
Kebahagiaan adalah sesuatu yang mustahil untuk di dapatkan Shelina. Melihat sikap Alfa yang begitu membencinya, Shelina pun sadar kalau dia bukanlah apa-apa. Tapi dia tetap berpegangan teguh pada prinsipnya, yang tidak ingin kehilangan kehormatan tanpa pertanggung jawaban. Dengan hati yang di selimuti dilema, Shelina melangkahkan kakinya memasuki rumah, setelah sosok dingin itu tidak terlihat.
Shelina berlalu menuju kamar yang dia tempati tanpa menyadari tatapan Alfa, dari balik pintu kamarnya. Setelah pembicaraan sesat tadi antara dia dan Shelina, timbul kebingungan di dalam hati Alfa akan keyakinannya sendiri. Dia menjadi sedikit ragu dengan apa yang dia pikirkan tentang Shelina. Dengan wajah tanpa ekspresi, Alfa menyandarkan tubuhnya di pintu kamarnya sambil bertanya-tanya di dalam hati.
"Apa mungkin dia wanita itu? Tapi mengapa aroma parfum yang ada di tubuhnya sangat berbeda dengan wangi parfum di malam itu? Tidak-tidak,, gue tidak boleh ragu hanya karena mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dia memang bukan wanita itu. Dia hanyalah seorang pembohong yang menginginkan harta kekayaan keluarga ini."
Walaupun sudah ada sedikit keraguan di dalam hatinya, namun Alfa tetap berusaha untuk meyakinkan dirinya. Karena dia tidak menemukan aroma parfum itu pada tubuh Shelina di saat mereka berdekatan siang tadi.
Dengan kepala tertunduk di atas tempat tidur, Shelina mencoba untuk memikirkan alasan apa sehingga Alfa begitu yakin, kalau dia hanyalah seorang pembohong. Namun dia sama sekali tidak memikirkan tentang parfum yang selalu dia gunakan saat berada di London.
"Sebenarnya apa yang membuat dia begitu yakin kalau aku ini seorang pembohong? Apa perlu kita ulangi lagi sesuatu yang terjadi di malam itu, biar dia bisa percaya..? Tidak-tidak, apa yang sudah aku pikirkan? Aku tidak akan mengajukan bukti yang tidak masuk akal itu." Shelina berkata-kata sendirian dengan tampang penuh kebingungan.
Hampir dua jam Shelina berusaha untuk bisa tertidur, tapi pikirannya yang terganggu dengan semua tuduhan Alfa, membuatnya sama sekali tidak bisa untuk terlelap walau dia sudah memejamkan mata sejak tadi. Karena merasa resah dengan pemikiran yang begitu mengganggu, Shelina pun memutuskan untuk keluar dari kamarnya hendak menuju dapur. Tapi tanpa di sengaja dia menabrak seseorang di saat hendak menuruni tangga.
"Aaaaaa... Suara teriakan Shelina karena dia hampir saja terjatuh. Untung saja dengan cepat dia langsung di peluk oleh seseorang dari arah samping.
"Apa kamu tidak punya mata..?" Suara Alfa dengan tatapan mata yang sangat tajam ke arah Shelina yang berada dalam pelukannya.
"Maaf,, aku,, aku tidak sengaja." Jawab Shelina yang masih memeluk erat tubuh Alfa, dengan begitu gugupnya.
"Awas sana...! Jangan kamu cari-cari alasan untuk bisa dekat-dekat dengan saya." Seru Alfa sambil mendorong Shelina untuk menjauh.
"Siapa juga yang cari-cari alasan? Sembarangan saja kalau ngomong." Gerutu Shelina di dalam hatinya sambil menatap Alfa yang sudah pergi menuju kamarnya.
__ADS_1
Sampainya di dalam kamar, Alfa langsung membanting pintu dan melangkah menuju tempat tidurnya dengan tampang penuh kekesalan. Dia yang tidak suka berdekatan dengan wanita, merasa sangat marah karena di peluk Shelina wanita yang begitu dia benci.
"Buat apa juga tadi saya menolongnya? Semustinya saya biarkan saja dia jatuh. Biar pernikahannya gagal." Alfa berkata-kata sendirian di dalam kamarnya.
Sedangkan Shelina yang sudah menuruni tangga menuju dapur, tidak kalah kesal dengan kata-kata Alfa barusan. Yang mengatakan kalau dia hanya mencari alasan untuk bisa mendekatinya.
