
Tepat pukul 7:30 pagi, Faris bersama keluarga kecilnya sudah berada di meja makan untuk sarapan termasuk Alfa. Mereka terlihat begitu bersemangat melihat beberapa menu yang ada di atas meja. Melihat sarapan yang begitu berbeda dari hari-hari biasanya, Aleta yang baru saja bergabung dengan suami juga putranya di meja makan langsung bertanya.
"Bi,, ko menu hari ini beda banget..? Siapa yang masak makanan luar seperti ini..?" Tanya Aleta sambil menatap Bi Tuti dan Bi Ira secara bergantian.
"Yang pastinya bukan aku atau Mba Ira Bu. Kita kan orang desa, mana tau menu luar seperti ini." Jawab Bi Tuti.
"Terus siapa yang membuatnya..?" Sambung Faris sambil mencicipi sarapan yang terlihat begitu lezat.
"Kalau bisa setiap hari bikin sarapan seperti ini saja Bi..!" Sambung Alfa yang terlihat begitu lahap menyantap sarapannya.
"Kalau Mas Alfa suka, minta saja setiap hari sama calon istrinya..!" Ujar Bi Tuti sambil tersenyum.
"Ooo,, jadi ini Shelina yang buat..? Pintar sekali dia memasak." Ujar Aleta yang membuat Alfa langsung tersedak.
"Uhuk,,,uhuk,,,uhuk.."
"Kamu kenapa sayang..? Ayo minum..!" Tanya Aleta sambil buru-buru memberikan segelas air kepada putranya.
Alfa yang begitu kaget karena mengetahui Shelina yang telah membuat sarapan langsung tersedak. Sambil meminum segelas air putih yang di berikan Mamanya, Alfa pun mulai bergumam di dalam hatinya.
"Kalau tahu dia yang masak, gue tidak akan memakannya."
"Makanya,, kamu kalau makan tu hati-hati..!" Ujar Aleta sambil melirik Alfa.
"Mungkin Mas Alfa terlalu menyukai menu hari ini Bu. Sampai-sampai Mas Alfa tidak berhati-hati." Sambung Bi Tuti yang tidak pernah bisa untuk diam.
"Saya duluan ya Ma.." Ujar Alfa tanpa menghiraukan kata-kata Bi Tuti.
"Loh kok duluan..? Kamu kan belum selesai sarapan..?" Tanya Aleta sambil menatap Alfa yang sudah berdiri dari meja makan.
"Saya sudah kenyang Ma." Jawab Alfa dan langsung melangkah pergi.
__ADS_1
"Pa,, Alfa kenapa begitu sih..? Mama tahu pasti dia masih ingin makan. Tapi setelah tahu Shelina yang membuatnya, dia langsung berhenti makan." Tanya Aleta kepada suaminya.
"Biarin saja Ma..! Dia itu hanya tidak percaya kalau Shelina adalah wanita itu." Jawab Faris yang sudah selesai sarapan.
"Tapi Pa,, kalau dia tetap seperti itu, kasihan juga Shelina kalau mereka sudah menikah dan tinggal sendiri." Tambah Aleta dengan tampang penuh kekhawatiran.
"Tidak usah pikirkan itu..! Yang penting dia mau bertanggung jawab menikahi Shelina. Papa yakin, dia tidak akan bertindak kasar walaupun dia tidak menyukai Shelina." Ujar Faris.
"Apa Papa yakin dia tidak akan berbuat kasar terhadap Shelina..? Mereka kan akan tinggal terpisah dari kita." Tambah Aleta.
"Dia itu putra kita. Kita tidak pernah mengajari dia untuk berbuat kasar dengan wanita. Apalagi wanita sebaik Shelina. Papa yakin Shelina bisa merubah sikapnya itu." Jawab Faris.
"Semoga saja seperti itu Pa. Mama kasihan sama Shelina kalau harus tinggal terpisah dengan kita setelah sudah menikah nanti." Ujar Aleta.
"Justru kita tu harus biarkan mereka tinggal sendiri. Biar mereka bisa saling dekat." Tambah Faris yang membuat Aleta langsung tersenyum.
"Benar juga apa kata Papa." Ujar Aleta yang mulai mengerti tujuan suaminya.
Shelina yang sudah terlihat rapi setelah selesai mandi, memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Tapi di saat dia melewati kamar tidur Alfa, tidak sengaja dia melihat tempat tidur Alfa yang sangat berantakan dari depan pintu yang sedikit terbuka. Dengan segera dia pun memutuskan masuk ke dalam kamar Alfa untuk merapikan tempat tidur Alfa.
"Sayang,, kamu lagi ngapain..?" Tanya Aleta yang sudah berada di depan pintu kamar Alfa bersama Mama Alira dan Almira.
