JODOH YANG TAK DISANGKA

JODOH YANG TAK DISANGKA
Bab 26. Kedatangan Shelina Di Indonesia.


__ADS_3

Berada di dalam hujan semalaman, membuat aroma parfum yang ada di tubuh Shelina hilang tak berbekas sedikitpun. Sambil menahan sakit di perutnya, Shelina sekejap melirik Alfa yang saat itu sedang membantunya, untuk meminum segelas air yang ada di tangannya. Seketika gadis berparas cantik itu terlihat semakin tegang, di saat menyadari ekspresi wajah Alfa yang sangat datar tanpa mau menatapnya.


Ingin sekali Alfa menanyakan apa yang sedang mengganjal di dalam hatinya saat itu juga. Namun dia kembali mengurungkan niatnya, karena dia tidak ingin Shelina kembali mengarang cerita untuk membodohi dirinya. Dengan hati yang tak rela, Alfa terpaksa membantu Shelina yang sedang kesakitan, untuk meminum segelas air di tangannya. Dan setelah itu dia pun langsung berdiri sambil berkata.


"Bersihkan darahmu sendiri! Karena tidak ada yang bisa membantumu untuk melakukan itu." Ujar Alfa dan langsung bergegas melangkah menuju pintu.


Mendengar apa yang di katakan oleh Alfa, Shelina yang begitu kesakitan mencoba untuk turun dari tempat tidurnya. Namun tiba-tiba dia langsung jatuh tersungkur di lantai. Dan itu membuat Alfa yang sudah mendekati pintu, segera berbalik dan menatap Shelina yang sudah tidak sadarkan diri, dengan mata terbuka lebar saking kagetnya. Tanpa menunggu lama, Alfa pun berlari mengangkat kepala Shelina sambil berusaha membangunkannya.


"Hey... Bangun..! Buka mata kamu..!" Teriak Alfa sambil menggoyang-goyangkan pundak Shelina. Namun Shelina yang sudah terlentang di atas pangkuan Alfa, sama sekali tidak bersuara apalagi membuka matanya.


Dengan raut wajah penuh kekesalan, Alfa segera mengangkat tubuh Shelina dan kembali meletakkannya di atas tempat tidur. Dan karena tidak ingin Papanya tahu dengan keadaan Shelina saat itu, Alfa pun berpikir untuk mengurus Shelina tanpa meminta bantuan orang-orang yang ada di luar. Sambil garuk-garuk kepalanya, Alfa pun mulai berkata-kata dengan tatapan kesal ke arah Shelina.


"Bikin pusing saja wanita ini. Kalau sampai Papa tahu keadaannya seperti ini, pasti gue juga yang akan di marahi. Hmmmm, bagaimana ini..?" Gerutu Alfa karena merasa kebingungan dengan keadaan Shelina, yang sudah di penuhi darah dalam keadaan pingsan.


"Apa yang harus saya lakukan..? Ngga mungkin saya melepaskan pakaiannya. Tapi kalau saya ngga melakukannya, siapa lagi yang mau melakukannya..? Apalagi di sini tidak ada wanita satupun yang bisa saya minta tolong." Alfa berkata-kata dengan tampang kebingungan.


Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya Alfa pun memutuskan untuk mengurus Shelina sendirian. Dengan buru-buru Alfa mengambil selimut bersih yang ada di atas meja tepat di samping tempat tidur Shelina. Kemudian dia menutupi sekujur tubuh Shelina dengan selimut, agar dia bisa melepaskan pakaian Shelina tanpa melihat apapun. Tapi belum sempat dia melakukannya, Shelina sudah membuka mata dan langsung bersuara.


"Apa yang mau kamu lakukan..?" Tanya Shelina sambil memeluk dadanya dengan kedua tangannya. Dengan tampang ketakutan.

__ADS_1


"Kamu tidak usah berpikir macam-macam. Saya hanya terpaksa mau membantumu. Tapi kalau kamu sudah sadar, baguslah. Biar saya tidak capek-capek melakukannya." Jawab Alfa dan langsung melangkah pergi, meninggalkan Shelina yang hanya menatapnya tanpa suara.


Setelah Alfa pergi, Shelina langsung berusaha bangun dari tempat tidur, dan menggantikan pakaiannya dengan sepasang baju laki-laki yang ada di atas tempat tidur. Dan setelah itu dia memutuskan untuk duduk di atas tempat tidur, merenungi nasibnya yang tanpa arah dan tujuan hidup.