"Dasar sombong. Dia pikir aku suka di peluk sama laki-laki mesum seperti dia. Mengingat malam itu saja aku tidak sanggup." Shelina berkata-kata dengan kening yang berkerut menahan kekesalannya.
"Non,, apa Non baik-baik saja..?" Tanya Bi Tuti yang mengagetkan Shelina.
"Aku,, aku baik-baik saja ko Bi." Jawab Shelina sedikit gugup.
"Terus Non mau ngapain? Apa ada yang bisa Bibi bantu?" Tanya Bi Tuti lagi.
"Aku hanya ingin bantu buatin sarapan Bi. Soalnya aku ngga bisa tidur." Jawab Shelina sambil tersenyum.
"Ngga apa-apa Bi. Lagian aku suka melakukan semua itu. Dan aku tu sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah Bi." Jawab Shelina yang membuat Bi Tuti tidak dapat untuk menolaknya.
"Ya sudah,, tapi Non ngga boleh capek ya..! Nanti kalau Non kecapean dan sakit, Bibi juga yang akan di marahi." Ujar Bi Tuti.
"Eh... Non Sheli sudah bangun? Apa Non membutuhkan sesuatu?" Suara Bi Ira yang baru selesai membersihkan ruang keluarga.
"Non Sheli tu mau bantuin kita Mba.." Jawab Bi Tuti.
__ADS_1
"Ngga usah repot-repot Non..! Ini bukan pekerjaan Non Sheli.. Non Sheli tu harus banyak istirahat. Karena sebentar lagi Non Sheli akan jadi ratu semalam." Ujar Bi Ira yang membuat Bi Tuti langsung bertingkah.
"Astaga,, aku yakin Non Sheli akan sangat cantik melebihi seorang putri kerajaan. Aku tu sering menghayal menjadi ratu sehari bersama orang yang aku cintai. Tapi semua itu hanyalah sebuah khayalan aku saja." Sambung Bi Tuti yang terlihat seperti sedang membayangkan sesuatu.
"He... Kamu tu ngga usah terlalu banyak berhayal..! Khayalan kamu tu terlalu tinggi.." Sambung Bi Ira yang membuat Shelina seketika jadi tersenyum.
"Memangnya waktu nikah Bi Tuti ngga jadi ratu sehari?" Tanya Shelina yang membuat raut wajah Bi Tuti yang tadinya ceria seketika meredup.
"Buru-buru jadi ratu sehari. Di lamar saja ngga pernah Non.." Jawab Bi Tuti dengan tampang yang terlihat sangat lucu.
"Sabar ya Bi..! Jodoh itu ngga akan kemana. Kalau sudah di takdir kan untuk bersama, pasti akan bertemu." Shelina mencoba untuk menghibur Bi Tuti yang terlihat begitu sedih, karena belum juga menikah di usianya yang tidak bisa di bilang muda lagi.
Di saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba muncul Alfa dengan keadaan bertelanjang dada menuju dapur. Melihat kedatangan Alfa, Shelina langsung melangkah mendekati tempat cucian piring tanpa mau melirik ke arah Alfa, yang juga tidak perduli padanya.
"Mas Alfa,, apa Mas butuh sesuatu..?" Tanya Bi Ira setelah Alfa duduk di depan meja makan dengan ekspresi yang terlihat seperti sedang menahan sakit.
"Tolong ambilkan saya air hangat Bi..!" Seru Alfa sambil menundukkan kepalanya.
"Alfa.. Kamu kenapa sayang..?" Tanya Aleta yang baru saja memasuki dapur.
"Perut saya sakit banget Ma. Saya sampai ngga bisa tidur." Jawab Alfa tanpa menatap Aleta yang sudah berdiri tepat di belakangnya.
"Mungkin kamu terlalu kecapekan. Makanya,, kamu tu jangan hanya urus pekerjaan tanpa mengingat waktu istirahat!" Ujar Aleta sambil memijat pundak putranya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Apalagi hari pernikahan kalian tinggal berapa hari lagi. Kalau sampai sakit, Mama juga yang akan di marahi sama Oma kamu." Ujar Aleta sambil membantu Alfa untuk meminum air hangat yang di berikan Bi Ira.
Karena terlalu khawatir dengan keadaan Alfa, sampai-sampai Aleta tidak sadar siapa yang sedang mencuci piring di bagian belakang. Sedangkan Shelina yang sesekali melirik ke arah mereka seketika terharu melihat perhatian, juga kasih sayang seorang Ibu terhadap anaknya. Karena dia sendiri tidak pernah merasakan akan hal itu.