
Siang itu udara terlihat begitu redup karena matahari di tutupi awan gelap di atas sana. Begitupun dengan raut wajah tampan yang sedang berdiri menghadap jendela di dalam ruang kerjanya. Alfa yang tidak sudi untuk menikahi wanita yang dia anggap sebagai pembohong, hanya termenung memikirkan hari-harinya setelah menikah nanti. Kebenciannya terhadap Shelina menimbulkan dendam yang begitu besar di dalam dirinya.
"Jangan pernah berharap untuk bahagia hidup bersama gue. Mungkin sekarang kamu merasa senang, karena berhasil membohongi keluarga gue. Tapi setelah menikah nanti, hanya penderitaan yang akan kamu rasakan." Alfa berkata-kata sendirian dengan tampang yang terlihat begitu datar.
Alfa tidak pernah rela menghabiskan hidupnya bersama Shelina. Tapi dia juga tidak bisa untuk menghindari pernikahan mereka. Dalam keadaan tak berdaya untuk menentang keputusan keluarganya, Alfa berniat untuk merubah hidup Shelina, bagaikan di neraka setelah mereka sudah hidup bersama nanti dalam satu atap. Karena baginya, hanya penderitaan Shelina yang dapat membayar semua kebohongannya. Di saat dia sedang termenung di dalam ruang kerjanya, tiba-tiba ponselnya yang ada di dalam saku celananya berdering tanda ada panggilan masuk.
("Halo Ma.." Alfa bersuara setelah telponnya tersambung.)
("Sayang,, kamu bisa ke butik Mama sekarang kan?" Tanya Aleta.)
("Buat apa Ma..? Saya tu lagi sibuk kerja." Jawab Alfa berbohong.)
("Alfa,, ini Oma. Pokoknya kamu harus ke butik sekarang..!" Suara Mama Alira yang terdengar begitu jelas di telinga Alfa.)
("Iya Oma. Saya akan segera ke sana sekarang juga." Jawab Alfa dengan terpaksa.)
Dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat tidak bersemangat, Alfa melajukan mobilnya menuju butik milik Mamanya yang terletak tidak jauh dari kantornya. Alfa merasa sangat tertekan dengan semua yang di putuskan oleh keluarganya. Hatinya begitu sakit berada di dalam keadaan terkekang seperti itu. Tapi dia tetap berusaha untuk bersabar mengikuti permainan yang sudah terjadi.
"Sayang,, kamu kenapa..?" Tanya Almira Tantenya Alfa kepada Shelina, yang hanya menatap ke setiap sudut ruangan dengan tampang kebingungan.
"Aku hanya kagum saja melihat butik sebesar ini Tante. Butik ini besarnya sudah seperti mall." Jawab Shelina jujur.
"Ini butik milik Mama mertua kamu. Bukan hanya ini saja. Ada juga cabangnya di beberapa tempat di luar kota." Ujar Almira yang membuat Shelina semakin kagum.
__ADS_1
"Kamu juga nanti bisa memiliki butik seperti ini. Kalau sudah menjadi istrinya Alfa." Sambung Mama Alira dengan segera.
"Aku ngga mau Oma. Soalnya aku ngga ada pengalaman mengurus butik. Apalagi butik sebesar ini. Biar nanti aku jadi kariyawan saja di sini Oma." Jawab Shelina.
"Shel,, kamu lulusan apa sayang?" Tanya Aleta yang sedang duduk bersama Mama Alira juga Almira adik iparnya.
"Aku sarjana perhotelan Tante. Dan aku juga pernah menjadi karyawan di hotel Om Faris di London." Jawab Shelina sambil menatap ketiga wanita yang sedang duduk di hadapannya.
"Kalau gitu kamu bisa menjadi wakil menejer di hotel berbintang milik keluarga kita." Sambung Mama Alira sambil tersenyum ramah.
"Ooo iya juga ya? Kebetulan di hotel pusat tidak ada wakil menejer. Kamu harus mau sayang. Tidak boleh menolak ya..!" Sambung Almira penuh semangat.
"Mir,, kamu ko semangat bangat..? Malah terkesan memaksa." Sambung Aleta sambil tersenyum menatap adik iparnya, yang begitu bersemangat membahas pekerjaan untuk Shelina.
