
Gemuruh yang menggelar memecahkan keheningan di malam itu, sama seperti detakan jantung Shelina yang begitu kencang saking takutnya. Dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca, Shelina mencoba untuk berteriak meminta tolong. Namun tidak ada satupun orang yang terlihat di tempat itu, selain dia dan kedua laki-laki yang berada di hadapannya.
"Tolooooong... Tolong aku..." Teriak Shelina dengan suara yang sangat keras.
"Hahahaha,, percuma saja kamu berteriak. Di sini hanya ada kita bertiga. Apa kamu tidak tahu? Kalau jalan ini hampir tidak pernah di lalui orang. Apalagi di waktu malam seperti ini." Ujar salah seorang laki-laki di hadapannya sambil menertawainya.
"Jangan sakiti aku..! Aku mohon..!" Pinta Shelina dengan kabut air mata yang sudah memenuhi kelopak matanya.
"Jangan takut manis! Kita tidak akan menyakitimu. Tapi kita hanya ingin mengantarmu pulang ke negaramu, untuk menemui keluargamu yang sedang menunggu kedatangan mu." Jawab salah seorang laki-laki di hadapannya itu.
Tanpa berlama-lama, kedua laki-laki itu segera menangkap Shelina, dan membawanya menuju mobil mereka yang terparkir di samping jalan. Dengan berderai air mata penuh ketakutan, Shelina tidak henti-hentinya berteriak meminta tolong. Dan tiba-tiba, ada sebuah mobil berhenti tepat di samping mereka. Melihat ada orang selain mereka, Shelina dengan segera berusaha untuk melepaskan diri dari kedua laki-laki itu. Tapi tenaga Shelina tidak ada apa-apanya di bandingkan kedua laki-laki itu.
"Lepaskan dia..! Kalau tidak kalian akan tahu akibatnya." Suara yang terdengar tidak asing lagi telinga Shelina.
"Maaas.. Tolong aku Mas..!" Teriak Shelina setelah melihat Alfa yang baru saja keluar dari dalam mobil.
"Kita tidak punya urusan sama kamu." Jawab salah satu dari kedua laki-laki, yang masih tetap mencengkram lengan Shelina.
"Lagian siapa kamu mau memerintahkan kita untuk melepaskan dia..? Kita melakukan semua ini atas perintah Ayahnya." Ujar laki-laki yang satunya dengan begitu sombongnya.
__ADS_1
"Saya tidak perduli siapapun yang memerintahkan kalian. Karena saya adalah calon suaminya, yang berhak atas keselamatannya saat ini." Jawab Alfa yang membuat Shelina semakin bercucuran air mata, karena merasa terharu dengan kata-kata Alfa.
"Jangan dengarkan dia..! Ayo kita pergi sekarang..!" Ujar salah seorang laki-laki yang ingin membawa Shelina, sambil menarik Shelina dengan cara paksa.
"Mas Alfa... Tolong aku...!" Teriak Shelina sambil berusaha melepaskan diri.
Dengan tatapan yang sangat tajam, Alfa langsung berlari dan menendang salah seorang laki-laki, yang sedang berusaha menarik Shelina menuju mobil. Alfa yang tidak jauh berbeda dengan Papanya, menghajar kedua laki-laki itu tanpa ampun. Alfa begitu sangat marah karena dia merasa di tantang kedua orang yang sama sekali tidak dia kenali. Melihat apa yang di lakukan oleh Alfa, Shelina hanya terdiam dengan tampang ketakutan di samping mobil Alfa, yang terparkir di samping kiri jalan.
"Pergi kalian dari sini..! Kalau kalian memang masih ingin hidup." Ujar Alfa sambil menatap kedua laki-laki yang sudah terlentang di atas tanah.
"Tunggu saja pembalasan kita..!" Ujar kedua laki-laki itu secara bersamaan, sambil buru-buru memasuki mobil mereka.
"Makasih Mas,, karena kamu sudah menolongku." Ujar Shelina yang sudah berdiri tepat di samping Alfa.
"Kamu mau pulang atau gimana..? Saya ni lagi sakit." Tanya Alfa dengan tatapan tajam ke arah Shelina.
Tanpa bersuara, Shelina segera melangkah memasuki mobil Alfa. Dalam diam Shelina merasa semakin takut untuk hidup bersama Alfa, yang begitu membenci dirinya. Tapi dia lebih takut untuk pergi dari keluarga Permana, setelah mengalami kejadian tadi. Sambil menatap ke arah luar melalui kaca mobil yang sedikit terbuka, Shelina pun mulai berkata-kata di dalam hatinya.