"Maaf Tante,, aku sudah lancang masuk ke kamar Mas Alfa. Tapi aku hanya ingin merapikan kamar Mas Alfa saja Tante." Jawab Shelina dengan tampang sedikit panik.
"Ngga apa-apa sayang,, kamu berhak ko masuk ke kamar Alfa. Lagian sebentar lagi kalian akan tinggal di dalam satu kamar." Sambung Mama Alira yang membuat wajah Shelina seketika jadi merah.
"Kalau sudah selesai ayo kita pergi sekarang..!" Ujar Aleta.
"Pergi ke mana Tante..?" Tanya Shelina.
"Kita mau ke butik buat ukur baju pernikahan kalian." Sambung Almira Tantenya Alfa.
__ADS_1
Di dalam perjalanan Shelina terlihat begitu gugup, memikirkan hari pernikahan mereka yang tinggal beberapa hari lagi. Melihat ekspresi Shelina, Mama Alira wanita yang penuh perhatian langsung bersuara.
"Sayang,, kamu kenapa..?" Tanya Mama Alira penuh perhatian.
"Aku tidak apa-apa kok Oma. Aku hanya sedikit gugup saja." Jawab Shelina jujur.
"Itu hal yang biasa. Semua wanita yang akan menjadi pengantin pasti merasakan itu. Oma juga pernah merasakan hal yang sama. Apalagi kita menikah dengan laki-laki seperti tembok. Tapi tidak usah di pikiran. Yakinlah,, sekeras apapun karang di laut sana, akan tetap hancur dengan deburan ombak yang setiap hari menghantam." Kata-kata Mama Alira yang terdengar begitu bijak.
"Iya Shel,, kamu ngga perlu cemas. Semua laki-laki yang terlahir dalam keluarga Permana, memiliki sifat seperti itu. Tapi di balik sikap batu mereka, mereka adalah laki-laki yang penyayang terhadap wanita." Sambung Almira.
"Kamu tenang saja..! Ada Tante yang akan selalu menjaga kamu. Alfa tidak akan bisa macam-macam sama kamu." Sambung Aleta.
Dukungan ketiga wanita itu benar-benar memberi semangat besar, untuk Shelina yang akan bersanding dengan Alfa Permana dalam hitungan hari. Dan di tengah-tengah percakapan mereka, tiba-tiba Mama Alira teringat dengan anggota keluarganya yang berada jauh dari mereka.
"Al,, apa kamu sudah menghubungi Melda dan Fara..?" Tanya Mama Alira.
"Sudah kok Ma. Mereka akan tiba di sini sebelum kita berangkat ke Bandung." Jawab Aleta.
"Iya,, Kenzo juga sudah di kabari. Dia akan minta izin untuk pulang." Sambung Almira.
Mendengar percakapan ketiga wanita yang ada di sampingnya, yang sedang membahas orang-orang yang dia sendiri tidak tahu siapa, Shelina hanya terdiam sambil menatap mereka. Ingin sekali Shelina bertanya mengenai orang-orang yang sedang di bicarakan Mama Alira, Aleta, juga Almira. Tapi belum sempat dia bertanya, Mama Alira sudah duluan bersuara.
"Shel,, kita tu lagi bahas keluarga kita yang akan datang, untuk pernikahan kalian di Bandung nanti." Jelas Mama Alira.
"Kamu mau tahu siapa mereka..?" Tanya Mama Alira dan Shelina langsung mengangguk, mengiyakan pertanyaan Mama Alira.
"Fara itu adik Alfa satu-satunya. Dia sudah menikah dengan Riyan, kakak sepupunya sendiri. Dan sekarang mereka ada di Amerika. Mereka berdua sedang kuliah di sana. Dan Riyan juga memiliki beberapa bisnis di sana." Jelas Mama Alira yang membuat Shelina jadi bingung dan kaget.
"Oma,, apa Riyan itu putra Tante Almira..?" Tanya Shelina.
"Bukan sayang,, putra Tante Almira bernama Kenzo. Dia juga kuliah di luar negeri. Riyan itu putra satu-satunya keponakan Oma dan Opa. Yang bernama Melda. Dia tinggal di Malaysia bersama suaminya Reza. Dan Reza itu saudara sepupunya Ibu mertua kamu." Jelas Mama Alira yang membuat Shelina pun mengerti.
__ADS_1
Mendengar penjelasan tentang keluarga Permana yang menikah dengan saudara, membuat Shelina sedikit merasa minder. Karena biar bagaimanapun, dia hanyalah orang asing yang masuk di dalam keluarga terpandang itu, karena jebakan Ayah angkatnya sendiri.