
Farel yang di nyatakan telah meninggal, ternyata masih hidup dan sedang menunggu kabar tentang Shelina dari orang-orang suruhannya, yang dia tugaskan untuk mencari keberadaannya. Kemarahan Farel terhadap Shelina benar-benar sudah di luar kendali. Karena menurut dia, Shelina yang telah menghancurkan semua rencana yang sudah dia susun sejak lama. Tampangnya yang begitu menakutkan, membuat istri dan anaknya yang sedang menemaninya di ruang keluarga, tidak berani untuk bersuara.
Di dalam ruangan itu, suasana terlihat begitu menegangkan. Farel dan Karina yang begitu sakit hati atas apa yang menimpa Ratu, sudah memutuskan akan mencelakai Shelina sebagai penebus kesalahannya. Dan yang semakin membuat Farel geram, sampai saat itu Shelina belum juga di temukan oleh orang suruhannya. Karena sudah tidak sabar menunggu, Farel akhirnya memutuskan untuk menghubungi salah seorang anak buahnya, yang juga di tugaskan untuk melacak keberadaan Shelina.
("Halo.. Pak Farel..?" Suara seorang laki-laki dari balik telpon, setelah telponnya tersambung.)
("Kamu di mana?" Tanya Farel.)
("Aku sedang berada di taman dekat hotel." Jawab anak buah Farel tanpa menyadari, kalau ada seseorang yang berdiri di balik pohon yang ada di belakangnya.)
("Bagaimana..? Apa kalian sudah menemukan anak tidak tahu diri itu..?" Tanya Farel penuh emosi.)
("Kita sama sekali belum menemukan jejaknya. Dia hilang bagaikan di telan bumi." Jawab anak buah Farel, yang membuat orang yang berada di belakangnya itu langsung pergi dengan sangat berhati-hati.)
Mendengar apa yang baru saja di sampaikan oleh anak buahnya, membuat Farel semakin geram dan langsung memutuskan sambungan telepon tanpa berkata-kata. Sikap Farel memang selalu seperti itu di saat sedang marah. Dia terlalu berambisi untuk memenuhi segala yang dia mau. Apalagi di saat dia melihat waktu sudah menunjukkan pukul 5:00 pagi. Dia langsung mengepalkan kedua tangannya sambil berkata-kata.
"Aku akan melenyapkannya kalau sampai dia di temukan. Aku berjanji, akan mengakhiri hidupnya di tanganku. Tidak ada kata ampun untuk anak tidak tahu diri seperti itu." Farel berkata-kata dengan tampang yang sangat menakutkan.
__ADS_1
Mendengar kata-kata suaminya barusan, membuat Karina merasa sangat puas. Karena Karina tahu, Farel tidak pernah main-main dengan kata-kata yang dia keluarkan, di saat kemarahannya sudah di luar kendali seperti saat itu. Tanpa sedikitpun rasa kasihan sebagai seorang Ibu, Karina pun ikut bersuara untuk memberi dukungan, atas keputusan kejam suaminya yang tidak sempurna itu.
"Sayang,, aku sangat mendukung keputusanmu. Anak tidak tahu diri itu memang tidak pantas untuk hidup. Dia lebih baik mati daripada hidup hanya untuk menyusahkan kita." Ujar Karina sambil menatap Farel, yang masih terus mengepalkan tangannya menahan Amara yang sedang bergejolak di dalam hatinya.
"Ayah,, kalau menurut aku,, Ayah pikir-pikir dulu sebelum mengambil keputusan. Aku takut kalau apa yang Ayah lakukan nanti di ketahui sama pemilik hotel itu. Dengan alasan itu dia bisa saja menjerumuskan Ayah ke dalam penjara. Dia kan orang yang sangat berpengaruh. Apalagi saat ini keluarga kita sedang berada di dalam pengawasan kepolisian." Sambung Putri yang berharap Ayahnya tidak akan berbuat nekat.
Sekejam apapun Farel, sebagai seorang anak Putri tidak tega, kalau Ayahnya harus terkurung di dalam jeruji besi sama seperti kakaknya. Apalagi melihat keadaan Ayahnya yang tidak sempurna seperti orang lain. Tapi Farel adalah orang yang tidak pernah mau mendengar masukan dari orang lain. Termasuk dari anggota keluarganya sendiri. Dia hanya menginginkan dukungan atas semua keputusan yang sudah dia ambil. Walaupun itu bukan keputusan yang benar.
