
Melihat sikap calon Mama mertuanya terhadap Alfa laki-laki yang akan menikahinya, membuat Shelina jadi bersedih mengingat dirinya, yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang orang tua sejak dia masih kecil. Tapi dia tetap berusaha untuk menguatkan hatinya, yang sudah terbiasa merasakan sakit karena kejamnya hidup. Kehidupan Shelina bagaikan perahu yang berlayar tanpa tujuan. Yang mengarungi samudera luas tanpa ada pelabuhan untuk berlabuh.
"Bi,, siapa yang ada di belakang..?" Tanya Aleta karena merasa bingung melihat kedua Bibi ada di sampingnya.
"Itu,, itu Non Sheli Bu.." Jawab Bi Tuti.
"Sedang ngapain dia di dapur..?" Tanya Aleta dengan tampang serius.
"Non Sheli lagi mencuci piring Bu. Sebenarnya sudah kita larang, tapi Non Sheli tetap mau membantu." Jelas Bi Ira dengan segera, karena takut di marahi majikannya.
"Astaga Bi.. Shelina itu kan mau menikah beberapa hari lagi. Dia tu semustinya merawat diri. Bukan bekerja seperti itu." Ujar Aleta yang membuat Shelina langsung buru-buru menghampirinya.
"Tante,, tolong jangan marah sama Bi Tuti dan Bi Ira. Aku yang mau mengerjakannya sendiri." Ujar Shelina yang sudah berdiri tepat di hadapan Aleta.
"Sayang,, kamu tu harus banyak istirahat! Biar kamu semakin terlihat cantik di acara pernikahan kalian nanti. Benar ngga apa yang Mama katakan Fa?" Ujar Aleta sambil menatap putranya yang hanya tertunduk menahan sakit.
"Ngga tahu Ma. Saya ke kamar dulu." Jawab Alfa tanpa mau melirik Shelina yang sedang menatapnya.
"Ma,, saya kayaknya masuk angin ni. Tolong Mama kerokin ya!" Ujar Alfa yang sudah berdiri dari tempat duduknya.
"Mama tu lagi mau buatin sarapan sayang. Shelina yang kerokin saja ya?" Ujar Aleta.
"Ngga usah kalau gitu." Jawab Alfa dan segera melangkah keluar dari dapur.
Melihat sikap Alfa yang begitu dingin terhadap Shelina, membuat Aleta jadi pusing sendiri. Tapi tiba-tiba dia di kagetkan dengan bunyi ponselnya yang ada di atas meja.
("Halo Ma.." Suara Aleta setelah telponnya tersambung.)
("Kalian lagi ngapain?" Tanya Mama Alira dari balik telpon.)
("Mau buatin sarapan Ma. Tapi aku lagi bingung Ma." Jawab Aleta.)
("Memangnya ada apa?" Tanya Mama Alira.)
("Alfa tu lagi sakit perut Ma. Mungkin dia masuk angin." Jawab Aleta.)
__ADS_1
("Di kerokin saja sayang!" Seru Mama Alira.)
("Iya Ma,, dia juga minta di kerokin. Tapi aku lagi sibuk Ma." Jawab Aleta.)
("Kan ada Shelina, biar saja Shelina yang kerokin." Ujar Mama Alira.)
("Dia ngga mau Ma.." Jawab Aleta.)
("Dia ada di mana? Biar Mama bicara sama dia." Ujar Mama Alira yang terdengar sedikit kesal.)
("Dia di kamar Ma. Mama telpon dia saja! Nanti aku suruh Shelina naik ke kamarnya untuk kerokin dia.")
("Ya sudah,, nanti Mama telpon dia. Suruh Shelina langsung ke kamarnya!" Seru Mama Alira dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.)
"Sayang,, kamu kerokin Alfa ya..!" Ujar Aleta yang membuat Shelina seketika jadi gugup.
"Tapi,, tapi Mas Alfa kan ngga mau Tante." Jawab Shelina dengan tatapan penuh keraguan.
"Dia ngga akan nolak kalau di bilangin sama Oma. Sebenarnya Oma bisa saja ke sini untuk kerokin dia. Rumah Oma kan hanya di sebelah rumah kita. Tapi Oma mau kamu yang melakukannya." Jelas Aleta yang membuat Shelina tidak dapat untuk menolak.
"Iya sayang." Jawab Aleta.
Shelina melangkah menaiki tangga dengan perasaan seba salah. Dia takut akan di tolak atau di marahi Alfa. Tapi dia juga tidak bisa menolak apa yang di perintahkan sama calon Ibu mertuanya yang sudah sangat baik padanya. Akhirnya dia pun terpaksa melakukan semua itu walau hatinya begitu ragu.