"Ya Tuhan,, kemana lagi aku harus pergi? Keselamatan ku begitu terancam apabila berada di luar sana. Tapi apakah aku sanggup untuk menjalani hidup bersama dia?" Shelina bertanya-tanya di dalam hatinya, dengan tampang penuh kesedihan.
__ADS_1
"Lain kali, jangan repot kan saya seperti ini. Keselamatanmu bukan tanggung jawab saya. Apapun yang terjadi padamu, itu bukan urusan saya. Jadi kamu tidak perlu berharap lebih. Karena sampai kapanpun, saya akan tetap seperti ini. Saya sangat membencimu." Alfa berkata-kata tanpa mau memperdulikan perasaan Shelina, yang hanya terdiam di sampingnya.
"Maafkan aku Mas. Aku janji tidak akan merepotkan mu lagi." Jawab Shelina tanpa berbalik menatap Alfa yang sedang melakukan mobilnya.
Sekuat apapun Shelina, dia hanyalah seorang wanita yang akan meneteskan air mata di saat terluka. Kata-kata Alfa bagaikan busur yang selalu melukai hatinya. Sambil menahan bendungan air mata yang sudah mulai memenuhi kelopak mata indahnya, Shelina terus menatap ke arah luar dengan kata-kata yang kembali terangkai di dalam lubuk hatinya.
"Mengapa aku terlahir hanya untuk menjadi beban orang lain? Aku sangat tidak menginginkan pernikahan tanpa adanya cinta. Tapi apa yang bisa aku lakukan?"
"Kita pulang saja ke rumah. Saya tidak mau mati kelaparan karena kamu. Buat apa kamu ke kantor saya kalau hanya untuk menyusahkan saya?" Alfa berkata-kata sambil terus melajukan mobilnya.
"Jangan kamu pikir saya senang melakukan semua tadi. Seumur hidup saya, kamulah wanita pertama yang membuat saya menderita seperti ini. Mending kamu pergi saja dari hidup saya. Karena keberadaanmu hanya menjadi beban buat saya.
Shelina yang tadinya hanya terdiam, begitu sakit mendengar kata-kata Alfa. Ingin rasanya dia mengeluarkan semua beban yang ada di dalam hatinya saat itu juga. Tapi dia kembali teringat kalau dia hanyalah wanita sebatang kara, yang sedang terancam oleh keluarga angkatnya sendiri.
"Mengapa kamu hanya terdiam..? Oh saya tahu, kamu seperti ini, karena kamu begitu menginginkan pernikahan yang sudah di atur keluarga saya. Sungguh wanita yang tidak punya harga diri." Perkataan Alfa yang membuat Shelina seketika berbalik menatapnya tajam, sambil berkata-kata.
"Cukup..! Cukup kamu merendahkan aku..! Aku bukan wanita yang seperti kamu kira. Aku hanyalah korban dari semua yang telah terjadi." Shelina berkata-kata dengan berlinang air mata.
Kristal bening seketika meluncur membasahi wajah cantiknya, mengiringi kata-kata yang keluar dari mulutnya. Kesabarannya dengan seketika hilang karena di rendahkan oleh Alfa. Sebagai wanita baik-baik, Shelina sangat tidak terima di nilai semurah itu oleh Alfa. Apalagi laki-laki yang menghinanya itu, adalah sosok yang telah merenggut kesuciannya.
__ADS_1
"Mengapa kamu harus marah..? Kalau kamu tidak terima karena di rendahkan, semustinya kamu pergi dari kehidupan saya. Karena sampai kapanpun, kamu hanyalah seorang wanita hina yang ada di dalam hidup saya." Ujar Alfa setelah memarkirkan mobilnya di depan rumah orang tuanya.
Tanpa berkata-kata, Shelina langsung keluar dari dalam mobil dan melangkah memasuki rumah dengan bercucuran air mata. Hatinya serasa tercabik-cabik oleh kata-kata Alfa yang begitu kejam. Rasa sakit yang berusaha untuk dia tahan, membuatnya sampai tidak mampu untuk bersuara. Hanya air mata yang bisa dia teteskan untuk meluapkan semua kepedihan yang ada di dalam hatinya saat itu.