JODOH YANG TAK DISANGKA

JODOH YANG TAK DISANGKA
Bab 30. Kesempurnaan Shelina.


__ADS_3

Malam itu alam semesta sepertinya tahu suasana hati kedua insan, yang akan di satukan dalam pernikahan tanpa adanya cinta. Di balkon kamar, Shelina terduduk di sebuah kursi merenungi nasibnya, yang selalu jauh dari kata bahagia. Ingin sekali dia menolak keputusan yang telah di buat oleh keluarga Permana. Namun sebagai seorang wanita, dia juga tidak ingin kehilangan kehormatan tanpa adanya tanggung jawab. Tanpa melepaskan pandangannya ke arah langit yang di tutupi awan hitam, Shelina pun mulai berkata-kata.


"Aku sadar,, aku hanyalah wanita biasa yang tidak pantas untuk bersanding dengannya. Dia bagaikan langit di atas sana. Sedangkan aku bagaikan bumi tempat berpijak setiap makhluk. Tapi kehormatan yang sudah aku jaga selama ini, tidak akan bisa kembali lagi. Jadi mau dan tidak mau aku harus menikah dengannya. Karena dia adalah orang yang telah merenggut kesucian ku."


Di saat hatinya ingin menolak pernikahan tanpa adanya dasar cinta, hatinya malah menuntut untuk memperjuangkan harga dirinya yang telah ternoda. Akhirnya dengan terpaksa Shelina pun bertekad untuk menerima kenyataan menjadi istri yang tidak di inginkan. Di saat Shelina telah pasrah dengan keadaan, Alfa malah sedang merenungi nasibnya, sambil meminum beberapa botol anggur di tepian pantai seorang diri.


"Mengapa jalan hidup gue jadi seperti ini..? Saya harus terikat dengan seorang wanita yang sama sekali tidak saya inginkan. Keputusan ini benar-benar tidak adil bagi saya. Saya telah menjadi korban kemunafikan wanita itu." Alfa berkata-kata sambil memandang deburan ombak di tepian pantai.


Alfa sama sekali tidak berdaya melawan kehendak keluarganya. Walau rencana pernikahan itu bagaikan musibah besar baginya, namun dia tetap harus menerimanya. Untuk menghilangkan beban yang sedang dia pikirkan saat itu, Alfa memilih untuk menghabiskan beberapa botol anggur yang dia bahwa dari rumah, sambil menikmati suasana pantai yang begitu sepi di malam itu.


Tepat pukul 2:30 dini hari, Shelina terbangun karena merasa haus. Dengan raut wajah yang terlihat menahan kantuk, dia pun keluar dari kamar menuju lantai bawah hendak ke dapur untuk mengambil segelas air. Tapi setelah dia berada di lantai bawah, tiba-tiba dia mendengar ada ketukan pintu yang di iringi suara seseorang. Dengan seketika Shelina langsung terdiam sambil bertanya-tanya di dalam hatinya, dengan tampang yang sudah mulai ketakutan.


"Siapa yang mengetuk pintu di jam seperti ini..? Apa itu orang jahat..? Sebaiknya aku segera beritahu orang di dalam rumah ini."


Shelina yang sudah semakin panik dengan suara ketukan pintu yang semakin kencang, segera berbalik dan hendak melangkah menuju kamar para pembantu yang terletak di bagian belakang. Tapi belum sempat dia menggerakkan kakinya, terdengar suara Alfa yang tidak terlalu jelas meminta untuk di bukakan pintu.


"Siapa di dalam...? Tolong buka pintunya..!" Suara Alfa yang terdengar begitu parau.

__ADS_1


"Itu kan suara Mas Alfa. Dari mana dia di jam seperti ini..?" Ujar Shelina dan segera melangkah menuju pintu yang di ketuk sejak tadi oleh Alfa.


"Mas Alfa..." Teriak Shelina setelah melihat keadaan Alfa, yang sedang bersandar di dinding dengan mata yang terlihat begitu merah.


"Kamu kenapa Mas..?" Tanya Shelina sambil meraih lengan Alfa.


"Lepaskan saya..! Saya tidak sudi di sentuh sama wanita pembohong seperti kamu." Ujar Alfa sambil mendorong tangan Shelina kasar.