"Tok..tok...tok..." Sura ketukan pintu.
"Siapa....?" Suara Alfa yang terdengar begitu datar dari dalam kamarnya.
"Aku..." Jawab Shelina dari depan pintu.
"Mau ngapain kamu ke sini..?" Tanya Alfa dengan tatapan yang sangat tajam, setelah membukakan pintu kamarnya.
"Aku,, aku di suruh ke sini sama Tante. Katanya mau kerokin Mas Alfa." Jawab Shelina sedikit gugup. Tanpa berani menatap Alfa yang sedang berdiri tepat di hadapannya.
Laki-laki manapun akan terkesima melihat kesempurnaan Shelina dari ujung rambut sampai ujung kaki. Apalagi dengan jarak yang begitu dekat. Tanpa sadar, Alfa menatap Shelina dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Sampai-sampai dia jadi lupa kalau dia sangat tidak menyukai wanita di depannya itu.
__ADS_1
"Mas,, jadi kan keroknya?" Tanya Shelina yang membuat Alfa seketika jadi kaget.
"Ayo masuk!" Perintah Alfa dan langsung melangkah menuju tempat tidurnya.
Alfa yang sempat hilang akal karena melihat kecantikan Shelina jadi bingung sama dirinya sendiri. Dia pun kesal dengan apa yang dia lakukan barusan. Sambil beranjak naik ke atas tempat tidurnya, Alfa pun mulai menggerutui dirinya sendiri dalam hati.
"Apa-apaan kamu Alfa...? Masa baru melihatnya seperti itu saja kamu sampai hilang akal. Jangan mudah terpengaruh dengan kecantikan juga kepolosannya! Karena itu memang tipuan yang dia lakukan, untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan."
"Mas,, aku keroknya pakai apa ya..?" Tanya Shelina yang sejak tadi hanya berdiri di samping tempat tidur Alfa.
"Ya pakai minyak angin lah.. Ada tu di dalam situ." Jawab Alfa datar sambil menunjuk ke sebuah laci meja yang terletak di samping tempat tidurnya.
"Iya Mas." Jawab Shelina dan langsung melangkah menuju meja yang di tunjuk Alfa.
Setelah mengambil apa yang mau dia ambil, Shelina pun langsung buru-buru melangkah menghampiri Alfa yang sudah kembali menundukkan kepalanya di atas tempat tidurnya. Tapi karena tidak memperhatikan langkah kakinya, tiba-tiba kaki Shelina pun tersangkut di karpet yang ada di lantai. Sehingga membuatnya terjatuh menimpa Alfa yang terkejut dengan suara teriakannya.
"Aaaaaaaa..." Suara teriakan Shelina yang membuat Alfa langsung menatapnya kaget.
"Aduh... Aaaaw.." Suara kesakitan Alfa karena tertindih oleh tubuh Shelina.
"Maaf Mas,, maaf aku ngga sengaja. Tadi kaki aku kesandung karpet itu." Ujar Shelina sambil buru-buru bangkit dari atas tubuh kejar Alfa.
"Kamu kenapa sih..? Jalan tu pakai mata... Biar bisa melihat apa yang ada di depan kamu." Ujar Alfa dengan tampang kesalnya.
"Iya Mas.. Aku minta maaf. Aku benar-benar ngga sengaja." Jawab Shelina dengan begitu sabar menghadapi sikap Alfa, yang tidak pernah bisa lembut padanya walau hanya sekejap.
"Sudah-sudah... Ngga usah kerokin saya..! Pergi saja kamu dari sini..! Kamu tu buat saya jadi semakin sakit." Ujar Alfa tanpa mau menatap Shelina, yang masih berada di samping tempat tidurnya.
"Apa perut Mas sudah ngga sakit lagi?" Tanya Shelina penuh perhatian.
"Bukan hanya perut saya yang sakit. Tapi sekujur tubuh saya jadi sakit gara-gara kamu." Jawab Alfa yang membuat Shelina seketika jadi terdiam.
"Sana keluar..! Buat apa kamu masih tetap di situ..?" Alfa berkata-kata dengan tampang yang sangat datar.
Tanpa bersuara, Shelina pun langsung melangkah keluar dari dalam kamar Alfa dengan raut wajah yang terlihat begitu sedih. Sebagai orang baru di dalam keluarga Permana, Shelina semakin merasa asing dengan sikap Alfa yang begitu dingin padanya. Sebesar apapun perhatian juga kebaikan anggota keluarga itu, namun Shelina tetaplah berkecil hati dengan sikap Alfa. Laki-laki yang menjadi alasannya berada di dalam keluar itu.
__ADS_1