JODOH YANG TAK DISANGKA

JODOH YANG TAK DISANGKA
Bab 89. Pelampiasan.


__ADS_3

Hati Shelina begitu sakit mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Alya. Namun dia pun sadar semua itu memang kenyataan yang terjadi di dalam pernikahannya. Cinta yang sudah tertanam di dalam hati wanita cantik itu, telah merubahnya menjadi wanita rapuh, saat menyadari betapa tidak berartinya dia menjadi seorang istri. Dengan raut wajah yang terlihat penuh kekesalan, Shelina memilih untuk pergi dari hadapan Alfa, yang hanya terdiam seperti patung, dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


Shelina melangkah menuju taman yang ada di depan rumah besar itu, dengan harapan di kejar oleh Alfa. Namun Alfa malah bersikap cuek dan kembali fokus pada ponselnya, setelah Shelina berlalu dari hadapannya.


Sikap Alfa benar-benar membuat Shelina kecewa dan sakit hati. Padahal dia sangat berharap Alfa bereaksi, mendengar kata-kata yang tadi dia ucapkan kepada Alya, tentang dirinya yang sedang hamil.


"Laki-laki apa seperti itu? Apa dia terlahir tanpa ada hati..? Melihat aku pergi ke luar rumah di jam seperti ini, dia malah cuek. Kawin saja sekalian sama ponsel. Hanya ponsel yang dia perhatiin." Gerutu Shelina setelah duduk di kursi taman.


"Hmmm,, aku hanyalah seorang istri yang tidak pernah di anggap. Hatinya tidak akan pernah berubah. Karena bukan aku wanita yang dia inginkan. Mulai saat ini, aku tidak akan mau menjadi tempat pelampiasan hasratnya. Aku bukan wanita penghibur yang di cari saat di butuhkan." Shelina kembali berkata-kata tanpa menyadari keberadaan seseorang, yang sudah berdiri tegak tepat di belakangnya.


"Kamu memang wanita yang sangat bodoh yang pernah saya temui." Suara Alfa yang membuat Shelina langsung kaget, dan buru-buru berbalik menatap ke belakang.


"Maksud kamu apa berkata seperti itu..?" Tanya Shelina kesal.


"Apa yang di bicarakan wanita tadi?" Tanya Alfa.


"Ngga perlu kamu tahu. Itu bukan urusan kamu." Jawab Shelina sinis.


"Apapun yang berkaitan denganmu adalah urusan saya. Apalagi di dalam pembicaraan kalian ada nama saya." Ujar Alfa datar.


"Dia tahu kalau aku ini wanita yang tidak di anggap oleh suaminya. Dia juga tahu kalau kamu sama sekali tidak mencintaiku." Jawab Shelina sambil memalingkan wajahnya dari Alfa.


"Terus bagaimana menurut kamu?" Pertanyaan Alfa yang begitu konyol menurut Shelina.

__ADS_1


"Ya menurut aku itu memang kenyataannya. Aku ini hanyalah wanita yang terpaksa di jadikan istri oleh seorang laki-laki kaya." Jawab Shelina dengan nada suara yang mulai bergetar saking kesal bercampur sedih.


"Itulah kebodohanmu. Kamu memang wanita berpikir dangkal." Perkataan Alfa yang membuat Shelina langsung berdiri dan hendak melangkah pergi. Namun dengan cepat Alfa segera meraih lengannya sambil berujar.


"Mengapa kamu begitu bodoh?" Tanya Alfa tepat di samping Shelina.


"Cukup... Cukup kamu merendahkan aku..! Aku tahu kamu tidak pernah menginginkan aku sebagai istrimu. Tapi bukan berarti kamu bisa menghinaku seperti ini." Shelina berteriak mengeluarkan kemarahannya dengan bercucuran air mata.


"Apa sebenarnya yang kamu mau? Mengapa kamu jadi seperti ini?" Tanya Alfa dengan tampang kebingungan.


"Aku ingin kita pisah. Aku sudah tidak sanggup bertahan di dalam hubungan yang menyiksa ini. Aku juga ingin di cintai, aku ingin bahagia seperti wanita lainnya." Jawab Shelina dengan suara terbata-bata.


"Aku tidak ingin hidup dengan laki-laki tak punya hati sepertimu. Kamu hanya menjadikan aku pelampiasan. Aku ingin cinta, bukan hanya sentuhan. Hiks,,,hiks,,,hiks." Shelina kembali berkata-kata mengeluarkan semua yang terpendam di dalam hatinya.


Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Shelina, Alfa hanya terdiam dengan tatapan mata tertuju ke wajah cantik Shelina yang sudah di penuhi tetesan air mata. Shelina yang sudah di selimuti kesedihan juga kekecewaan, segera berbalik hendak melangkah pergi. Namun dengan cepat Alfa langsung memeluknya dari belakang dan mengecup pundaknya begitu mesra.


"Apa kamu sanggup berpisah dengan saya? Saya laki-laki pertama di dalam hidupmu. Kamu masih ingat akan hal itu kan?" Tanya Alfa dan mengencangkan pelukannya.


Pertanyaan Alfa benar-benar membuat Shelina tidak berdaya. Namun sakit hatinya masih sangat terasa atas sikap Alfa yang tidak pernah menghargai perasaannya selama ini. Dia hanya bisa menangis tanpa bisa berkata-kata dalam pelukan Alfa.


Di bawa sinar bulan yang menghiasi malam, Alfa dan Shelina bersatu dalam pelukan yang hangat tanpa ada kata terucap. Hanya isak tangis Shelina yang terdengar begitu pilu menerima perlakuan hangat yang tidak pernah dia rasakan selama hidup bersama Alfa. Laki-laki dingin yang sudah berhasil merenggut kehormatan juga hatinya.


"Tolong jangan permainkan aku! Sejujurnya aku sangat takut membayangkan perpisahan denganmu. Tapi aku juga tidak ingin selamanya tersiksa dengan keadaan kita." Shelina mulai berkata-kata setelah beberapa saat terdiam di dalam pelukan Alfa.

__ADS_1


"Kamu yang sudah mempermainkan saya. Berani-beraninya kamu mengaku kalau kamu sedang mengandung." Jawaban Alfa yang membuat Shelina seketika salah tingkah.


Dengan buru-buru Shelina melepaskan pelukan Alfa, dan berusaha mencari alasan tepat atas apa yang tadi dia katakan. Namun dia sama sekali tidak berani menatap Alfa, yang sedang menatapnya dengan tatapan yang menyudutkan.


"Aku,, aku berkata seperti itu, biar Alya berhenti menghina dan merendahkan ku." Jawab Shelina sambil menatap ke arah samping.


"Memangnya apa yang dia katakan sampai kamu bisa berpikir untuk mengatakan kalau kamu sedang mengandung?" Tanya Alfa dengan kedua tangan terlipat di dadanya.


"Dia bilang kalau aku ini wanita kesepian yang tidak pernah di sentuh. Aku kan mau dengan status aku yang sudah bersuami. Makanya aku berbohong kalau aku ini sedang hamil." Jawab Shelina jujur.


"Mulai sekarang tidak perlu memikirkan sesuatu yang tidak bermanfaat. Yang penting kamu bukan wanita kesepian seperti yang dia katakan." Ujar Alfa.


"Tapi bukan berarti aku ini wanita yang bahagia." Shelina berkata-kata dengan nada yang terdengar sedikit aneh di telinga Alfa.


"Maksud kamu apa?" Tanya Alfa bingung.


"Aku kesepian karena tidak pernah di cintai. Aku tidak tahu bagaimana rasanya di cintai oleh seseorang." Jawab Shelina.


"Hmmmm,, cinta itu lebih meyakinkan dengan perbuatan. Bukan hanya dengan kata-kata. Karena laki-laki yang pandai berkata-kata, sudah pasti pandai berbohong." Ujar Alfa yang membuat Shelina langsung menatapnya bingung.


"Saya bukan laki-laki yang pandai berkata-kata. Saya hanya bisa membuktikan sesuatu dengan tindakan." Dengan spontan Alfa langsung mengatakan sesuatu yang membuat Shelina langsung tersenyum.


"Mengapa kamu tersenyum seperti itu? Apa ada yang lucu?" Tanya Alfa tanpa menyadari apa yang baru saja dia katakan.

__ADS_1


"Terima kasih karena Mas Alfa sudah mencintaiku." Jawab Shelina dan langsung berlari menuju rumah dengan senyum kebahagiaan.


Alfa yang tiba-tiba tersadar setelah mendengar perkataan Shelina barusan, langsung mengusap wajahnya kasar yang seketika memerah saking malunya. Dia begitu malu atas dirinya yang terlihat bodoh karena cinta yang sejak lama berusaha dia sembunyikan di balik sikap dinginnya.


__ADS_2