"Hee... Kalian berdua kenapa sibuk memikirkan pekerjaan untuk Shelina? Kita ke sini ni buat urusan baju pengantin. Belum tentu juga Shelina mau menghabiskan waktu untuk mencari uang seperti kalian berdua. Sampai-sampai kalian sudah tidak punya waktu untuk jalan-jalan sama Mama." Sambung Mama Alira yang membuat Shelina langsung tersenyum.
"Mama ini, yang di pikirkan hanya jalan-jalan saja. Nanti sakit baru mengeluh." Ketus Almira dengan segera.
"Shel,, memangnya kamu mau kerja?" Tanya Mama Alira dengan tatapan mencari tahu ke arah Shelina, yang sejak tadi hanya tersenyum.
"Aku mau Oma. Tapi aku ngga mau jadi wakil menejer. Aku biar jadi karyawan saja." Jawab Shelina yang membuat ketiga wanita yang ada di hadapannya, langsung terdiam dengan tatapan penuh kekaguman.
"Tidak salah aku memilih dia sebagai istrinya Alfa. Dia memang gadis yang sangat baik dan rendah hati. Tutur katanya juga sangat sopan dengan orang tua. Semoga setelah menikah nanti, Alfa bisa mencintainya dengan sepenuh hati." Aleta berkata-kata di dalam hatinya mengagumi sikap calon menantunya itu.
Di saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba datang seorang wanita pegawai di butik itu, dengan membawa beberapa pasang pakaian khusus untuk Shelina dan Alfa. Dan di saat yang bersamaan, muncul Alfa dari arah depan melangkah menghampiri mereka. Shelina yang melihat kedatangan Alfa, seketika jadi gugup dengan tatapan yang tertuju ke arah calon suaminya itu tanpa suara.
__ADS_1
"Alfa,, sini sayang! Kebetulan kamu sudah datang, jadi kita bisa langsung mengukur pakaian yang sudah di siapkan untuk kalian berdua." Ujar Mama Alira sambil menatap cucunya yang terlihat begitu datar.
"Coba sini kamu lihat pakaian yang sudah di siapkan untukmu!" Sambung Almira sambil meraih beberapa pasang baju untuk Alfa.
"Ngga usah di lihat Tante. Langsung di coba saja." Jawab Alfa dengan tampang dinginnya.
"Ya sudah,, kalau gitu kamu bisa langsung mencobanya. Sana masuk ke kamar ganti!" Ujar Almira sambil memberi beberapa pasang baju yang ada di tangannya kepada keponakannya itu.
Tanpa berkata-kata, Alfa langsung menerima apa yang di berikan Tantenya, dan segera melangkah menuju ruang ganti khusus pria. Sedangkan Shelina yang merasa gugup melihat sikap Alfa yang begitu dingin, hanya terdiam tanpa bergerak dari tempatnya.
"Sayang,, kamu ngapain hanya terdiam di situ? Ayo sini Tante antar untuk kamu mencoba beberapa gaun ini." Ujar Aleta yang begitu mengerti situasi Shelina.
"Iya Tante." Jawab Shelina dan langsung melangkah bersama Aleta, menuju salah satu ruang ganti khusus untuknya.
Sebagai seorang wanita sederhana yang juga masuk di dalam keluarga Permana, Aleta begitu mengerti apa yang sedang di rasakan oleh Shelina. Dan dia juga merasa kasihan dengan gadis malang itu, karena sikap putranya yang tidak pernah mau melirik apalagi menatapnya. Tidak seperti dirinya yang sangat di cintai dan di perhatikan oleh Faris, di saat mereka akan melangsungkan pernikahan.
"Sayang,, kamu ngga perlu khawatir. Di sini ada Tante yang sebentar lagi akan menjadi Mama kamu. Kamu ngga perlu malu berada di dalam keluarga Permana. Walaupun mereka adalah keluarga yang sangat kaya, tapi mereka tidak pernah memandang orang dengan sebelah mata." Aleta berkata-kata memberi dukungan terhadap Shelina, setelah sudah berada di dalam ruang ganti.
"Iya Tante. Aku baik-baik saja ko." Jawab Shelina sambil berusaha menyembunyikan kesedihannya.
Shelina yang sama sekali tidak tahu asal-usul Mama mertuanya itu, begitu malu dengan dirinya yang tidak punya apa-apa. Dia merasa sangat tidak pantas untuk mendampingi putra dari keluarga kaya raya itu. Dengan sekuat hati, Shelina berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Walau hatinya tidak bisa pungkiri kesedihan juga rasa malu yang sangat besar di dalam dirinya.
__ADS_1