Tepat pukul 2:30 sore waktu Jakarta, Pesawat pun mendarat di bandara Internasional. Dengan wajah yang terlihat begitu pucat, Shelina melangkah di belakang Faris tanpa memperdulikan Alfa, yang sudah duluan dari mereka bersama Aldo.


"Fa,, mana Papa kamu sama calon cucu mantunya Oma..?" Tanya Mama Alira sambil menatap Alfa yang sudah berada di depan mereka. Dengan senyum yang terukir di wajahnya yang masih terlihat cantik. Walaupun dia sudah tidak muda lagi.


"Mereka dari belakang." Jawab Alfa datar dan langsung melangkah pergi. Meninggalkan beberapa anggota keluarga Permana, yang sedang menunggu kedatangan mereka.


"Alfa... Kamu mau kemana..?" Tanya Aleta sambil menatap putranya yang sudah berlalu pergi. Tapi Alfa sama sekali tidak menjawab.


"Ada apa sama Alfa Ma..?" Tanya Aleta sambil menatap Mama mertuanya, yang berdiri tepat di sampingnya.


"Iya,, Ada apa sama anak itu..?" Sambung Almira Tantenya Alfa.


"Mungkin dia kelelahan. Makanya dia kaya gitu. Kalian kaya ngga tahu anak itu saja?" Sambung Boy Paman Alfa sekaligus asistennya Faris, yang belum ada pendaping hidup sampai saat itu.


"Iya Al,, mungkin dia kecapean." Sambung Tante Leni Mamanya Boy.

__ADS_1


Di saat mereka sedang kebingungan dengan sikap Alfa, tiba-tiba terlihat Faris yang sedang melangkah dengan rombongannya menghampiri mereka. Melihat raut wajah suaminya yang terlihat aneh, Aleta semakin kebingungan. Dan seketika mereka semua langsung kaget di saat melihat gadis cantik yang ada di belakang Faris. Dengan wajah yang terlihat sangat pucat dan tidak bersemangat.


"Dia,, dia kenapa..? Ko wajahnya pucat seperti itu..?" Tanya Oma Alira penuh perhatian.


"Dia sakit Ma. Jadi kita langsung pulang saja. Biar dia bisa beristirahat." Jawab Faris.


Dan tanpa menunggu lama, Aleta dan Almira segera menggandeng tangan Shelina melangkah menuju tempat parkiran mobil. Aleta dan Mama Alira juga Melda, memilih untuk duduk bersama Shelina dalam satu mobil. Dan di depannya hanya ada Faris dan supir pribadinya yang sedang mengemudi.


"Nak,, apa yang sakit sayang?" Tanya Mama Alira penuh perhatian.


"Perut aku Oma. Soalnya aku lagi datang bulan." Jawab Shelina sambil menatap Mama Alira dengan tatapan mata yang begitu sayu.


"Kamu sabar ya sayang,,! Sampai di rumah Tante akan memberikan obat buat kamu." Sambung Aleta sambil mengusap-usap punggung Shelina yang seketika terharu dengan perlakuan keluarga Alfa.


"Tidak usah repot-repot Tan,, aku sudah biasa seperti ini setiap kali datang bulan." Jawab Shelina sambil menundukkan kepalanya.


"Sayang,, biarpun sudah terbiasa, tapi jangan di biarin terus seperti ini. Kalau tidak kamu akan selalu seperti ini setiap kali datang bulan." Sambung Almira Tantenya Alfa.


Menerima perlakuan baik dari beberapa wanita yang ada di sampingnya, membuat Shelina merasa sedikit lebih tenang. Tapi tiba-tiba dia kembali murung setelah ingatannya tertuju kepada Alfa yang begitu tidak menginginkan keberadaannya di tengah-tengah keluarga mereka. Sambil menatap ke arah luar melewati jalan mobil, Shelina pun mulai bergumam di dalam hatinya.

__ADS_1


"Untuk sementara, aku ikut dulu sama mereka. Setelah aku sembuh, baru aku mencari Ibu Lili di panti asuhan Permata Bunda. Biarlah laki-laki itu bersikap seperti itu padaku. Yang penting aku sudah terlepas dari keluarga kejam itu."


Walaupun tertekan dengan sikap Alfa yang sangat tidak suka padanya, Shelina terpaksa untuk tetap bersabar. Karena dia sama sekali tidak punya pilihan lain selain ikut keluarga Permana. Apalagi selain Alfa, ada beberapa orang yang sangat perhatian terhadapnya. Tapi dia juga tidak ingin memanfaatkan keadaan itu. Dia lebih memilih untuk mencari Ibu Lili, di bandingkan hidup bersama orang yang tidak menginginkannya.


__ADS_2