Sambung Aleta.


"Kita harus beli Al! Laki-laki dingin seperti suami kita, harus di pancing dengan aroma parfum seperti ini." Ujar Melda sambil tersenyum menatap Aleta, yang juga tersenyum karena setuju dengan usulan Melda.


Mereka semua sudah berkumpul di meja makan. Yang tidak ada hanyalah Riyan juga Alfa. Karena tidak ada suaminya, akhirnya Fara pun memilih untuk makan siang bersama Riyan di dalam kamar tidur mereka. Dan tidak lama dari situ, Alfa pun datang setelah di panggil salah seorang Bibi.


Dari jauh Alfa bersikap biasa-biasa saja dengan tampang khasnya. Tapi setelah berada dekat dengan meja makan, langkahnya langsung terhenti dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan. Melihat Alfa yang hanya terdiam seperti patung, Melda pun langsung bersuara.


"Alfa,, kamu kenapa hanya diam di situ sayang? Sini kita makan sama-sama!" Suara Melda yang membuat Alfa segera melangkah menuju meja makan tanpa bergumam.


Aroma parfum yang semakin tercium jelas, membuat Alfa mulai tidak bisa berkonsentrasi. Dia terlihat sangat gelisah menghadap meja makan. Aroma itu masih melekat dalam penciuman juga pikiran Alfa. Ingatan akan malam itu seketika terngiang-ngiang dalam kepala Alfa, yang hanya terdiam dengan raut wajah yang terlihat sangat aneh.


"Fa,, setelah ini kamu bisa ngga antar Mama sama Tante?" Tanya Aleta yang sama sekali tidak menyadari ekspresi putranya.

__ADS_1


"Iya Fa,, Tante sama Mama kamu mau membelikan parfum pesanan Shelina. Karena tadi kami sudah mencobanya. Menurut kamu parfumnya wangi ngga?" Sambung Melda yang membuat Alfa langsung menatapnya tanpa bersuara.



"Alfa,, kamu ko bingung? Ada apa sayang?" Tanya Melda karena ekspresi Alfa terlihat begitu aneh menurutnya.


"Apa ini parfum yang di pesan Shelina Ma?" Tanya Alfa dengan tatapan serius.


"Iya sayang. Ini parfum pesanan istrimu. Kurirnya sudah antar ke sini buat Fara. Tapi Mama sama Tante sudah mencobanya. Jadi kita mau beli ganti." Jawab Aleta yang membuat Alfa langsung mematung tanpa ekspresi.


"Ada apa sebenarnya sama kamu?" Tanya Aleta yang sudah mulai merasa ada yang aneh dengan sikap putranya.


"Saya ngga apa-apa Ma. Aku hanya lagi kepikiran dengan urusan kantor." Jawab Alfa berbohong.


Dalam diam Alfa menyantap makanan yang ada di dalam piring, sambil memikirkan kesala pahaman yang sudah menguasai dirinya selama ini. Namun dia juga tidak dapat berbuat apa-apa. Karena kesala pahaman itu telah menciptakan situasi buruk antara dia dan Shelina. Apalagi dia sama sekali tidak ada perasaan apapun terhadap wanita cantik yang sudah dia nikahi itu.


"Ma aku mandi dulu ya,,! Setelah itu baru kita pergi." Ujar Alfa setelah selesai makan.


"Kamu ko makannya sedikit sih sayang?" Tanya Aleta bingung.


"Aku lagi ngga ***** makan Ma." Jawab Alfa dan langsung melangkah pergi meninggalkan meja makan.


Alfa melangkah menuju kamar yang dia tempati sambil memikirkan kesalahan yang sudah dia lakukan selama ini. Di satu sisi Alfa memang merasa bersalah karena telah menganggap buruk wanita yang telah menjadi istrinya. Namun di sisi lain, kata maaf tidak mudah untuk dia ucapkan atas kesalahannya selama ini. Semua itu karena ego juga rasa gengsi yang ada dalam dirinya. Apalagi dia menyadari hubungan antara dia dan Shelina, hanyalah sebuah kesepakatan yang sudah dia buat secara tertulis. Alfa berpikir biarlah semua berjalan seperti itu, walau kenyataan yang sebenarnya telah dia ketahui.

__ADS_1


__ADS_2