Dengan sempoyongan karena pengaruh minuman yang tadi dia minum, Alfa melangkah meninggalkan Shelina yang hanya terdiam sambil menatapnya, dengan ekspresi wajah yang terlihat sedih. Shelina merasa sangat buruk di hadapan Alfa, yang selalu menyebutnya sebagai wanita pembohong. Tapi dia tetap berusaha membantu Alfa di saat Alfa hampir saja terjatuh.


"Hati-hati Mas..!" Suara Shelina yang dengan cepat menahan lengan Alfa.


"Tapi nanti kamu jatuh Mas." Jawab Shelina dengan penuh perhatian.


"Lepaskan saya...!" Teriak Alfa yang membuat Shelina kaget, dan langsung melepaskan tangannya dari lengan Alfa.


"Lebih baik saya jatuh, dari pada harus di bantu sama wanita ular sepertimu." Tambah Alfa dan langsung melangkah pergi meninggalkan Shelina, yang hanya terdiam tanpa ekspresi.

__ADS_1


Kebencian Alfa terhadap Shelina sudah menguasai hati dan pikirannya. Sedikitpun tidak ada rasa kasihan terhadap Shelina di saat dia mengeluarkan kata-kata yang begitu menyakitkan. Sedangkan Shelina yang tidak berdaya, hanya bisa pasrah menerima segala perlakuan Alfa tanpa bisa melakukan apa-apa. Sambil melangkah menuju dapur, Shelina pun mulai bergumam di dalam hatinya.


"Seandainya aku tahu Ibu Lili ada di mana, sudah aku tinggalkan rumah ini. Di mana aku harus mencarinya..? Panti asuhan yang menjadi harapan satu-satunya untuk aku bertemu Ibu Lili, kini sudah tidak ada. Dan tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan Ibu Lili sekarang."


Upaya Shelina untuk mencari Ibu Lili tidak membuahkan hasil apapun. Padahal dia sudah di bantu anak buahnya Faris. Ibu Lili menghilang bagaikan di telan bumi tanpa ada jejak. Dan karena itu sehingga Shelina terpaksa harus tetap bertahan di dalam keluarga Permana. Walaupun dia sangat tidak betah dengan sikap Alfa, namun tidak ada tempat yang lebih aman baginya, untuk berlindung dari segala bahaya di luar sana. Apalagi dia sangat yakin, kalau Ayah angkatnya pasti tidak akan tinggal diam walaupun dia sudah berada di tempat yang sangat jauh.


Selesai meminum segelas air di dapur, Shelina pun memilih untuk mencuci piring kotor yang ada di tempat cucian piring. Kebiasaan Shelina itulah, yang membuat para wanita yang ada di dalam rumah itu sangat menyayanginya. Terutama kedua pembantu yang bekerja di rumah besar itu. Baru sebentar berada di dalam keluarga Permana, Shelina sudah sangat dekat dengan semua orang terkecuali Alfa.


"Non Sheli,, apa yang Non lakukan..?" Tanya Bi Tuti yang baru saja memasuki dapur bersama Bi Ira yang lebih tua darinya.


"Ya ampun Non,, mengapa Non harus repot-repot..? Ini tugas Bibi. Non ngga usah mengerjakannya..!" Sambung Bi Ira dengan ekspresi kaget.


"Ngga apa-apa Bi,, aku tu suka kerja di dapur. Kalau di London, aku biasanya bangun lebih pagi dari sekarang. Soalnya semua pekerjaan rumah aku yang kerjakan." Jawab Shelina yang membuat kedua Bibi yang ada di sampingnya, semakin bangga dengan sosok cantik dan sederhana di samping mereka.


"Keluarga Permana memang tidak salah memilih Non Sheli untuk menjadi istrinya Mas Alfa. Iya kan Mba..?" Tanya Bi Tuti kepada Bi Ira yang dia panggil dengan sebutan Mba.


"Iya dong. Apalagi Non Sheli ini wanita yang sangat sempurna. Sudah cantik, rajin, baik, lembut, pokoknya sempurna deh." Jawab Bi Ira memuji Shelina yang hanya terdiam dengan senyum yang begitu manis.

__ADS_1


Keramahan dan kebaikan kedua Bibi itu selalu menjadi penghibur Shelina di saat dia sedang bersedih. Beban yang ada di dalam dirinya sedikit berkurang, dengan tingkah Bi Tuti dan Bi Ira yang sangat bersemangat juga ceria setiap harinya. Di saat dia hampir berputus asa menghadapi sikap Alfa, kedua Bibi itu selalu hadir untuk memberinya semangat.


__ADS_2