"Itu sudah menjadi keputusan Ayah. Dan tidak ada yang bisa untuk di rubah. Faris tidak akan tahu apa yang akan Ayah lakukan nanti terhadap Shelina, kalau dia sudah di temukan. Karena setahu Faris, Ayah sudah mati di dalam tangannya sendiri." Jawaban Farel yang membuat Karina juga Putri jadi kebingungan.
"Sebenarnya semalam Ratu sempat di culik oleh Faris. Dan setelah mengetahui semua itu, aku langsung memerintahkan dua orang anak buah ku untuk mencari keberadaan Ratu. Tapi kedua anak buah ku itu malah di bunuh oleh laki-laki keparat itu." Jelas Farel dengan tatapan penuh kemarahan.
"Apa... Ratu di culik..? Bukannya Ratu sedang di tahan..? Dan bagaimana bisa Faris tahu kalau kamu yang dia bunuh?" Tanya Karina yang masih kebingungan dengan penjelasan suaminya.
"Setelah menanyakan apa yang ingin dia tanyakan kepada Ratu, dia langsung mengembalikan Ratu ke dalam tahanan. Dan salah satu anak buah ku yang terbunuh itu, menyamar sebagai aku. Jadi dia tahu, orang yang dia bunuh itu salah satunya adalah aku." Jelas Farel yang membuat istri juga anaknya langsung kaget dan merasa sangat bingung.
"Ko bisa sih Yah..? Kakak yang ada di dalam penjara keluar masuk tanpa ada yang tahu. Dan bagaimana mungkin dia bisa mengira kalau kedua laki-laki itu salah satunya Ayah? Ayah kan tidak bisa berjalan." Sambung Putri dengan tampang tidak percaya.
__ADS_1
"Ayah ngga tahu juga. Mungkin dia pikir Ayah menggunakan kursi roda hanyalah sandiwara di kantor Polisi. Dan kalau mengenai keluar masuknya Ratu semalam dari penjara, Ayah yakin pasti ada campur tangan anggota Polisi." Jawab Farel datar.
"Kalau gitu kita laporkan dia saja Yah! Dia kan sudah melakukan satu kejahatan. Membunuh juga menculik tahanan." Sambung Karina.
"Dia itu bukan orang yang bodoh. Dan dia juga tidak mudah untuk di jebak. Bisa-bisa kita yang akan di tuntut balik, kalau dia sampai tuntut nama baiknya." Jawab Farel.
"Kan ada bukti Yah. Bukti pembunuhan juga penculikan tahanan." Sambung Putri.
"Ayah kan sudah bilang, dia itu bukan orang yang bodoh. Semua orang-orang yang berada di dalam kalangan pengusaha, tidak ada yang berani untuk melawannya. Dia tidak bisa di laporkan segampang itu. Karena semua bukti yang memberatkan dia telah hilang. Termasuk kedua korban yang telah dia bunuh itu." Jelas Farel yang membuat Karina juga Putri seketika langsung mematung, saking kagetnya dengan sosok yang sedang di bicarakan oleh Farel.
Mendengar penjelasan Farel tentang Faris, membuat Karina seketika merasa terancam. Walaupun dia belum terlalu mengenali sosok Faris, namu dia tahu, kalau Faris adalah orang yang telah membuat suaminya lumpuh sampai saat itu. Dalam diam, Karina tiba-tiba memikirkan satu rencana, yang sama sekali tidak pernah di pikirkan oleh orang lain tentang Faris, termasuk suaminya.
"Orang seperti itu sebaiknya langsung di bunuh saja. Dia itu orang yang sangat berbahaya." Ujar Karina sambil menatap serius ke arah suaminya.
"Apa... Bunuh...? Kamu pikir mudah membunuh orang itu? Dia itu predator pembunuh yang sangat mengerikan. Di usianya yang masih belasan tahun, dia sudah menghabisi beberapa orang. Dia itu manusia berjiwa iblis. Jadi tidak semudah itu kita bisa melenyapkannya. Dia selalu mengetahui rencana orang yang mau mencelakainya. Contohnya semua rencana kita bisa dengan mudah di gagalkan. Bahkan kita sendiri yang di buat masuk ke dalam perangkap yang telah kita buat." Ujar Farel yang membuat Karina langsung terdiam seribu bahasa.
Di saat Farel dan Karina sedang sibuk membahas tentang sosok Faris, Putri malah sedang melamun memikirkan nasib Shelina yang entah berada di mana? Dia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti terhadap Shelina. Dan dia juga tidak membayangkan, kalau sampai Shelina di temukan oleh anak buah Ayahnya. Apalagi di temukan oleh laki-laki yang sedang di bicarakan kedua orang tuanya.
__ADS_1